Jakarta | Forum Alumni Siswa Pecinta Alam (Fasta) Jakarta membentuk Fasta Rescue di Universitas Negeri Jakarta pada Minggu. Pembentukan tim ini menjadi langkah untuk menyiapkan jejaring relawan yang memiliki kesiapan dan kemampuan dalam menghadapi situasi bencana. Dengan adanya wadah khusus, pengalaman dan kepedulian para anggota dapat diarahkan pada upaya yang lebih terkoordinasi, baik sebelum maupun ketika bencana terjadi. Kehadiran Fasta Rescue juga menegaskan peran komunitas pecinta alam dalam mendukung kesiapsiagaan di lingkungan masyarakat.
Fokus utama pembentukan Fasta Rescue adalah memperkuat kapasitas relawan untuk mitigasi dan penanganan bencana. Penguatan tersebut penting agar relawan memahami tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko, sekaligus mampu merespons kebutuhan saat keadaan darurat. Kesiapan tidak hanya berkaitan dengan keberanian untuk turun membantu, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, koordinasi, dan pemahaman terhadap situasi lapangan. Karena itu, tim diharapkan menjadi ruang bagi anggota untuk membangun kemampuan secara terarah dan memperkuat kerja bersama.
Dalam upaya mitigasi, relawan dapat berperan membantu meningkatkan perhatian terhadap risiko bencana serta mendorong kesiapan di tingkat komunitas. Sementara dalam penanganan, koordinasi dan pemahaman tugas menjadi bekal penting agar dukungan yang diberikan dapat sesuai dengan kebutuhan. Fasta Rescue dibentuk untuk mengembangkan kapasitas tersebut, sehingga para relawan tidak hanya memiliki kepedulian, tetapi juga kesiapan yang lebih memadai untuk berkontribusi. Langkah ini sekaligus membuka peluang bagi jejaring pecinta alam untuk bekerja lebih terstruktur dalam mendukung masyarakat yang menghadapi risiko bencana.
Pembentukan tim di Universitas Negeri Jakarta menunjukkan bahwa penguatan relawan menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan. Melalui Fasta Rescue, Fasta Jakarta menyiapkan wadah yang dapat membantu menghubungkan potensi anggota dengan kebutuhan mitigasi dan respons bencana. Keberadaan tim ini diharapkan mendorong relawan untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta memperkuat koordinasi dalam menjalankan peran. Dengan kapasitas yang lebih baik, kontribusi komunitas dapat diberikan secara lebih terarah dan bertanggung jawab. Tujuan akhirnya adalah membangun kesiapan relawan yang mendukung upaya pengurangan risiko dan penanganan bencana secara efektif.
Sekretaris Umum Fasta, Prasenja, menjelaskan bahwa pembentukan tim Fasta Rescue berangkat dari refleksi atas risiko yang dapat dihadapi siapa pun ketika beraktivitas di alam terbuka. Salah satu peristiwa yang membekas adalah hilangnya lima jurnalis saat mereka meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa tugas di lapangan dapat berlangsung di tengah situasi yang berubah cepat dan berbahaya, sehingga kesiapan menghadapi keadaan darurat tidak dapat dianggap sebagai pelengkap.
Peristiwa itu terasa dekat bagi keluarga besar Fasta. Salah satu jurnalis yang hilang merupakan alumnus Trisaptapala SMAN 37 Jakarta sekaligus bagian dari keluarga besar organisasi tersebut. Kedekatan ini membuat kejadian itu menjadi bahan renungan, bukan sekadar kabar mengenai risiko pekerjaan di lokasi bencana. Pengalaman dan keterampilan berkegiatan di alam memang penting, tetapi keduanya perlu didukung pemahaman kebencanaan, kemampuan menilai ancaman, serta kesiapan bertindak secara tepat ketika keadaan darurat muncul.
Menurut Prasenja, pengalaman menjelajah alam terbuka perlu diperkuat dengan kapasitas kebencanaan yang lebih baik. Dengan bekal tersebut, anggota diharapkan dapat memahami kondisi sekitar, mengenali potensi bahaya, dan mempertimbangkan langkah yang aman sebelum maupun selama kegiatan. Kesiapsiagaan juga mencakup kemampuan berkoordinasi dan mengambil keputusan tanpa menambah risiko bagi diri sendiri maupun orang lain. Refleksi atas kejadian di Anak Krakatau menjadi salah satu alasan penting untuk membangun kesiapan yang lebih terarah melalui Fasta Rescue.
Prasenja juga mengingatkan bahwa ancaman bencana tidak hanya berada di kawasan gunung atau lokasi terpencil. Jakarta dan daerah sekitarnya menghadapi risiko tersendiri, termasuk gempa bumi dan banjir. Karena itu, pengetahuan serta kesiapan menghadapi bencana relevan bagi masyarakat perkotaan, bukan hanya bagi mereka yang rutin berkegiatan di alam. Perubahan situasi dapat terjadi dekat dengan tempat tinggal maupun dalam perjalanan, sehingga pemahaman dasar tentang risiko dan respons darurat perlu terus ditingkatkan.
Dengan melihat pengalaman tersebut, pembentukan tim menjadi upaya untuk menghubungkan kecintaan pada alam dengan tanggung jawab terhadap keselamatan. Fasta Rescue diharapkan mendorong anggota agar tidak hanya terampil menjalani kegiatan luar ruang, tetapi juga lebih siap memahami konteks kebencanaan di berbagai lingkungan. Langkah ini menegaskan pentingnya belajar dari peristiwa nyata dan memperluas kesiapsiagaan, baik di kawasan alam terbuka maupun di sekitar Jakarta.
Ketua Fasta Rescue, Rio Susanto, menjelaskan bahwa pembentukan tim bukan sekadar menetapkan struktur organisasi, tetapi juga harus diikuti pendidikan dan pelatihan yang terarah. Bekal tersebut diperlukan agar anggota memahami karakter risiko bencana, mampu mengenali kebutuhan warga terdampak, serta mengetahui langkah awal yang aman sebelum bantuan lanjutan tiba. Menurut Rio, kesiapsiagaan perlu dibangun melalui proses belajar yang berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan semangat untuk menolong. Dengan pengetahuan yang memadai, para pecinta alam dapat menjalankan peran secara lebih terukur dan menghindari tindakan yang berisiko bagi diri sendiri maupun masyarakat. Pelatihan juga diharapkan menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap keselamatan bersama.
Selain pengetahuan umum kebencanaan, anggota perlu menguasai keterampilan praktis yang relevan dengan tugas kemanusiaan. Materi dapat mencakup komunikasi di lapangan, pengenalan kondisi darurat, pertolongan awal, serta cara bekerja dalam tim ketika menghadapi situasi yang berubah cepat. Pemahaman mengenai prosedur penanganan bencana menjadi bagian penting agar setiap tindakan selaras dengan arahan petugas dan kebutuhan operasi. Rio berharap anggota tidak bergerak secara sendiri-sendiri, melainkan memahami batas kemampuan, alur koordinasi, dan mekanisme pelaporan. Kesiapan tersebut akan membantu tim memberikan dukungan secara tepat, menjaga keselamatan personel, serta mengurangi potensi tumpang tindih dengan kerja lembaga lain. Pembelajaran yang konsisten juga dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap relawan.
Harapan Rio adalah Fasta Rescue berkembang menjadi kelompok yang terlatih dan dapat berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam kegiatan kemanusiaan maupun penanggulangan bencana. Kolaborasi dengan lembaga terkait, komunitas, dan relawan lain memungkinkan sumber daya dimanfaatkan secara lebih efektif, terutama ketika kebutuhan di lapangan melampaui kapasitas satu kelompok. Dalam acara tersebut, peserta telah menerima pembekalan dasar dari BNPB, Basarnas Jakarta I, praktisi, dan relawan kebencanaan. Kehadiran para pemateri memberi peserta gambaran awal tentang pengetahuan, keterampilan, serta prosedur yang diperlukan sebelum terlibat dalam operasi. Pembekalan itu juga membuka ruang untuk bertukar pengalaman dan memahami pentingnya mengikuti komando yang berlaku. Dengan landasan tersebut, tim diharapkan terus berlatih, memperluas jejaring, dan siap mendukung upaya bersama secara bertanggung jawab.
Jejaring siswa pecinta alam (Sispala) memiliki potensi besar untuk menjadi sumber daya pendukung bagi masyarakat ketika keadaan darurat terjadi. Anggotanya tersebar di berbagai sekolah dan wilayah, sementara hubungan yang terbangun melalui kegiatan organisasi dapat membantu mempercepat penyebaran informasi, koordinasi, dan mobilisasi relawan. Potensi ini tidak hanya dimiliki oleh anggota aktif. Alumni Sispala juga dapat berperan dengan berbagi pengalaman, memperluas jaringan, serta mendukung pembinaan keterampilan bagi generasi berikutnya.
Dalam situasi bencana, kemampuan bekerja bersama dan memahami kondisi lapangan sangat penting. Anggota Sispala umumnya terbiasa menjalani kegiatan di alam terbuka, yang melatih mereka untuk beradaptasi, berkomunikasi, dan mengambil keputusan secara terukur. Namun, pengalaman tersebut perlu dilengkapi dengan pengetahuan kebencanaan yang tepat, pemahaman mengenai keselamatan relawan, serta koordinasi dengan pihak berwenang dan kelompok penanggulangan bencana. Dengan pembekalan yang sesuai, jejaring ini dapat membantu menyampaikan informasi kepada warga, mendukung kegiatan kesiapsiagaan, dan berkontribusi dalam tugas kemanusiaan sesuai kapasitasnya.
Najwa.
Baca juga: Sinergi Bersama Hadapi Potensi Bencana, Personel Kodim Bojonegoro Segarkan Kemampuan Jinakkan Api | Perkuat Kesiapsiagaan Dalam Menangani Karhutla, Personel Lanud Sjamsudin Noor Asah Kemampuan Operasikan Kendaraan Pemadam Kebakaran | HADR Latgabma SGS 2026 Perkuat Respons Terpadu Hadapi Bencana






