Bekasi | Windu Hadianto, 41 tahun, menjalani hari-hari dengan bekerja sebagai juru parkir di kawasan Cabe Ijo. Warga Gabus, Bekasi Utara, ini mengandalkan penghasilan sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Besar pendapatannya tidak menentu, karena jumlah yang diperoleh bergantung pada keadaan dan aktivitas di kawasan tempatnya bekerja. Dari pemasukan tersebut, Windu menanggung kebutuhan rumah tangga sekaligus membesarkan empat anak.
Dengan pendapatan harian yang terbatas, pengeluaran keluarga kerap menjadi tantangan. Uang yang dibawa pulang perlu dibagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara biaya pendidikan juga terus menjadi pertimbangan. Dalam keadaan seperti itu, kebutuhan dasar saja sering terasa belum tercukupi. Windu mengakui bahwa uang yang diperolehnya tidak selalu cukup untuk menutup kebutuhan rumah tangga. Ketidakpastian pemasukan membuatnya harus berhitung cermat, terutama ketika kebutuhan keluarga datang bersamaan.
Pendidikan anak-anak pun sempat terasa sulit dijangkau. Sebelum mengetahui keberadaan program Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 1 Kabupaten Bekasi, Windu pernah berpikir bahwa anak-anaknya mungkin hanya dapat menamatkan sekolah dasar. Kekhawatiran itu muncul karena ia merasa biaya untuk melanjutkan pendidikan berada di luar kemampuan keluarganya. Harapannya agar anak-anak dapat terus bersekolah berhadapan dengan kenyataan penghasilan yang harus digunakan untuk memenuhi keperluan harian. Bagi Windu, membiayai kebutuhan keluarga dan memikirkan masa depan pendidikan anak merupakan beban yang berjalan beriringan.
Pengalaman Windu menggambarkan bagaimana keterbatasan pendapatan dapat memengaruhi keputusan keluarga mengenai pendidikan. Saat pemasukan hanya berkisar puluhan ribu rupiah per hari dan kebutuhan harian saja kerap terasa kurang, merencanakan biaya sekolah menjadi hal yang tidak mudah. Ia harus mempertimbangkan kemampuan keuangan keluarga sebelum membayangkan anak-anak melanjutkan pendidikan. Karena itu, informasi mengenai SRT 1 Kabupaten Bekasi menjadi penting bagi Windu. Sebelumnya, ia belum melihat jalan yang realistis untuk membawa anak-anaknya melampaui pendidikan dasar. Kondisi tersebut membuat harapan melanjutkan sekolah terasa jauh, bukan karena ia tidak menginginkannya, melainkan karena keterbatasan biaya yang harus dihadapi setiap hari.
Titik perubahan dalam perjalanan keluarga Windu bermula dari sebuah pertemuan sederhana di posyandu setempat. Saat itu, penyuluh atau pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) menyampaikan informasi mengenai kesempatan bersekolah di sekolah rakyat bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Informasi tersebut membuka kemungkinan yang sebelumnya belum menjadi bagian dari rencana keluarga. Bagi Windu, akses pendidikan dengan dukungan yang memadai terasa penting, terlebih penghasilan hariannya dari pekerjaan menjaga parkir harus digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga. Tawaran itu pun menjadi bahan pertimbangan serius, bukan sekadar kabar yang lewat begitu saja.
Setelah mengetahui kesempatan tersebut, Windu membicarakannya dengan anak-anaknya dan menawarkan mereka untuk bersekolah di sana. Sambutan mereka menunjukkan antusiasme. Kini, tiga dari empat anak Windu menempuh pendidikan tanpa biaya dengan fasilitas asrama penuh di SRT 1 Bekasi. Mereka adalah Desi Winda Narni, berusia 13 tahun dan duduk di kelas 7 SMP; Muhammad Rizky Langit Ramadan, 11 tahun, yang berada di kelas 5 SD; serta Nadia Muharam Lestari, 6 tahun, yang baru memasuki usia sekolah dasar. Kesempatan ini memberi ketiganya ruang untuk belajar dan menjalani kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah berasrama.
SRT 1 Bekasi menyediakan bangunan permanen untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan tersedianya jalur pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah atas dalam satu lingkungan sekolah. Bagi keluarga yang mempertimbangkan akses pendidikan, informasi tentang jenjang dan fasilitas dapat membantu memahami pilihan yang tersedia. Namun, keadaan keluarga Windu perlu dijelaskan secara tepat: yang bersekolah di SRT 1 Bekasi adalah tiga anaknya, bukan seluruh anak. Satu anak lainnya tidak disebut sebagai siswa di sekolah tersebut. Kesempatan yang disampaikan melalui pendamping PKH telah membuka akses pendidikan berasrama bagi tiga anak itu, sesuai jenjang dan usia masing-masing.
Bagi Windu, kesempatan ketiga anaknya bersekolah di SRT 1 membawa kelegaan yang besar. Pendidikan, tempat tinggal, serta kebutuhan harian mereka kini ditanggung negara, sehingga beban ekonomi yang selama ini ia rasakan menjadi lebih ringan. Dengan penghasilan dari bekerja sebagai juru parkir, Windu harus mengatur kebutuhan hidupnya sendiri dan tetap memikirkan masa depan anak-anaknya. Dukungan tersebut membuatnya tidak lagi menanggung seluruh biaya pendidikan dan kehidupan mereka seorang diri. Ia pun dapat melihat anak-anaknya memperoleh kesempatan belajar dan tinggal di lingkungan yang mendukung, sementara ia tetap berusaha menjalankan pekerjaannya dan menjaga hubungan dengan mereka.
Pada hari Minggu, Windu datang menjenguk anak-anaknya di SRT 1. Perjalanan itu membutuhkan persiapan, sebab ia tidak memiliki sepeda motor untuk digunakan sendiri. Agar dapat menyewa kendaraan, ia menyisihkan sebagian penghasilan parkir selama beberapa hari. Uang yang terkumpul kemudian dipakai untuk pergi menemui ketiga anaknya. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan berharga untuk bertemu langsung, menanyakan keadaan mereka, dan menunjukkan perhatian sebagai seorang ayah. Meski penghasilannya terbatas, Windu berupaya agar jarak dan keterbatasan sarana tidak sepenuhnya menghalangi dirinya untuk hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Usaha menabung sebelum berangkat mencerminkan betapa pentingnya pertemuan itu baginya.
Dalam kunjungan tersebut, Windu juga membawakan sandal untuk salah seorang anaknya. Ia mengetahui sandal itu hilang setelah mendapat kabar dari wali asrama. Benda sederhana itu menjadi salah satu kebutuhan yang ingin ia penuhi secara langsung, sekaligus tanda bahwa ia tetap memperhatikan hal-hal kecil dalam keseharian anaknya. Windu mengaku merasa lega karena ketiga anaknya mendapatkan kesempatan untuk bersekolah dan kebutuhan pokok mereka tercukupi. Harapannya, mereka dapat terus belajar dan setidaknya melanjutkan pendidikan hingga tingkat SMA. Bagi Windu, kesempatan tersebut membuka jalan agar anak-anaknya memiliki pilihan masa depan yang lebih baik. Dukungan negara meringankan tanggung jawab ekonomi keluarga, sementara perhatian dan kunjungannya tetap menjadi bagian penting dari ikatan mereka.
Sejak ketiga anaknya tinggal dan bersekolah di asrama, Windu melihat perubahan yang menggembirakan. Menurutnya, mereka kini lebih disiplin dan mandiri dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Mereka juga tampak lebih terbuka karena bergaul dengan banyak teman yang berasal dari berbagai daerah. Pengalaman hidup bersama itu memberi anak-anak kesempatan untuk belajar menyesuaikan diri, berbagi, dan menghargai kebiasaan orang lain. Bagi Windu, perubahan tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan yang mereka peroleh, selain pelajaran di kelas.
Desi, putri sulung dari tiga bersaudara, mulai terbiasa mengurus keperluannya sendiri. Ia mengikuti kegiatan kebersihan dan belajar mencuci seragam, sepatu, serta pakaian tanpa selalu bergantung pada orang lain. Kemandirian itu tumbuh melalui rutinitas di asrama, dengan pendampingan wali asrama yang menemani siswa selama 24 jam. Kehadiran para pendamping membantu memastikan anak-anak tetap memperoleh arahan dan dukungan dalam keseharian. Desi pun menjalani kegiatan bersama teman-temannya sambil belajar bertanggung jawab atas barang dan kebersihan diri.
Selain membangun kebiasaan mandiri, Desi mengikuti latihan fisik dan kegiatan kedisiplinan. Salah satunya adalah latihan peraturan baris-berbaris yang diberikan oleh mahasiswa kadet Kementerian Pertahanan. Kegiatan tersebut mengenalkan ketertiban dan kepatuhan terhadap arahan melalui praktik langsung. Di sekolah, Desi menyukai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Ia juga antusias saat mengikuti pengenalan koding dan kecerdasan artifisial dengan menggunakan laptop yang disediakan sekolah.
Baca juga: Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Bentuk Karakter Pelajar Sejak Dini, Babinsa Lakukan Manunggal Pendidikan | Puspsi TNI Berikan Trauma Healing bagi Anak Penyintas Gempa Bumi NTT






