Kabupaten Sukabumi | Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mendukung kolaborasi lintas sektor untuk menyediakan sanitasi layak bagi keluarga berisiko stunting. Dukungan tersebut disampaikan saat Isyana mengunjungi keluarga penerima bantuan pembangunan jamban sehat di Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Jumat (9/10).
Kunjungan itu menegaskan bahwa pencegahan stunting perlu dilakukan melalui intervensi yang menyeluruh. Pemenuhan gizi bagi ibu dan anak tetap menjadi bagian penting, tetapi upaya tersebut perlu disertai dukungan lingkungan rumah yang sehat. Ketersediaan jamban yang layak merupakan salah satu unsur dasar untuk menjaga kebersihan, mengurangi pencemaran, serta mencegah penyebaran penyakit yang dapat mengganggu kesehatan dan pertumbuhan anak.
Isyana menilai penyediaan sanitasi rumah tangga tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan perlu bekerja bersama agar keluarga yang membutuhkan dapat memperoleh fasilitas dasar secara berkelanjutan. Kolaborasi tersebut mencakup pendataan keluarga berisiko, pembangunan jamban sehat, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemantauan pemanfaatan fasilitas setelah bantuan diberikan.
Di tingkat keluarga, akses terhadap jamban sehat dapat mendukung kebiasaan buang air besar yang aman dan membantu menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih bersih. Kondisi ini penting terutama bagi rumah tangga dengan ibu hamil, bayi, dan balita yang lebih rentan terhadap infeksi. Ketika aspek gizi dan sanitasi ditangani secara bersamaan, risiko gangguan kesehatan yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dapat ditekan.
Peninjauan di Sukabumi juga memperlihatkan bahwa pembangunan sanitasi harus diikuti pendampingan agar manfaatnya benar-benar dirasakan keluarga. Dukungan lingkungan yang sehat menjadi bagian dari investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas hidup sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting sejak dari rumah.
Upaya memperkuat sanitasi rumah tangga memerlukan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah dan dunia usaha. Kemitraan tersebut diwujudkan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) bersama PT Astra International Tbk melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Program ini tidak hanya menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan tempat tinggal yang sehat bagi keluarga berisiko.
Melalui kerja sama tersebut, dua keluarga di Kabupaten Sukabumi menerima bantuan pembangunan jamban sehat. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung kebutuhan sanitasi sehari-hari sekaligus mengurangi paparan penyakit yang dapat mengganggu kesehatan ibu dan anak. Setiap keluarga memiliki balita, masing-masing berusia 9 bulan dan 4 tahun, sehingga ketersediaan fasilitas sanitasi yang aman menjadi kebutuhan yang sangat penting.
Sebelum memperoleh bantuan, kedua keluarga tersebut belum mempunyai jamban sehat. Untuk memenuhi kebutuhan sanitasi, mereka masih menggunakan jamban apung. Kondisi ini menunjukkan adanya keterbatasan akses terhadap sarana sanitasi yang layak dan berpotensi meningkatkan risiko pencemaran lingkungan. Air dan area sekitar rumah dapat terkontaminasi apabila pembuangan kotoran tidak dilakukan dengan baik, sementara balita lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat lingkungan yang tidak higienis.
Pembangunan jamban sehat diharapkan memberikan perubahan nyata bagi kehidupan kedua keluarga. Selain meningkatkan kenyamanan dan privasi, fasilitas tersebut membantu membentuk kebiasaan hidup bersih, seperti menggunakan jamban, menjaga kebersihan lingkungan, serta mencuci tangan dengan sabun setelah buang air. Langkah sederhana ini berperan dalam mencegah diare dan infeksi berulang yang dapat memengaruhi penyerapan gizi anak.
Kolaborasi Kemendukbangga dan PT Astra International Tbk memperlihatkan bahwa pencegahan stunting perlu dilakukan secara menyeluruh. Keluarga, terutama ibu dan anak, membutuhkan lingkungan dengan akses sanitasi yang layak agar dapat tumbuh dan menjalani aktivitas sehari-hari secara sehat. Dukungan lintas sektor seperti Genting menjadi bagian penting dalam memastikan kebutuhan dasar tersebut dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Pembangunan jamban sehat memberikan manfaat penting bagi keluarga, terutama dalam membentuk perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga. Fasilitas ini membantu memastikan pembuangan tinja dilakukan pada tempat yang aman, tertutup, dan tidak mencemari halaman, sumber air, maupun lingkungan sekitar. Dengan demikian, keluarga memiliki sarana yang mendukung kebiasaan menjaga kebersihan serta mengurangi paparan terhadap kuman penyebab penyakit.
Menurut Isyana, keberadaan jamban sehat diharapkan dapat membantu keluarga menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat secara lebih konsisten. Sanitasi yang layak bukan hanya membuat lingkungan tampak bersih, tetapi juga menekan risiko penyakit yang dapat muncul akibat kondisi tidak higienis. Ketika tinja tidak dikelola dengan baik, kuman dapat menyebar melalui air, tanah, tangan, makanan, atau benda yang digunakan anak dalam aktivitas sehari-hari.
Kondisi kesehatan lingkungan memiliki hubungan erat dengan risiko infeksi pada anak. Sanitasi yang buruk dapat meningkatkan kemungkinan anak mengalami sakit berulang, termasuk gangguan yang berkaitan dengan saluran pencernaan dan infeksi lainnya. Sementara itu, anak yang sering sakit berpotensi mengalami gangguan pada proses tumbuh dan berkembang. Tubuh perlu menggunakan energi untuk melawan infeksi, sehingga asupan gizi dan pemanfaatan nutrisi untuk pertumbuhan dapat ikut terganggu.
Dalam kerangka tersebut, kesehatan yang lebih baik dapat mengurangi kemungkinan anak jatuh sakit. Sebaliknya, frekuensi sakit yang tinggi meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi dan dapat memperbesar risiko hambatan pertumbuhan apabila berlangsung terus-menerus. Karena itu, jamban sehat perlu dipahami bukan sekadar sarana fisik, melainkan bagian dari upaya membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Penyediaan fasilitas sanitasi perlu diikuti kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan jamban, serta memastikan seluruh anggota keluarga menggunakannya secara benar. Langkah-langkah tersebut membantu menciptakan lingkungan rumah yang lebih higienis dan memperkuat pencegahan stunting sejak dini. Dengan dukungan sanitasi yang memadai, keluarga dapat mengurangi sumber penularan penyakit sekaligus memberi anak kondisi hidup yang lebih aman untuk tumbuh secara optimal.
Isyana menekankan bahwa penyediaan fasilitas sanitasi perlu disertai edukasi yang memadai kepada keluarga. Sarana seperti jamban, sumber air bersih, dan tempat untuk menjaga kebersihan akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila masyarakat memahami cara menggunakan serta merawatnya dengan benar. Pengetahuan tersebut membantu keluarga menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat secara konsisten dalam keseharian, bukan hanya ketika terdapat perhatian khusus terhadap persoalan sanitasi.
Pengetahuan dan sarana pendukung karena itu perlu berjalan bersama. Fasilitas tanpa pemahaman dapat menyebabkan penggunaannya tidak optimal, sementara edukasi tanpa dukungan sarana yang layak juga menyulitkan keluarga untuk menjalankan kebiasaan yang dianjurkan. Keduanya menjadi bagian yang saling melengkapi dalam membangun lingkungan rumah tangga yang lebih sehat. Kondisi sanitasi yang baik turut mendukung upaya pemenuhan gizi, karena kesehatan lingkungan berhubungan dengan kemampuan tubuh menerima dan memanfaatkan asupan tersebut.
Pencegahan stunting tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki peran dalam memastikan dukungan yang diperlukan tersedia dan dapat dijangkau. Dunia usaha serta organisasi masyarakat juga dibutuhkan untuk memperkuat penyediaan sarana dan penyampaian pengetahuan kepada keluarga. Pada saat yang sama, masyarakat luas berperan menjaga, menggunakan, dan menerapkan fasilitas sanitasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan keterlibatan banyak unsur, sanitasi dapat ditempatkan sebagai salah satu intervensi sensitif yang mendukung intervensi gizi. Edukasi keluarga menjadi penghubung penting agar dukungan tersebut diterjemahkan menjadi kebiasaan hidup bersih dan sehat. Penyediaan fasilitas, peningkatan pengetahuan, serta kerja sama lintas pihak perlu bergerak secara beriringan sehingga upaya menekan risiko stunting dapat dilakukan secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan.

