Bisnis  

Dari Kebiasaan Bersepeda, Sri Utami Merintis Busana Beridentitas Yogyakarta

Dari Kebiasaan Bersepeda, Sri Utami Merintis Busana Beridentitas Yogyakarta

Yogyakarta | Jogjastory berawal dari pengalaman sederhana Sri Utami selama pandemi. Ketika banyak kegiatan berlangsung lebih terbatas, ia tetap berusaha menjaga rutinitas dengan beraktivitas di luar rumah, salah satunya bersepeda. Kebiasaan tersebut membuatnya lebih sering memikirkan pakaian yang sesuai untuk kegiatan sehari-hari: nyaman dikenakan saat bergerak, tetapi tetap pantas dipakai setelah turun dari sepeda. Dari kebutuhan pribadi itu, Sri melihat peluang untuk menghadirkan busana yang menggabungkan fungsi dan penampilan.

Pilihan awalnya jatuh pada kemeja. Menurut Sri, model ini dapat terasa kasual dan praktis, sekaligus memberi kesan rapi tanpa menghilangkan gaya urban yang ia inginkan. Kemeja tersebut dirancang agar mendukung kegiatan bersepeda maupun aktivitas lain di luar rumah. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi Jogjastory, sebuah usaha busana yang membawa identitas Yogyakarta melalui rancangan yang dekat dengan keseharian. Inspirasi lokal menjadi bagian penting dari arah merek, tanpa mengesampingkan kenyamanan dan kemudahan pemakaian.

Pada tahap awal, Sri memasarkan produk Jogjastory dengan sistem pre-order. Cara tersebut memungkinkannya mengenalkan rancangan kepada calon pembeli sekaligus menyesuaikan produksi dengan pesanan yang masuk. Respons pasar yang bertambah memberi dorongan untuk mengembangkan usaha secara bertahap. Dari penjualan awal, ia dapat mengamati minat konsumen dan memperoleh gambaran mengenai produk yang dibutuhkan. Proses ini menjadi pijakan bagi Jogjastory untuk tumbuh, sembari mempertahankan perhatian pada kualitas, karakter desain, dan hubungan dengan pelanggan.

Seiring meningkatnya peminat, pada 2023 Sri mulai mengurus legalitas usaha. Langkah ini menandai perkembangan Jogjastory dari gagasan yang berangkat dari kebutuhan pribadi menjadi bisnis yang lebih tertata. Pada periode yang sama, pilihan produknya juga diperluas ke luar kemeja, sehingga pelanggan memiliki lebih banyak alternatif busana. Pengembangan tersebut tetap bertolak dari semangat awal: menghadirkan pakaian yang nyaman, kasual, dan bergaya urban dengan identitas Yogyakarta. Kini, bisnis Jogjastory berada di bawah PT Jayasri Samahita Utama, sebagai bagian dari upaya membangun usaha secara berkelanjutan.

Jogjastory menempatkan budaya Yogyakarta sebagai bagian utama dari identitas produknya, bukan sekadar hiasan pada busana. Setiap koleksi berangkat dari cerita dan suasana yang dekat dengan kehidupan daerah, kemudian diterjemahkan ke dalam motif yang dapat dikenakan dalam keseharian. Pendekatan ini membuat busana memiliki nilai visual sekaligus membawa narasi tentang tempat asalnya. Inspirasi dapat muncul dari tradisi, lingkungan, maupun kisah lokal yang dikenal masyarakat. Dengan begitu, pelanggan tidak hanya memilih pakaian berdasarkan bentuk dan warna, tetapi juga mengenali unsur budaya yang menyertainya. Identitas Yogyakarta pun hadir melalui rancangan yang tetap terasa relevan bagi pemakai masa kini.

Proses penciptaan motif dimulai dengan menggambar secara manual. Sketsa tersebut memberi ruang bagi detail dan karakter garis yang lebih personal sebelum dipindahkan ke bentuk digital. Setelah melalui tahap pengolahan, motif diterapkan pada kain katun organik. Pemilihan bahan ini mendukung kenyamanan pemakaian serta sejalan dengan perhatian terhadap material yang digunakan dalam produk. Perpaduan proses kreatif tradisional dan teknologi digital membantu menjaga karakter gambar, sekaligus memungkinkan motif dicetak dengan lebih konsisten. Hasil akhirnya menjadi permukaan kain yang menyampaikan cerita, tanpa membuat busana terasa terlalu ramai atau sulit dipadukan dengan pakaian lain.

Selain motif, unsur tradisional diwujudkan melalui penggunaan lurik yang dibuat bersama perajin lokal. Keterlibatan mereka menjaga hubungan produk dan keterampilan tekstil yang telah lama berkembang di Yogyakarta. Lurik kemudian dipadukan dengan potongan modern, sehingga tampilannya tidak terbatas pada busana formal atau acara tertentu. Siluet yang praktis dirancang agar nyaman dikenakan untuk kegiatan sehari-hari, termasuk saat beraktivitas di luar ruang. Seiring perkembangan usaha, pilihan koleksi Jogjastory semakin beragam, mencakup berbagai model dan kebutuhan pemakai. Outer menjadi salah satu produk yang diminati pelanggan karena mudah dipadukan, dapat digunakan sebagai lapisan tambahan, dan memberi ruang bagi kombinasi motif maupun lurik. Melalui perpaduan tersebut, wastra lokal hadir dalam bentuk yang fungsional, sekaligus memperkenalkan identitas Yogyakarta melalui busana modern.Untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli, Jogjastory memadukan penjualan langsung dan kanal digital. Sebagian koleksi dititipkan melalui skema konsinyasi di sejumlah hotel dan galeri di Yogyakarta. Kehadiran produk di tempat-tempat tersebut memberi kesempatan kepada wisatawan maupun pengunjung untuk melihat busana dan aksesori secara langsung, sekaligus mengenal cerita serta identitas lokal yang menjadi ciri karya Sri Utami. Skema ini juga membantu usaha menjangkau pelanggan yang mungkin belum mengetahui merek Jogjastory melalui media sosial. Selain konsinyasi, Sri mengikuti berbagai pameran untuk bertemu pembeli, memperkenalkan koleksi, dan memperoleh tanggapan langsung mengenai produk. Setiap jalur penjualan berperan berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membangun pengenalan terhadap usaha.

Di ranah daring, Jogjastory memanfaatkan Tokopedia dan Shopee untuk memudahkan transaksi, sementara Instagram digunakan untuk menampilkan produk dan berkomunikasi dengan audiens. WhatsApp menjadi kanal untuk menjawab pertanyaan, membahas kebutuhan pesanan, serta menjaga hubungan dengan pelanggan. Perpaduan beberapa saluran tersebut membuat jangkauan usaha tidak terbatas pada pembeli di Yogyakarta. Pelanggan juga datang dari berbagai daerah lain dan dari luar Pulau Jawa. Sebagian menemukan produk saat berkunjung atau menghadiri pameran, sedangkan sebagian lainnya mengetahui Jogjastory melalui kanal digital. Bagi usaha yang membawa unsur budaya daerah dalam desainnya, akses daring membuka peluang agar identitas Yogyakarta dikenal oleh konsumen yang tinggal jauh dari tempat produksi. Ragam kanal ini sekaligus membantu pelanggan memilih cara berbelanja yang paling sesuai.

Namun, bertambahnya jangkauan pasar turut menghadirkan tantangan dalam memenuhi permintaan. Saat ini, operasional Jogjastory ditopang oleh tiga pekerja, sehingga kapasitas produksi tetap perlu disesuaikan dengan tenaga dan waktu yang tersedia. Pesanan dalam jumlah besar masih menjadi tantangan, terutama ketika tenggat pengerjaan berdekatan dengan kebutuhan untuk menjaga kualitas produk. Karena itu, kemampuan menerima pesanan perlu dipertimbangkan secara cermat agar usaha tidak menjanjikan jumlah yang sulit dipenuhi. Dalam transaksi di pameran, Sri juga menyediakan QRIS BRI sebagai pilihan pembayaran. Cara ini memberi alternatif praktis bagi pengunjung yang ingin membayar secara nontunai. Dengan berbagai jalur pemasaran dan pembayaran tersebut, Jogjastory terus menjangkau pelanggan, sembari menghadapi keterbatasan produksi secara realistis.

Sri Utami mengenal LinkUMKM by BRI melalui Instagram. Dari informasi yang ditemukannya, ia kemudian memanfaatkan platform tersebut untuk memperluas wawasan dan memperoleh pengetahuan baru yang relevan dengan perjalanan usahanya. Berbagai materi serta kesempatan belajar dari mentor memberinya tambahan perspektif dalam mengembangkan produk dan mengelola bisnis. Bagi pelaku usaha yang merintis merek busana dengan identitas Yogyakarta, akses terhadap informasi praktis dapat membantu proses pengambilan keputusan, sekaligus membuka ruang untuk memahami kebutuhan pengembangan usaha secara lebih terarah.

LinkUMKM by BRI dirancang untuk mendukung pelaku UMKM melalui sejumlah fitur pembelajaran dan pendampingan. Pengguna dapat mengikuti asesmen untuk mengenali tahap perkembangan usahanya, sehingga kebutuhan dan kondisi bisnis dapat dipetakan dengan lebih jelas. Hasil pemetaan ini membantu pelaku usaha menemukan materi belajar yang sesuai dengan kebutuhannya, bukan sekadar mengakses informasi secara umum. Selain materi pembelajaran, platform ini juga menyediakan pendampingan mentor. Interaksi tersebut memberi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan wawasan, masukan, dan arahan yang dapat dipertimbangkan sesuai tantangan masing-masing usaha.

Hingga 30 September 2026, LinkUMKM by BRI tercatat memiliki lebih dari 17,66 juta pengguna dan menyediakan 845 modul pembelajaran.

Baca juga: WJNC 2026 Hadirkan Karnaval Wayang untuk Menguatkan Daya Tarik Yogyakarta | Kebiasaan Aaliyah Massaid Membersihkan Wajah Sebelum Bertemu Anak

11 kunjungan