Jakarta | Alexandr Wang mengaku sempat bingung ketika Mark Zuckerberg membalas pertanyaannya melalui WhatsApp dengan pesan yang panjang dan sangat terperinci. Wang mengetahui bahwa Zuckerberg memimpin Meta dan memiliki jadwal kerja yang padat, sehingga ia tidak menyangka pertanyaan singkatnya akan mendapat jawaban sepanjang itu. Respons tersebut bukan sekadar sapaan atau tanggapan ringkas, melainkan penjelasan yang disusun dengan cermat dan memuat pemikiran Zuckerberg mengenai persoalan bisnis yang ditanyakan.
Pengalaman itu terjadi sebelum Wang bergabung dengan Meta. Pada masa tersebut, ia menjabat sebagai CEO sekaligus salah satu pendiri Scale AI, perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan data untuk pengembangan kecerdasan buatan. Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin perusahaan muda, Wang sesekali menghubungi Zuckerberg untuk meminta nasihat tentang bisnis. Ia ingin memperoleh pandangan dari seorang pengusaha yang telah membangun dan menjalankan perusahaan teknologi berskala besar. Hubungan komunikasi itu membuat Wang dapat mengajukan pertanyaan secara langsung, meski ia tetap menyadari bahwa waktu Zuckerberg sangat terbatas.
Wang menceritakan kisah tersebut dalam podcast Founders. Dalam percakapan itu, ia mengungkapkan bahwa panjangnya balasan membuatnya bertanya-tanya bagaimana Zuckerberg bisa menyediakan waktu untuk menulis jawaban sedemikian lengkap. Bagi Wang, isi pesannya bukan hanya mengejutkan karena detailnya, tetapi juga karena datang dari seseorang yang memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin perusahaan global. Ia mempertanyakan bagaimana Zuckerberg mampu meluangkan perhatian untuk membaca pertanyaan dan meresponsnya secara mendalam di tengah kesibukan sehari-hari. Kisah itu memberi gambaran tentang cara Zuckerberg berkomunikasi dengan para pendiri dan pemimpin bisnis yang meminta masukan. Wang tidak menggambarkan respons tersebut sebagai sesuatu yang biasa ia terima, melainkan sebagai pengalaman yang menonjol dan membuatnya heran. Pesan itu menunjukkan bahwa, setidaknya dalam interaksi tersebut, Zuckerberg bersedia memberikan jawaban yang lebih substansial daripada yang mungkin diharapkan dari percakapan singkat melalui aplikasi pesan. Cerita Wang sekaligus menyoroti kesan yang ditinggalkan oleh balasan itu sebelum hubungan profesional mereka berkembang lebih jauh di Meta.Alexandr Wang kemudian menjelaskan bahwa pesan panjang Mark Zuckerberg di WhatsApp tidak lagi ia pahami sebagai sesuatu yang membingungkan. Setelah melihat cara Zuckerberg berkomunikasi, Wang menyadari bahwa CEO Meta itu telah mengasah kemampuan untuk menulis dengan cepat dan tepat. Bagi Wang, kemampuan tersebut terlihat dari cara Zuckerberg menyampaikan jawaban yang terperinci tanpa perlu mengorbankan kualitas isi. Panjangnya pesan bukan berarti gagasan di dalamnya disusun secara sembarangan atau kehilangan ketelitian. Sebaliknya, Zuckerberg mampu menggabungkan kecepatan, kejelasan, dan kelengkapan ketika merespons sebuah hal.
Pengamatan Wang berpusat pada keterampilan menulis yang telah dikembangkan Zuckerberg. Ia melihat bahwa Zuckerberg dapat menyusun jawaban yang teliti sekaligus panjang dalam waktu singkat. Dengan demikian, proses penulisan yang cepat tidak membuat jawaban menjadi kurang cermat. Pesan yang dihasilkan tetap memuat uraian yang cukup lengkap, sementara penyampaiannya menunjukkan perhatian terhadap rincian. Wang menilai kemampuan tersebut membuat Zuckerberg menjadi komunikator yang sangat efektif dan mengesankan. Penilaian itu merujuk pada kecakapan Zuckerberg dalam merangkai respons secara cepat, panjang, dan tetap berkualitas, sebagaimana tampak dalam komunikasi melalui WhatsApp.
Pemahaman Wang tersebut menjelaskan mengapa pesan-pesan Zuckerberg dapat terasa panjang, tetapi tetap terarah. Ia mampu memberikan jawaban yang luas dan teliti tanpa membutuhkan waktu lama untuk menyusunnya. Bagi Wang, kemampuan menulis dengan cepat dan tepat merupakan keterampilan yang telah diasah, bukan sekadar kebiasaan mengirim pesan panjang. Kecakapan itu memungkinkan Zuckerberg menyampaikan tanggapan yang mendetail dengan kualitas yang tetap terjaga. Karena itu, Wang memandangnya sebagai komunikator yang sangat efektif sekaligus mengesankan. Pengamatannya tetap bertumpu pada hal yang ia saksikan: Zuckerberg dapat menghasilkan jawaban panjang yang cermat dalam waktu singkat, tanpa mengurangi mutu tulisan maupun ketelitian responsnya.
Dalam penjelasannya, Alexadr Wang menilai bahwa kemampuan Mark Zuckerberg menangani beragam tanggung jawab berkaitan erat dengan cara ia menentukan prioritas. Menurut Wang, seseorang yang memiliki banyak peran tidak selalu harus mengerjakan semuanya pada waktu yang sama. Yang penting adalah menetapkan hal yang paling perlu mendapat perhatian, lalu mengatur waktu dan tenaga sesuai urutan tersebut. Pandangan itu ia gunakan untuk menjelaskan bagaimana Zuckerberg dapat menjalankan berbagai kewajiban tanpa mengabaikan aspek kehidupan lain.
Wang juga mengaitkan penetapan prioritas itu dengan peran Zuckerberg di dalam keluarga. Ia menyampaikan penilaiannya bahwa Zuckerberg dapat meluangkan waktu untuk menjadi ayah dan pasangan yang baik, sekaligus tetap menjalankan tanggung jawab profesional serta kegiatan lainnya. Pernyataan tersebut menggambarkan cara Wang memahami pengelolaan waktu Zuckerberg, bukan keterangan independen yang memastikan bagaimana kehidupan pribadi sang pendiri Meta berlangsung. Dengan demikian, fokusnya berada pada prinsip pembagian perhatian yang menurut Wang membuat berbagai peran itu dapat berjalan berdampingan.
Pandangan Wang menekankan bahwa banyaknya tuntutan tidak otomatis berarti seseorang harus mengorbankan seluruh waktu pribadi. Melalui prioritas yang jelas, seseorang dapat menentukan kapan pekerjaan perlu didahulukan dan kapan keluarga patut menjadi perhatian utama. Dalam konteks komentar tentang Zuckerberg, Wang melihat kemampuan memilih fokus sebagai hal yang memungkinkan seseorang mengelola tanggung jawab yang berbeda. Ia tidak menggambarkan pembagian waktu tersebut sebagai sesuatu yang terjadi tanpa usaha, melainkan sebagai hasil dari keputusan mengenai apa yang penting pada saat tertentu. Penilaian ini memberi konteks pada pembicaraan tentang pesan panjang Zuckerberg di WhatsApp yang sempat membingungkannya: di balik aktivitas yang beragam, Wang melihat adanya cara berpikir terarah dalam mengatur prioritas. Namun, klaim mengenai keseimbangan pekerjaan dan keluarga tetap perlu dipahami sebagai kesan yang disampaikan Wang, bukan kesimpulan pasti mengenai kehidupan rumah tangga Zuckerberg. Komentar itu lebih tepat dibaca sebagai pandangan tentang strategi mengelola peran, sekaligus pengakuan bahwa perhatian terhadap keluarga dapat ditempatkan sebagai salah satu prioritas di tengah kesibukan. Bagi Wang, kemampuan tersebut menunjukkan bahwa menjalankan banyak tanggung jawab dimungkinkan ketika seseorang secara sadar menentukan batas dan fokusnya.Hubungan Alexadr Wang dan Mark Zuckerberg bermula sebelum Meta mengambil langkah besar di bidang kecerdasan buatan. Keduanya diperkenalkan melalui Alex Schultz, eksekutif Meta, sekitar 2021–2022. Pada periode itu, perhatian Zuckerberg terhadap AI mulai berkembang, sementara Wang telah membangun Scale AI sebagai perusahaan yang menyediakan data dan layanan untuk pengembangan sistem kecerdasan buatan. Perkenalan tersebut menjadi awal komunikasi mereka, meski belum langsung berujung pada kerja sama formal yang erat. Seiring waktu, Zuckerberg dan Wang memiliki kesempatan untuk membahas perkembangan teknologi AI serta tantangan yang dihadapi perusahaan dalam bidang tersebut.
Sekitar empat tahun setelah perkenalan awal, Zuckerberg meminta Wang untuk bekerja lebih dekat dengan Meta. Permintaan itu muncul ketika Meta menghadapi kesulitan mengejar dan bersaing dengan sejumlah pengembang AI lain. Bagi Zuckerberg, pengalaman Wang membangun Scale AI dan pemahamannya tentang industri kecerdasan buatan dinilai relevan dengan upaya Meta memperkuat pengembangan teknologinya. Namun, keputusan tersebut tidak sederhana bagi Wang. Ia masih memimpin Scale AI dan harus mempertimbangkan apa artinya meninggalkan posisi yang telah ia bangun, sekaligus menilai peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam strategi AI Meta.
Wang sempat merasa ragu untuk meninggalkan Scale AI. Karena itu, pembicaraan dengan Zuckerberg berlangsung selama berminggu-minggu, bukan melalui keputusan yang langsung dibuat setelah satu percakapan.
Baca juga: Peduli Kemarau Panjang, Kodim Bojonegoro Salurkan 130 Ribu Liter Air Bersih Setiap Hari






