Pemulihan Jembatan Krueng Pelang di Aceh Tengah Capai 60 Persen

Pemulihan Jembatan Krueng Pelang di Aceh Tengah Capai 60 Persen

Kabupaten Aceh Tengah | Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh membangun kembali Jembatan Krueng Pelang yang berada di Kabupaten Aceh Tengah. Pembangunan kembali tersebut dilakukan setelah jembatan terdampak bencana hidrometeorologi pada 2025. Upaya ini menjadi bagian dari pekerjaan pemulihan infrastruktur yang dilaksanakan pemerintah di wilayah tersebut. Saat ini, pekerjaan pembangunan masih berlangsung dengan kemajuan yang terus dipantau oleh pihak terkait.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.2 BPJN Aceh, Chandra, menyampaikan bahwa progres pembangunan Jembatan Krueng Pelang telah mencapai 60 persen. Capaian itu menunjukkan bahwa pekerjaan telah berjalan lebih dari separuh tahapan pelaksanaannya. Informasi mengenai progres tersebut memberikan gambaran perkembangan pembangunan kepada masyarakat, sekaligus menjadi acuan untuk melihat perjalanan pekerjaan menuju target yang telah ditetapkan. BPJN Aceh menargetkan jembatan tersebut dapat difungsikan pada akhir November 2026.

Target pengoperasian pada akhir November 2026 menjadi penanda penting dalam rencana pemulihan jembatan ini. Hingga saat itu, pembangunan perlu dilanjutkan agar pekerjaan dapat mencapai tahap yang memungkinkan jembatan digunakan sesuai sasaran. Namun, berdasarkan keterangan yang tersedia, perkembangan yang dapat dipastikan saat ini adalah progres sebesar 60 persen serta target fungsi pada akhir November 2026. Tidak ada rincian tambahan mengenai tahapan teknis, jenis pekerjaan, maupun waktu penyelesaian yang disampaikan dalam keterangan tersebut.

Pembangunan kembali Jembatan Krueng Pelang memperlihatkan kelanjutan penanganan infrastruktur pascabencana hidrometeorologi 2025 di Kabupaten Aceh Tengah. Kementerian Pekerjaan Umum, melalui BPJN Aceh, menjalankan pembangunan dengan sasaran agar jembatan dapat kembali difungsikan sesuai jadwal yang ditargetkan. Masyarakat dapat merujuk pada perkembangan yang disampaikan PPK 3.2 BPJN Aceh sebagai informasi terkini mengenai pekerjaan. Dengan progres yang telah mencapai 60 persen, fokus berikutnya adalah melanjutkan pembangunan hingga target pengoperasian pada akhir November 2026. Pernyataan ini menegaskan capaian dan sasaran pekerjaan tanpa memperluas keterangan mengenai kondisi bencana atau dampaknya.

Pekerjaan pemulihan Jembatan Krueng Pelang di Aceh Tengah saat ini berfokus pada pemasangan rangka baja. Struktur tersebut terdampak bencana pada 25 November 2025, sehingga pemulihannya menjadi bagian penting agar akses masyarakat dapat kembali terhubung. Di lokasi, rangka dirakit dan dipasang secara bertahap dengan memperhatikan susunan setiap segmen. Dari total 11 segmen rangka yang direncanakan untuk membentuk bentang sepanjang 55 meter, sembilan segmen telah terpasang. Capaian ini menandai kemajuan pekerjaan struktur utama, meskipun masih terdapat tahapan penyambungan rangka sebelum konstruksi dapat beralih ke bagian lantai jembatan.

Chandra berharap seluruh rangka baja dapat tersambung pada pekan berikutnya. Penyelesaian tahap ini diperlukan agar pekerjaan berikutnya dapat dilaksanakan secara berurutan dan aman. Setelah sambungan rangka selesai, tim akan melanjutkan pekerjaan dengan memasang lantai jembatan. Tahapan tersebut tidak hanya mencakup penempatan bagian lantai, tetapi juga pekerjaan konstruksi yang mendukung kekuatan dan kesiapan permukaan jembatan. Urutan pelaksanaan menjadi penting karena lantai harus dibangun di atas rangka yang telah tersusun dan tersambung. Dengan demikian, pemasangan rangka serta pekerjaan lantai merupakan tahapan berbeda yang saling berkaitan dalam pemulihan jembatan.

Pekerjaan lantai mencakup pembesian, pengecoran beton, dan pengaspalan. Pembesian menjadi bagian dari persiapan struktur lantai, kemudian beton dicor untuk membentuk permukaan yang kokoh. Setelah proses tersebut rampung dan permukaan siap, pengaspalan dilakukan sebagai tahap lanjutan sebelum jembatan dapat digunakan masyarakat. Penyelesaian setiap pekerjaan perlu mengikuti tahapan yang telah direncanakan, dari rangka baja hingga lapisan akhir. Jembatan baru dapat kembali dimanfaatkan setelah keseluruhan konstruksi dinyatakan siap, bukan hanya setelah rangka utama tersambung. Karena itu, perkembangan pemasangan sembilan dari 11 segmen menjadi salah satu indikator kemajuan, sementara pembesian, pengecoran, dan pengaspalan masih menanti penyelesaian struktur rangka.

Curah hujan yang tinggi menjadi salah satu tantangan utama dalam pemulihan Jembatan Krueng Pelang di Aceh Tengah. Intensitas hujan dapat berubah dari waktu ke waktu dan berdampak langsung pada ketinggian muka air sungai di sekitar lokasi proyek. Ketika debit meningkat, ruang kerja di area sungai menjadi lebih terbatas, sementara kondisi lapangan harus terus dipantau sebelum pekerjaan dapat dilanjutkan. Perubahan tersebut menuntut penyesuaian jadwal dan metode kerja agar pelaksanaan tetap aman bagi pekerja serta tidak mengabaikan mutu konstruksi. Situasi ini terutama terasa pada tahapan pekerjaan yang berada dekat aliran sungai dan membutuhkan kondisi tanah serta lingkungan yang relatif stabil.

Menurut Chandra, perubahan ketinggian muka air tersebut menghambat pengerjaan fondasi dan abutmen. Fondasi menjadi bagian dasar yang perlu disiapkan untuk menopang beban jembatan, sedangkan abutmen merupakan struktur penyangga pada kedua ujung jembatan. Kedua pekerjaan itu memerlukan penanganan yang cermat karena kondisi air dan tanah di sekitarnya dapat memengaruhi akses, kestabilan area kerja, serta urutan pelaksanaan. Saat air sungai naik, tim perlu menyesuaikan kegiatan di lapangan dan menunggu keadaan yang memungkinkan. Karena itu, progres pemulihan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan material dan tenaga, tetapi juga oleh kondisi cuaca dan sungai yang berubah.

Untuk mendukung perlindungan infrastruktur jembatan, BPJN Aceh juga mengerjakan penanganan aliran sungai atau river training di bagian hulu dan hilir. Pekerjaan ini ditujukan untuk membantu mengendalikan aliran di sekitar lokasi, sehingga risiko terhadap area jembatan dapat ditangani sebagai bagian dari upaya pemulihan. Penanganan pada kedua sisi sungai tersebut berjalan bersamaan dengan pekerjaan utama, dengan tetap mempertimbangkan perubahan kondisi air. Hingga saat ini, progres river training dilaporkan sekitar 30 persen. Pekerjaan tersebut masih berlanjut dan menjadi salah satu tahapan pendukung, sementara pengerjaan fondasi dan abutmen menghadapi kendala akibat hujan serta naik-turunnya muka air sungai.

Untuk mengejar target penyelesaian, pekerjaan pemulihan Jembatan Krueng Pelang dilaksanakan secara intensif pada siang dan malam hari. Kegiatan konstruksi dibagi menjadi dua shift agar pengerjaan dapat berlangsung berkelanjutan dan waktu yang tersedia dimanfaatkan secara optimal. Sekitar 70 pekerja terlibat dalam upaya tersebut, dengan tugas yang disesuaikan menurut tahapan pekerjaan di lapangan. Pola kerja ini mendukung percepatan pembangunan kembali jembatan sekaligus menjaga agar berbagai pekerjaan dapat berjalan terkoordinasi. Pelaksanaan dalam dua shift juga mencerminkan upaya untuk mempertahankan ritme kerja, terutama ketika penyelesaian jembatan dibutuhkan guna memulihkan hubungan transportasi antarkawasan yang terdampak bencana.

Kelancaran pekerjaan turut dipengaruhi ketersediaan bahan dan kebutuhan operasional. Sebelumnya, pasokan semen, material bangunan, serta bahan bakar minyak sempat mengalami kendala. Kondisi tersebut kini kembali lancar sehingga kebutuhan untuk mendukung pekerjaan dapat dipenuhi dengan lebih baik. Pemulihan pasokan membantu kegiatan konstruksi berlangsung tanpa hambatan distribusi yang sama seperti sebelumnya. Dengan material dan bahan bakar yang tersedia, para pekerja dapat melanjutkan tahapan pembangunan sesuai kebutuhan lapangan. Meski demikian, pengerjaan tetap memerlukan pengaturan yang cermat agar tenaga kerja, bahan bangunan, serta kegiatan setiap shift dapat mendukung sasaran penyelesaian secara efektif.

Jembatan Krueng Pelang memiliki fungsi penting bagi pergerakan masyarakat dan konektivitas wilayah. Jembatan ini menghubungkan Kecamatan Silih Nara dengan Kecamatan Rusip, sehingga pemulihannya menjadi bagian dari upaya membuka kembali akses antarkecamatan. Selain itu, jembatan tersebut berada pada ruas penghubung Pameu, Aceh Tengah, menuju Geumpang, Kabupaten Pidie. Keterhubungan ini mendukung perjalanan masyarakat serta pergerakan barang melalui jalur tersebut. Pembangunan kembali Jembatan Krueng Pelang merupakan bagian dari pemulihan akses transportasi pascabencana di Aceh.

Baca juga: Sinergi TNI-Polri dan Masyarakat Perbaiki Jembatan Poros Lokpon-Dekai Sambut HUT ke-81 TNI | Komsos Koramil 1710-03/Kuala Kencana Dan Syukuran Selesainya Pembangunan Jembatan Garuda | Kodim 1714/Puncak Jaya Gelar Doa Bersama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Jembatan di Kampung Kulonggame