Jakarta | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, mengajak para santri untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan Indonesia. Ajakan tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026 di hadapan para santri Pondok Pesantren Mojosari, Nganjuk, Jawa Timur. Pesan itu menempatkan santri bukan hanya sebagai penjaga tradisi keilmuan dan keagamaan, tetapi juga sebagai bagian penting dari masyarakat yang ikut menentukan arah kemajuan bangsa. Dengan bekal ilmu, nilai keislaman, dan akhlak, santri diharapkan dapat mengambil peran sesuai kemampuan serta menjawab kebutuhan lingkungan dan perkembangan zaman.
Arifah Fauzi mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh banyak pihak, termasuk para pahlawan, ulama, kiai, dan santri. Semangat perjuangan mereka, menurut pesan yang disampaikan dalam kesempatan tersebut, perlu diteruskan oleh generasi masa kini. Bentuk perjuangan tidak lagi terbatas pada medan pertempuran, melainkan dapat diwujudkan melalui kontribusi dalam kehidupan berbangsa. Santri dapat mengisi pembangunan dengan belajar secara tekun, mengembangkan kapasitas diri, menjaga persatuan, serta terlibat dalam berbagai kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat. Nilai keberanian, pengabdian, dan kepedulian yang diwariskan para pendahulu dapat menjadi landasan bagi keterlibatan itu.
Peringatan Hari Santri menjadi ruang untuk meneguhkan kembali hubungan ilmu, akhlak, dan tanggung jawab kebangsaan. Pesan kepada santri Pondok Pesantren Mojosari tersebut mendorong mereka agar tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi juga memikirkan kontribusi bagi sesama. Partisipasi dalam pembangunan dapat hadir melalui beragam bidang, sesuai minat, pengetahuan, dan tantangan di sekitar mereka. Dalam menjalankan peran tersebut, santri dapat membawa nilai moral serta sikap saling menghormati ke ruang sosial yang lebih luas. Ajakan Menteri PPPA ini menegaskan bahwa generasi santri memiliki kesempatan untuk meneruskan cita-cita para pejuang dengan ikut membangun Indonesia. Dengan demikian, warisan perjuangan dapat tetap hidup melalui tindakan nyata, ketekunan menuntut ilmu, dan pengabdian yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Arifah memandang santri sebagai kelompok yang memiliki potensi besar untuk mengambil bagian dalam pembangunan Indonesia. Bekal ilmu yang diperoleh di pesantren, disertai pengalaman hidup dalam lingkungan yang menekankan disiplin dan kebersamaan, dapat menjadi modal untuk berkontribusi di berbagai bidang. Peran santri tidak terbatas pada kegiatan keagamaan, tetapi juga dapat hadir dalam pendidikan, sosial, ekonomi, kebudayaan, serta pengembangan masyarakat. Dengan kemampuan dan kepedulian tersebut, santri dapat ikut menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat kehidupan bangsa.
Dalam pandangan Arifah, santri juga merupakan salah satu jangkar bangsa. Nilai-nilai yang mereka pelajari, seperti keteguhan, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama, dapat membantu menjaga arah kehidupan bersama di tengah perubahan. Menjadi jangkar bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa pembangunan tetap berpijak pada nilai yang memberi manfaat bagi manusia dan masyarakat. Karena itu, kontribusi santri penting untuk mendorong kemajuan yang tidak hanya mengejar hasil material, tetapi juga memperhatikan keadilan, persatuan, dan martabat.
Kebanggaan menyandang identitas sebagai santri, menurut Arifah, perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab. Kebanggaan itu bukan sekadar pengakuan atas latar pendidikan atau tradisi, melainkan dorongan untuk meneruskan nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu. Santri diharapkan mampu menjaga semangat belajar, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menggunakan ilmunya untuk kepentingan yang lebih luas. Dengan demikian, nilai pesantren dapat hadir secara nyata dalam tindakan, keputusan, dan pengabdian sehari-hari.
Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, integritas, dan budi pekerti. Kecakapan berpikir penting untuk menghadapi persoalan, sementara karakter menjadi dasar agar pengetahuan digunakan secara bertanggung jawab. Perpaduan keduanya merupakan fondasi bagi generasi mendatang yang mampu membangun tanpa kehilangan kepedulian dan prinsip. Santri dapat berperan dalam menumbuhkan keseimbangan tersebut, sekaligus menjadi teladan bahwa kemajuan bangsa perlu ditopang oleh ilmu, moral, dan komitmen untuk melayani masyarakat.
Masa pendidikan di pesantren merupakan kesempatan penting bagi santri untuk memperkuat ilmu, kedisiplinan, dan karakter. Proses belajar tidak hanya membantu mereka memahami pengetahuan, tetapi juga melatih kesungguhan dalam menuntut ilmu serta tanggung jawab terhadap kewajiban. Bekal tersebut tumbuh melalui kebiasaan menghargai waktu, menjaga komitmen, dan bersikap tekun ketika menghadapi kesulitan. Dengan demikian, pendidikan menjadi landasan bagi santri untuk mengembangkan kemampuan diri secara seimbang. Pengetahuan memberi mereka pemahaman untuk membaca keadaan, sementara disiplin membantu menerapkan pemahaman itu secara konsisten. Karakter yang baik menjaga agar kemampuan tersebut digunakan dengan pertimbangan dan tujuan yang bermanfaat.
Ilmu dan karakter memiliki peran yang saling melengkapi dalam kehidupan bermasyarakat. Santri yang menguasai pengetahuan dapat ikut memahami persoalan di sekitarnya, menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab, dan mencari jalan keluar dengan pertimbangan yang matang. Kedisiplinan mendukung mereka untuk menjalankan peran secara tertib dan dapat dipercaya. Sementara itu, akhlak mendorong sikap hormat, kepedulian, serta kesediaan bekerja bersama orang lain. Perpaduan ini membuat bekal pendidikan tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, melainkan dapat diterapkan untuk mendukung kehidupan bersama. Dalam interaksi dengan masyarakat, santri dapat menghadirkan sikap terbuka, menjaga kepercayaan, dan berkontribusi sesuai kemampuan serta kebutuhan lingkungan. Penerapan ilmu juga menuntut kesediaan untuk terus belajar dan mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan.
Bekal tersebut semakin berarti ketika santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Perkembangan keadaan menuntut kemampuan memahami informasi, menyesuaikan diri, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Ilmu menyediakan dasar untuk menilai perubahan, sedangkan disiplin membantu seseorang tetap tekun dan terarah. Karakter yang kuat menjadi pegangan saat berhadapan dengan perbedaan pandangan maupun situasi yang tidak mudah. Santri dapat mengembangkan kesiapan menghadapi tantangan dengan terus memperluas wawasan tanpa meninggalkan nilai-nilai yang membentuk dirinya. Sikap mau belajar, bertanggung jawab, dan menjaga akhlak memungkinkan mereka merespons perubahan secara konstruktif. Karena itu, masa pendidikan di pesantren dapat menjadi fondasi bagi santri untuk tumbuh sebagai pribadi yang berpengetahuan, tertib, dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat dalam beragam keadaan.
Pembentukan karakter anak tidak berlangsung dalam satu tahap, melainkan tumbuh melalui kebiasaan, teladan, dan hubungan yang dibangun sejak dini. Karena itu, orang tua, guru, serta pengasuh pesantren memiliki tanggung jawab bersama untuk menghadirkan lingkungan yang aman dan mendukung. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari cara orang dewasa bersikap, berbicara, menyelesaikan masalah, dan memperlakukan orang lain. Keteladanan yang konsisten membantu nilai agama, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian tertanam dalam kehidupan sehari-hari.
Kerja sama keluarga dan lembaga pendidikan perlu dibangun melalui komunikasi yang terbuka. Orang tua dapat menyampaikan kebiasaan dan kebutuhan anak, sementara guru serta pengasuh berbagi pengamatan mengenai perkembangan mereka. Dengan pemahaman yang selaras, pendampingan tidak berhenti di ruang kelas atau lingkungan pesantren, tetapi berlanjut di rumah dan masyarakat. Anak pun memperoleh batasan yang jelas sekaligus perhatian yang cukup untuk bertanya, mencoba, dan belajar dari kesalahan tanpa merasa dihakimi.
Pendampingan yang kuat semakin penting ketika anak menghadapi perubahan zaman dan derasnya arus informasi. Teknologi digital membuka peluang untuk belajar, berkreasi, dan berkomunikasi, tetapi juga membawa risiko, seperti paparan konten yang tidak sesuai, perundungan daring, dan penggunaan gawai berlebihan. Orang dewasa perlu hadir untuk mengenalkan aturan penggunaan yang sehat, membahas keamanan serta etika digital, dan membantu anak menilai informasi secara kritis.
Baca juga: Wujudkan Dukungan Pembangunan di Desa, Babinsa Hadiri Musrenbangdes | Pesan Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto : TNI Harus Terus Menjadi Pelopor Perjuanngan Bangsa Meraih Kejayaan | Wujudkan Pembangunan Tepat Sasaran, Babinsa Turut Hadiri Musrenbangdes






