Dari Sumpah Pemuda ke Aksi Nyata: Merawat Persatuan di Tengah Tantangan Bangsa

Dari Sumpah Pemuda ke Aksi Nyata: Merawat Persatuan di Tengah Tantangan Bangsa

Jakarta | Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengingatkan bahwa persatuan tidak boleh berhenti sebagai semboyan yang dikenang setiap peringatan Sumpah Pemuda. Nilainya perlu hadir dalam cara bangsa merespons persoalan nyata, terutama saat berbagai krisis menguji kemampuan negara dan solidaritas masyarakat. Dalam pidato peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda di kompleks parlemen, Jakarta, pada Rabu, Dasco menyoroti tantangan yang dampaknya melampaui batas wilayah maupun sektor kehidupan.

Ancaman tersebut mencakup kebakaran hutan dan lahan yang dapat memicu asap lintas batas, banjir, cuaca ekstrem, serta meningkatnya tekanan terhadap ketahanan pangan. Krisis-krisis ini saling berkaitan: kerusakan lingkungan dapat mengganggu kesehatan dan kegiatan ekonomi, sementara bencana serta perubahan cuaca dapat merusak lahan pertanian dan menghambat pasokan bahan pangan. Menghadapi keadaan demikian, masyarakat membutuhkan koordinasi yang kuat, informasi yang jelas, dan tindakan pemerintah yang tanggap. Kerja bersama juga membantu memastikan bahwa dukungan menjangkau kelompok dan daerah yang paling terdampak.

Inti pesan Dasco ialah bahwa kebersamaan harus terlihat dalam kemampuan negara mengambil keputusan yang tepat, cepat, dan adil. Keputusan yang tepat bertumpu pada informasi dan pertimbangan yang matang; kecepatan diperlukan agar risiko tidak berkembang; sedangkan keadilan memastikan perlindungan serta bantuan tidak hanya dinikmati sebagian pihak. Ketiganya perlu berjalan beriringan, bukan saling mengorbankan. Dalam menghadapi kebakaran, bencana hidrometeorologi, maupun ancaman pangan, koordinasi antarinstansi dan pemerintah daerah dapat memperkuat respons, sementara keterbukaan menjaga kepercayaan publik.

Dengan demikian, merawat persatuan berarti membangun kemampuan untuk melindungi warga ketika keadaan sulit. Keselamatan rakyat dan keamanan negeri bukan dua tujuan yang terpisah: masyarakat yang terlindungi, kebutuhan dasarnya terjaga, dan suaranya diperhatikan akan memperkuat ketahanan nasional. Sebaliknya, penanganan krisis yang lamban atau tidak merata dapat memperbesar kerentanan dan mengikis kepercayaan. Pesan tersebut mengajak seluruh elemen bangsa menerjemahkan semangat Sumpah Pemuda ke dalam tanggung jawab bersama, mulai dari kebijakan yang berpihak pada keselamatan hingga kepedulian terhadap sesama. Persatuan menjadi bermakna ketika diwujudkan dalam tindakan yang nyata dan terukur.

Gambaran Dasco tentang para pemuda yang berhimpun pada 28 Oktober 1928 mengingatkan bahwa persatuan Indonesia lahir dari keberanian melampaui perbedaan. Mereka datang dari berbagai daerah, suku, latar pendidikan, dan organisasi. Pengalaman serta pandangan mereka tentu tidak seragam. Namun, perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk menyatukan tekad mengenai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Ikrar tersebut bukan tanda bahwa semua persoalan telah selesai, melainkan kesepakatan tentang arah perjuangan bersama.

Para pemuda itu tidak menunggu keadaan menjadi mudah sebelum memilih untuk bersatu. Mereka hidup dalam masa penjajahan, ketika kesempatan dan kebebasan terbatas, tetapi memahami bahwa masa depan tidak dapat diperjuangkan secara sendiri-sendiri. Dengan membangun ikatan melintasi kelompok, mereka memperbesar daya untuk menyuarakan cita-cita kemerdekaan. Sikap ini menunjukkan bahwa persatuan bukan berarti menghapus identitas atau memaksa semua orang berpikir sama. Persatuan tumbuh ketika beragam pihak bersedia menemukan tujuan bersama dan menghormati perbedaan yang tetap ada.

Pelajaran tersebut relevan bagi generasi sekarang, yang menghadapi tantangan berbeda tetapi tidak ringan. Perbedaan pilihan politik, kondisi ekonomi, identitas, maupun pandangan di ruang digital dapat menguatkan jarak apabila dikelola dengan prasangka. Di sisi lain, persoalan seperti ketimpangan, perubahan teknologi, dan kebutuhan menjaga lingkungan menuntut kerja bersama. Menempatkan cita-cita bangsa di atas kepentingan kelompok bukan berarti mengabaikan kepentingan masyarakat tertentu, tetapi memastikan bahwa kepentingan itu diperjuangkan tanpa merusak ruang hidup bersama.

Semangat Sumpah Pemuda dapat diteruskan melalui tindakan sehari-hari: mendengar pandangan yang berbeda, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, dan bekerja sama dalam kegiatan yang memberi manfaat bagi masyarakat. Anak muda juga dapat membangun jembatan antardaerah dan komunitas melalui pendidikan, karya, serta dialog yang terbuka. Ukuran persatuan bukan keseragaman, melainkan kemampuan menjaga kepercayaan dan menyelesaikan perbedaan secara damai. Dengan cara itu, ikrar 1928 tidak berhenti sebagai peringatan sejarah, tetapi menjadi pedoman untuk merawat Indonesia dan memperjuangkan masa depan yang lebih adil bersama-sama.

Perbandingan yang disampaikan Dasco menghubungkan ketidakpastian pada masa perjuangan menuju kemerdekaan dengan guncangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Pada 1928, para pemuda belum mengetahui berapa lama jalan menuju kemerdekaan akan ditempuh. Mereka tidak memiliki kepastian mengenai waktu berakhirnya perjuangan, tetapi memahami arah yang hendak dituju. Kesadaran tentang tujuan bersama itu menjadi penanda penting bagi sikap mereka di tengah keadaan yang belum pasti.

Situasi sekarang memiliki tantangan yang berbeda, tetapi perbandingan tersebut menekankan adanya kesamaan dalam menghadapi hal-hal di luar kendali. Indonesia tidak dapat mengatur seluruh guncangan dunia ataupun memastikan bagaimana keadaan berkembang. Namun, ketidakmampuan mengendalikan semua peristiwa bukan berarti bangsa ini kehilangan ruang untuk menentukan sikap. Watak yang ditunjukkan dalam menghadapi keadaan tetap berada dalam pilihan bersama.

Dalam konteks itu, Dasco menekankan sejumlah prinsip yang perlu dijaga. Sikap berani diperlukan, tetapi keberanian tidak semestinya berubah menjadi tindakan gegabah. Keterbukaan juga penting, namun keterbukaan tidak berarti tunduk. Demikian pula, persatuan perlu dirawat tanpa menghilangkan nalar kritis. Ketiga pasangan prinsip tersebut menunjukkan bahwa menghadapi tantangan bukan sekadar soal bereaksi terhadap keadaan, melainkan juga tentang menjaga cara bersikap.

Pesan tentang pemuda 1928 dan bangsa Indonesia hari ini bertumpu pada kemampuan mengenali arah ketika waktu dan hasil belum dapat dipastikan. Para pemuda kala itu tidak mengetahui panjangnya perjalanan menuju kemerdekaan, tetapi tetap memahami tujuan perjuangan. Indonesia kini mungkin tidak dapat mengendalikan seluruh guncangan global, tetapi dapat menentukan watak dalam menyikapinya. Dengan memegang keberanian yang terukur, keterbukaan yang tidak tunduk, serta persatuan yang tetap memberi tempat bagi nalar kritis, bangsa dapat menjaga orientasinya di tengah ketidakpastian. Perbandingan ini mengajak masyarakat menilai bukan hanya apa yang berada di luar kendali, melainkan juga sikap yang dapat ditentukan bersama.

Dasco mengajak seluruh kekuatan bangsa untuk terus merawat semangat persatuan sebagai landasan menghadapi berbagai tantangan. Ajakan ini tidak hanya ditujukan kepada para pemimpin dan lembaga negara, tetapi juga kepada masyarakat di setiap daerah, dengan latar belakang dan pandangan yang beragam. Persatuan, menurut pesan tersebut, perlu diwujudkan dalam sikap saling menghormati, kesediaan bekerja sama, serta komitmen menempatkan kepentingan bangsa di atas perbedaan. Semangat yang diwariskan para pendahulu tidak cukup dikenang dalam peringatan seremonial; nilai itu perlu hadir dalam tindakan sehari-hari, termasuk dalam ruang pendidikan, kehidupan bermasyarakat, dan pengambilan keputusan publik yang berdampak bagi masa depan Indonesia.

Perhatian khusus diberikan kepada generasi muda, yang akan meneruskan tanggung jawab menjaga kehidupan kebangsaan. Mereka diharapkan memahami bahwa persatuan bukan tuntutan untuk menghapus keberagaman, melainkan cara merawatnya dalam ikatan bersama. Dengan bekal pengetahuan, kepedulian, dan keberanian menyampaikan gagasan, kaum muda dapat mengambil peran nyata dalam menjawab persoalan bangsa. Peran itu dapat dimulai dari lingkungan terdekat: membangun dialog, menolak sikap yang memecah belah, serta berpartisipasi dalam kegiatan yang memperkuat solidaritas. Nilai persatuan juga perlu ditanamkan lintas generasi agar pengalaman dan cita-cita kebangsaan tetap tersambung. Mewariskannya berarti memberi ruang bagi anak muda untuk belajar, berkontribusi, dan melanjutkan tanggung jawab tersebut.

Gambaran negara yang diharapkan Dasco adalah Indonesia yang teguh berpegang pada konstitusi, adil dalam memperlakukan rakyat, dan kukuh menjaga kedaulatannya.

Baca juga: Merawat Silaturahmi, Kas Kohanudnas Silaturahmi Dengan Mantan Panglima TNI