Debut Benidictus Siregar sebagai Ale dalam Film Drama “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

Debut Benidictus Siregar sebagai Ale dalam Film Drama “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

Jakarta | Benidictus Siregar memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya melalui film drama Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Film arahan Kuntz Agus tersebut menjadi debut Beni sebagai pemeran utama, setelah sebelumnya ia lebih sering tampil dalam posisi pemeran pendukung, terutama melalui berbagai film bergenre komedi. Kesempatan ini menandai perubahan penting karena Beni dituntut membawa keseluruhan cerita sekaligus menghadirkan karakter dengan persoalan emosional yang lebih kompleks.

Dalam film ini, Beni memerankan Ale, seorang pria berusia 37 tahun yang kehilangan arah serta alasan untuk melanjutkan hidup. Karakter tersebut berada dalam kondisi batin yang tidak sederhana. Ale bukan hanya menghadapi persoalan sehari-hari, tetapi juga pergulatan untuk memahami kembali tujuan dan nilai kehidupannya. Peran itu membuat Beni perlu mengeksplorasi sisi akting yang berbeda dari penampilan-penampilannya terdahulu yang cenderung mengandalkan unsur humor dan dinamika komedi.

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati diadaptasi dari novel karya Brian Khrisna. Pengadaptasian tersebut membawa kisah literer ke medium film dengan tetap mempertahankan perhatian pada perjalanan personal tokoh utamanya. Melalui arahan Kuntz Agus, cerita Ale dikembangkan sebagai drama yang menyoroti kehilangan, pencarian makna, serta kemungkinan untuk menemukan harapan di tengah keadaan yang sulit. Posisi Ale sebagai pusat cerita menjadikan perkembangan emosinya bagian utama dari pengalaman penonton.

Bagi Beni, keterlibatan ini tidak sekadar menjadi tambahan dalam daftar filmografinya, melainkan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya sebagai aktor utama dalam film drama. Perbedaan karakter, pendekatan penyutradaraan, dan beban cerita menuntut persiapan yang lebih mendalam. Debut tersebut sekaligus memperlihatkan upaya Benidictus Siregar memperluas rentang peran, dari pemeran pendukung dalam film komedi menjadi sosok sentral yang harus menyampaikan konflik batin melalui akting yang lebih tenang dan reflektif.

Mengikuti audisi untuk memerankan Ale dalam film drama “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” menjadi pengalaman yang cukup menantang bagi Benidictus Siregar. Ia mengaku merasa kurang percaya diri ketika harus menjalani proses tersebut. Kekhawatiran itu muncul karena Beni takut penampilannya justru membuat orang tertawa, bukan membawa penonton masuk ke dalam cerita dan karakter yang dimainkan.

Dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin, Beni menjelaskan bahwa tantangan tersebut juga berkaitan dengan besarnya perhatian publik terhadap film itu. Rencana adaptasi novel “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” telah diketahui masyarakat sejak beberapa bulan sebelum proses casting berlangsung. Karena itu, ekspektasi terhadap film semakin besar. Kondisi tersebut membuat Beni merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan penampilan yang sesuai dengan harapan terhadap cerita yang telah lebih dahulu dikenal publik.

Perasaan kurang percaya diri itu menjadi bagian dari pengalaman Beni selama mengikuti audisi. Ia menyadari bahwa proses pemilihan pemeran tidak hanya menuntut kesesuaian dengan karakter Ale, tetapi juga keberanian untuk tampil di hadapan tim produksi dan menghadapi penilaian. Kekhawatiran akan respons orang terhadap penampilannya tetap dirasakan, terutama karena film tersebut membawa cerita dari novel yang sudah mendapat perhatian sebelum diproduksi.

Meski menghadapi keraguan pada tahap awal, Beni kemudian dapat menjalani proses syuting film drama pertamanya hingga selesai. Ia bersyukur seluruh proses tersebut berlangsung dengan aman dan nyaman. Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam debutnya sebagai Ale, sekaligus menandai keterlibatannya dalam film drama pertamanya. Bagi Beni, kelancaran proses syuting hingga tahap akhir memberikan rasa syukur setelah melewati tantangan selama audisi dan produksi.

Produser Sinergi Pictures, Philip Lesmana, menyampaikan bahwa Beni merupakan pilihan yang paling tepat untuk memerankan Ale dalam film drama “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”. Penilaian tersebut disampaikan setelah tim produksi menjalani proses casting dan mempertimbangkan seluruh aktor yang mengikuti rangkaian seleksi. Dari berbagai pilihan yang tersedia, Beni dinilai sebagai sosok yang paling sesuai dengan kebutuhan karakter Ale.

Menurut Philip, Ale bukan karakter yang dapat dimainkan hanya dengan mengandalkan penampilan atau dialog. Tokoh tersebut membutuhkan penjiwaan yang sangat dalam agar setiap sisi kepribadian dan pengalaman emosionalnya dapat tersampaikan secara tepat. Karena itu, proses pemilihan pemeran perlu memperhatikan kemampuan seorang aktor dalam memahami karakter sekaligus menghadirkan perasaan yang mendasari setiap tindakan Ale.

Philip juga menjelaskan bahwa karakter Ale memiliki eskalasi emosi yang berlapis. Perubahan tersebut menuntut pemeran untuk menyampaikan berbagai intensitas perasaan secara bertahap dan meyakinkan, tanpa kehilangan kesinambungan dalam perkembangan tokohnya. Ale tidak hanya menghadapi satu keadaan emosional, melainkan mengalami dinamika yang memerlukan penghayatan serta pengendalian akting yang kuat. Setiap lapisan emosi harus dapat terlihat melalui permainan yang terukur dan tetap selaras dengan alur cerita.

Atas pertimbangan itu, karakter Ale harus dimainkan oleh aktor dengan kemampuan akting yang mumpuni. Setelah melihat hasil casting, tim produksi menyebut Beni sebagai orang yang paling tepat untuk mengemban peran tersebut. Pernyataan Philip menegaskan bahwa keputusan pemilihan Beni didasarkan pada kesesuaiannya dengan tuntutan karakter, terutama kebutuhan akan penjiwaan mendalam dan kemampuan menghadirkan eskalasi emosi yang kompleks dalam film.

Film drama “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” mengikuti perjalanan Ale, tokoh yang diperankan oleh Benidictus Siregar, ketika ia berada pada titik terendah dalam hidupnya. Di tengah kondisi tersebut, Ale memiliki satu keinginan sederhana yang ingin segera diwujudkan: menikmati seporsi mi ayam favoritnya. Makanan itu bukan sekadar hidangan bagi Ale, melainkan sesuatu yang memberinya rasa nyaman dan menjadi pengingat akan hal-hal yang akrab dalam hidupnya.

Namun, harapan Ale tidak berjalan sesuai rencana. Ketika ia mendatangi kios mi ayam langganannya, tempat tersebut justru sedang tutup. Keadaan itu membuat keinginannya tertunda sekaligus menjadi awal dari perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan. Dalam proses mencari jalan keluar dan menghadapi situasi yang muncul, Ale bertemu dengan sejumlah orang asing. Setiap pertemuan membawanya pada percakapan, pengalaman, serta kejadian tak terduga yang perlahan mengubah cara pandangnya.

Rangkaian peristiwa tersebut membuat Ale tidak hanya berhadapan dengan persoalan di luar dirinya, tetapi juga mendorongnya untuk melihat kembali kehidupan secara lebih luas. Orang-orang yang ditemuinya menghadirkan perspektif baru mengenai kehilangan, harapan, hubungan antarmanusia, dan alasan untuk terus melangkah. Dari perjalanan sederhana untuk mendapatkan mi ayam, Ale kemudian menemukan pemahaman baru yang dapat memengaruhi cara ia memaknai hidup.

Diproduksi oleh Sinergi Pictures dan Ben Film, “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” dijadwalkan tayang di bioskop mulai 12 November 2026. Selain Benidictus Siregar, film ini dibintangi Chicco Kurniawan, Teuku Rifnu Wikana, Tika Panggabean, Zulfa Maharani, Nita Gunawan, Jourdy Pranata, Pangeran Lantang, dan Dewi Irawan. Nia Dinata tercatat sebagai salah satu produser, sementara Alim Sudio menangani penulisan skenario. Kolaborasi tersebut memperkuat fondasi film yang memadukan drama personal dengan pertemuan-pertemuan penuh kejutan dalam kehidupan Ale.

Baca juga: Gambut Jadi Medan Tempur, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Pantang Pulang Sebelum Bara Terkendali | Warga juga mengejar Pimpinan Proyek bernama Heri sebelum diamankan polisi | BA akhirnya berhasil diamankan sebelum menaiki pesawat