Rekonstruksi Pembunuhan Mozza Berlangsung Tegang, Ayah Korban Pukul Tersangka

Rekonstruksi Pembunuhan Mozza Berlangsung Tegang, Ayah Korban Pukul Tersangka

KABUPATEN SEMARANG, JAWA TENGAH — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Rekonstruksi kasus pembunuhan Mozza Axillia Gunarsa (18) di sebuah indekos kawasan Tegalsari, Kecamatan Candisari, Semarang, berlangsung tegang. Ketegangan muncul ketika tersangka, Mahendra Very Dwi Anggara (22), tiba di lokasi untuk mengikuti rangkaian rekonstruksi. Kegiatan tersebut digelar untuk memperagakan kembali tahapan peristiwa sesuai penyidikan yang dilakukan aparat kepolisian.

Situasi berubah saat Mahendra baru turun dari mobil tahanan. Singgih Gunarsa, ayah korban, terlihat tidak mampu menahan emosi. Ia kemudian mendekati tersangka dan melayangkan beberapa kali pukulan ke arah Mahendra. Aksi tersebut membuat suasana di sekitar lokasi menjadi ricuh sebelum petugas segera melakukan pengamanan.

Petugas berupaya memisahkan Singgih dari tersangka dan mengendalikan keadaan agar rekonstruksi dapat dilanjutkan. Mahendra tetap berada dalam pengawalan aparat selama proses tersebut berlangsung. Kehadiran keluarga korban dalam kegiatan ini turut membuat pengamanan diperketat, terutama ketika tersangka dibawa menuju lokasi kejadian.

Rekonstruksi dilakukan di indekos kawasan Tegalsari yang menjadi tempat terjadinya perkara pembunuhan terhadap Mozza. Setiap adegan diperagakan berdasarkan keterangan dan hasil penyidikan, sementara petugas memastikan proses berjalan sesuai prosedur. Kericuhan saat tersangka tiba menjadi perhatian dalam pelaksanaan kegiatan, namun aparat tetap mengarahkan seluruh pihak agar tidak mengganggu jalannya rekonstruksi.

Singgih belum dapat menahan reaksi emosionalnya ketika berhadapan langsung dengan tersangka yang diduga terlibat dalam kematian putrinya. Pukulan yang dilayangkan berlangsung sebelum tahapan rekonstruksi berjalan lebih jauh. Setelah situasi terkendali, tersangka kembali ditempatkan dalam pengawasan petugas untuk menjalani proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Setelah ayah korban memukul tersangka dalam rekonstruksi pembunuhan Mozza, petugas Polrestabes Semarang yang telah bersiaga segera bergerak mengamankan keadaan. Respons tersebut dilakukan untuk menghentikan ketegangan agar tidak berkembang menjadi kericuhan yang lebih besar di lokasi. Petugas mengambil kendali situasi dan memastikan kondisi di sekitar kegiatan tetap berada dalam pengawasan.

Pengamanan kemudian diperketat di area rekonstruksi. Penjagaan dilakukan untuk menjaga jarak serta membatasi kemungkinan terjadinya tindakan spontan lain di tengah suasana yang memanas. Langkah cepat aparat menjadi bagian penting dalam mempertahankan ketertiban, terutama setelah insiden pemukulan menarik perhatian orang-orang yang berada di lokasi.

Petugas tetap bersiaga selama situasi ditenangkan. Kehadiran aparat di sekitar lokasi memberikan pengawasan langsung terhadap jalannya rekonstruksi dan membantu mencegah keadaan semakin tidak terkendali. Pengamanan difokuskan pada upaya menjaga kondisi tetap aman, sehingga kegiatan dapat berlangsung di bawah penjagaan yang lebih ketat setelah ketegangan pihak korban dan tersangka terjadi.

Perkara pembunuhan Mozza mulai terungkap pada September 2026, setelah kerangka korban ditemukan di kawasan perbukitan Jangli, Tembalang. Lokasi penemuan tersebut berada di sekitar Jalan Tol Semarang-Ungaran. Penemuan kerangka itu menjadi titik penting dalam pengungkapan kasus yang sebelumnya belum diketahui secara jelas oleh publik. Informasi mengenai temuan tersebut kemudian mengarahkan proses penyelidikan terhadap identitas korban dan rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan hilangnya Mozza.

Mozza diketahui merupakan warga Bergas, Kabupaten Semarang. Sebelum kerangkanya ditemukan, korban telah dilaporkan hilang sejak pertengahan 2025. Laporan kehilangan itu menjadi bagian dari latar belakang perkara, mengingat terdapat rentang waktu lebih dari satu tahun kabar hilangnya korban dan penemuan kerangka di kawasan perbukitan Jangli. Identitas korban kemudian dikaitkan dengan laporan tersebut berdasarkan informasi yang tersedia dalam penanganan perkara.

Setelah penemuan kerangka dan identitas korban diketahui, kasus tersebut memasuki tahap penyidikan lebih lanjut. Polisi selanjutnya melakukan langkah-langkah untuk mengungkap perkara, termasuk menghadirkan sejumlah pihak dalam proses rekonstruksi. Rekonstruksi itu menjadi bagian dari penanganan kasus dan berlangsung dalam suasana tegang. Dalam proses tersebut, ayah korban disebut memukul tersangka, sebagaimana diberitakan terkait jalannya rekonstruksi.

Sejauh informasi yang tersedia, fakta utama dalam perkara ini adalah ditemukannya kerangka Mozza pada September 2026, lokasi penemuan di perbukitan Jangli, serta riwayat korban yang dilaporkan hilang sejak pertengahan 2025. Rangkaian fakta tersebut menjadi dasar pemberitaan mengenai pengungkapan kasus. Motif pembunuhan dan detail kejadian yang belum disampaikan secara resmi tidak dapat dipastikan, sehingga penjelasan mengenai perkara perlu dibatasi pada informasi yang telah tersedia dari sumber penanganan kasus.

Polisi menangkap Mahendra ketika ia sedang menyaksikan pertandingan bola voli di Kabupaten Blora. Penangkapan tersebut menjadi perkembangan penting dalam penanganan kasus pembunuhan Mozza. Setelah diamankan, Mahendra kemudian dibawa untuk mengikuti proses rekonstruksi sebagai bagian dari penyidikan yang sedang berlangsung.

Rekonstruksi berlangsung dengan memperagakan rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan perkara tersebut. Dalam kegiatan itu, tersangka memperagakan 55 adegan. Setiap adegan dilakukan untuk menggambarkan kembali jalannya peristiwa berdasarkan keterangan dan hasil penyidikan yang telah dikumpulkan oleh polisi.

Proses reka ulang dilaksanakan di dua lokasi utama. Jalannya rekonstruksi berlangsung tegang, terutama karena menjadi bagian penting untuk mencocokkan keterangan tersangka dengan rangkaian peristiwa yang sedang diselidiki. Polisi tetap menjalankan setiap tahapan sesuai kebutuhan penyidikan, sementara tersangka mengikuti seluruh adegan yang telah ditetapkan dalam kegiatan tersebut. Dengan penangkapan di Kabupaten Blora dan pelaksanaan 55 adegan di dua lokasi, penyidik melanjutkan penanganan perkara pembunuhan Mozza melalui tahapan pemeriksaan dan rekonstruksi yang diperlukan.