Oki Rengga dan Polemik Spanduk Karhutla di Tribun PSMS

Oki Rengga dan Polemik Spanduk Karhutla di Tribun PSMS

Medan | Komika sekaligus aktor Oki Rengga menjadi perhatian setelah terlibat adu mulut dengan sesama suporter PSMS Medan di tribun Stadion Utama Sumatera Utara, Deli Serdang. Perselisihan itu terjadi pada Selasa, 3 November 2026, ketika PSMS menghadapi Persija Jakarta dalam laga pembuka Grup A I.League Cup 2026/2027. Momen tersebut kemudian terekam dalam video yang beredar di media sosial dan memicu perbincangan mengenai situasi di tribun.

Dalam rekaman yang tersebar, Oki terlihat terlibat percakapan dengan seorang suporter lain. Cuplikan itu memperlihatkan adu argumen di keduanya, sementara sejumlah orang berada di sekitar lokasi. Video tersebut membuat Oki menjadi sorotan publik, bukan hanya sebagai figur hiburan, tetapi juga sebagai pendukung PSMS yang hadir langsung menyaksikan pertandingan. Meski rekaman singkat itu menunjukkan adanya ketegangan, konteks lengkap dan awal mula perselisihan tidak seluruhnya dapat diketahui hanya dari potongan video yang beredar.

Peristiwa berlangsung di tengah perhatian besar terhadap pertandingan pembuka yang mempertemukan dua tim dengan basis pendukung masing-masing. Pertandingan PSMS melawan Persija menjadi agenda penting bagi suporter yang memadati stadion, sementara insiden di tribun menarik perhatian di luar jalannya laga. Penyebaran video secara daring turut memperluas jangkauan kejadian, sehingga cuplikan tersebut cepat dibahas oleh pengguna media sosial dan pemberitaan. Namun, perhatian terhadap rekaman itu perlu dipisahkan dari penilaian atas keseluruhan peristiwa, sebab video yang beredar belum tentu memuat semua percakapan maupun keadaan sebelum dan sesudah adu mulut. Sejauh informasi yang tersedia, inti kejadian adalah perselisihan verbal Oki dan sesama suporter PSMS di tribun stadion. Insiden itu menjadi sorotan setelah rekamannya menyebar, sementara latar belakang rinci perdebatan tidak dijelaskan dalam informasi awal mengenai peristiwa tersebut.

Perdebatan mengenai spanduk karhutla di tribun PSMS bermula dari potongan video yang beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Oki Rengga terlihat mendatangi seorang suporter yang diduga hendak membentangkan spanduk. Atribut itu disebut memuat kritik terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Karena video yang beredar hanya memperlihatkan sebagian kejadian, konteks lengkap percakapan dan maksud masing-masing pihak belum dapat dipastikan hanya dari potongan tersebut.

Narasi yang menyertai unggahan itu menyebut Oki meminta agar spanduk tidak dibentangkan ketika pertandingan sedang berlangsung. Permintaan tersebut kemudian menjadi pokok perdebatan: sebagian orang menilainya sebagai upaya menjaga situasi di tribun, sementara yang lain mempertanyakan apakah kritik terhadap bencana lingkungan seharusnya dapat disampaikan melalui pesan visual di ruang publik. Namun, penilaian atas kejadian perlu dibedakan dari hal yang benar-benar tampak di rekaman. Video menunjukkan interaksi, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh alasan atau kesepakatan di mereka.

Dalam sejumlah narasi media sosial, Oki diduga khawatir bahwa atribut bernada kritik itu dapat memicu sanksi dari Komisi Disiplin PSSI. Dugaan tersebut penting ditempatkan sebagai keterangan yang beredar di internet, bukan sebagai fakta yang telah dikonfirmasi. Belum tentu alasan itu merupakan ucapan Oki, dan belum ada dasar dari potongan video saja untuk menyimpulkan bahwa sanksi pasti akan dijatuhkan. Aturan pertandingan, konteks pemasangan spanduk, serta tanggapan pihak terkait perlu diperiksa sebelum menarik kesimpulan.

Karena itu, pembahasan sebaiknya berangkat dari batas informasi yang tersedia: ada video tentang Oki dan seorang suporter, serta ada klaim bahwa spanduk hendak dipasang dan diminta untuk ditahan sampai pertandingan selesai. Perbedaan fakta visual dan tafsir unggahan perlu dijaga agar polemik tidak berkembang menjadi tuduhan yang belum terbukti. Kejelasan lebih lanjut dapat diperoleh melalui rekaman utuh, keterangan suporter yang bersangkutan, pernyataan Oki, dan penjelasan penyelenggara atau otoritas sepak bola. Sampai informasi tersebut tersedia, alasan di balik permintaan itu tetap merupakan dugaan.Dalam perdebatan mengenai spanduk karhutla di tribun PSMS, Oki Rengga menyampaikan bahwa perhatian suporter sebaiknya diarahkan kepada tim selama pertandingan berlangsung. Menurutnya, waktu laga adalah saat bagi pendukung untuk menjalankan peran utama mereka, yakni memberi dukungan kepada PSMS. Ia tidak menyatakan bahwa spanduk tidak boleh dibentangkan, melainkan menekankan perbedaan waktu: dukungan kepada tim perlu menjadi prioritas ketika pertandingan sedang dimainkan, sedangkan spanduk dapat dibentangkan setelah laga berakhir.

Inti ucapan Oki adalah bahwa setelah pertandingan, spanduk boleh dibentangkan di mana saja. Namun, ketika laga masih berlangsung, tugas suporter adalah mendukung PSMS. Pernyataan itu menempatkan dukungan kepada tim sebagai hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu selama pertandingan, tanpa menutup kesempatan bagi suporter untuk membentangkan spanduk sesudahnya. Dengan demikian, ia meminta agar kegiatan menyampaikan pesan melalui spanduk tidak mengalihkan perhatian pendukung dari laga yang sedang berjalan. Ia membedakan momen pertandingan dan waktu setelah pertandingan, bukan meniadakan hak suporter untuk membentangkan spanduk.

Oki juga menyerukan bahwa para suporter sama-sama membenci persoalan tersebut. Meski demikian, menurutnya, pada saat itu yang perlu dilakukan adalah mendukung tim. Seruan tersebut mengakui adanya kesamaan sikap para suporter terhadap persoalan yang dibicarakan, sekaligus mengingatkan bahwa pertandingan membutuhkan dukungan mereka. Pesan yang ia sampaikan berpusat pada pilihan untuk tetap mendukung PSMS selama laga, sementara spanduk dapat dibentangkan setelah pertandingan. Ia meminta para pendukung memusatkan perhatian pada tim pada waktu itu, tanpa mengubah inti sikapnya mengenai spanduk maupun persoalan yang menjadi bahan perdebatan.

Perdebatan mengenai spanduk karhutla di Tribun PSMS semakin ramai setelah Oki Rengga menyinggung pengalaman pribadinya yang berkaitan dengan isu tersebut. Dalam pernyataannya, ia mengaku pernah hampir dibunuh pemerintah karena persoalan karhutla. Pengakuan itu menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas tentang cara menyampaikan kritik dan batas isu sosial dengan suasana pertandingan sepak bola. Pernyataan tersebut perlu dipahami sebagai klaim pribadi yang disampaikan Oki, bukan sebagai fakta yang telah diverifikasi secara independen dalam konteks polemik ini.

Dalam video yang beredar, Oki tampak berusaha menyampaikan agar persoalan karhutla tidak dibawa ke pertandingan PSMS. Ia menegaskan bahwa kritik mengenai isu tersebut sebaiknya tidak hadir dalam arena pertandingan, sehingga fokus kegiatan tetap pada sepak bola. Potongan video itu kemudian menarik perhatian warganet, terutama karena pernyataannya mengenai ancaman pemerintah dan sikapnya terhadap penyampaian kritik muncul dalam satu rangkaian pembicaraan. Beragam respons pun berkembang di media sosial. Namun, perhatian publik terhadap video tidak dengan sendirinya memastikan seluruh konteks percakapan, maksud setiap pihak, atau latar belakang peristiwa di tribun.

Aturan mengenai atribut stadion juga menjadi rujukan dalam pembahasan polemik ini. Pasal 56 Regulasi Liga 1 serta Pasal 70 Kode Disiplin PSSI 2023 memuat larangan penggunaan atribut di stadion yang mengandung unsur SARA, politik, provokatif, diskriminatif, atau penghinaan. Ketentuan tersebut memberikan kerangka umum bagi penyelenggaraan pertandingan dan pengelolaan atribut yang dibawa ke area stadion. Meski demikian, keberadaan aturan itu perlu dibedakan dari penilaian atas insiden tertentu. Informasi mengenai pasal-pasal tersebut tidak berarti bahwa aturan telah diterapkan dalam kasus spanduk karhutla di tribun PSMS. Penetapan pelanggaran maupun tindakan disipliner memerlukan keterangan dan proses dari pihak yang berwenang, serta tidak dapat disimpulkan hanya dari beredarnya video atau percakapan di media sosial.

Baca juga: Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Bertahan di Tengah Kepulan Asap dan Honor Tertunda | Kabut Asap Karhutla Menyelimuti Palembang, Jarak Pandang Menurun dan Penerbangan Terganggu | Yandri Susanto Bahas Polemik Koperasi Desa Merah Putih Saat Panen Anggur untuk Program MBG

16 kunjungan