Kota Semarang | Gedung Sekolah Rakyat Kota Semarang di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Jawa Tengah, telah selesai dibangun dan kini digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kehadiran bangunan tersebut menyediakan ruang bagi pelaksanaan pendidikan sekaligus menandai penerapan rancangan yang memperhatikan lingkungan. Sejak perencanaan, sekolah ini mengusung konsep hijau dengan perhatian pada efisiensi sumber daya dan pemanfaatan kondisi alam di sekitar bangunan.
Koordinator tim teknis Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum wilayah Jawa Tengah, Tito Hadinata, menjelaskan rancangan tersebut di Semarang pada Rabu. Menurutnya, pendekatan ramah lingkungan diterapkan melalui upaya mengoptimalkan pencahayaan dan penghawaan alami. Dengan memanfaatkan cahaya dari luar serta sirkulasi udara, ruang belajar dirancang agar tidak sepenuhnya bergantung pada penggunaan energi untuk penerangan dan pendinginan. Pendekatan ini menjadi bagian dari perhatian terhadap efisiensi sumber daya dalam operasional gedung.
Konsep tersebut juga menempatkan kenyamanan kegiatan belajar sebagai pertimbangan penting. Cahaya alami dapat membantu membuat ruang belajar terang pada siang hari, sementara penghawaan alami mendukung pertukaran udara di dalam bangunan. Keduanya dirancang sebagai unsur yang saling melengkapi, bukan sekadar ciri visual. Penerapannya menunjukkan bagaimana fasilitas pendidikan dapat memanfaatkan unsur lingkungan dalam mendukung fungsi sehari-hari, sembari mempertimbangkan penggunaan sumber daya secara lebih bijak.
Dengan gedung yang telah selesai dan mulai digunakan, perhatian terhadap rancangan hijau kini hadir dalam lingkungan pendidikan di Rowosari. Pemanfaatan pencahayaan serta sirkulasi udara alami menjadi salah satu aspek yang menonjol dari bangunan Sekolah Rakyat Semarang. Penjelasan Tito menegaskan bahwa efisiensi dan kondisi ruang belajar dipertimbangkan dalam konsep bangunan tersebut. Sekolah ini pun memadukan fungsi sebagai tempat belajar dengan prinsip penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan pemanfaatan kondisi alam secara optimal.
Rancangan gedung Sekolah Rakyat Semarang mengandalkan bukaan dan elemen bangunan untuk mengatur aliran udara serta memasukkan cahaya alami ke dalam ruang. Menurut Tito, sekolah ini tidak menggunakan pendingin ruangan atau AC pada sebagian besar area gedung. Pengecualian diberikan untuk laboratorium komputer, yang menggunakan AC. Dengan demikian, pengaturan udara di ruang lain bertumpu pada rancangan sirkulasi, bukan pada penggunaan pendingin ruangan. Pendekatan tersebut terlihat melalui pemakaian loster dan kaca nako yang dapat dibuka-tutup. Kedua elemen itu memiliki fungsi berbeda, tetapi sama-sama menjadi bagian dari rancangan ruang sekolah.
Loster dipasang sebagai salah satu jalur bagi udara untuk bergerak melalui bangunan. Bentuknya memungkinkan udara melintas, sehingga elemen ini membantu sirkulasi udara di ruang-ruang sekolah. Keberadaan loster menjadi bagian dari rancangan yang mendukung pertukaran udara tanpa mengandalkan AC di area selain laboratorium komputer. Pengaturan ini menyatukan fungsi bukaan dengan susunan bangunan, alih-alih menjadikan perangkat pendingin sebagai solusi umum. Sirkulasi udara, dalam hal ini, dirancang melalui unsur fisik gedung yang dapat dikenali langsung, yaitu loster. Keterangan Tito menegaskan bahwa penggunaan AC memang dibatasi pada laboratorium komputer, sementara area lain memanfaatkan rancangan tersebut.
Untuk cahaya, sekolah menggunakan kaca nako yang dapat dibuka dan ditutup. Mekanisme ini memungkinkan bukaan kaca diatur sesuai kebutuhan ruang, sekaligus membantu mengoptimalkan pencahayaan alami yang masuk ke dalam gedung. Kaca nako juga menjadi bagian dari rancangan bukaan yang mendukung pengelolaan udara, karena dapat dibuka-tutup. Penggunaan loster untuk sirkulasi dan kaca nako untuk mengatur bukaan serta cahaya menunjukkan bagaimana unsur bangunan dimanfaatkan dalam tata ruang sekolah. Rincian ini menjelaskan pilihan desain tanpa menyatakan besaran dampak atau penghematan tertentu. Dengan kombinasi tersebut, gedung mengatur aliran udara dan pemanfaatan cahaya alami melalui elemen arsitektural, sementara AC tetap tersedia secara khusus di laboratorium komputer.
Kompleks Sekolah Rakyat Semarang terdiri atas 30 bangunan yang dirancang untuk menampung beragam kebutuhan kegiatan belajar dan kehidupan sehari-hari warga sekolah. Bangunan-bangunan tersebut mencakup ruang kelas, tempat tinggal siswa, hunian guru, serta sarana olahraga. Susunan fasilitas ini memperlihatkan bahwa sekolah tidak hanya menyediakan ruang untuk mengikuti pelajaran, tetapi juga mendukung kegiatan siswa di luar kelas. Dengan beragam fungsi yang ditempatkan dalam satu kompleks, aktivitas pendidikan dapat berlangsung bersama kegiatan sosial dan olahraga. Setiap kelompok bangunan memiliki peran tersendiri, mulai dari kegiatan akademik hingga akomodasi bagi siswa dan tenaga pengajar. Keberadaan fasilitas yang beragam juga memberi gambaran tentang cakupan layanan yang tersedia di lingkungan sekolah tersebut.
Bangunan utama meliputi ruang kelas untuk tiga jenjang pendidikan, yakni sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Pengaturan ruang belajar untuk masing-masing jenjang menjadi bagian penting dari kompleks ini. Selain ruang kelas, tersedia asrama terpisah bagi siswa putra dan putri pada setiap jenjang. Pemisahan tersebut berarti kebutuhan tempat tinggal siswa SD, SMP, dan SMA turut diperhatikan sesuai kelompoknya, sementara asrama putra dan putri berada secara terpisah. Kompleks ini juga dilengkapi rumah susun untuk guru. Kehadiran hunian bagi tenaga pengajar di dalam lingkungan sekolah melengkapi fasilitas akomodasi yang tersedia, berdampingan dengan ruang belajar dan asrama siswa. Dengan demikian, fungsi kompleks mencakup ruang pendidikan sekaligus tempat tinggal bagi sebagian warga sekolah.
Fasilitas olahraga yang disebutkan mencakup lapangan basket, lapangan sepak bola mini, dan lapangan voli. Sarana tersebut memberi pilihan tempat untuk kegiatan olahraga di lingkungan sekolah. Di bagian tengah setiap gedung sekolah, terdapat tribun teater terbuka yang dapat digunakan untuk pertunjukan. Elemen ini menyediakan ruang bagi penyelenggaraan kegiatan pentas, sehingga gedung sekolah juga memiliki fungsi sebagai tempat berkumpul dan menampilkan karya. Tribun tersebut berada di area tengah bangunan, berbeda dari lapangan olahraga yang menjadi fasilitas tersendiri di dalam kompleks. Secara keseluruhan, 30 bangunan itu memadukan ruang kelas lintas jenjang, asrama siswa yang terpisah berdasarkan jenjang dan jenis kelamin, rumah susun guru, fasilitas olahraga, serta area pertunjukan terbuka. Rangkaian fungsi ini membentuk lingkungan sekolah dengan sarana untuk kegiatan akademik maupun nonakademik.
Sebanyak 314 siswa tercatat menempuh pembelajaran di Sekolah Rakyat Kota Semarang. Jumlah tersebut mencakup peserta didik pada tiga jenjang pendidikan, yaitu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Rinciannya terdiri atas 114 siswa SD, 82 siswa SMP, serta 118 siswa SMA. Data jumlah siswa itu menunjukkan bahwa gedung sekolah digunakan oleh kelompok belajar dari tingkat dasar hingga menengah atas.
Keberadaan tiga jenjang tersebut menjadi bagian penting dalam menggambarkan pemanfaatan fasilitas Sekolah Rakyat di Kota Semarang. Para siswa mengikuti pembelajaran di satu lingkungan sekolah, dengan jumlah peserta didik yang berbeda pada setiap jenjang. Dari keseluruhan 314 siswa, kelompok SMA tercatat paling banyak, disusul siswa SD dan siswa SMP. Rincian ini memberikan gambaran mengenai komposisi peserta didik yang belajar di sekolah tersebut, tanpa mengubah total siswa yang tercatat.
Sekolah Rakyat Kota Semarang juga termasuk satu dari 10 gedung Sekolah Rakyat di Jawa Tengah yang telah selesai dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Selain di Kota Semarang, gedung-gedung yang telah rampung tersebut berada di Kabupaten Brebes, Cilacap, Banyumas, Wonosobo, Sukoharjo, Sragen, Rembang, Pati, dan Jepara. Dengan demikian, daftar lokasi itu mencakup sepuluh wilayah di Jawa Tengah, termasuk Semarang.
Penyebutan lokasi-lokasi tersebut memberi konteks bagi pembangunan Sekolah Rakyat di tingkat provinsi.
Baca juga: Revit Sekolah Nganjuk Jadi Bola Panas: Potongan dan Kualitas Bangunan Disorot




