Surabaya | Alena, bayi perempuan berusia 28 hari, meninggal dunia setelah sebelumnya dilaporkan berada dalam kondisi kritis. Bayi tersebut sempat mendapatkan perawatan medis di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Setelah menjalani penanganan di rumah sakit, Alena dinyatakan meninggal pada Minggu pagi sekitar pukul 07.10 WIB.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena sebelum kondisinya memburuk, Alena diduga dicekoki telur mentah oleh neneknya. Namun, informasi tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Pemberian telur mentah itu belum dapat dinyatakan sebagai penyebab medis pasti kematian Alena tanpa keterangan resmi dan hasil pemeriksaan dari pihak berwenang atau tenaga kesehatan.
Berdasarkan informasi yang beredar, telur mentah diberikan karena sang nenek bermaksud membantu meredakan demam yang dialami cucunya. Tindakan tersebut diduga dilakukan sebagai upaya pertolongan berdasarkan pemahaman keluarga, bukan dengan maksud membahayakan bayi. Meski demikian, pemberian makanan atau minuman tertentu kepada bayi yang masih berusia sangat dini perlu mendapat perhatian, terutama ketika bayi sedang mengalami demam atau gejala kesehatan lain.
Riwayat kondisi Alena sebelum dibawa ke rumah sakit, termasuk gejala yang dialami, waktu pemberian telur, serta perkembangan kesehatannya, masih menjadi bagian penting dalam penelusuran peristiwa ini. Keterangan dari keluarga, tenaga medis, dan pihak terkait diperlukan agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat serta tidak menimbulkan kesimpulan yang terburu-buru mengenai penyebab kematian.
Kabar mengenai kondisi bayi bernama Alena mencuat melalui sebuah unggahan di media sosial Threads. Informasi awal tersebut disampaikan oleh akun @calisthaarisha, yang mengaku sebagai tante korban. Dalam unggahannya, akun itu menceritakan bahwa Alena mengalami kondisi kritis setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya.
Unggahan tersebut menekankan bahwa Alena masih berusia sangat dini, bahkan belum genap satu bulan. Menurut penuturan akun tersebut, makanan itu tidak semestinya diberikan kepada bayi seusianya. Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dari informasi awal yang beredar mengenai kondisi kesehatan Alena serta tindakan yang diduga dilakukan oleh sang nenek.
Dalam penyampaiannya, akun @calisthaarisha mengaitkan pemberian telur mentah dengan memburuknya keadaan bayi. Namun, informasi mengenai kronologi kejadian, kondisi medis Alena, dan hubungan sebab akibatnya pada tahap awal berasal dari penuturan akun keluarga tersebut melalui Threads. Karena itu, kabar yang beredar perlu dipahami sebagai informasi awal yang masih berdasarkan keterangan dari pihak yang mengaku sebagai kerabat korban.
Unggahan keluarga itu kemudian menarik perhatian pengguna media sosial karena memuat kondisi Alena yang disebut kritis dan menyoroti pemberian makanan kepada bayi yang belum berusia satu bulan. Pesan tersebut juga mengingatkan bahwa bayi pada usia tersebut memiliki kebutuhan nutrisi dan sistem pencernaan yang berbeda dari anak yang lebih besar. Meski demikian, penjelasan medis mengenai penyebab kondisi Alena serta kepastian kronologi kejadian tetap memerlukan keterangan dari tenaga kesehatan atau pihak berwenang. Hingga informasi tersebut diverifikasi secara independen, rincian tentang tindakan sang nenek dan kondisi bayi sebaiknya disampaikan dengan atribusi yang jelas kepada akun yang pertama mengungkapkannya.
Dalam unggahan berikutnya, akun yang sama menyampaikan kabar duka atas meninggalnya Alena. Unggahan itu juga memuat ucapan terima kasih kepada warganet yang telah mengirimkan doa, perhatian, dan dukungan kepada keluarga. Pesan tersebut menunjukkan bahwa keluarga sedang menghadapi masa berduka sekaligus berusaha merespons perhatian publik setelah kabar mengenai kondisi Alena beredar.
Selain menyampaikan kabar kepergian Alena, unggahan itu menyinggung persoalan yang berkaitan dengan keluarga suami Ariana, yang diduga merupakan ibu Alena. Berdasarkan isi unggahan, persoalan tersebut telah ditindaklanjuti. Namun, sumber yang tersedia tidak menjelaskan bentuk penanganan, pihak yang menanganinya, maupun tahapan yang telah dilakukan. Karena itu, informasi tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya proses hukum atau menetapkan pihak tertentu sebagai penanggung jawab.
Unggahan tersebut juga menyebutkan bahwa Ariana belum siap memberikan penjelasan ataupun menjawab pertanyaan mengenai persoalan keluarga itu. Sikap tersebut disampaikan dalam konteks duka dan situasi keluarga yang masih membutuhkan waktu untuk menghadapi berbagai persoalan yang muncul. Keluarga kemudian meminta publik untuk mendoakan Alena. Permintaan itu sekaligus menjadi penegasan agar perhatian warganet diarahkan pada doa dan dukungan, tanpa mendesak Ariana memberikan keterangan ketika ia belum siap. Hingga informasi dalam sumber tersebut disampaikan, belum ada penjelasan lebih rinci mengenai persoalan keluarga yang dimaksud, termasuk langkah lanjutan atau hasil penanganannya. Oleh sebab itu, pemberitaan mengenai unggahan ini perlu tetap berpegang pada keterangan yang tersedia dan menghindari dugaan tambahan yang belum dikonfirmasi.
Robeth Jabbar selaku Kepala Bagian Umum RSUD Dr. Soetomo membenarkan bahwa Alena, yang saat itu berusia 28 hari, sempat menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Keterangan ini disampaikan untuk memastikan informasi mengenai keberadaan pasien di fasilitas kesehatan, tanpa menguraikan lebih jauh kondisi medis yang dialaminya.
Menurut pihak rumah sakit, tim medis telah memberikan upaya penanganan secara maksimal sesuai standar pelayanan serta kebutuhan pasien. Perawatan dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan Alena selama berada di RSUD Dr. Soetomo. Namun, setelah menjalani penanganan, Alena kemudian dinyatakan meninggal pada Minggu pagi sekitar pukul 07.10 WIB.
Rumah sakit belum membuka detail diagnosis maupun kronologi medis yang berkaitan dengan perawatan Alena. Robeth menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan penghormatan terhadap keluarga yang sedang berduka. Karena itu, informasi mengenai kondisi pasien, tindakan medis, dan rangkaian kejadian selama perawatan tidak disampaikan secara terperinci kepada publik.
Keterangan resmi tersebut juga tidak menjelaskan adanya hubungan sebab-akibat pemberian telur mentah dan meninggalnya Alena. Dengan demikian, informasi mengenai hal tersebut perlu ditempatkan secara hati-hati dan tidak dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan medis. Penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi pasien hanya dapat diberikan oleh pihak yang berwenang dengan tetap memperhatikan privasi serta hak keluarga.
RSUD Dr. Soetomo menyatakan bahwa penanganan telah dilakukan sesuai prosedur dan kebutuhan pasien. Di tengah kabar duka ini, penghormatan terhadap keluarga Alena menjadi pertimbangan utama dalam penyampaian informasi, sementara detail medis tetap menjadi bagian yang tidak dipublikasikan.
Baca juga: ISTDengan demikian, dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, dua PMI asal Jembrana meninggal dunia di negara penempatan berbeda | Yuda Nabella Prameswari meninggal dunia karena dugaan bullying

