Toba Siapkan Pusat Riset Genom untuk Hilirisasi Kratom dan Kemenyan

Ekspor Produk Hilirisasi Indonesia Diperkirakan Tembus US$50 Miliar

Jakarta | Pusat riset genome sequencing di kawasan Toba, Sumatera Utara, direncanakan mulai diresmikan pada Maret 2027. Rencana tersebut disampaikan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangannya mengenai pengembangan fasilitas penelitian di wilayah itu. Jika seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, Presiden Prabowo Subianto dapat hadir untuk meresmikan pusat riset tersebut. Jadwal ini menjadi sasaran yang sedang diupayakan, bukan kepastian bahwa seluruh tahapan pembangunan dan kesiapan operasional telah selesai. Karena itu, proses persiapan masih berlangsung sebelum fasilitas dapat digunakan untuk kegiatan penelitian secara lebih luas.

Genome sequencing atau pengurutan genom memungkinkan peneliti membaca informasi genetik organisme secara terperinci. Data tersebut dapat membantu mengenali karakter tanaman, variasi genetik, serta potensi yang berguna bagi pengembangan komoditas. Di Toba, keberadaan fasilitas ini diharapkan memperkuat kapasitas riset yang berkaitan dengan sumber daya pertanian Indonesia, termasuk komoditas yang memiliki nilai ekonomi dan peluang pengolahan lebih lanjut. Pemanfaatan teknologi genom tidak berdiri sendiri: hasil penelitian perlu dikaitkan dengan kebutuhan petani, industri, dan pasar, serta didukung tata kelola yang memadai. Dengan demikian, riset dapat menjadi landasan bagi keputusan pengembangan produk, bukan sekadar menghasilkan data ilmiah.

Persiapan pusat riset masih mencakup berbagai kebutuhan agar fasilitas dapat beroperasi dan memberi manfaat secara berkelanjutan. Kesiapan infrastruktur, peralatan, tenaga ahli, serta pola kerja sama penelitian akan menentukan kemampuan pusat tersebut dalam menjalankan fungsinya. Harapannya, fasilitas di Toba mendukung pengembangan komoditas pertanian berbasis riset, dari pemetaan potensi hingga penerapan pengetahuan dalam proses produksi dan hilirisasi. Pendekatan ini dapat membantu mendorong nilai tambah di dalam negeri, sepanjang hasil penelitian diterjemahkan menjadi program yang sesuai dengan kondisi lapangan. Rencana peresmian pada Maret 2027 menandai target penting dalam upaya membangun ekosistem ilmu pengetahuan dan inovasi di kawasan tersebut. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada penyelesaian persiapan dan kesinambungan dukungan bagi kegiatan riset setelah pusat dibuka.Kratom dan kemenyan menjadi dua komoditas pertanian yang disorot dalam rencana hilirisasi di Toba. Keduanya memiliki karakter dan pemanfaatan yang berbeda, tetapi dipandang membuka peluang untuk menghasilkan produk bernilai tambah melalui pengolahan lebih lanjut. Pengembangan tersebut sejalan dengan rencana pemanfaatan riset genom, yang dapat mendukung pemahaman terhadap bahan hayati serta pengembangan produk berbasis sumber daya lokal. Meski demikian, informasi yang tersedia belum menjelaskan bentuk produk akhir yang akan diprioritaskan maupun tahapan pelaksanaan riset dan pengolahannya.

Kratom banyak ditemukan di Kalimantan dan disebut berpotensi dikembangkan menjadi bahan untuk produk obat-obatan. Peluang ini membuat kratom menarik untuk dikaji lebih jauh, terutama terkait karakteristik bahan, konsistensi kualitas, dan kemungkinan pengolahan yang sesuai. Namun, potensi tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa produk obat tertentu telah dikembangkan atau siap dipasarkan. Pemanfaatannya memerlukan penelitian dan proses yang memadai, termasuk penilaian atas bahan baku dan aspek keamanan. Rincian mengenai jenis produk, mekanisme pengembangan, ataupun mitra industri belum dipaparkan dalam informasi yang menjadi dasar pembahasan ini.

Kemenyan juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui industri hilir. Selain menjual bahan dalam bentuk mentah, pengolahan lanjutan dapat menjadi cara untuk memperluas pemanfaatan komoditas tersebut dan meningkatkan nilai tambah di tingkat produksi. Meski demikian, belum ada keterangan terperinci tentang produk turunan kemenyan yang akan dibuat, teknologi yang akan digunakan, atau rantai pasok yang disiapkan. Karena itu, peluang hilirisasi perlu dipahami sebagai arah pengembangan, bukan sebagai capaian industri yang sudah terealisasi. Riset dapat membantu mengidentifikasi karakter bahan dan kemungkinan pemanfaatannya.

Untuk kedua komoditas, sumber tidak merinci nilai potensi pasar ataupun target ekspor. Belum tersedia pula angka mengenai kapasitas produksi, kebutuhan investasi, atau kontribusi ekonomi yang diproyeksikan. Ketiadaan rincian tersebut berarti besarnya peluang komersial belum dapat dinilai secara kuantitatif dari informasi yang disampaikan. Langkah berikutnya akan bergantung pada hasil kajian, kesiapan pengolahan, serta keterhubungan penelitian dan pelaku usaha. Dengan demikian, kratom dan kemenyan layak dicatat sebagai fokus pengembangan, sementara skala pasar dan sasaran perdagangan masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Pengembangan kratom dan kemenyan dinilai membuka peluang untuk memperluas pemanfaatan komoditas pertanian Indonesia. Selama ini, keduanya lebih dikenal sebagai bahan mentah atau komoditas dengan pengolahan terbatas, padahal karakteristik biologis dan kandungan senyawanya berpotensi menjadi dasar pengembangan produk bernilai tambah tinggi. Melalui penelitian yang terarah, bahan tersebut dapat ditelaah untuk menemukan kegunaan, menjaga mutu, serta mengembangkan proses pengolahan yang sesuai standar. Peluang pemanfaatan dapat mencakup bahan baku bagi kebutuhan industri obat-obatan dan produk lain, dengan tetap memperhatikan keamanan, bukti ilmiah, serta ketentuan perizinan. Karena itu, pengembangan pusat riset genom diharapkan membantu menyediakan landasan penelitian yang lebih kuat dan mendorong pemanfaatan komoditas secara bertanggung jawab.

Inisiatif ini juga mencerminkan upaya pemerintah memperluas agenda hilirisasi ke sektor pertanian. Hilirisasi selama ini kerap dikaitkan dengan pertambangan, terutama pengolahan nikel, tetapi prinsip yang sama dapat diterapkan pada hasil kebun dan komoditas hayati. Dengan memperkuat riset, teknologi pengolahan, serta keterhubungan produsen dan industri, bahan pertanian berpeluang diproses menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai pasar lebih tinggi. Langkah tersebut bukan sekadar menambah tahapan produksi, melainkan membangun kemampuan untuk mengolah sumber daya di dalam negeri dan memenuhi standar kualitas yang diperlukan. Penerapannya perlu dilakukan secara bertahap, disertai kajian pasar dan tata kelola yang baik, agar peluang ekonomi sejalan dengan perlindungan lingkungan serta kepentingan masyarakat penghasil.

Luhut membandingkan rencana ini dengan pengembangan industri nikel yang mulai didorong pemerintah sekitar satu dekade lalu. Pengalaman tersebut menunjukkan arah kebijakan untuk mengolah sumber daya lebih lanjut sebelum dipasarkan, alih-alih hanya menjual bahan mentah. Pada sektor pertanian, pendekatan serupa dapat diterapkan dengan meneliti bahan baku, mengembangkan proses produksi, dan mendorong terciptanya produk olahan yang lebih kompetitif. Nilai ekonomi yang dihasilkan diharapkan lebih besar dibandingkan penjualan komoditas tanpa pengolahan, sekaligus membuka kesempatan bagi tumbuhnya kegiatan industri domestik. Namun, hasilnya bergantung pada konsistensi riset, kesiapan teknologi, kepastian aturan, dan permintaan pasar. Dengan demikian, kratom dan kemenyan dapat menjadi bagian dari diversifikasi hilirisasi, bukan pengganti sektor lain, serta memperluas sumber pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian.

Luhut menyampaikan bahwa kawasan Toba tengah menyiapkan pusat riset genom yang diarahkan untuk mendukung hilirisasi komoditas lokal. Rencana tersebut menempatkan penelitian sebagai bagian dari upaya memahami potensi bahan baku dan membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah. Pusat riset itu masih dalam tahap persiapan, sehingga berbagai proses yang diperlukan belum dinyatakan selesai. Dalam keterangannya, Luhut menghubungkan rencana fasilitas penelitian ini dengan pengembangan kratom dan kemenyan, dua komoditas yang dipilih sebagai fokus awal.

Pemilihan kratom dan kemenyan mencerminkan arah riset yang hendak mengaitkan sumber daya tersebut dengan kemungkinan pemanfaatan dan pengolahan lebih lanjut. Luhut menekankan peluang pasar yang dapat terbuka melalui hilirisasi, tetapi tidak merinci jenis produk yang akan dihasilkan, mekanisme pengembangannya, ataupun tahapan komersialisasi. Karena itu, rencana pusat riset perlu dipahami sebagai persiapan untuk mendorong kajian dan pengembangan, bukan sebagai bukti bahwa produksi atau ekspor dalam skala tertentu telah berjalan. Informasi yang disampaikan juga belum menetapkan sasaran ekspor bagi kedua komoditas tersebut.

Mengenai prospek ekonomi, Luhut menyebut potensi pasar kratom dan kemenyan dapat bernilai beberapa miliar hingga puluhan miliar dolar.

Baca juga: Dari Pesantren untuk Ibu Pertiwi: Kodim 0813 Bojonegoro Bangun Sarana Olahraga Militer, Siapkan Santri Jadi Prajurit TNI