Batam | Pemadaman listrik total atau blackout yang terjadi di Batam, Kepulauan Riau, sejak Senin pagi, 12 Oktober 2026, turut mengganggu pasokan listrik ke Pulau Bintan, termasuk Kota Tanjungpinang. Gangguan tersebut belum sepenuhnya teratasi hingga Selasa, 13 Oktober 2026. Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah yang terdampak harus menghadapi pasokan listrik yang belum kembali normal selama lebih dari satu hari.
Dampak gangguan paling terasa karena Batam menjadi pemasok utama listrik bagi wilayah Bintan. Dengan demikian, masalah pada sistem kelistrikan Batam dapat langsung memengaruhi kestabilan pasokan ke daerah yang terhubung, termasuk Tanjungpinang. Ketika sistem utama mengalami gangguan, aliran listrik menuju Bintan ikut terdampak sehingga pemadaman tidak hanya dirasakan di Batam, tetapi juga menjalar ke wilayah lain yang bergantung pada pasokan tersebut.
Pemadaman berkepanjangan itu dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Bintan, terutama Kijang dan Tanjung Uban. Warga di kedua kawasan tersebut mengalami gangguan aktivitas karena kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan usaha bergantung pada ketersediaan listrik. Tanjungpinang juga ikut terdampak akibat pasokan dari sistem Batam belum pulih sepenuhnya. Hingga Selasa, 13 Oktober 2026, kondisi kelistrikan di wilayah terdampak masih belum normal, menandakan bahwa gangguan pada sistem Batam memiliki konsekuensi langsung terhadap pelayanan listrik di Bintan dan sekitarnya.
Manajer Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kota Tanjungpinang, Rully Agus Widanarto, menjelaskan bahwa kondisi pasokan listrik di Tanjungpinang saat ini sangat bergantung pada dua pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Kedua pembangkit tersebut adalah PLTD Suka Berenang dan PLTD yang berada di Kelurahan Air Raja. Keduanya menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di wilayah Tanjungpinang dan Pulau Bintan.
Berdasarkan keterangan tersebut, kemampuan maksimal gabungan PLTD Suka Berenang dan PLTD di Kelurahan Air Raja mencapai 32 megawatt. Angka itu merupakan kapasitas tertinggi yang dapat dihasilkan oleh kedua pembangkit apabila beroperasi sesuai kemampuan maksimalnya. Dengan demikian, kapasitas pembangkitan yang tersedia tidak setara dengan kebutuhan listrik di seluruh Pulau Bintan.
Kebutuhan listrik Pulau Bintan berada pada kisaran 80 hingga 100 megawatt per hari. Perbandingan kapasitas maksimal kedua PLTD yang hanya mencapai 32 megawatt dan kebutuhan yang berada pada kisaran tersebut menunjukkan adanya kesenjangan pasokan yang cukup besar. Selisih kapasitas itu menjadi alasan PLN tidak dapat memasok listrik secara penuh sekaligus ke seluruh wilayah. Pasokan harus disesuaikan dengan kemampuan pembangkit yang tersedia, sementara kebutuhan pelanggan tetap tersebar di berbagai kawasan.
Kondisi tersebut turut menjelaskan mengapa gangguan pada sistem kelistrikan Batam-Bintan dapat berdampak terhadap pelayanan listrik di Tanjungpinang. Ketika pasokan dari sistem yang lebih luas terganggu, dua PLTD lokal menjadi sumber daya yang harus menopang pelayanan dengan kapasitas terbatas. PLN perlu mengatur distribusi listrik berdasarkan ketersediaan daya agar beban pembangkit tetap terkendali. Fakta mengenai kapasitas 32 megawatt dan kebutuhan 80 hingga 100 megawatt per hari memperlihatkan bahwa pemulihan pasokan tidak dapat dilakukan secara serentak untuk seluruh wilayah Pulau Bintan.
Dalam menghadapi keterbatasan daya setelah gangguan sistem kelistrikan Batam-Bintan, PLN menerapkan pola penyaluran listrik secara bergantian kepada masyarakat. Langkah ini dilakukan dengan memaksimalkan pembangkit yang masih dapat beroperasi, sehingga pasokan yang tersedia bisa dimanfaatkan secara lebih luas. Skema tersebut menjadi upaya untuk menjaga pelayanan kelistrikan tetap berjalan, meskipun kapasitas pembangkitan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan secara bersamaan.
Rully menjelaskan bahwa penyalaan listrik dilakukan secara bergilir setiap enam jam. Pola ini diterapkan karena daya yang tersedia berada jauh di bawah beban rata-rata pemakaian listrik di Pulau Bintan. Dengan kondisi tersebut, PLN perlu mengatur distribusi pasokan agar penggunaan daya yang terbatas dapat dibagi kepada masyarakat. Pengaturan bergilir juga memungkinkan pembangkit yang masih beroperasi digunakan secara optimal selama proses pemulihan sistem berlangsung.
Penerapan penyalaan bergantian tidak dimaksudkan sebagai pola pelayanan permanen, melainkan sebagai langkah operasional selama kapasitas sistem belum kembali normal. PLN terus mengandalkan pembangkit yang tersedia sambil melakukan penanganan terhadap gangguan yang memengaruhi pasokan listrik. Durasi enam jam menjadi bagian dari pengaturan sementara untuk menyesuaikan penyaluran dengan kemampuan daya yang ada, bukan penetapan jadwal khusus untuk wilayah tertentu.
Di tengah keterbatasan tersebut, PLN tetap memprioritaskan objek vital. Rumah sakit termasuk fasilitas yang menjadi perhatian utama agar pemadaman tidak menghambat pelayanan kesehatan dan kegiatan yang berkaitan dengan keselamatan masyarakat. Prioritas serupa diberikan kepada fasilitas penting lain sesuai kebutuhan sistem dan kondisi lapangan. Dengan pengaturan ini, PLN berupaya menekan dampak gangguan terhadap layanan publik, sekaligus menjaga agar proses pemulihan pasokan di Tanjungpinang dan kawasan Pulau Bintan dapat berlangsung secara terarah.
Gangguan sistem kelistrikan yang berdampak pada Batam, Bintan, dan Tanjungpinang dipicu oleh sejumlah pembangkit di Batam yang keluar dari sistem secara bersamaan. Kondisi tersebut menyebabkan kemampuan pasokan menurun, sementara pembangkit lain harus menanggung beban daya yang terlalu tinggi. Ketidakseimbangan kapasitas pembangkitan dan kebutuhan listrik kemudian memengaruhi kestabilan sistem secara keseluruhan, termasuk penyaluran daya menuju wilayah Bintan.
Beberapa pembangkit di Batam mulai berangsur pulih pada Senin malam. Namun, pemulihan itu belum dapat langsung menormalkan pasokan listrik ke Bintan karena frekuensi sistem masih belum stabil. Penyaluran daya harus dilakukan secara bertahap dan hati-hati agar tidak menambah beban pada sistem yang masih dalam proses pemulihan. Rully menyampaikan bahwa hingga Senin malam, kondisi listrik di Batam masih mengalami padam dan menyala secara bergantian sampai pagi.
Upaya memasok seluruh wilayah Bintan dari dua PLTD yang berada di Tanjungpinang juga belum dapat menjadi solusi. Kapasitas kedua pembangkit tersebut tidak cukup untuk menanggung kebutuhan seluruh Bintan, terutama ketika pasokan utama dari Batam belum kembali normal. Selain keterbatasan daya, jarak sumber pembangkit dan wilayah yang membutuhkan pasokan turut menjadi pertimbangan teknis dalam proses pemulihan.
Apabila pasokan dari dua PLTD itu dipaksakan untuk menjangkau seluruh Bintan, terdapat risiko tegangan menjadi rendah atau tidak stabil. Situasi tersebut berpotensi mengganggu peralatan kelistrikan dan membuat sistem semakin sulit dipulihkan. Karena itu, pengoperasian jaringan tetap menunggu kondisi frekuensi dan kemampuan pembangkit lebih stabil. Rully menyampaikan permohonan maaf kepada warga yang terdampak gangguan listrik sejak Senin pagi hingga Selasa.
Baca juga: Pastikan Pasokan Air Tetap Siaga, Satgas Pam Irigasi Embung Jokowi Lanud Sjamsudin Noor Rawat Kesiapan Pompa Untuk Penanganan Karhutla | Pasokan Beras ASN Tiba di Yahukimo, Diangkut Hercules C-130 TNI AU | PLTMH Hadir di Kampung Tabukeker, Buka Akses Listrik dan Air Bersih bagi Masyarakat
