Dampak Asap Karhutla pada Tubuh: Dari Iritasi hingga Risiko Jangka Panjang

Dampak Asap Karhutla pada Tubuh: Dari Iritasi hingga Risiko Jangka Panjang

Palembang | Paparan asap kebakaran hutan dan lahan tidak selalu langsung dikenali melalui batuk atau sesak napas. Pada sebagian orang, keluhan awal dapat berupa sakit kepala, mual, dan tubuh yang terasa cepat lelah. Gejala semacam ini mudah dianggap sebagai akibat kurang tidur, aktivitas yang padat, atau kondisi tubuh yang sedang menurun. Akibatnya, hubungan keluhan dan kualitas udara di sekitar tidak segera disadari.

Spesialis paru Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa orang yang terpapar asap sering tidak menyadari bahwa gejala yang dialami mungkin berkaitan dengan paparan tersebut. Keluhan yang tampak umum ini dapat muncul ketika seseorang berada di lingkungan berasap, meski ia tidak selalu merasakan gangguan pernapasan yang mencolok. Karena itu, memperhatikan keadaan sekitar dan waktu munculnya gejala dapat membantu seseorang mempertimbangkan kemungkinan adanya kaitan dengan asap.

Pandangan tersebut sejalan dengan literatur mengenai dampak asap kebakaran serta penelitian yang pernah dilakukan Agus bersama tim ketika terjadi kebakaran hutan di Palembang dan Riau pada 2015. Pengalaman dan kajian dalam konteks peristiwa itu mendukung perhatian terhadap keluhan kesehatan yang dapat menyertai paparan, termasuk keluhan yang tidak langsung dianggap berhubungan dengan asap. Namun, penyebutan penelitian tersebut tidak berarti bahwa penelitian itu mengukur risiko tertentu; informasi yang tersedia hanya menunjukkan keselarasan pandangan dengan literatur dan kajian yang pernah dilakukan.

Jika sakit kepala, mual, atau kelelahan muncul saat kualitas udara memburuk, gejala tersebut patut diperhatikan, terutama bila berulang atau dirasakan oleh beberapa orang di lingkungan yang sama. Mencatat kapan keluhan muncul dan apakah keadaan udara sedang berasap dapat memberikan konteks yang berguna saat mencari saran kesehatan. Langkah ini bukan pengganti pemeriksaan atau penetapan diagnosis, tetapi membantu menghindari anggapan bahwa keluhan ringan selalu tidak berkaitan dengan paparan lingkungan. Mengenali kemungkinan hubungan sejak awal juga membuat masyarakat lebih tanggap terhadap kondisi udara dan perubahan yang dirasakan tubuh.

Karbon monoksida (CO) merupakan salah satu komponen berbahaya yang dapat terdapat dalam asap kebakaran hutan dan lahan. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga keberadaannya tidak selalu dapat dikenali melalui penglihatan atau penciuman. CO terbentuk ketika bahan yang mengandung karbon terbakar, termasuk dalam kondisi pembakaran yang tidak sempurna. Karena itu, paparan asap karhutla dapat membawa risiko selain iritasi yang disebabkan partikel dan gas lain.

Di dalam tubuh, CO dapat berikatan dengan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen. Ikatan tersebut mengurangi kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan. Dampaknya bergantung pada tingkat paparan dan kondisi orang yang terpapar. Pada paparan yang lebih rendah, keluhan dapat berupa sakit kepala, mual, dan rasa lelah. Gejala seperti ini tidak khusus menandakan paparan CO, sehingga penyebabnya tidak dapat dipastikan hanya dari keluhan tersebut.

Ketika konsentrasi paparan lebih tinggi, gangguan dapat menjadi lebih berat. Seseorang dapat mengalami sakit kepala hebat, sesak napas, mual, hingga muntah. Hubungan konsentrasi CO dan gejala perlu dipahami secara hati-hati: tingkat paparan yang lebih besar dapat meningkatkan risiko dampak yang lebih serius, tetapi gejala yang dialami tidak selalu sama pada setiap orang. Kondisi kesehatan, aktivitas, serta paparan dari sumber lain juga dapat memengaruhi respons tubuh.

Jika keluhan muncul saat atau setelah berada di lingkungan berasap, segera menjauh menuju udara yang lebih bersih dan cari bantuan medis, terutama bila terdapat sesak napas, sakit kepala berat, atau muntah. Jangan mengandalkan bau sebagai penanda aman atau berbahaya, sebab CO tidak dapat dideteksi dengan indra penciuman. Pada situasi kebakaran, mengikuti arahan petugas dan mengurangi paparan asap merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan.

Asap karhutla tidak hanya mengandung karbon monoksida, tetapi juga gas iritan dan partikel halus atau particulate matter (PM). Saat terhirup, campuran polutan ini dapat mengganggu jaringan yang melapisi mata dan saluran pernapasan. Dampaknya bisa muncul segera setelah paparan, bergantung pada konsentrasi asap, lamanya seseorang berada di lingkungan berasap, serta kondisi kesehatannya.

Keluhan yang umum meliputi mata merah dan berair, hidung berair, sakit tenggorokan, batuk, serta rasa gatal atau perih di tenggorokan dan saluran napas. Sebagian orang juga mengalami peningkatan produksi dahak. Gejala tersebut merupakan respons terhadap iritasi, tetapi dapat terasa lebih berat jika paparan berlangsung lama atau terjadi berulang. Anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan dapat lebih rentan mengalami dampak yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Partikel dan gas iritan dapat mengganggu lapisan pelindung saluran napas. Iritasi ini dapat disertai pembengkakan, sehingga aliran udara menjadi lebih sulit dan menimbulkan rasa sesak. Batuk atau dahak yang meningkat juga dapat memperburuk ketidaknyamanan. Jika keluhan menetap, bertambah berat, atau disertai kesulitan bernapas, seseorang sebaiknya menjauh dari paparan asap dan mencari pertolongan tenaga kesehatan.

Perhatian khusus diperlukan bagi penderita penyakit pernapasan, terutama asma. Asap dapat memicu kekambuhan karena saluran napas mereka lebih sensitif terhadap polutan. Gejalanya dapat berupa batuk, sesak, dan napas berbunyi atau mengi. Pada kasus yang berat, serangan dapat memerlukan penanganan di rumah sakit, sebagaimana dilaporkan oleh narasumber. Penderita asma sebaiknya mengikuti rencana pengobatan dari dokter, membatasi kegiatan di luar ruang saat kualitas udara buruk, dan segera mencari bantuan bila obat yang biasa digunakan tidak meredakan gejala atau kondisi memburuk.

Dampak akut asap karhutla umumnya muncul selama atau tidak lama setelah seseorang terpapar. Keluhan dapat terasa segera, misalnya iritasi pada mata dan saluran pernapasan, batuk, atau rasa tidak nyaman saat bernapas. Intensitasnya dapat berubah sesuai kadar asap di udara, lamanya seseorang berada di lingkungan tercemar, serta sensitivitas tubuh. Pada sebagian orang, gejala mereda setelah paparan berkurang dan mereka berpindah ke udara yang lebih bersih. Namun, munculnya keluhan yang berat atau menetap tetap perlu diperhatikan, terutama bila mengganggu aktivitas sehari-hari.

Berbeda dari reaksi sesaat tersebut, paparan yang berlangsung berulang atau terus-menerus selama berbulan-bulan menimbulkan perhatian mengenai kemungkinan dampak jangka panjang. Agus menerangkan bahwa paparan terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Keterangan ini menunjukkan adanya potensi masalah kesehatan dalam jangka panjang, bukan kepastian bahwa setiap orang yang terpapar akan mengalami penyakit tertentu. Karena sumber tidak merinci jenis penyakit maupun besaran peningkatan risiko, informasi tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan diagnosis atau memperkirakan peluang pribadi seseorang.

Jenis masalah kesehatan yang mungkin muncul dan tingkat risikonya bergantung pada banyak faktor. Di antaranya ialah konsentrasi partikel dan zat pencemar, frekuensi serta durasi paparan, jarak dari sumber asap, dan ada tidaknya perlindungan selama kejadian. Kondisi kesehatan sebelum terpapar, usia, serta kerentanan individu juga dapat memengaruhi respons tubuh. Karena itu, dampak pada seseorang belum tentu sama dengan dampak pada orang lain, meskipun tinggal di wilayah yang sama. Perbedaan ini penting dipahami saat menilai efek asap karhutla dari waktu ke waktu.

Mengurangi paparan tetap menjadi langkah yang relevan, baik untuk membantu membatasi keluhan segera maupun menekan kontak berulang dengan asap. Masyarakat dapat mengikuti informasi kualitas udara dan arahan otoritas setempat, serta mengurangi kegiatan di luar ruang ketika kondisi udara memburuk. Orang yang memiliki keluhan berkelanjutan sebaiknya meminta saran tenaga kesehatan, terutama jika gejalanya mengganggu atau memburuk.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla