Boris Bokir: Anak Perlu Didengar Sebelum Dicap Nakal

Boris Bokir: Anak Perlu Didengar Sebelum Dicap Nakal

Jakarta | Aktor sekaligus komika Boris Bokir membintangi film terbarunya, Yang Disebut Nakal, yang diproduseri Diana Limbong. Dalam film tersebut, Boris memerankan Goklas Panjaitan, seorang pelatih yang membina sekelompok remaja di tempat pembinaan khusus. Peran ini menempatkannya dalam kisah yang bersentuhan dengan cara orang dewasa memandang perilaku anak dan remaja, terutama ketika mereka dianggap sulit diatur.

Keterlibatan Boris dalam film ini berhubungan dengan gagasan bahwa perilaku seorang anak tidak semestinya dinilai hanya dari kesan awal. Sebutan “nakal” dapat menyederhanakan keadaan yang lebih kompleks, sementara memahami seorang anak membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan dan melihat konteks perilakunya. Pandangan tersebut sejalan dengan pesan yang dibawa oleh judul film: sebelum memberi cap, orang dewasa perlu membuka ruang untuk memahami anak yang sedang dihadapi.

Sebagai Goklas, Boris memainkan sosok pelatih yang membina para remaja di lingkungan pembinaan khusus. Gambaran peran itu memberi ruang bagi isu pendampingan dan hubungan orang dewasa dengan anak untuk menjadi perhatian. Namun, inti keterlibatan Boris dapat dibicarakan tanpa mengandaikan rincian cerita: ia hadir dalam film yang mengajak penonton mempertimbangkan kembali cara melabeli perilaku remaja. Fokusnya bukan sekadar pada kata yang digunakan untuk menilai, melainkan juga pada pentingnya mendengar sebelum mengambil kesimpulan.

Peran tersebut juga mempertemukan latar Boris sebagai komika dan aktor dengan tema yang memerlukan perhatian serius. Film ini menjadi kesempatan baginya untuk tampil sebagai figur pembina, sekaligus mengangkat pembicaraan mengenai sikap orang dewasa terhadap anak yang dinilai bermasalah. Pesan tentang mendengar lebih dahulu relevan bagi keluarga, pendidik, maupun masyarakat luas: penilaian yang terburu-buru berisiko menutup percakapan, sedangkan perhatian dan dialog dapat membantu memahami alasan di balik suatu tindakan. Melalui Yang Disebut Nakal, keterlibatan Boris mengarahkan perhatian pada perlunya memandang anak dengan lebih utuh, bukan hanya melalui label yang melekat pada perilakunya.

Bagi Boris Bokir, sebutan “nakal” tidak selalu menggambarkan siapa anak sebenarnya. Label itu bisa muncul karena orang dewasa menilai perilaku yang terlihat tanpa lebih dulu memahami keadaan dan kebutuhan anak. Tindakan yang dianggap mengganggu, membantah, atau sulit diatur mungkin memiliki alasan yang belum diketahui orang tua. Karena itu, penilaian terhadap perilaku sebaiknya tidak langsung berubah menjadi cap negatif yang melekat pada diri anak.

Dalam keterangannya kepada awak media di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Rabu (21/10/2026), Boris menyampaikan bahwa anak perlu didengar dan dipahami sebelum disebut nakal. Maksud pernyataannya, orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk menjelaskan apa yang terjadi, alih-alih hanya bereaksi terhadap tindakannya. Dengan mendengarkan, orang tua dapat mengetahui apakah anak sedang kesulitan menyampaikan perasaan, mencari perhatian, merasa tidak nyaman, atau merespons situasi tertentu. Pemahaman tersebut membantu melihat perilaku secara lebih utuh.

Boris juga mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif. Ketika anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan, langkah awal yang lebih bijak adalah mencari tahu alasan di balik tindakan tersebut. Orang tua dapat bertanya dengan tenang, memperhatikan konteks, lalu menetapkan batasan atau memberi arahan bila diperlukan. Sikap ini bukan berarti membenarkan semua perilaku anak, melainkan membedakan mengoreksi tindakan dan memberi label pada pribadi mereka. Anak tetap dapat diajak bertanggung jawab, tetapi dengan cara yang membuka percakapan, bukan menutupnya melalui cap “nakal”. Dengan pendekatan seperti itu, orang tua berpeluang memahami kebutuhan anak sekaligus membangun hubungan yang lebih terbuka. Pesan Boris menempatkan proses mendengar sebagai bagian penting sebelum mengambil kesimpulan, agar respons orang tua berangkat dari pemahaman, bukan semata-mata prasangka terhadap perilaku yang tampak.

Boris Bokir mencontohkan anak yang senang berenang di sungai dan kerap pulang menjelang sore. Dari sudut pandang orang dewasa, kebiasaan itu mungkin dianggap sebagai tanda anak sulit diatur atau gemar bermain tanpa mengenal waktu. Namun, menurut Boris, perilaku tersebut tidak semestinya langsung dimaknai sebagai kenakalan. Bisa jadi, anak memang memiliki minat besar terhadap air, aktivitas fisik, atau lingkungan alam. Kegemarannya itu bahkan mungkin menunjukkan bakat yang belum dikenali. Karena itu, orang tua perlu mencari tahu alasan anak betah berenang, memastikan keselamatannya, lalu membicarakan batas waktu dan tanggung jawab dengan jelas. Dengan cara tersebut, minatnya tetap mendapat ruang, sementara kebiasaan yang berisiko dapat diarahkan.

Contoh lain yang disampaikan Boris berkaitan dengan remaja yang berlatih musik hingga malam. Mereka mungkin berkumpul untuk memainkan alat musik, berlatih bersama, dan mengembangkan kemampuan, tetapi dari luar kegiatan itu dapat terlihat seperti perilaku yang mengganggu. Ada masa ketika kelompok remaja semacam ini mudah disebut anak nakal, terutama jika aktivitasnya berlangsung di luar rumah atau melewati jam yang dianggap wajar. Padahal, bermusik bisa menjadi kegiatan positif yang membangun disiplin, kreativitas, kerja sama, dan rasa percaya diri. Bagi sebagian anak, latihan sederhana bersama teman dapat menjadi langkah awal perjalanan panjang hingga mereka tumbuh sebagai musisi atau anggota band yang hebat.

Pesan Boris bukan berarti semua kebiasaan anak harus dibiarkan tanpa aturan. Orang tua tetap perlu menjaga keselamatan, menetapkan kesepakatan, dan memastikan kewajiban sekolah maupun di rumah terpenuhi. Namun, sebelum memberi cap, mereka perlu mendengarkan penjelasan anak dan memahami apa yang mendorong perilaku tersebut. Percakapan yang terbuka dapat membantu membedakan minat yang sehat dari kebiasaan yang memang perlu diperbaiki. Setelah memahami kebutuhan dan potensi anak, orang dewasa dapat menawarkan arahan, dukungan, serta batasan yang masuk akal. Pendekatan ini memberi anak kesempatan untuk bertanggung jawab sekaligus mengembangkan kemampuannya. Dengan demikian, anak tidak hanya dinilai berdasarkan waktu pulang atau penampilan luarnya, tetapi juga dipahami sebagai pribadi yang sedang belajar dan mungkin memiliki minat yang layak ditumbuhkan.

Keterlibatan Boris Bokir dalam film tersebut membuatnya kembali memikirkan cara orang tua mendampingi anak. Sebagai ayah dari satu anak, ia melihat bahwa pengasuhan bukan hanya soal menetapkan aturan atau mengarahkan perilaku. Anak juga perlu memperoleh kesempatan untuk menyampaikan apa yang diinginkan, dipikirkan, dan dirasakannya. Menurut Boris, ruang untuk berbicara dapat membantu orang tua memahami sudut pandang anak sebelum mengambil keputusan atau memberikan penilaian. Dengan demikian, komunikasi menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang saling menghargai di dalam keluarga.

Pandangan itu turut berangkat dari pengalaman Boris ketika masih kecil. Ia membandingkan pola didikan yang dialaminya dengan pendekatan yang ingin diterapkan kepada anaknya sekarang. Dalam pengalamannya, hubungan orang tua dan anak pada masa kecil lebih banyak berjalan satu arah: orang tua menyampaikan keputusan, sementara anak mengikuti arahan tersebut. Pola semacam itu mungkin terasa lazim pada zamannya, tetapi ia kini menyadari bahwa anak memiliki aspirasi yang patut didengar. Pengalaman pribadi tersebut bukan berarti ia menolak seluruh nilai yang diterima dari orang tuanya, melainkan menjadi bahan refleksi untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka.

Boris menilai, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memberi cap nakal ketika anak menunjukkan sikap yang berbeda atau menolak suatu arahan. Perilaku yang tampak sebagai pembangkangan bisa saja berawal dari keinginan yang belum sempat dijelaskan atau dipahami. Karena itu, ia menyarankan agar orang tua mendengarkan anak terlebih dahulu, lalu mencari formula yang dapat diterima bersama. Ketika muncul perbedaan pendapat, percakapan dapat membantu kedua pihak menjelaskan alasan masing-masing dan menyusun kesepakatan.

Baca juga: Gambut Jadi Medan Tempur, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Pantang Pulang Sebelum Bara Terkendali | Warga juga mengejar Pimpinan Proyek bernama Heri sebelum diamankan polisi