Sekolah Rakyat Garut Membekali Siswa dengan Keterampilan Teknologi Digital

Sekolah Rakyat Garut Membekali Siswa dengan Keterampilan Teknologi Digital

Kabupaten Garut | Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadikan pembelajaran teknologi digital sebagai bagian dari proses pendidikan bagi para siswa. Materi tersebut diperkenalkan secara berkelanjutan untuk membantu peserta didik memahami perkembangan teknologi sekaligus mengenali peluang yang dapat muncul dari pemanfaatannya. Langkah ini menjadi bagian penting dalam membekali siswa agar lebih siap menghadapi perubahan di bidang pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.

Pengenalan teknologi digital tidak hanya diarahkan pada kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga pada pembentukan pemahaman mengenai fungsi dan manfaatnya secara tepat. Melalui kegiatan belajar yang dilakukan secara bertahap, siswa mendapatkan kesempatan untuk beradaptasi dengan lingkungan digital. Mereka didorong untuk mengembangkan rasa ingin tahu, mengikuti proses pembelajaran dengan aktif, serta memahami bahwa teknologi dapat digunakan sebagai sarana memperoleh pengetahuan dan mengembangkan keterampilan.

Program tersebut mendapat sambutan positif dari para siswa. Mereka menunjukkan minat terhadap materi yang diberikan dan menikmati pengalaman belajar yang berkaitan dengan dunia digital. Antusiasme ini menjadi modal penting bagi sekolah untuk terus menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Selain memperkaya pengalaman pendidikan, penguasaan dasar teknologi juga diharapkan dapat membuka wawasan siswa mengenai berbagai kesempatan yang tersedia di masa depan.

Kepala Sekolah Rakyat 39 Kabupaten Garut, Andi Yasir Habibi, menyampaikan bahwa para siswa menikmati pelajaran digital yang diberikan di sekolah. Pernyataan itu disampaikan di Sekolah Rakyat, Kecamatan Samarang, Garut, pada Senin. Menurut keterangan tersebut, pembelajaran teknologi telah diperkenalkan secara berkelanjutan, sehingga siswa dapat mengikuti materi secara lebih konsisten. Upaya ini memperlihatkan komitmen Sekolah Rakyat Garut dalam menyiapkan peserta didik agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta memanfaatkannya secara positif dan bertanggung jawab.

Angkatan pertama Sekolah Rakyat Garut terdiri atas 75 siswa yang mengikuti jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama. Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 siswa berada pada tingkat SD, sedangkan 50 siswa menempuh pendidikan pada tingkat SMP. Komposisi ini menunjukkan cakupan layanan sekolah yang mencakup kebutuhan belajar anak pada dua tahap penting dalam pendidikan formal. Setiap siswa diterima melalui proses seleksi yang mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi keluarga. Seluruh peserta didik berasal dari keluarga kurang mampu serta kelompok anak yang sebelumnya mengalami putus sekolah. Dengan latar belakang tersebut, kehadiran Sekolah Rakyat Garut menjadi bagian dari upaya menyediakan akses pendidikan yang lebih berkelanjutan bagi anak-anak yang menghadapi hambatan untuk bersekolah.

Kegiatan pendidikan di sekolah ini telah berjalan selama tiga semester. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran digital diterapkan sebagai salah satu bentuk kegiatan pendidikan yang mendukung proses belajar mengajar. Pendekatan tersebut tidak hanya memperkenalkan siswa pada penggunaan teknologi, tetapi juga membantu menghadirkan bahan ajar dalam format yang lebih beragam. Materi dapat disampaikan melalui teks, gambar, presentasi, maupun sumber digital yang relevan dengan pelajaran. Penerapan teknologi tetap ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran pendidik. Guru tetap mengarahkan siswa, menjelaskan materi, memantau pemahaman, serta memastikan penggunaan perangkat berlangsung secara tertib dan sesuai tujuan pendidikan.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, setiap siswa memiliki laptop yang digunakan dalam proses pembelajaran sehari-hari. Ketersediaan perangkat secara individual memungkinkan siswa mengikuti latihan, mengakses materi, mengerjakan tugas, dan mengembangkan keterampilan digital secara lebih konsisten. Selain laptop, setiap ruang kelas dilengkapi smart board yang dapat dimanfaatkan untuk menampilkan materi, ilustrasi, video pembelajaran, atau hasil pekerjaan siswa. Perangkat ini digunakan bersama dengan kemampuan guru dalam memanfaatkan media digital secara efektif. Kolaborasi fasilitas teknologi dan kompetensi pendidik membantu menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, terarah, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dengan dukungan tersebut, siswa memperoleh pengalaman belajar sekaligus bekal dasar untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK), koding, serta kecerdasan artifisial diterapkan bagi siswa tingkat SMP di Sekolah Rakyat Garut. Materi tersebut menjadi bagian dari kegiatan belajar yang memperkenalkan penggunaan teknologi digital secara langsung. Melalui pembelajaran ini, siswa mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan media dan perangkat digital sesuai materi yang diberikan di sekolah.

Untuk menunjang kegiatan belajar, masing-masing siswa SMP memperoleh satu laptop. Perangkat tersebut digunakan dalam proses pembelajaran, termasuk ketika siswa mengikuti pelajaran TIK serta koding dan kecerdasan artifisial. Ketersediaan laptop membuat setiap siswa memiliki perangkat untuk digunakan selama kegiatan belajar, sehingga pelaksanaan materi dapat dilakukan dengan dukungan media digital.

Pelajaran TIK serta koding dan kecerdasan artifisial berlangsung satu kali setiap pekan. Dalam pelaksanaannya, siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga mengikuti kegiatan praktik menggunakan laptop dan media digital. Pendekatan praktik tersebut menjadi bagian dari aktivitas belajar yang dilakukan secara berkala, sesuai jadwal pembelajaran bagi siswa SMP.

Andi Yasir Habibi menjelaskan bahwa suasana belajar menjadi menyenangkan ketika siswa menggunakan media digital. Keterangan tersebut menggambarkan suasana kelas saat siswa berinteraksi dengan perangkat dan materi pembelajaran berbasis teknologi. Penggunaan laptop dalam kegiatan TIK, koding, dan kecerdasan artifisial membuat siswa mengikuti pembelajaran melalui kegiatan yang bersifat praktik, bukan hanya melalui penyampaian materi secara lisan. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran teknologi digital berlangsung dalam jadwal khusus setiap pekan dan melibatkan penggunaan perangkat oleh masing-masing siswa.

Pengajaran teknologi digital di Sekolah Rakyat Garut dilakukan secara bertahap agar siswa dapat mengikuti materi sesuai kemampuan masing-masing. Guru TIK, Sarah, memulai pembelajaran dengan memperkenalkan berbagai perangkat digital, terutama laptop, beserta fungsi dasar setiap bagiannya. Siswa diajak mengenali layar, papan ketik, tetikus, serta tombol-tombol yang sering digunakan. Tahap awal ini penting karena sebagian siswa sebelumnya belum pernah mengoperasikan laptop secara mandiri.

Selain keterampilan teknis, Sarah memberikan literasi mengenai sisi positif dan negatif teknologi digital. Siswa belajar bahwa perangkat dan internet dapat membantu mencari informasi, berkomunikasi, serta mendukung proses belajar. Namun, mereka juga perlu memahami risiko penggunaan yang tidak bijak, seperti penyebaran informasi palsu, kecanduan, pelanggaran privasi, dan paparan konten yang tidak sesuai. Dengan pemahaman tersebut, siswa diarahkan untuk menggunakan teknologi secara aman, bertanggung jawab, dan sesuai kebutuhan.

Seiring pembelajaran berlangsung, perkembangan siswa terlihat cukup signifikan. Mereka yang pada awalnya kesulitan menyalakan laptop, menggunakan tetikus, atau mengetik, mulai mampu menjalankan perangkat dan mengikuti materi dasar TIK. Siswa juga berlatih membuka aplikasi, membuat dokumen sederhana, serta memanfaatkan internet dengan pendampingan guru. Proses dilakukan melalui latihan berulang dan penjelasan yang mudah dipahami sehingga siswa semakin percaya diri untuk mencoba.

Sarah berharap siswa tidak hanya dapat menggunakan laptop, tetapi juga memahami cara kerjanya secara sederhana dan mengetahui prinsip dasar internet. Pengetahuan itu diharapkan membantu mereka menempatkan diri secara tepat di dunia digital, baik sebagai pengguna maupun pembelajar yang kritis. Raihan, siswa SMP, mengaku kini lebih memahami TIK setelah belajar menggunakan laptop. Ia menjadi tertarik mendalami teknologi dan berharap dapat menjadi programmer. Menurutnya, pembelajaran yang diberikan mudah dipahami dan membuatnya berani mengeksplorasi kemampuan baru.

Baca juga: Pemkot Tangerang keluarkan SE jemput anak sekolah pada 27–28 Agustus | Cyber Competition 2026 Jadi Wadah Cetak Talenta Muda di Ranah Digital