Bisnis  

Sembilan Perusahaan Menanti IPO di BEI, Tiga Beraset Besar

Sembilan Perusahaan Menanti IPO di BEI, Tiga Beraset Besar

Jakarta | Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masih terdapat sembilan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham per 9 Oktober 2026. Kesembilan perusahaan tersebut sedang berada dalam tahap persiapan untuk melantai di pasar modal melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Data itu menunjukkan bahwa rencana penambahan emiten baru di BEI masih berjalan, meskipun setiap perusahaan dapat memiliki tahapan, jadwal, dan kesiapan yang berbeda sebelum pencatatan resmi dilakukan.

Direktur Penilaian BEI Saidu Solihin menyampaikan bahwa jumlah calon emiten yang masih berada dalam pipeline tersebut mencapai sembilan perusahaan. Keterangan itu merujuk pada catatan bursa hingga 9 Oktober 2026, sehingga menggambarkan posisi pipeline pada tanggal tersebut. Dengan demikian, angka sembilan belum dapat dipahami sebagai jumlah perusahaan yang telah resmi mencatatkan sahamnya, melainkan jumlah perusahaan yang masih tercatat dalam rencana pencatatan dan berpotensi melaksanakan IPO.

Dalam proses menuju pasar modal, perusahaan yang masuk pipeline perlu memenuhi berbagai persyaratan dan menyelesaikan tahapan sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, keberadaan perusahaan dalam daftar tersebut tidak secara otomatis berarti seluruhnya akan mencatatkan saham pada waktu yang sama. Jadwal pelaksanaan dapat berubah mengikuti kesiapan dokumen, proses evaluasi, kondisi pasar, serta keputusan masing-masing perusahaan dan pihak terkait.

Informasi mengenai sembilan calon emiten ini menjadi gambaran awal mengenai aktivitas pencatatan saham yang sedang dipersiapkan di BEI. Namun, pada data per 9 Oktober 2026 tersebut belum terdapat rincian identitas perusahaan dalam keterangan yang disampaikan. Fokus informasi saat ini adalah jumlah perusahaan yang masih berada dalam pipeline serta status rencana mereka untuk melakukan penawaran umum perdana saham. Perkembangan selanjutnya akan menentukan perusahaan mana yang menyelesaikan seluruh tahapan dan benar-benar melantai di BEI.

Hingga saat ini, proses pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencatatkan realisasi dari tujuh perusahaan. Ketujuh emiten tersebut telah menyelesaikan tahapan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), kemudian resmi mencatatkan sahamnya untuk diperdagangkan di pasar modal. Bersamaan dengan proses tersebut, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.

Realisasi penghimpunan dana itu menggambarkan aktivitas IPO yang sudah berlangsung pada periode berjalan. Dengan demikian, jumlah tujuh perusahaan dan dana Rp2,16 triliun merujuk pada pencatatan serta penggalangan dana yang telah terlaksana, bukan pada keseluruhan perusahaan yang sedang mempersiapkan aksi korporasi. Informasi tersebut menjadi gambaran mengenai hasil IPO yang telah terealisasi di BEI hingga saat ini.

Di luar tujuh perusahaan yang telah tercatat, masih terdapat sembilan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Perusahaan-perusahaan tersebut belum termasuk dalam realisasi tujuh emiten dan dana yang telah dihimpun. Status pipeline menunjukkan bahwa proses menuju pencatatan masih menjadi bagian dari tahapan yang belum terlaksana, sehingga data tersebut perlu dibedakan dari pencapaian IPO yang sudah selesai.

Pemisahan perusahaan yang telah mencatatkan saham dan perusahaan yang masih berada dalam pipeline membantu memperjelas kondisi pencatatan saham saat ini. Tujuh perusahaan merupakan bagian yang sudah menyelesaikan proses dan menghimpun dana, sedangkan sembilan perusahaan lainnya masih tercantum sebagai calon emiten dalam pipeline BEI. Oleh karena itu, angka Rp2,16 triliun mencerminkan dana dari IPO yang telah berlangsung, sementara sembilan perusahaan belum masuk ke dalam perhitungan realisasi tersebut.

Pipeline pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencakup sembilan perusahaan dengan karakteristik aset yang beragam. Komposisi ini menunjukkan bahwa calon emiten tidak hanya berasal dari perusahaan berskala besar, tetapi juga mencakup badan usaha dengan aset kecil dan menengah. Pengelompokan berdasarkan nilai aset membantu memberikan gambaran mengenai kapasitas operasional serta tingkat skala bisnis masing-masing perusahaan yang sedang menanti proses penawaran umum perdana saham.

Dari sisi aset, dua perusahaan berada dalam kategori kecil, yakni memiliki nilai aset di bawah Rp50 miliar. Kelompok berikutnya terdiri atas empat perusahaan dengan aset menengah, yaitu berada pada kisaran Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Jumlah terbesar dalam pipeline berasal dari kategori ini, sehingga memperlihatkan adanya minat perusahaan dengan skala usaha menengah untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal. Sementara itu, tiga perusahaan lainnya tergolong beraset besar karena memiliki aset di atas Rp250 miliar.

Selain klasifikasi aset, sembilan perusahaan tersebut tersebar di sejumlah sektor usaha. Sektor kesehatan menjadi kelompok terbesar dengan empat perusahaan. Jumlah tersebut mencerminkan cukup kuatnya keterwakilan industri kesehatan dalam pipeline calon emiten, baik melalui penyedia layanan maupun kegiatan usaha terkait. Sektor energi menyusul dengan dua perusahaan, sedangkan sektor material dasar, keuangan, dan industri masing-masing diwakili oleh satu perusahaan.

Jika dibaca secara terpisah, klasifikasi aset dan distribusi sektor memberikan dua sudut pandang berbeda mengenai calon emiten. Klasifikasi aset menggambarkan ukuran ekonomi perusahaan, sedangkan pembagian sektor menunjukkan bidang usaha yang berpotensi memperoleh tambahan pilihan investasi di BEI. Dengan demikian, pipeline ini terdiri atas dua perusahaan beraset kecil, empat perusahaan beraset menengah, dan tiga perusahaan beraset besar, dengan sektor kesehatan sebagai kontributor terbanyak, diikuti energi serta tiga sektor lain yang masing-masing memiliki satu perusahaan.

Minat perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hingga akhir Agustus 2026, baru tujuh perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI, dengan total dana dihimpun sekitar Rp2,16 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) masih berlangsung, tetapi jumlah perusahaan yang merealisasikan pencatatan saham belum sebanyak tahun sebelumnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa penurunan jumlah calon emiten dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah dinamika kondisi pasar global yang terus berubah. Pergerakan ekonomi dan pasar keuangan internasional dapat menjadi pertimbangan perusahaan ketika menilai kesiapan untuk menawarkan saham kepada publik, termasuk dalam memperkirakan tingkat permintaan investor dan kondisi valuasi.

Selain itu, meningkatnya ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi pertimbangan perusahaan. Perubahan situasi geopolitik dapat berdampak pada sentimen pasar, persepsi risiko, serta kondisi pembiayaan, sehingga perusahaan perlu melakukan penilaian secara lebih cermat sebelum menetapkan jadwal IPO. Faktor-faktor tersebut memengaruhi penentuan waktu perusahaan dalam melaksanakan penawaran umum. Karena itu, rencana pencatatan saham dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan kesiapan internal masing-masing perusahaan. Data hingga akhir Agustus 2026 memperlihatkan bahwa sebagian perusahaan masih mempertimbangkan waktu yang tepat untuk merealisasikan penawaran umum, sementara proses pencatatan oleh emiten baru tetap berjalan di BEI.

Baca juga: Polisi Terus Tangani Laporan Dugaan Intimidasi Wartawati, Publik Menanti Hasil Penyelidikan | Warga Menanti Tindakan Tegas, Aktivitas Perjudian di Kediri Jadi Perhatian