Tangerang | Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 mencatat transaksi sebesar US,94 miliar, setara sekitar Rp414,13 triliun. Nilai tersebut dihitung menggunakan kurs Rp18.053 per dolar AS dan terakumulasi selama lima hari penyelenggaraan, pada 14–18 Oktober 2026. Capaian ini menempatkan pameran perdagangan tersebut di atas sasaran yang telah ditetapkan Kementerian Perdagangan sebelum acara berlangsung.
Target transaksi TEI 2026 sebelumnya dipatok sebesar US$17,5 miliar atau sekitar Rp315,92 triliun. Dengan realisasi US$22,94 miliar, nilai yang tercatat mencapai 131 persen dari target, atau lebih tinggi sekitar US$5,44 miliar. Hasil ini menunjukkan besarnya aktivitas bisnis yang berlangsung selama pameran, termasuk pertemuan eksportir Indonesia dan calon pembeli dari berbagai negara. Nilai transaksi menjadi salah satu indikator utama untuk menilai capaian kegiatan promosi dagang tersebut, meskipun tindak lanjut atas kesepakatan tetap diperlukan agar peluang yang terbangun dapat berkembang menjadi kerja sama perdagangan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan angka capaian itu dalam acara penutupan TEI di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, pada Minggu, 18 Oktober. Ia juga menyebut transaksi tersebut mencakup kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) senilai US$510,79 juta. Selain nilai transaksi, pameran menghasilkan penandatanganan 426 nota kesepahaman oleh eksportir dan importir. Kesepakatan-kesepakatan tersebut menjadi bagian dari hasil konkret yang dicatat selama penyelenggaraan, sekaligus mencerminkan keterlibatan pelaku usaha dalam membuka akses pasar dan menjajaki peluang ekspor. Kombinasi nilai transaksi, partisipasi UMKM, serta jumlah nota kesepahaman memberi gambaran mengenai jangkauan kegiatan TEI tahun ini. Pemerintah mencatat hasil tersebut sebagai capaian yang melampaui target awal, dengan berbagai komitmen bisnis yang perlu ditindaklanjuti setelah pameran berakhir.
Nilai transaksi dalam pameran berkembang sejak hari pertama hingga penutupan pencatatan pada 18 Oktober. Pada hari pertama, transaksi tercatat sebesar US$13,2 miliar, yang berasal dari 168 nota kesepahaman atau MoU. Kesepakatan tersebut melibatkan pembeli dari 22 negara. Angka awal itu kemudian bertambah melalui kesepakatan dagang yang tercapai pada hari-hari berikutnya. Hingga 18 Oktober, total nilai transaksi mencapai US$22,94 miliar. Pergerakan angka ini menunjukkan bahwa kesepakatan yang diumumkan pada awal pameran merupakan bagian dari rangkaian transaksi yang terus berkembang selama kegiatan berlangsung, bukan keseluruhan nilai yang tercatat. Rangkaian tersebut berawal dari penjajakan eksportir Indonesia dan calon buyer.
Budi menjelaskan bahwa faktor yang mendukung tercapainya transaksi adalah penjajakan bisnis yang telah berlangsung sejak setahun sebelum pameran. Dalam proses itu, perwakilan Indonesia di luar negeri berperan membantu mencari calon pembeli. Unsur yang terlibat mencakup duta besar, konsul jenderal, atase perdagangan, serta Indonesian Trade Promotion Center atau ITPC. Mereka membantu mempertemukan eksportir dengan calon buyer melalui kegiatan business matching. Dengan demikian, hubungan pihak Indonesia dan pembeli tidak seluruhnya baru dimulai ketika pameran dibuka. Upaya pencarian calon mitra serta pertemuan awal telah dilakukan lebih dahulu, sehingga eksportir dan buyer dapat melanjutkan pembicaraan ketika bertemu dalam rangkaian pameran.
Alur pertemuan yang dipaparkan Budi dimulai dengan pertemuan virtual eksportir dan calon buyer. Setelah komunikasi awal tersebut, keduanya bertemu secara langsung di pameran untuk melanjutkan pembahasan. Dalam sejumlah kasus, calon pembeli juga berkesempatan melihat pabrik sebelum kesepakatan ditandatangani. Setelah melalui tahapan pertemuan itu, para pihak menandatangani MoU sebagai bentuk kesepakatan dagang. Urutan tersebut menjelaskan bagaimana penjajakan yang dimulai jauh sebelum pameran dapat berlanjut menjadi pertemuan langsung dan kemudian menghasilkan dokumen kesepakatan. Keterangan Budi mengaitkan proses itu dengan pertumbuhan nilai transaksi, dari US$13,2 miliar pada hari pertama menjadi US$22,94 miliar pada 18 Oktober.
India menjadi negara dengan nilai transaksi tertinggi pada penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Setelah India, posisi berikutnya ditempati Belanda, Bangladesh, Uni Emirat Arab, dan Jepang. Urutan ini menunjukkan negara-negara yang mencatat nilai transaksi terbesar, bukan negara asal pengunjung terbanyak. Pembedaan tersebut penting karena besarnya transaksi dan jumlah pembeli merupakan dua ukuran berbeda dalam menggambarkan hasil pameran.
Berdasarkan kelompok produk, makanan dan minuman mencatat transaksi terbesar. Produk perhiasan menyusul, kemudian produk kayu, produk pertanian, serta produk kertas. Ragam komoditas tersebut memperlihatkan cakupan penawaran yang luas, mulai dari barang konsumsi hingga produk berbasis sumber daya dan industri. Angka transaksi menurut negara maupun kelompok produk memberikan gambaran mengenai minat dagang yang terbentuk selama pameran, sekaligus menunjukkan sektor-sektor yang memperoleh perhatian utama dari pembeli internasional.
Skala penyelenggaraan TEI ke-41 juga tercermin dari partisipasi yang meningkat. Pameran ini diikuti 1.873 peserta pameran dan dikunjungi 45.287 orang. Jumlah pengunjung tersebut naik 31,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan itu menandai bertambahnya jangkauan acara, baik dari sisi pelaku usaha yang memamerkan produk maupun orang yang datang untuk melihat penawaran dan menjajaki peluang perdagangan. Pembeli luar negeri tercatat sebanyak 9.600 orang, berasal dari 151 negara.
Adapun daftar negara asal pembeli terbanyak berbeda dari peringkat negara berdasarkan nilai transaksi. India berada di urutan pertama dalam kedua daftar, tetapi negara-negara berikutnya tidak sama. Untuk jumlah pembeli, urutannya adalah India, Malaysia, Republik Rakyat China, Arab Saudi, dan Taiwan. Dengan demikian, Belanda, Bangladesh, Uni Emirat Arab, serta Jepang menonjol dalam daftar nilai transaksi, sedangkan Malaysia, Republik Rakyat China, Arab Saudi, dan Taiwan menjadi bagian dari kelompok asal pembeli terbanyak. Data ini membantu memisahkan besarnya nilai dagang dari luasnya kehadiran pembeli pada TEI 2026.
Program Campuspreneur yang disampaikan Budi menjadi salah satu upaya Kementerian Perdagangan melibatkan mahasiswa dalam pengembangan usaha berorientasi ekspor. Program ini dirancang untuk mempertemukan pendidikan kewirausahaan dengan kebutuhan praktis pelaku usaha yang ingin memasuki pasar internasional. Dalam pelaksanaannya, Kemendag bekerja sama dengan lebih dari 25 perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari proses membangun usaha, memahami peluang perdagangan lintas negara, serta memperoleh dukungan saat mengembangkan produk agar lebih siap ditawarkan kepada pembeli luar negeri. Pendekatan ini menempatkan kampus sebagai bagian dari ekosistem ekspor, bukan hanya tempat pembelajaran teori. Pelatihan dan pendampingan diharapkan membantu peserta menghubungkan gagasan bisnis dengan peluang pasar nyata.
Pada TEI 2026, sebanyak 25 pelaku usaha binaan yang berasal dari 20 perguruan tinggi menempati stan khusus Campuspreneur. Kehadiran mereka memberi kesempatan untuk memperkenalkan produk dan menjalin komunikasi langsung dengan calon mitra dagang. Dari partisipasi tersebut, tercatat potensi transaksi sebesar US$24,57 juta. Angka itu menunjukkan nilai peluang atau minat yang teridentifikasi selama pameran, bukan transaksi final yang telah dipastikan terealisasi. Capaian potensi tersebut menggambarkan adanya ruang bagi usaha binaan kampus untuk menjangkau pasar lebih luas. Namun, tindak lanjut, kesepakatan dengan pembeli, dan proses pemenuhan persyaratan ekspor tetap diperlukan sebelum peluang dapat berkembang menjadi transaksi yang benar-benar terlaksana.
Budi menyampaikan bahwa Campuspreneur bertujuan membekali mahasiswa dengan keterampilan berwirausaha, termasuk kemampuan untuk menjadi eksportir. Dukungan program mencakup proses sejak tahap awal, seperti mengenali dan mengembangkan ide usaha, hingga membantu peserta mencari pembeli yang sesuai. Dengan demikian, mahasiswa dan pelaku usaha binaan tidak hanya diperkenalkan pada peluang ekspor, tetapi juga memperoleh pendampingan untuk menyiapkan produk serta menjajaki pasar.
Baca juga: Rudal Mistral dan Stinger Siap Hadapi Target Udara di SGS 2026 | Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026






