Gempa Dangkal Beruntun Terjadi di Sukabumi dan Bogor, BMKG Sebut Aktivitas Sesar Aktif

Gempa Magnitudo 5,7 Mengguncang Barat Daya Sukabumi

Bogor | Sukabumi dan Bogor, Jawa Barat, diguncang gempa bumi tektonik beruntun pada Kamis petang, 15 Oktober 2026. Rangkaian kejadian tersebut bukan satu guncangan tunggal, melainkan beberapa gempa yang tercatat di dua wilayah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengategorikan gempa-gempa itu sebagai gempa dangkal dengan mempertimbangkan letak episenter serta kedalaman hiposenternya.

Episenter adalah titik di permukaan bumi yang berada tepat di atas sumber gempa, sedangkan hiposenter merupakan lokasi sumber gempa di dalam bumi. Kedalaman hiposenter menjadi salah satu dasar untuk mengelompokkan gempa sebagai dangkal atau dalam. Dalam kejadian ini, penjelasan BMKG mengenai kategori dangkal merujuk pada kombinasi informasi lokasi episenter dan kedalaman sumber, bukan semata-mata pada nama wilayah yang mengalami guncangan.

Gempa tektonik terjadi ketika energi yang tersimpan di dalam kerak bumi dilepaskan akibat pergerakan batuan atau struktur geologi. Rangkaian guncangan dapat berlangsung dalam beberapa kejadian yang berdekatan, sehingga setiap gempa perlu dicatat dan dianalisis secara tersendiri. Data seperti waktu kejadian, posisi sumber, kedalaman, dan kekuatan gempa membantu lembaga pemantau menyusun gambaran mengenai aktivitas seismik di suatu kawasan.

BMKG menyebut aktivitas sesar aktif sebagai konteks geologi yang berkaitan dengan rangkaian gempa di Sukabumi dan Bogor. Sesar aktif adalah struktur patahan yang masih berpotensi mengalami pergerakan dan menjadi salah satu sumber gempa tektonik. Meski demikian, penetapan sumber secara lebih rinci memerlukan kajian terhadap data seismik dan karakteristik geologi setempat. Karena itu, informasi mengenai sesar perlu dipahami sebagai penjelasan geologis, bukan sebagai rincian yang dengan sendirinya menjelaskan seluruh aspek setiap kejadian.

Dengan demikian, inti informasi pada Kamis petang tersebut adalah terjadinya gempa tektonik beruntun yang mencakup Sukabumi dan Bogor, serta klasifikasi BMKG bahwa gempa-gempa itu tergolong dangkal. Pencatatan sebagai rangkaian kejadian dan keterangan tentang kedalaman membantu membedakan peristiwa ini dari laporan yang hanya menyebut satu gempa, sekaligus memberi konteks awal mengenai aktivitas tektonik di bagian Jawa Barat tersebut.

BMKG mencatat gempa pertama dalam rangkaian guncangan di wilayah Sukabumi dan Bogor memiliki magnitudo 3,5. Angka tersebut merujuk khusus pada kejadian awal, bukan pada gempa-gempa berikutnya yang terjadi dalam rangkaian aktivitas tersebut. Berdasarkan hasil analisis terbaru, pusat gempa atau episenternya berada pada koordinat 6,73 derajat Lintang Selatan dan 106,61 derajat Bujur Timur. Informasi magnitudo, koordinat, dan lokasi ini memberikan gambaran mengenai posisi serta skala kejadian pertama yang dilaporkan.

Episenter gempa pertama berada di darat, sekitar 25 kilometer di utara Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sementara itu, kedalamannya tercatat 9 kilometer. Kedalaman yang relatif dangkal tersebut menggambarkan jarak hiposenter, yakni titik sumber gempa di bawah permukaan, dari permukaan bumi. Parameter ini berbeda dari lokasi episenter, yang menunjukkan proyeksi titik sumber gempa pada permukaan. Dengan demikian, keterangan “25 kilometer di utara Kabupaten Sukabumi” menjelaskan letak mendatarnya, sedangkan angka 9 kilometer menunjukkan kedalaman sumber gempa.

Data tersebut penting dibaca secara cermat karena rangkaian gempa dapat mencakup beberapa kejadian dengan parameter yang tidak sama. Untuk gempa pertama, acuan BMKG adalah magnitudo 3,5, episenter di darat pada koordinat 6,73 LS dan 106,61 BT, posisi sekitar 25 kilometer di utara Kabupaten Sukabumi, serta kedalaman 9 kilometer. Parameter itu merupakan hasil pemutakhiran analisis dan secara khusus menggambarkan kejadian pertama dalam rangkaian. Karena itu, angka magnitudo maupun kedalaman dari gempa lain tidak semestinya dipertukarkan dengan data gempa pertama tersebut saat menjelaskan kronologi. Penyebutan yang konsisten membantu pembaca memahami laporan dan membedakan setiap guncangan yang tercatat.

Catatan BMKG untuk gempa kedua dalam rangkaian kejadian di wilayah Sukabumi dan Bogor menyebutkan magnitudo 4,1. Angka tersebut merujuk secara khusus pada gempa kedua, bukan pada gempa pertama. Pembedaan ini penting karena setiap kejadian memiliki parameter tersendiri, termasuk magnitudo, lokasi episenter, dan kedalaman. Dengan demikian, informasi mengenai gempa bermagnitudo 4,1 tidak sepatutnya digabungkan atau dipertukarkan dengan data kejadian sebelumnya. Rangkaian gempa dapat terdiri atas beberapa peristiwa yang tercatat secara terpisah, sehingga setiap keterangan perlu dibaca sesuai urutan dan identitas kejadian yang dilaporkan.

Untuk gempa kedua tersebut, episenter tercatat pada koordinat 6,73 derajat Lintang Selatan dan 106,60 derajat Bujur Timur. Lokasinya berada di darat, sekitar 26 kilometer barat daya Kota Bogor, Jawa Barat. Adapun kedalaman sumber gempa dilaporkan 5 kilometer. Seluruh angka dan keterangan lokasi ini merupakan parameter gempa kedua. Penyebutan jarak dari Kota Bogor memberi gambaran posisi episenter terhadap wilayah perkotaan, sedangkan koordinat menunjukkan letak yang lebih spesifik. Keduanya tidak mengubah fakta bahwa peristiwa yang dimaksud adalah gempa kedua dalam rangkaian tersebut.

Kedalaman 5 kilometer menempatkan sumber gempa ini pada kategori dangkal berdasarkan parameter yang dilaporkan. Namun, keterangan tersebut sebaiknya dipahami sebagai informasi teknis mengenai lokasi sumber, bukan sebagai gambaran langsung mengenai dampak di suatu tempat. Magnitudo 4,1 juga merupakan ukuran kekuatan gempa yang tercatat untuk peristiwa ini. Pembaca perlu memeriksa waktu kejadian dan rujukan laporan ketika membandingkan informasi dengan gempa lain di kawasan yang sama. Penegasan identitas peristiwa membantu mencegah kekeliruan, khususnya ketika beberapa gempa terjadi berdekatan waktunya. Jadi, data yang relevan untuk gempa kedua adalah magnitudo 4,1, episenter di darat pada koordinat 6,73 LS dan 106,60 BT, sekitar 26 kilometer barat daya Kota Bogor, serta kedalaman 5 kilometer.

BMKG mengaitkan rangkaian gempa yang terjadi di wilayah Sukabumi dan Bogor dengan aktivitas sesar aktif. Penilaian tersebut didasarkan pada dua unsur utama dalam analisis gempa, yakni lokasi episenter dan kedalaman hiposenter. Episenter merupakan titik di permukaan bumi yang berada tepat di atas sumber gempa, sedangkan hiposenter adalah lokasi sumber gempa di dalam bumi. Dengan mempertimbangkan posisi dan kedalaman sumber, BMKG menyimpulkan bahwa gempa-gempa dangkal tersebut berkaitan dengan pergerakan pada sesar aktif.

Keterangan itu disampaikan oleh Plt Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Ana Oktavia Setiowati. Penjelasan BMKG menempatkan rangkaian kejadian ini sebagai aktivitas tektonik, bukan sekadar menyebut lokasi gempa yang dirasakan warga. Kedalaman hiposenter menjadi salah satu pertimbangan penting karena menggambarkan seberapa dekat sumber gempa dengan permukaan. Sementara itu, lokasi episenter membantu menunjukkan posisi kejadian di permukaan. Kedua informasi tersebut dinilai bersama untuk memahami karakter sumber gempa dan kaitannya dengan kondisi geologi setempat.

Meski demikian, keterangan mengenai penyebab tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh dampak yang mungkin dirasakan di tiap lokasi. Tingkat guncangan dapat berbeda menurut jarak dari sumber, kondisi tanah, serta keadaan bangunan. Karena itu, informasi tentang episenter dan kedalaman perlu dibaca sebagai bagian dari analisis kebumian, bukan sebagai ukuran langsung kerusakan. BMKG mengimbau masyarakat mengikuti pembaruan resmi dan tetap mengutamakan langkah keselamatan, terutama apabila terjadi guncangan lanjutan. Dalam menjelaskan penyebab rangkaian tersebut, Ana Oktavia Setiowati menyatakan bahwa, dengan mempertimbangkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa-gempa dangkal di Sukabumi dan Bogor terjadi akibat aktivitas sesar aktif.

Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda | Saat kebakaran terjadi saya berada di dalam rumah kontrakan, belum tidur dan mendengar teriakan tetangga | Demikian pula: Bagaimana pemisahan itu terjadi