Sekolah Rakyat Dampingi Lebih dari 44 Ribu Anak dari Keluarga Kurang Mampu

Sekolah Rakyat Dampingi Lebih dari 44 Ribu Anak dari Keluarga Kurang Mampu

Makassar | Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyampaikan bahwa lebih dari 44 ribu anak dari keluarga kurang mampu telah mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat. Jumlah tersebut menjadi gambaran perkembangan program dalam mendampingi anak-anak memperoleh kesempatan belajar. Gus Ipul juga menyebutkan target jumlah siswa akan meningkat menjadi lebih dari 45 ribu. Dengan demikian, sasaran berikutnya berada di atas capaian yang telah disampaikan, seiring upaya memperluas jangkauan pembelajaran bagi kelompok keluarga yang membutuhkan dukungan.

Perkembangan itu disampaikan dalam konteks perayaan satu tahun Sekolah Rakyat dan peringatan Sumpah Pemuda. Kegiatan tersebut berlangsung di Gelanggang Olahraga Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (28/10/2026). Penyampaian capaian dan target pada momentum tersebut menempatkan perhatian pada perjalanan Sekolah Rakyat selama satu tahun serta jumlah anak yang telah mengikuti pembelajaran. Angka lebih dari 44 ribu menjadi pokok informasi mengenai partisipasi siswa, sedangkan sasaran lebih dari 45 ribu menunjukkan target peningkatan jumlah peserta.

Bagi masyarakat, informasi ini memberi ukuran yang jelas mengenai skala keterlibatan anak dari keluarga kurang mampu di Sekolah Rakyat. Capaian dan target itu juga perlu dibaca secara cermat: lebih dari 44 ribu anak telah mengikuti pembelajaran, sementara lebih dari 45 ribu merupakan jumlah yang dituju. Keduanya merujuk pada keadaan yang berbeda, yakni jumlah yang telah tercapai dan sasaran peningkatan ke depan. Dalam rangkaian perayaan satu tahun, penyebutan angka tersebut memperlihatkan perkembangan yang disampaikan pemerintah tanpa mengubahnya menjadi klaim mengenai hasil lain yang belum disebutkan. Fokusnya tetap pada akses pembelajaran dan rencana menambah jumlah siswa. Dengan target baru itu, perhatian selanjutnya tertuju pada pencapaian jumlah peserta yang lebih besar. Pernyataan Gus Ipul menjadi landasan untuk memahami capaian Sekolah Rakyat pada momen perayaan tersebut, sekaligus arah target yang diumumkan bagi program ini.

Sekolah Rakyat ditujukan bagi anak-anak yang belum memperoleh akses pendidikan secara layak. Latar belakang mereka tidak seragam: sebagian belum pernah merasakan bangku sekolah, bahkan ketika telah memasuki usia remaja. Sebagian lainnya sempat bersekolah, tetapi kemudian berhenti karena keadaan keluarga dan harus bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bagi anak-anak tersebut, kembali belajar bukan sekadar soal mendaftar di kelas. Mereka mungkin perlu lebih dahulu memperoleh dukungan yang sesuai dengan pengalaman, kondisi, dan kebutuhan masing-masing.

Gus Ipul menyebut contoh anak-anak yang menjalani pekerjaan berat atau tidak semestinya bagi usia mereka. Ada yang menjadi pengamen, pembantu, maupun kuli; ada pula yang bekerja di tempat yang tidak semestinya. Pengalaman semacam itu dapat memengaruhi kesiapan anak untuk mengikuti kegiatan belajar, sehingga pendekatan pendampingan tidak dapat disamaratakan. Program ini perlu memperhatikan kondisi awal siswa secara menyeluruh, bukan hanya menempatkan mereka di ruang kelas. Dukungan dapat mencakup penanganan kesehatan, pemulihan, rehabilitasi, serta penyetaraan agar anak memiliki bekal yang lebih memadai sebelum mengikuti pembelajaran.

Karena itu, sebagian calon siswa menjalani proses pendampingan terlebih dahulu sebelum bergabung dalam kegiatan belajar di Sekolah Rakyat. Tahapan tersebut memberi ruang untuk menangani kebutuhan yang belum terpenuhi dan membantu anak menyesuaikan diri dengan rutinitas pendidikan. Dari alokasi sebanyak 45 ribu siswa pada tahun ini, lebih dari seribu anak masih menjalani rehabilitasi di sentra milik Kementerian Sosial. Sementara itu, lebih dari 44 ribu anak lainnya telah belajar di Sekolah Rakyat. Angka tersebut menunjukkan bahwa sasaran program mencakup anak dengan keadaan yang beragam, termasuk mereka yang sudah siap belajar dan mereka yang masih membutuhkan dukungan awal. Dengan pendampingan yang menyesuaikan kebutuhan, pendidikan dapat berjalan seiring dengan upaya pemulihan dan persiapan siswa untuk mengikuti proses belajar secara lebih baik.

Setelah satu tahun pendampingan, perubahan kondisi siswa mulai terlihat dalam keseharian mereka. Gus Ipul menyampaikan bahwa anak-anak yang sebelumnya menghadapi sejumlah persoalan kesehatan, termasuk gangguan gigi dan anemia, kini menunjukkan kondisi yang lebih baik. Mereka disebut semakin sehat dan bugar, sehingga dapat menjalani kegiatan belajar dengan lebih nyaman. Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Anak-anak juga dinilai tumbuh lebih percaya diri dalam memandang dan merencanakan masa depan. Pendampingan yang diberikan melalui Sekolah Rakyat diharapkan terus membantu siswa memperoleh dukungan yang mereka perlukan, baik untuk mengikuti pendidikan maupun mengembangkan potensi diri. Perkembangan ini menjadi salah satu hasil yang diamati setelah program berjalan selama setahun.

Dukungan keluarga turut berkembang seiring dengan perubahan pada siswa. Menurut Gus Ipul, orang tua kini semakin bersemangat mendampingi anak-anak mereka. Keterlibatan tersebut penting karena proses belajar dan pembentukan kebiasaan sehat tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga membutuhkan perhatian di rumah. Semangat orang tua dapat membantu siswa menjaga motivasi, menjalani kegiatan pendidikan secara teratur, serta menghadapi tantangan dengan dukungan yang lebih kuat. Pendampingan yang melibatkan keluarga juga memberi ruang bagi komunikasi orang tua dan sekolah mengenai kebutuhan anak. Dengan demikian, perubahan kondisi siswa dan meningkatnya keterlibatan keluarga menjadi bagian yang saling mendukung dalam pelaksanaan program, meski proses penguatan tetap perlu berjalan secara berkelanjutan.

Di sisi fasilitas, pemerintah sedang membangun gedung permanen Sekolah Rakyat di 100 titik. Hingga 28 Oktober 2026, sebanyak 93 titik telah dapat dioperasikan, sementara pembangunan maupun persiapan di lokasi lainnya masih berlangsung. Pelaksanaan secara bertahap dipengaruhi oleh waktu yang diperlukan untuk mengangkut logistik dan bahan bangunan ke sejumlah daerah, terutama wilayah di luar Jawa. Kondisi geografis dan jarak dapat membuat distribusi kebutuhan pembangunan memerlukan proses lebih panjang. Karena itu, belum beroperasinya seluruh titik pada waktu yang sama mencerminkan tahapan pekerjaan yang masih berjalan. Pemerintah berharap pembangunan dapat dilanjutkan pada 2027, dengan tambahan 100 titik. Perluasan fasilitas tersebut diharapkan mendukung keberlanjutan layanan bagi siswa dan keluarga yang membutuhkan, seiring dengan penyelesaian gedung di lokasi yang sedang dipersiapkan.

Presiden Prabowo Subianto menargetkan agar setiap kabupaten dan kota di Indonesia memiliki setidaknya satu gedung permanen Sekolah Rakyat. Target ini dimaksudkan untuk memperluas keberadaan fasilitas pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sehingga layanan belajar dapat tersedia lebih dekat dengan masyarakat di berbagai daerah. Pembangunan gedung permanen juga diharapkan mendukung penyelenggaraan pendidikan secara berkelanjutan, dengan sarana yang dapat digunakan sesuai kebutuhan siswa dan kegiatan sekolah.

Gedung yang direncanakan tersebut akan menampung lebih dari 2.000 siswa pada jenjang pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Kapasitas itu mencerminkan skala layanan yang hendak disediakan melalui Sekolah Rakyat, sekaligus memberi ruang bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan pada beberapa tingkat dalam satu ekosistem sekolah. Kehadiran fasilitas permanen di kabupaten dan kota diharapkan membuat akses terhadap pendidikan bagi kelompok sasaran semakin merata.

Namun, sasaran program ini tidak terbatas pada penyediaan tempat belajar atau penambahan daya tampung siswa. Sekolah Rakyat juga dirancang sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk membantu keluarga keluar dari kemiskinan. Karena kondisi keluarga dapat memengaruhi keberlangsungan pendidikan anak, dukungan program turut diarahkan kepada orang tua dan rumah tangga siswa. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan anak berjalan berdampingan dengan upaya memperkuat kesejahteraan keluarga.

Gus Ipul menjelaskan bahwa orang tua siswa akan memperoleh pemberdayaan serta bantuan sosial.

Baca juga: Revit Sekolah Nganjuk Jadi Bola Panas: Potongan dan Kualitas Bangunan Disorot | Pastikan Penyaluran Tepat Sasaran, Babinsa Dampingi Pembagian Bantuan Beras | Wakil Panglima TNI Dampingi Menhan Sambut Kedatangan ITS Giuseppe Garibaldi