Samarinda | LJ, pria berusia 60 tahun, meninggal dunia setelah mengalami luka bakar dalam kebakaran hutan dan lahan di kawasan perkebunan Jalan Anggur, Kelurahan Sidodadi, Samarinda, Kalimantan Timur. Kebakaran terjadi pada Selasa (13/10). Korban sempat dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk memperoleh penanganan medis, tetapi nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal pada Rabu (14/10), sehari setelah peristiwa kebakaran tersebut.
Kapolsek Samarinda Ulu AKP Asriadi Jafar menyampaikan bahwa LJ tiba di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie dalam kondisi mengalami luka bakar sekitar 60 persen di sekujur tubuh. Luas luka yang dialami korban menunjukkan beratnya cedera yang harus ditangani tim medis. Meski telah mendapatkan pertolongan di rumah sakit, kondisi korban berakhir fatal.
Peristiwa ini menambah duka di tengah upaya menghadapi kebakaran lahan di kawasan tersebut. Kobaran api di area perkebunan menjadi situasi berbahaya, terutama bagi siapa pun yang berada di sekitar lokasi. Dalam kejadian ini, LJ mengalami luka bakar serius dan harus segera dibawa untuk mendapatkan perawatan. Namun, jarak waktu kejadian pada Selasa dan kabar meninggalnya korban pada Rabu menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran dapat terus berkembang setelah api muncul.
Keterangan kepolisian mengenai kondisi korban memberikan gambaran tentang tingkat keparahan insiden, sekaligus menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat mengancam keselamatan jiwa. Peristiwa di Jalan Anggur tersebut juga memperlihatkan risiko yang dihadapi warga ketika kebakaran terjadi di lingkungan sekitar. Informasi mengenai lokasi, waktu kejadian, serta kondisi korban menjadi bagian penting dalam memahami dampak langsung kebakaran di Sidodadi. Hingga korban meninggal, luka bakar yang dialaminya mencapai sekitar 60 persen di sekujur tubuh. Kejadian ini berakhir dengan kehilangan nyawa, meski korban telah sempat dibawa ke RSUD Abdoel Wahab Sjahranie untuk memperoleh perawatan medis.
Kebakaran bermula ketika api melalap vegetasi yang telah mengering di kawasan perbukitan Samarinda. Dalam waktu singkat, kobaran membesar dan menjalar ke area sekitarnya karena embusan angin kencang. Kondisi tersebut membuat upaya mengendalikan api semakin sulit, sementara warga khawatir kebakaran akan merambat hingga mendekati permukiman.
LJ bersama sejumlah warga kemudian berusaha memadamkan api secara mandiri. Mereka mencoba menahan penjalaran kobaran sebelum mencapai rumah-rumah di sekitar lokasi. Namun, perubahan arah api membuat situasi di lapangan semakin berbahaya. Kobaran yang sebelumnya hendak dikendalikan justru bergerak mengepung area tempat warga berada, sehingga ruang untuk menghindar semakin terbatas.
Menurut keterangan saksi mata bernama Rusli, saat kejadian LJ berada di bagian atas perbukitan. Ia tidak sempat menyelamatkan diri ketika api berubah arah dan mengepung kawasan tersebut. Asap tebal juga menyulitkan pergerakan dan pernapasan. LJ mengalami sesak napas berat hingga pingsan sebelum terkena kobaran api. Keterangan itu menggambarkan betapa cepatnya keadaan berubah dari upaya pemadaman menjadi situasi yang mengancam keselamatan warga.
Kebakaran tersebut menghanguskan lahan seluas sekitar 700 meter persegi. Petugas menerima informasi mengenai kejadian dan adanya korban sekitar pukul 13.50 Wita pada Selasa (13/10). Api yang menyebar di vegetasi kering, ditambah angin kencang, menjadi tantangan utama dalam penanganan awal. Upaya warga untuk mencegah api mendekati permukiman dilakukan sebelum petugas memperoleh laporan, tetapi perubahan arah kobaran membuat upaya itu berujung pada keadaan tragis bagi LJ.
Polisi bersama tim Inafis Polresta Samarinda mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara sekaligus membantu proses evakuasi korban. Kedatangan petugas diperlukan untuk memeriksa area tempat peristiwa terjadi dan mengumpulkan informasi yang dapat mendukung penanganan lebih lanjut. Di lokasi, tim gabungan menghadapi kondisi yang tidak mudah karena kawasan tersebut berada di perbukitan dengan akses yang menantang. Proses penanganan dilakukan dengan memperhatikan keadaan sekitar yang masih berbahaya.
Evakuasi berlangsung sulit karena tim harus melewati medan perbukitan yang terjal. Selain kemiringan dan jalur yang tidak mudah dilalui, beberapa bagian lokasi masih menyisakan bara api setelah kebakaran. Sisa panas dan bara tersebut membuat petugas harus berhati-hati saat bergerak untuk menjangkau korban. Tim gabungan berupaya menempuh jalur yang memungkinkan agar jenazah dapat dibawa keluar dari area kejadian dengan aman. Kondisi medan dan sisa kebakaran turut memperlambat proses evakuasi.
Setelah berhasil dievakuasi, jenazah dibawa ke RSUD Abdoel Wahab Sjahranie. Pemeriksaan medis dan otopsi lebih lanjut direncanakan dilakukan di rumah sakit tersebut untuk memastikan kondisi korban serta mendukung penanganan kasus. Langkah ini menjadi bagian dari proses pemeriksaan setelah olah tempat kejadian perkara di lokasi. Informasi mengenai penyebab kematian yang disampaikan pada tahap awal masih merujuk pada hasil pemeriksaan awal, sementara pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memperoleh keterangan lebih lengkap.
Asriadi menyebut hasil pemeriksaan awal menunjukkan korban meninggal akibat luka bakar serius dan paparan hawa panas. Temuan awal tersebut menggambarkan beratnya kondisi yang dialami korban saat peristiwa berlangsung. Meski demikian, pemeriksaan medis dan otopsi tetap diperlukan untuk melengkapi keterangan mengenai penyebab kematian. Petugas juga melanjutkan penanganan sesuai prosedur, termasuk pemeriksaan di lokasi dan pengumpulan informasi terkait kejadian. Di tengah medan yang terjal dan masih adanya bara api, proses evakuasi menjadi salah satu tahap paling berat dalam penanganan peristiwa tersebut.
Setelah peristiwa kebakaran hutan dan lahan di Samarinda yang berujung duka, penanganan kejadian masih berlanjut. Kepolisian meminta keterangan sejumlah saksi untuk memastikan kronologi lengkap. Keterangan tersebut diharapkan membantu petugas memahami urutan kejadian dan tindakan yang berlangsung di sekitar lokasi. Namun, hingga proses pemeriksaan berjalan, informasi yang tersedia belum cukup untuk menetapkan penyebab kebakaran. Penjelasan mengenai asal mula api masih menunggu pengumpulan keterangan dan tidak sepatutnya disimpulkan di luar fakta yang disampaikan.
Asriadi juga mengimbau warga agar tidak memasuki area kebakaran tanpa perlengkapan pelindung yang memadai. Masyarakat diminta mengutamakan keselamatan dan memperhatikan arahan petugas di lapangan sebelum mendekati lokasi. Imbauan tersebut berlaku bagi siapa pun yang berada di sekitar area terdampak, termasuk mereka yang berniat membantu atau melihat kondisi secara langsung. Tanpa perlindungan yang sesuai, memasuki kawasan kebakaran dapat membahayakan keselamatan. Karena itu, warga diharapkan tidak mengambil risiko dengan mendatangi area tersebut tanpa perlengkapan yang diperlukan.
Selain mengingatkan warga mengenai bahaya di lokasi, Asriadi menegaskan bahwa pembukaan lahan pertanian dengan cara membakar harus dihentikan selama musim kemarau ekstrem. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah pencegahan agar aktivitas pembukaan lahan tidak menambah risiko kebakaran. Masyarakat yang hendak mengelola lahan perlu menghindari penggunaan api selama kondisi kemarau ekstrem berlangsung. Pesan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan warga serta mencegah munculnya kejadian serupa di wilayah yang rawan.
Pemerintah Kota Samarinda bersama aparat keamanan berkomitmen meningkatkan patroli di wilayah rawan karhutla. Patroli ditujukan untuk memperkuat pengawasan dan mencegah kejadian serupa yang berpotensi menimbulkan korban jiwa. Sementara itu, kepolisian masih meminta keterangan dari sejumlah saksi untuk melengkapi kronologi. Perkembangan penyelidikan dan langkah pencegahan tersebut menjadi bagian dari penanganan lanjutan, tanpa mendahului hasil pemeriksaan mengenai penyebab kebakaran.
Baca juga: Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas






