Malang | Kementerian Pertanian menyiapkan anggaran sekitar Rp3 triliun untuk membangun pusat grand parent stock (GPS) unggas terintegrasi di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Rencana ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat fondasi industri perunggasan sekaligus menjaga ketersediaan pangan nasional. Fasilitas tersebut dirancang tidak hanya sebagai lokasi pembibitan, tetapi juga sebagai pusat pengelolaan rantai produksi unggas yang terintegrasi, mulai dari penyediaan bibit hingga dukungan terhadap pengembangan peternakan.
Dalam sistem pembibitan unggas, grand parent stock merupakan sumber bibit yang memiliki peran penting dalam menghasilkan parent stock. Selanjutnya, parent stock dikembangkan untuk menghasilkan bibit komersial yang digunakan oleh peternak dalam produksi ayam pedaging maupun ayam petelur. Dengan tersedianya sumber bibit di dalam negeri, kebutuhan peternakan di berbagai wilayah Indonesia diharapkan dapat dipasok secara lebih terencana. Langkah ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bibit dari luar negeri serta meningkatkan ketahanan sektor perunggasan terhadap gangguan distribusi dan perubahan pasar.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa pusat GPS tersebut akan menjadi satu-satunya fasilitas sejenis di Indonesia. Lokasinya ditetapkan di Jawa Timur, tepatnya Kabupaten Malang, yang dinilai memiliki posisi strategis untuk mendukung kegiatan pembibitan dan distribusi. Pusat ini diharapkan menjadi salah satu infrastruktur utama dalam memperkuat produksi unggas nasional, menjaga kesinambungan pasokan, serta mendukung pemerataan kebutuhan bibit bagi peternak di berbagai daerah. Investasi tersebut menunjukkan upaya pemerintah membangun sistem perunggasan yang lebih mandiri, terkoordinasi, dan berkelanjutan.
Jawa Timur dipandang memiliki posisi penting dalam penguatan sektor pangan nasional. Menteri Pertanian menilai provinsi ini berperan strategis karena menjadi salah satu produsen utama berbagai komoditas pangan, mulai dari padi, jagung, dan tebu hingga telur, ayam, serta susu. Keragaman komoditas tersebut menunjukkan besarnya kontribusi Jawa Timur terhadap ketersediaan pangan, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun mendukung keberlanjutan produksi pertanian dan peternakan.
Penilaian itu disampaikan Menteri Pertanian saat menghadiri rapat paripurna istimewa dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Provinsi Jawa Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur, Surabaya, pada Senin. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti perkembangan sektor pertanian di Jawa Timur yang dinilai tumbuh sangat pesat. Pertumbuhan tersebut terlihat dari kuatnya produksi sejumlah komoditas strategis yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok pangan.
Menteri Pertanian juga menyebut Jawa Timur sebagai provinsi terbaik dalam bidang pertanian di Indonesia. Pernyataan tersebut menegaskan posisi Jawa Timur sebagai wilayah yang memiliki peranan besar dalam menopang produksi pangan nasional. Kapasitas produksi padi, jagung, tebu, telur, ayam, dan susu menjadi dasar penting bagi penguatan sektor pertanian secara menyeluruh. Dengan peran tersebut, Jawa Timur menjadi lokasi yang relevan dalam berbagai upaya pengembangan produksi, termasuk penguatan pembibitan unggas dan peningkatan kapasitas peternakan.
Kedudukan strategis Jawa Timur tidak hanya berkaitan dengan jumlah komoditas yang dihasilkan, tetapi juga dengan perkembangan sektor pertaniannya yang berlangsung cepat. Penilaian Menteri Pertanian itu memberikan gambaran bahwa provinsi ini memiliki kontribusi utama dalam menjaga kesinambungan pasokan pangan. Karena itu, penguatan fasilitas dan infrastruktur pertanian di Jawa Timur selaras dengan peran provinsi tersebut sebagai salah satu pusat produksi pangan terpenting di Indonesia.
Menteri Pertanian menilai dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan DPRD Jawa Timur menjadi unsur penting dalam memperkuat produksi pangan daerah. Dukungan tersebut menunjukkan adanya kesamaan arah pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam membangun sektor pertanian serta peternakan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan. Kolaborasi ini tidak hanya berkaitan dengan kebijakan, tetapi juga dengan penyediaan fasilitas produksi yang memiliki dampak luas bagi rantai pasok pangan.
Salah satu program strategis yang mendapat perhatian ialah pembangunan pusat GPS (Grand Parent Stock) unggas terintegrasi di Malang dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Fasilitas tersebut diposisikan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ketersediaan bibit unggas nasional. Keberadaan pusat pembibitan yang terintegrasi diharapkan dapat mendukung penyediaan bibit secara lebih terencana, sekaligus membantu menjaga kesinambungan produksi pada sektor peternakan unggas.
Penguatan pusat GPS unggas memiliki arti penting karena ketersediaan bibit merupakan fondasi bagi keberlangsungan usaha peternakan. Ketika pasokan bibit dapat dipersiapkan dengan baik, peternak memiliki dukungan lebih kuat untuk mempertahankan siklus produksi dan memenuhi permintaan pasar. Dalam konteks ini, dukungan pemerintah daerah dan DPRD Jawa Timur turut memperkuat pelaksanaan program, terutama karena fasilitas tersebut dibangun di wilayah Jawa Timur dan memerlukan koordinasi lintas pihak.
Pasokan bibit dari fasilitas di Malang tidak diarahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan peternakan di Jawa Timur. Pemerintah menargetkan hasil pembibitan tersebut dapat mendukung kebutuhan peternakan di berbagai wilayah Indonesia. Dengan cakupan distribusi nasional, pusat GPS unggas diharapkan berperan dalam mengurangi kerentanan pasokan bibit dan memperkuat kesinambungan produksi unggas. Kerja sama pemerintah pusat, pemerintah provinsi, DPRD, dan pelaku peternakan menjadi dasar penting agar manfaat fasilitas ini dapat dirasakan secara luas.
Menteri Pertanian menyampaikan bahwa pemerintah terus menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan kemarau panjang dan fenomena El Nino. Perubahan kondisi cuaca tersebut dapat memengaruhi ketersediaan air, jadwal tanam, serta produktivitas sejumlah komoditas pangan. Karena itu, kewaspadaan dan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta para pelaku usaha tani tetap diperlukan agar kegiatan produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan. Antisipasi dilakukan dengan memperhatikan perkembangan iklim dan kondisi lapangan, sehingga kebijakan pangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan di setiap wilayah.
Di tengah potensi tantangan tersebut, cadangan beras nasional dinyatakan berada dalam kondisi aman. Kapasitas gudang yang tersedia mencapai sekitar tiga juta ton, sedangkan stok beras tercatat mencapai 4,5 juta ton. Data tersebut menunjukkan adanya persediaan yang memadai untuk mendukung kebutuhan nasional, sekaligus memberikan ruang bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan. Pengelolaan cadangan tetap perlu dilakukan secara cermat agar distribusi dan ketersediaan beras dapat dipertahankan ketika menghadapi perubahan musim maupun dinamika produksi.
Menteri Pertanian optimistis target swasembada pangan yang berkelanjutan dapat dicapai melalui dukungan pemerintah pusat dan daerah. Kolaborasi lintas pemerintahan dinilai penting untuk memperkuat produksi, menjaga kesinambungan pasokan, dan merespons berbagai risiko di sektor pertanian. Jawa Timur, sebagai salah satu sentra produksi pangan nasional, memiliki peran penting dalam upaya tersebut. Dengan dukungan kebijakan, koordinasi, dan kesiapan menghadapi kondisi iklim, pemerintah meyakini agenda peningkatan ketahanan pangan nasional dapat terus berjalan secara konsisten.
Baca juga: Dari Pesantren untuk Ibu Pertiwi: Kodim 0813 Bojonegoro Bangun Sarana Olahraga Militer, Siapkan Santri Jadi Prajurit TNI | Mendukung Penuh Penanganan Karhutla, TNI AU Terbangkan A-400M Bawa Bantuan Presiden RI Yang Dikirim oleh Kemhan-Kementan

