Kota Novi Sad | Gerakan mahasiswa Serbia menyatakan diri sebagai pemenang dalam pemilihan parlemen yang berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2026. Pernyataan tersebut menandai hasil politik yang penting bagi kelompok mahasiswa, yang tampil sebagai kekuatan penantang terhadap pemerintahan Partai Progresif Serbia. Pemilu ini menjadi titik penentu setelah partai tersebut memimpin negara selama 14 tahun di bawah kepemimpinan Aleksandar Vučić. Klaim kemenangan dari gerakan mahasiswa sekaligus menunjukkan bahwa kontestasi politik Serbia memasuki babak baru, dengan kelompok yang berakar pada mobilisasi mahasiswa kini berada di pusat perhatian nasional.
Jika kemenangan itu tercermin dalam hasil pemilu, dominasi Partai Progresif Serbia yang telah berlangsung sejak 2012 akan berakhir. Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian kekuatan di parlemen, melainkan pergeseran besar dalam lanskap politik negara Balkan itu. Selama lebih dari satu dekade, partai yang dipimpin Vučić menjadi kekuatan utama pemerintahan Serbia. Kini, gerakan mahasiswa menyatakan bahwa pemilih telah memberi mandat bagi perubahan. Tanpa rincian resmi mengenai perolehan suara atau susunan kursi, arti politik dari pernyataan tersebut tetap jelas: keseimbangan kekuasaan yang telah lama bertahan sedang menghadapi tantangan serius.
Kemenangan yang diumumkan gerakan mahasiswa juga memberi makna lebih luas pada keterlibatan generasi muda dalam politik. Gerakan yang sebelumnya dikenal melalui aksi dan tuntutan publik kini mengklaim memperoleh dukungan elektoral untuk memengaruhi arah pemerintahan. Peralihan dari mobilisasi sosial menuju kemenangan dalam pemilu dapat membuka ruang bagi perubahan kebijakan dan cara negara dijalankan, meskipun bentuk serta kecepatannya akan bergantung pada perkembangan politik selanjutnya. Bagi Serbia, hasil pemilu 25 Oktober menandai berakhirnya satu periode panjang dominasi partai penguasa dan munculnya kekuatan baru yang berupaya mengubah hubungan warga, gerakan masyarakat, dan lembaga politik. Dengan demikian, klaim kemenangan mahasiswa menjadi salah satu perubahan paling penting dalam politik Serbia dalam 14 tahun terakhir.
Gerakan mahasiswa Serbia tumbuh menjadi salah satu tantangan paling kuat terhadap pemerintahan Presiden Aleksandar Vučić. Selama hampir dua tahun, mahasiswa dan pendukungnya turun ke jalan untuk menuntut pertanggungjawaban atas dugaan korupsi, sekaligus menyuarakan kekhawatiran terhadap kecenderungan pemerintahan yang semakin otoriter. Aksi berlangsung berulang kali di berbagai kota, dengan demonstran menuntut transparansi, penegakan hukum, serta perubahan dalam tata kelola lembaga publik. Gerakan ini tidak hanya mengandalkan demonstrasi besar, tetapi juga kegiatan kampus dan bentuk mobilisasi masyarakat lainnya. Seiring waktu, tuntutan mereka memperoleh dukungan dari kelompok warga yang lebih luas, termasuk kalangan yang kecewa terhadap cara pemerintah menangani persoalan keselamatan dan akuntabilitas.
Pemicu utama kemarahan publik adalah ambruknya atap kanopi di stasiun kereta Novi Sad pada 2024, sebuah tragedi yang menewaskan 16 orang. Bencana tersebut memusatkan perhatian pada kondisi infrastruktur dan proses pengawasan proyek publik. Banyak warga mempertanyakan apakah pekerjaan pembangunan dan renovasi telah dilakukan sesuai standar, serta apakah pihak berwenang menjalankan pemeriksaan secara memadai. Dugaan korupsi yang berkaitan dengan proyek dan buruknya tata kelola pemerintahan memperbesar kecurigaan bahwa kelalaian tidak berdiri sendiri. Pemerintah menghadapi tekanan untuk membuka informasi, menyelidiki tanggung jawab pejabat dan kontraktor, serta memastikan proses hukum berlangsung tanpa campur tangan politik. Bagi para pengunjuk rasa, tuntutan atas keadilan bagi korban berkaitan erat dengan persoalan yang lebih luas: siapa yang mengawasi kekuasaan dan bagaimana keputusan publik dibuat.
Tekanan meningkat ketika demonstrasi terus membesar dan berlangsung dalam rentang waktu panjang. Mahasiswa menjadikan aksi sebagai sarana untuk mempertahankan perhatian publik, sementara dukungan masyarakat memperluas jangkauan tuntutan mereka. Situasi itu membuat pemerintah menghadapi biaya politik yang semakin besar apabila keluhan warga terus dibiarkan tanpa jawaban yang meyakinkan. Di tengah desakan tersebut, Vučić mendorong penyelenggaraan pemilu dini pada September. Langkah itu dipandang sebagai respons terhadap tekanan publik dan upaya membawa kebuntuan politik ke arena pemilihan. Namun, pengumuman pemilu tidak serta-merta mengakhiri gerakan. Para pengunjuk rasa tetap menuntut pertanggungjawaban dan perubahan yang nyata, menegaskan bahwa pemilu saja belum tentu menjawab persoalan korupsi, akuntabilitas, maupun kekhawatiran atas menguatnya kendali pemerintah.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Presiden Aleksandar Vučić mengakui bahwa pihaknya kalah dalam pemilu dan Student List menang. Pernyataan itu menjadi pengakuan terbuka atas hasil pemungutan suara, sekaligus menandai kemenangan daftar mahasiswa. Vučić menyampaikan pengakuan tersebut di hadapan pemirsa melalui siaran televisi. Ia secara langsung menyebut kekalahan pihaknya dan kemenangan Student List, tanpa mengaburkan hasil yang telah diumumkan. Bagi para pendukung gerakan mahasiswa, pengakuan itu menegaskan bahwa suara mereka telah menghasilkan perubahan dalam persaingan politik. Momen tersebut segera disusul perayaan di Beograd, ketika warga turun memenuhi jalan-jalan untuk menyambut hasil pemilu. Peristiwa itu memperlihatkan bagaimana pengumuman kemenangan mahasiswa diterima oleh orang-orang yang berkumpul di ibu kota.
Setelah pengumuman itu, warga memenuhi jalanan Beograd untuk merayakan hasil pemilu. Jumlah orang yang berkumpul terus bertambah hingga mencapai puluhan ribu. Perayaan berlangsung di ruang-ruang jalanan, dengan massa yang semakin besar seiring waktu. Kendaraan membunyikan klakson, sementara warga menari di tengah perayaan. Suara klakson dan gerakan warga menjadi bagian dari suasana yang terlihat setelah pengakuan Vučić. Di kerumunan, mahasiswa meneriakkan kata “kemenangan” dan “dia sudah tamat”. Seruan itu mengungkapkan kegembiraan mereka atas hasil pemilu sekaligus menyuarakan keyakinan bahwa dominasi pihak yang berkuasa telah berakhir. Warga yang terus berdatangan membuat perayaan tersebut berkembang menjadi kerumunan puluhan ribu orang di jalanan Beograd.
Pengakuan Vučić dan perayaan warga berlangsung sebagai dua bagian dari momen yang sama: pihaknya menyatakan kalah, sementara Student List dinyatakan menang dan warga merayakannya di ibu kota. Besarnya massa tercermin dari jumlah orang yang meningkat hingga puluhan ribu. Di jalan-jalan, kendaraan terus membunyikan klakson dan warga menari, sedangkan mahasiswa mengulang seruan “kemenangan” serta “dia sudah tamat”. Tidak diperlukan rincian suasana lain untuk menggambarkan peristiwa tersebut: pengakuan dalam pidato televisi diikuti perayaan publik yang ramai di Beograd. Dengan demikian, hasil pemilu disambut melalui kerumunan warga, bunyi klakson, tarian, dan seruan mahasiswa. Pernyataan Vučić bahwa pihaknya kalah dan Student List menang menjadi inti dari perayaan itu, yang berlangsung ketika warga memenuhi jalanan dan jumlah massa bertambah hingga puluhan ribu orang.
Kekalahan kubu yang berkuasa menandai pukulan politik penting bagi Aleksandar Vučić, tokoh yang mendominasi panggung politik Serbia sejak 2014, mula-mula sebagai perdana menteri dan kemudian sebagai presiden. Selama lebih dari satu dekade, ia menjadi pusat kekuasaan dan wajah utama pemerintahan. Karena itu, hasil pemilu ini bukan sekadar perubahan angka dalam perolehan suara: hasil tersebut memperlihatkan bahwa dominasi yang telah lama dianggap kokoh dapat menghadapi tantangan serius ketika pemilih memberi dukungan kepada kekuatan alternatif.
Bagi Vučić, hasil tersebut dapat mempersempit ruang untuk mengendalikan agenda politik dan menentukan arah pemerintahan tanpa menghadapi tekanan yang kuat. Namun, arti praktisnya akan bergantung pada susunan lembaga, proses politik berikutnya, serta kemampuan gerakan mahasiswa dan kelompok oposisi mempertahankan dukungan publik. Kekalahan elektoral tidak dengan sendirinya menghapus pengaruh seorang pemimpin atau memastikan perubahan kebijakan. Meski demikian, hasil ini memberi sinyal bahwa kritik terhadap pemerintah dan tuntutan akan perubahan dapat diterjemahkan menjadi dukungan politik yang nyata.
Perubahan itu membuka babak baru bagi Serbia, negara Balkan dengan penduduk sekitar enam juta jiwa.






