Asap Karhutla Memburuk, Udara Makassar Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Asap Karhutla Memburuk, Udara Makassar Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Makassar | Kualitas udara di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, memburuk pada 14 Oktober 2026. Pemantauan menunjukkan bahwa udara di wilayah tersebut berada dalam kategori sangat tidak sehat, seiring meningkatnya konsentrasi partikel halus atau PM2,5 di atmosfer. Angka PM2,5 yang tercatat telah mencapai lebih dari 150 mikrogram per meter kubik, sehingga kondisi udara Makassar menjadi perhatian dalam pemantauan kualitas lingkungan.

Informasi tersebut disampaikan oleh Kepala Tim Meteorologi Makassar, Rizky Yudha. Ia menjelaskan bahwa hasil pemantauan mengacu pada data Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan yang berada di Maros. Data itu menjadi dasar untuk menggambarkan perkembangan kualitas udara di Makassar dan wilayah sekitarnya di tengah memburuknya kondisi akibat asap kebakaran hutan dan lahan.

Berdasarkan hasil pengamatan, kondisi yang terpantau berada dalam rentang tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Perbedaan tingkat tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara tidak berada pada kondisi yang seragam di seluruh wilayah pengamatan. Namun, konsentrasi PM2,5 yang melampaui 150 mikrogram per meter kubik menempatkan sebagian hasil pemantauan pada level sangat tidak sehat.

Situasi ini mencerminkan memburuknya kualitas udara Makassar ketika asap karhutla memengaruhi kondisi atmosfer di Sulawesi Selatan. Pemantauan dari Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan di Maros memberikan gambaran mengenai kadar partikel halus yang terukur pada saat itu. Keterangan mengenai kategori udara tersebut disampaikan berdasarkan hasil pengukuran dan klasifikasi yang berlaku, dengan rentang kondisi mulai dari tidak sehat sampai sangat tidak sehat pada 14 Oktober 2026.

Peningkatan konsentrasi PM2,5 di Makassar dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk memburuknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Sumber asap tidak hanya berasal dari area terdampak di Sulawesi Selatan, tetapi juga dapat terbawa dari wilayah lain di luar provinsi tersebut. Partikel halus yang dihasilkan pembakaran kemudian menyebar melalui atmosfer dan berpotensi meningkatkan beban polusi udara di kawasan perkotaan.

Pergerakan asap tersebut terlihat melalui kemunculan fenomena udara kabur atau haze. Kondisi ini terjadi ketika partikel-partikel kecil, termasuk PM2,5, berada dalam jumlah cukup besar di atmosfer sehingga mengurangi kejernihan udara dan jarak pandang. Haze tidak selalu menunjukkan sumber polusi berada tepat di dalam kota, karena angin dan pola cuaca dapat membawa material asap dari wilayah yang lebih jauh. Namun, fenomena tersebut menjadi indikasi bahwa kualitas udara sedang mengalami penurunan.

Berdasarkan keterangan Rizky, jarak pandang di Makassar dan wilayah sekitarnya turun hingga kurang dari lima kilometer. Penurunan visibilitas ini menunjukkan bahwa partikel di udara telah memengaruhi kondisi atmosfer secara nyata. Selain mengganggu pandangan, konsentrasi PM2,5 yang tinggi juga perlu diwaspadai karena partikelnya berukuran sangat kecil dan dapat masuk lebih dalam ke saluran pernapasan.

Perubahan tingkat polusi berlangsung secara bertahap. Pada malam sebelumnya, konsentrasi PM2,5 telah menunjukkan peningkatan dibandingkan kondisi normal. Polutan kemudian terakumulasi dan kualitas udara terus memburuk hingga pagi hari pada 14 Oktober 2026. Saat itu, konsentrasinya tercatat berada di atas 150 mikrogram per meter kubik, sehingga udara Makassar masuk kategori sangat tidak sehat. Kondisi tersebut berkaitan dengan kombinasi peningkatan emisi asap karhutla, sebaran partikel lintas wilayah, serta keadaan atmosfer yang memungkinkan polutan bertahan dan menumpuk di dekat permukaan.

Konsentrasi partikel halus PM2,5 tidak hanya menjadi persoalan di Kota Makassar. Pemantauan menunjukkan bahwa kadar tertinggi justru terpantau di wilayah Maros jika dibandingkan dengan sejumlah daerah lain di sekitarnya. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pergerakan asap dan partikel polutan telah melampaui batas wilayah perkotaan, mengikuti arah angin serta kondisi atmosfer yang memengaruhi penyebarannya.

Sebaran polusi udara dilaporkan mencakup hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Selain Makassar dan Maros, partikel polutan juga terdeteksi di wilayah seperti Sinjai dan Bone. Perbedaan tingkat pencemaran dapat terjadi antarwilayah, bergantung pada jarak dari sumber asap, arah angin, topografi, serta kondisi cuaca pada saat pengukuran. Karena itu, masyarakat di berbagai kabupaten dan kota tetap perlu memperhatikan informasi kualitas udara, meskipun wilayahnya tidak berada tepat di sekitar lokasi kebakaran.

Udara kabur juga dilaporkan di sejumlah provinsi lain di kawasan Sulawesi, termasuk Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Utara. Kabut yang terlihat dapat berkaitan dengan tingginya partikel tersuspensi di udara, walaupun penentuan penyebabnya tetap memerlukan data pemantauan dan analisis lebih lanjut. Situasi lintas wilayah ini menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan dapat terbawa jauh dari sumber awalnya.

Waktu berakhirnya kondisi udara buruk tersebut belum dapat dipastikan. Perbaikannya sangat bergantung pada sumber polutan, termasuk apakah kebakaran hutan dan lahan yang diduga menjadi pemicu telah sepenuhnya berhenti. Hujan, perubahan arah angin, dan peningkatan sirkulasi udara juga dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel, tetapi dampaknya tidak selalu berlangsung seragam di setiap daerah. Selama sumber asap masih aktif atau kondisi atmosfer menahan polutan dekat permukaan, kualitas udara berpotensi tetap berada pada tingkat tidak sehat.

Hujan diprediksi mulai turun di Makassar dan sejumlah wilayah sekitarnya pada akhir November hingga awal Desember. Perubahan cuaca tersebut diharapkan membawa perbaikan terhadap kondisi atmosfer yang sebelumnya dipenuhi asap dan partikel polutan akibat memburuknya kebakaran hutan dan lahan. Meski demikian, waktu serta intensitas hujan tetap dapat berbeda di setiap wilayah, sehingga masyarakat perlu mengikuti informasi resmi mengenai prakiraan cuaca dan kualitas udara.

Menurut Rizky Yudha, hujan berpotensi membantu memperbaiki kualitas udara melalui proses alami yang dikenal sebagai deposisi basah. Ketika hujan turun, titik-titik air dapat menangkap sebagian partikel debu, asap, dan polutan yang melayang di atmosfer, kemudian membawanya ke permukaan tanah. Proses pembilasan ini dapat mengurangi konsentrasi partikulat di udara, terutama apabila hujan berlangsung cukup merata dan disertai angin yang mendukung pergantian massa udara.

Namun, hujan tidak selalu langsung menghilangkan seluruh risiko pencemaran. Setelah hujan berhenti, kualitas udara masih dapat kembali memburuk apabila sumber asap terus berlangsung atau kondisi angin tidak mendukung penyebaran polutan. Karena itu, masyarakat tetap perlu memantau perkembangan kualitas udara dan membatasi paparan, khususnya ketika indikator menunjukkan kondisi tidak sehat.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, termasuk olahraga dan pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar, selama kualitas udara masih buruk. Penggunaan masker yang sesuai juga dianjurkan untuk membantu mengurangi paparan partikel polutan saat harus bepergian. Imbauan ini terutama ditujukan kepada kelompok rentan, yaitu ibu hamil, lanjut usia, dan anak-anak, karena mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan akibat buruknya kualitas udara. Jika muncul keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, nyeri dada, atau pusing, segera hentikan aktivitas dan dapatkan pertolongan medis.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla