Jakarta | Hashim S. Djojohadikusumo melepas 1,42 miliar saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), perusahaan yang dikenal dengan nama Surge. Saham tersebut dijual melalui PT Investasi Sukses Bersama (ISB) dan dibeli oleh PT Sinergi Graha Kapital. Transaksi itu berlangsung pada 19 Oktober 2026 dengan harga Rp2.870 per saham. Berdasarkan harga tersebut, nilai keseluruhan pelepasan saham mencapai sekitar Rp4,06 triliun. Jumlah yang dialihkan setara dengan 26,667% hak suara perseroan.
Besarnya nilai transaksi mencerminkan perubahan signifikan pada komposisi kepemilikan saham WIFI. ISB menjadi pihak yang melepas paket saham tersebut, sedangkan Sinergi Graha Kapital tercatat sebagai pembeli. Harga Rp2.870 per saham menjadi dasar perhitungan nilai transaksi, yang secara aritmetika berada di kisaran Rp4,07 triliun dan dilaporkan sekitar Rp4,06 triliun. Perbedaan pembulatan tersebut tidak mengubah gambaran bahwa transaksi ini melibatkan nilai triliunan rupiah dan porsi hak suara yang besar di perusahaan.
Setelah transaksi, kepemilikan ISB di WIFI turun menjadi 27,756%. Dengan demikian, pengalihan saham tidak hanya menunjukkan perpindahan kepemilikan dua badan usaha, tetapi juga mengurangi porsi saham yang dikendalikan melalui ISB. Angka 26,667% merujuk pada hak suara dari saham yang dilepas, sedangkan 27,756% menunjukkan kepemilikan ISB setelah transaksi. Kedua angka tersebut menggambarkan aspek yang berbeda dan perlu dibaca sesuai konteksnya. Informasi mengenai tanggal, harga, jumlah saham, nilai, serta pihak pembeli memberikan dasar untuk memahami skala perubahan kepemilikan itu. Transaksi ini menjadi salah satu perubahan kepemilikan penting di WIFI, mengingat nilai saham yang dialihkan mencapai sekitar Rp4,06 triliun dan mewakili lebih dari seperempat hak suara perseroan. Pelepasan dilakukan melalui ISB, sementara saham yang sama berpindah kepada Sinergi Graha Kapital pada tanggal yang disebutkan.Transaksi pelepasan saham WIFI oleh Hashim mengubah komposisi kepemilikan dua perusahaan yang terkait dengan perdagangan tersebut. Sebelum penjualan, ISB menguasai 54,42% saham WIFI. Setelah transaksi, porsi kepemilikan ISB tercatat turun menjadi 27,756%, setara dengan sekitar 1,47 miliar saham. Perubahan ini menunjukkan berkurangnya kepemilikan ISB secara signifikan dibandingkan posisi sebelum transaksi, sekaligus mengubah proporsi saham yang dimiliki para pemegang saham di WIFI.
Di sisi lain, Sinergi Graha Kapital muncul sebagai pemegang saham baru dengan kepemilikan sebanyak 1,42 miliar saham WIFI atau 26,667%. Dengan demikian, perusahaan tersebut memiliki porsi yang mendekati kepemilikan ISB setelah transaksi. Data kepemilikan tersebut menggambarkan pergeseran komposisi pemegang saham: porsi ISB menjadi lebih rendah, sementara Sinergi Graha Kapital tercatat memiliki saham dalam jumlah besar. Angka kepemilikan masing-masing pihak memberikan gambaran mengenai perubahan struktur kepemilikan setelah transaksi selesai.
Sinergi Graha Kapital menyebut pembelian saham tersebut sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang. Pernyataan itu menjelaskan kerangka yang digunakan perusahaan untuk menggambarkan transaksi pembelian, tanpa mengubah rincian jumlah maupun persentase saham yang dimiliki. Dalam komposisi setelah transaksi, ISB tercatat memiliki sekitar 1,47 miliar saham atau 27,756%, sedangkan Sinergi Graha Kapital memiliki 1,42 miliar saham atau 26,667%. Kedua angka tersebut memperlihatkan posisi kepemilikan masing-masing perusahaan setelah perubahan. Sementara itu, perbandingan dengan porsi ISB sebelumnya, yakni 54,42%, menegaskan bahwa transaksi membawa perubahan besar pada pembagian kepemilikan saham WIFI. Informasi mengenai porsi saham sebelum dan sesudah transaksi serta kepemilikan pemegang saham baru menjadi dasar untuk memahami perubahan tersebut, tanpa menyimpulkan hal lain di luar keterangan yang tersedia.
Hubungan Hashim dengan WIFI perlu dipahami melalui rantai kepemilikan, bukan sebagai kepemilikan langsung atas saham emiten tersebut. Hashim berkaitan dengan PT Innovatech Sukses Bersama (ISB) melalui PT Arsari Sentra Data, yang memiliki 45% saham ISB. ISB selanjutnya tercatat sebagai salah satu pemegang saham WIFI. Dengan demikian, keterkaitan Hashim dengan WIFI bersifat tidak langsung dan berlangsung melalui entitas perusahaan dalam struktur tersebut.
Susunan ini penting ketika membaca informasi mengenai penjualan 1,42 miliar saham WIFI. Angka transaksi itu merujuk pada saham WIFI yang dilepas dalam peristiwa yang diberitakan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa saham tersebut merupakan kepemilikan pribadi Hashim. Untuk memastikan pihak yang melakukan transaksi, jumlah saham yang dijual, serta perubahan porsi kepemilikan, pembaca perlu merujuk pada keterbukaan informasi atau dokumen resmi yang mencantumkan nama penjual dan pemegang saham terkait.
Perubahan kepemilikan ISB di WIFI juga berbeda dari perubahan kepemilikan Arsari Sentra Data di ISB. Keduanya berada pada tingkat yang berlainan dalam rantai perusahaan. Porsi 45% menjelaskan hubungan Arsari Sentra Data dengan ISB, sedangkan angka kepemilikan ISB pada WIFI menggambarkan posisi ISB sebagai pemegang saham emiten. Karena itu, penurunan persentase saham WIFI yang dimiliki ISB harus dibaca sebagai perubahan pada tingkat ISB, bukan otomatis sebagai perubahan langsung dalam portofolio pribadi Hashim.
Secara ringkas, informasi yang tersedia menggambarkan jalur tidak langsung: Arsari Sentra Data memiliki 45% saham ISB, lalu ISB menjadi pemegang saham WIFI. Penyebutan Hashim dalam konteks transaksi dapat menjelaskan keterkaitannya dengan struktur tersebut, tetapi tidak boleh menghapus perbedaan individu, perusahaan perantara, dan pemegang saham tercatat. Ketelitian ini membantu menghindari kesimpulan bahwa Hashim secara pribadi melepas seluruh 1,42 miliar saham, kecuali dokumen sumber secara eksplisit menyatakan demikian.
Perubahan kepemimpinan di WIFI menjadi konteks penting dalam membaca waktu penjualan saham Hashim. Transaksi pelepasan sekitar 1,42 miliar saham tersebut berlangsung setelah Hashim mengundurkan diri dari posisi komisaris utama perseroan. Setelah transaksi, kepemilikan PT Investasi Sukses Bersama (ISB) tercatat turun menjadi 27,756%. Urutan peristiwa ini menjelaskan bahwa pengunduran diri lebih dahulu disampaikan, sementara penjualan saham terjadi sesudahnya. Namun, informasi tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat keputusan mundur dari jabatan dan pelepasan saham.
Hashim menyampaikan pengunduran dirinya melalui surat bertanggal 29 September 2026. Manajemen WIFI menerima surat itu pada 30 September 2026, sedangkan pengunduran diri dinyatakan berlaku sejak tanggal surat ditandatangani. Dengan demikian, tanggal penyampaian surat, tanggal penerimaan oleh perseroan, dan tanggal efektif pengunduran diri merupakan rincian yang berbeda. Ketiganya memberi gambaran mengenai proses administrasi perubahan jabatan, tetapi tidak mengubah informasi dasar bahwa transaksi saham berlangsung setelah keputusan pengunduran diri tersebut.
Dalam suratnya, Hashim juga meminta perseroan menggelar rapat umum pemegang saham untuk memproses pengunduran dirinya sesuai dengan anggaran dasar perusahaan. Permintaan itu menunjukkan bahwa perubahan posisi komisaris utama perlu ditindaklanjuti melalui mekanisme korporasi yang berlaku. Rapat pemegang saham menjadi jalur formal untuk membahas dan mencatat perubahan susunan pengurus, bukan penjelasan mengenai alasan transaksi saham. Sampai informasi mengenai transaksi dan surat pengunduran diri dipaparkan, tidak ada dasar untuk menyatakan bahwa satu peristiwa menjadi pemicu bagi peristiwa lainnya. Karena itu, kedua hal tersebut sebaiknya dipahami sebagai perkembangan terpisah yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan: Hashim lebih dahulu menyampaikan pengunduran diri, kemudian melepas saham, sementara porsi kepemilikan ISB berubah menjadi 27,756%.






