Aksi Mahasiswa di Bandung Jelang Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Berujung Saling Dorong

Aksi Mahasiswa di Bandung Jelang Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Berujung Saling Dorong

Bandung | Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Barat menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bandung, Selasa, 13 Oktober 2026. Aksi tersebut berlangsung menjelang genap dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kehadiran para mahasiswa menandai penyampaian aspirasi publik dari kalangan perguruan tinggi di Jawa Barat pada momentum politik nasional tersebut.

Para peserta aksi berkumpul di kawasan Bandung dengan membawa identitas aliansi mahasiswa masing-masing. Dalam kegiatan itu, penyampaian aspirasi dilakukan melalui orasi secara bergantian. Perwakilan mahasiswa menyampaikan pandangan mereka di hadapan peserta aksi dan massa yang berada di sekitar lokasi demonstrasi. Pergantian orator membuat penyampaian aspirasi berlangsung secara teratur, dengan setiap perwakilan memperoleh kesempatan untuk berbicara.

Aksi yang digelar pada Selasa tersebut menjadi perhatian karena dilaksanakan menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo. Ratusan mahasiswa dari berbagai elemen yang tergabung dalam Aliansi BEM SI Jawa Barat hadir untuk menyampaikan sikap mereka melalui demonstrasi. Kegiatan itu dipusatkan di kawasan Bandung dan berlangsung dengan orasi sebagai bentuk utama penyampaian aspirasi.

Seiring berlangsungnya aksi, situasi di lokasi kemudian diwarnai saling dorong massa mahasiswa dan pihak yang berada di area pengamanan. Peristiwa tersebut terjadi ketika demonstrasi masih berlangsung. Meski demikian, inti kegiatan tetap berupa penyampaian aspirasi mahasiswa melalui orasi yang dilakukan secara bergantian. Aksi ini menunjukkan keterlibatan mahasiswa Jawa Barat dalam menyuarakan pandangan mereka menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Ketegangan dalam aksi mahasiswa di Bandung mulai terlihat ketika waktu penyampaian pendapat di muka umum telah melewati batas yang ditetapkan. Sejak awal, massa menyampaikan aspirasi terkait perjalanan pemerintahan Prabowo menjelang dua tahun masa kerja. Namun, setelah batas waktu berakhir, kepolisian mengimbau peserta untuk mengakhiri kegiatan dan membubarkan diri secara tertib. Imbauan itu menjadi titik perubahan suasana, karena sebagian peserta masih bertahan di lokasi dan ingin melanjutkan penyampaian tuntutan.

Petugas kemudian berusaha mengarahkan massa agar bergerak meninggalkan area aksi. Dalam proses tersebut, terjadi saling dorong sebagian peserta demonstrasi dan polisi. Dorongan berlangsung di tengah upaya aparat membuat jarak serta menjaga agar situasi tidak meluas. Sejumlah peserta menanggapi tindakan tersebut dengan menyampaikan keberatan secara langsung. Adu mulut pun terjadi massa dan aparat, menandai meningkatnya ketegangan di lapangan, meskipun peristiwa itu tidak serta-merta berubah menjadi bentrokan besar.

Kericuhan kecil sempat mewarnai proses pembubaran. Beberapa orang terlihat berusaha bertahan, sementara petugas terus mengingatkan agar peserta mematuhi batas waktu aksi dan tidak menghalangi upaya penertiban. Suasana menjadi lebih ramai ketika suara protes, perintah petugas, dan gerakan massa berlangsung bersamaan. Meski demikian, perkembangan tersebut digambarkan sebagai ketegangan lokal berupa saling dorong dan adu argumen, bukan kerusuhan luas dengan eskalasi yang lebih besar.

Setelah beberapa saat, aparat tetap mengupayakan pembubaran secara bertahap dan meminta peserta meninggalkan lokasi. Massa kemudian mulai berpencar, walaupun ketegangan belum langsung mereda pada setiap bagian barisan. Rangkaian kejadian itu menunjukkan bahwa memanasnya aksi dipicu oleh perbedaan sikap mengenai waktu berakhirnya penyampaian pendapat. Dengan demikian, saling dorong dan kericuhan kecil muncul dalam konteks proses pembubaran setelah imbauan kepolisian, bukan sebagai bentrokan besar yang berlangsung berkepanjangan.

Blokade massa demonstrasi di Simpang Cikapayang Dago berdampak langsung pada kelancaran lalu lintas di sekitar lokasi. Ruas jalan yang digunakan dan ditutup oleh peserta aksi tidak dapat dilalui kendaraan, sehingga arus yang biasanya bergerak melalui simpang tersebut terhenti. Penutupan ini membuat kendaraan harus menunggu hingga akses kembali tersedia, sementara kepadatan lalu lintas meningkat di area yang terdampak.

Gangguan tersebut terlihat dari banyaknya pengendara yang tertahan akibat massa memenuhi bagian jalan untuk menyampaikan tuntutan. Sumber menyebut ribuan pengendara mengalami hambatan perjalanan di sekitar Simpang Cikapayang Dago. Kondisi itu menunjukkan bahwa aksi tidak hanya berlangsung di ruang yang digunakan untuk berkumpul, tetapi juga memengaruhi aktivitas pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

Hubungan aksi dan kemacetan terlihat pada penggunaan badan jalan sebagai lokasi demonstrasi. Ketika massa menutup akses kendaraan, ruang yang tersedia untuk pergerakan lalu lintas menjadi tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Akibatnya, arus kendaraan tidak berjalan lancar dan pengendara tertahan di sekitar titik blokade. Kemacetan parah pun terjadi karena kendaraan tidak dapat melewati simpang selama jalan dikuasai oleh massa aksi.

Dampak lalu lintas ini menjadi salah satu konsekuensi langsung dari demonstrasi mahasiswa di Bandung. Penutupan ruas jalan di Simpang Cikapayang Dago memperlihatkan bahwa aktivitas penyampaian aspirasi dapat mengganggu mobilitas masyarakat ketika berlangsung di jalur kendaraan. Dengan demikian, situasi di lokasi tidak hanya ditandai oleh keberadaan massa dan dinamika aksi, tetapi juga oleh terhambatnya arus lalu lintas serta tertahannya ribuan pengendara.

Situasi terakhir dalam aksi mahasiswa di Bandung menunjukkan bahwa penyampaian aspirasi masih berlangsung meskipun massa dihadang oleh petugas. Polisi menghalau pergerakan peserta aksi dan menghadang mereka menggunakan barikade. Penghalangan tersebut membuat ruang gerak massa menjadi terbatas, terutama di area yang menjadi jalur pertemuan mahasiswa dan aparat.

Di tengah kondisi itu, para mahasiswa tetap berupaya melanjutkan aksi. Penyampaian aspirasi dilakukan melalui orasi secara bergantian. Sejumlah peserta menyampaikan pandangan dan tuntutan dari sekitar barisan massa, sementara peserta lainnya tetap bertahan di lokasi. Pola orasi bergantian tersebut menjadi cara mahasiswa menjaga keberlangsungan aksi ketika akses mereka berhadapan dengan barikade petugas.

Penghadangan oleh aparat tidak serta-merta menghentikan kegiatan yang dilakukan mahasiswa. Berdasarkan informasi yang tersedia, aksi masih berjalan di tengah upaya polisi menghalau dan membatasi pergerakan massa. Situasi tersebut memperlihatkan adanya ketegangan peserta aksi dan petugas di lapangan, tetapi sumber tidak menjelaskan adanya perubahan lebih lanjut terhadap jalannya kegiatan.

Informasi yang tercantum juga tidak menyebutkan adanya penangkapan terhadap peserta, korban luka, kerusakan fasilitas, maupun pembubaran total. Karena itu, kondisi terakhir yang dapat ditegaskan adalah mahasiswa masih menyampaikan aspirasi melalui orasi bergantian, sementara polisi berupaya menghadang massa dengan barikade. Perkembangan setelah situasi tersebut tidak tersedia dalam sumber yang menjadi rujukan, sehingga kesimpulan mengenai tindakan lanjutan perlu menunggu keterangan tambahan yang terverifikasi.

Baca juga: Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo | Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan