Jakarta | Fitri Carlina sedang berada di Jeddah, Arab Saudi, ketika kabar mengenai kondisi ayahnya yang mendadak kritis datang. Pada Jumat, 6 November 2026, penyanyi tersebut berada di Masjid Qisas menjelang pelaksanaan salat Jumat. Suasana ibadah yang semula ia jalani kemudian berubah ketika sebuah pesan darurat diterimanya dari sang kakak, Wiwi. Dalam kabar itu, Wiwi menyampaikan bahwa ayah mereka harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) karena kondisinya memburuk.
Kabar tersebut membuat Fitri segera berusaha memahami perkembangan keadaan ayahnya dari jarak jauh. Namun, ia saat itu masih berada di masjid dan salat Jumat akan segera dimulai. Fitri meminta Wiwi menyampaikan kabar lanjutan setelah salat, sehingga ia bisa mengetahui lebih jelas apa yang sedang terjadi. Permintaan itu menjadi satu-satunya hal yang dapat ia lakukan sejenak, sementara dirinya belum bisa langsung mendampingi keluarga di Jakarta.
Meski belum menerima penjelasan lebih lengkap, rasa cemas sudah muncul dalam dirinya. Fitri mengaku panik begitu mengetahui ayahnya harus dibawa ke IGD. Ia juga merasakan firasat tidak enak, seolah ada sesuatu yang lebih serius daripada kabar awal yang disampaikan kakaknya. Perasaan itu membuat waktu menunggu terasa berat, terutama karena jarak Jeddah dan Jakarta membatasi kemampuannya untuk segera mengetahui keadaan secara langsung.
Di tengah situasi tersebut, Fitri tetap menuntaskan salat Jumat sambil menanti informasi berikutnya dari Wiwi. Ia belum mengetahui bagaimana kondisi ayahnya akan berkembang setelah dibawa ke rumah sakit, tetapi kabar darurat itu sudah mengubah suasana perjalanannya di Tanah Suci. Ketika seseorang yang disayangi berada dalam keadaan kritis, ketidakpastian dapat menghadirkan kepanikan dan kekhawatiran yang sulit diredakan. Bagi Fitri, menunggu kabar dari keluarga menjadi bagian yang paling menegangkan pada saat itu. Ia berharap segera memperoleh penjelasan setelah salat, sambil memikirkan kemungkinan untuk pulang dan menemui ayahnya. Keinginan tersebut muncul sebelum ia mengetahui kabar selanjutnya, ketika firasat buruk masih menyelimuti pikirannya.Kabar mengenai kondisi ayah yang terus menurun datang ketika Fitri Carlina berada di Jeddah. Ia mengetahui tekanan nadi sang ayah turun hingga angka 30, sebuah keadaan yang tentu membuat keluarga cemas. Meski demikian, Fitri masih berusaha menjaga harapan. Dalam pikirannya, ayah telah berkali-kali melewati masa sulit dan perjuangan hidup, sehingga ia sempat berharap sang ayah kembali bertahan. Pengalaman menghadapi berbagai ujian sebelumnya membuat Fitri ingin percaya bahwa keadaan masih mungkin membaik. Jarak yang memisahkan mereka terasa semakin berat ketika kabar tentang kondisi kesehatan ayah datang dari Indonesia.
Pada malam harinya, keluarga yang berada di Indonesia menyampaikan kabar lanjutan dari rumah sakit. Tim medis meminta persetujuan keluarga untuk memasang ventilator bagi ayah Fitri. Permintaan tersebut menjadi tanda bahwa kondisi sang ayah sangat kritis dan membutuhkan dukungan pernapasan. Bagi Fitri, informasi itu membuat situasi yang sebelumnya masih ia coba hadapi dengan harapan terasa semakin nyata. Ia menyadari bahwa ayahnya berada dalam keadaan genting, sementara dirinya tidak dapat segera berada di sisi keluarga untuk menyaksikan perkembangan secara langsung. Kabar itu juga membuatnya memahami beratnya keputusan yang harus dipertimbangkan oleh keluarga bersama pihak rumah sakit.
Dari kejauhan, Fitri hanya dapat mengikuti keadaan melalui kabar keluarga dan menyerahkan harapannya dalam doa. Ia memohon agar ayahnya diberi kekuatan, tetapi juga berusaha menerima kemungkinan yang paling sulit. Jika memang waktu sang ayah telah tiba, Fitri berharap kepergiannya berlangsung dengan lembut dan tanpa penderitaan. Doa tersebut mencerminkan pergulatan batin seorang anak yang ingin ayahnya tetap bertahan, namun menyadari bahwa kondisi medisnya sangat serius. Berada di Tanah Suci tidak menghapus rasa khawatirnya; justru jarak membuat setiap informasi terasa lebih berat. Dalam keadaan itu, Fitri berupaya tetap tenang, mendampingi keluarga secara batin, dan berharap ayahnya memperoleh ketenangan, apa pun perkembangan berikutnya.
Pada Sabtu, 7 November 2026, keluarga Fitri Carlina menerima kabar bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Di tengah suasana duka, keluarga juga perlu mengambil keputusan setelah tim medis menyampaikan kemungkinan melakukan resusitasi jantung paru atau CPR. Tindakan tersebut ditawarkan sebagai upaya medis untuk membantu memulihkan sirkulasi dan pernapasan, tetapi keputusan akhirnya berada pada keluarga setelah mempertimbangkan kondisi sang ayah serta penjelasan yang diterima.
Menurut cerita keluarga, detak jantung ayah Fitri saat itu sudah sangat lemah. Ia juga telah lama berjuang menghadapi kondisi kesehatannya. Dengan keadaan tersebut, keluarga bersepakat untuk mengikhlaskan kepergiannya dan tidak melanjutkan tindakan CPR. Keputusan itu bukan diambil dengan mudah. Namun, keluarga mempertimbangkan kemungkinan bahwa tindakan resusitasi dapat menimbulkan cedera, termasuk risiko patah tulang rusuk, terutama ketika tubuh pasien berada dalam kondisi sangat rentan.
Pertimbangan itu menjadi bagian dari situasi yang berat bagi orang-orang terdekatnya. Tawaran CPR memberi keluarga pilihan untuk melakukan tindakan lanjutan, tetapi mereka juga harus melihat kondisi ayah Fitri secara menyeluruh dan memikirkan kenyamanan beliau. Dalam keadaan seperti ini, keputusan keluarga umumnya lahir dari gabungan pertimbangan medis, penjelasan tenaga kesehatan, serta pemahaman terhadap perjalanan sakit pasien. Bagi keluarga Fitri, menghentikan upaya tersebut menjadi cara untuk menerima keadaan dan tidak memperpanjang proses yang dinilai dapat menambah beban bagi sang ayah.
Keluarga menyampaikan bahwa ayah Fitri berpulang dengan tenang dan tanpa rasa sakit. Ia juga sempat membersihkan diri sebelum meninggal dunia. Kenangan itu memberi penghiburan tersendiri di tengah kehilangan, meskipun duka tetap terasa mendalam. Bagi Fitri dan keluarga, kabar kepergian tersebut sekaligus menandai berakhirnya perjuangan panjang sang ayah. Mereka memilih mengenang saat-saat terakhir itu sebagai momen yang damai, sembari menerima bahwa keputusan untuk tidak melanjutkan CPR telah diambil dengan mempertimbangkan kondisi dan kenyamanan beliau.
Setelah mendengar kabar bahwa ayahnya telah meninggal dunia, Fitri Carlina segera berupaya pulang dari Jeddah ke Jakarta. Dalam keadaan berduka, hal yang paling ia harapkan saat itu adalah bisa bertemu dan melihat sang ayah sebelum dimakamkan. Karena itu, ia langsung berusaha memesan tiket agar dapat segera melakukan perjalanan. Keputusan tersebut menjadi langkah penting untuk mengejar waktu, sekaligus kesempatan terakhir yang sangat berarti bagi Fitri dan keluarganya.
Upaya untuk mendapatkan tiket dilakukan dengan segera, sebab Fitri ingin sampai di Jakarta sebelum pemakaman berlangsung. Ia berharap perjalanan dari Jeddah dapat membawanya pulang tepat waktu, sehingga masih sempat berada di sisi ayahnya. Pada saat kabar duka datang, harapan sederhana untuk melihat sang ayah menjadi tujuan yang terus ia pegang. Meski menghadapi situasi yang berat, Fitri tetap berusaha menuntaskan pemesanan tiket dan memulai perjalanan secepat mungkin. Tidak ada rincian lain mengenai proses perjalanannya yang perlu ditambahkan; inti pengalaman itu adalah kegigihannya untuk pulang dan harapannya agar tidak terlambat.
Fitri bersyukur karena perjalanan dan pemesanan tiket berjalan lancar. Ia akhirnya tiba tepat waktu untuk melihat ayahnya sebelum dimakamkan, sesuai dengan harapan yang membuatnya segera mencari tiket dari Jeddah menuju Jakarta. Kesempatan tersebut menjadi hal yang sangat berarti di tengah rasa kehilangan. Pengalaman itu ia ceritakan di kawasan Cikeas, Bogor, pada Minggu, 8 November 2026. Kisahnya menggambarkan bagaimana ia berupaya pulang sesegera mungkin setelah menerima kabar kepergian sang ayah, serta rasa syukur karena semua berjalan lancar hingga ia dapat tiba sebelum pemakaman.
Baca juga: 85 PNS Kemenag Jakarta Barat Dapat Bekal Usaha Sebelum Purnabakti | Penggerebekan Gabungan Sasar Dugaan Sarang Narkotika di Jakarta Barat | Warga Jawa Barat Berhak Mendapat Perawatan Gratis di Kelas 3, Termasuk Jakarta
22 kunjungan
