Jakarta | Keikutsertaan Mobil Anak Bangsa (MAB) dalam Pameran Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026 menyoroti dua aspek yang saling berkaitan: kendaraan niaga listrik dan pemantauan armada berbasis internet of things (IoT). Melalui kehadirannya, MAB memperlihatkan bahwa peralihan menuju mobilitas listrik dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pengelolaan operasional. Pameran ini berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. CEO MAB Kelik Irwantono menyampaikan pandangannya di Jakarta pada Kamis.
Bagi MAB, elektrifikasi bukan sekadar mengganti sumber energi kendaraan dari bahan bakar konvensional menjadi tenaga listrik. Perubahan tersebut juga berkaitan dengan cara perusahaan menjalankan kegiatan usaha, mengatur armada, dan mengukur kinerja operasional. Kendaraan niaga digunakan untuk menunjang beragam aktivitas bisnis, sehingga kebutuhan terhadap efisiensi tidak berhenti pada pilihan jenis kendaraan. Pengelolaan yang lebih terstruktur dan informasi yang tersedia secara tepat waktu juga dapat menjadi bagian penting dalam mendukung penggunaan armada.
Teknologi pemantauan armada berbasis IoT yang ditampilkan MAB memperluas pembahasan elektrifikasi ke ranah pengelolaan sehari-hari. Dengan dukungan sistem digital, perusahaan dapat memantau armada dan memperoleh gambaran yang lebih terukur mengenai operasinya. Pendekatan ini dapat membantu pelaku usaha memahami pemanfaatan kendaraan serta mengelola aktivitas secara lebih efisien. Dengan demikian, kendaraan listrik dan sistem pemantauan digital dipandang sebagai unsur yang saling melengkapi dalam transformasi bisnis, bukan sebagai dua inisiatif yang berdiri sendiri.
Kelik menyebut elektrifikasi sebagai bagian dari transformasi bisnis yang diperlukan agar perusahaan dapat bekerja lebih efisien, terukur, dan siap menghadapi masa depan. Pandangan tersebut menempatkan adopsi kendaraan listrik dalam konteks perubahan cara kerja perusahaan secara lebih luas. Bagi MAB, upaya membangun operasional yang siap menghadapi perkembangan berikutnya mencakup pemilihan kendaraan sekaligus penggunaan teknologi untuk mendukung pengelolaan armada. Pesan yang dibawa ke PEVS 2026 pun menegaskan bahwa peralihan ke kendaraan niaga listrik dapat menjadi kesempatan untuk meninjau kembali proses operasional dan meningkatkan ketepatan pengelolaan bisnis.
Di PEVS 2026, MAB menampilkan sejumlah kendaraan niaga listrik yang ditujukan untuk kebutuhan usaha yang beragam. Tiga model yang menjadi sorotan adalah chassis 4×2, Ecotruck Blindvan, dan Electro Electric 3 Wheeler. Ketiganya menawarkan bentuk kendaraan dan arah penggunaan yang berbeda, sehingga pelaku usaha dapat mempertimbangkan pilihan berdasarkan jenis operasionalnya. Selain model-model tersebut, MAB juga memperlihatkan jajaran kendaraan lain untuk memperluas pilihan bagi calon pengguna dan mitra.
Chassis 4×2 ditampilkan sebagai basis kendaraan yang fleksibel untuk dikembangkan lebih lanjut. Pelanggan dan mitra karoseri dapat menyesuaikan bentuk atau fungsi kendaraan berdasarkan kebutuhan operasional, tanpa terpaku pada satu jenis penggunaan. Fleksibilitas ini membuka peluang pemanfaatan untuk kegiatan logistik, distribusi barang, maupun layanan khusus yang memerlukan bentuk kendaraan tertentu. Dengan pendekatan tersebut, chassis menjadi landasan bagi pengembangan solusi niaga yang disesuaikan dengan tugas dan kebutuhan masing-masing usaha.
Ecotruck Blindvan diarahkan untuk mendukung kegiatan distribusi, terutama di kawasan perkotaan. Bentuk blindvan dapat menjadi pilihan bagi operasional yang membutuhkan kendaraan untuk membawa barang dalam kegiatan pengantaran. Sementara itu, Electro Electric 3 Wheeler menawarkan konfigurasi roda tiga yang ringkas. Kendaraan ini dapat dipertimbangkan oleh usaha yang mencari bentuk kendaraan niaga berbeda untuk aktivitas operasionalnya. Masing-masing model memperlihatkan pendekatan yang beragam terhadap kebutuhan pengangkutan dan distribusi, tanpa membatasi pengguna pada satu jenis usaha tertentu.
Selain tiga kendaraan tersebut, MAB turut memperlihatkan jajaran Electro, eCity, e-Rover, FYY, FBY, dan FOO. Kehadiran berbagai nama model ini menunjukkan bahwa pilihan yang ditampilkan mencakup beragam keperluan operasional. Pelaku usaha dapat mencermati bentuk kendaraan yang sesuai dengan aktivitas mereka, sementara pelanggan dan mitra karoseri dapat melihat peluang pengembangan sesuai kebutuhan. Pameran tersebut menjadi kesempatan untuk mengenali ragam kendaraan niaga MAB, sekaligus memahami bahwa pemilihan kendaraan dapat disesuaikan dengan fungsi yang hendak dijalankan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Di PEVS 2026, Mining Command Center diperkenalkan sebagai sistem pengelolaan armada yang didukung teknologi Internet of Things (IoT). Sistem ini dirancang untuk membantu perusahaan memperoleh informasi mengenai aktivitas kendaraan dan armada dalam kegiatan operasional. Dengan menghubungkan kendaraan dan data operasional, perusahaan dapat memiliki gambaran yang lebih terstruktur sebagai bahan pertimbangan ketika mengambil keputusan. Peran tersebut menjadi relevan bagi organisasi yang mengelola banyak kendaraan dan perlu memahami bagaimana armadanya digunakan dari waktu ke waktu.
Kebutuhan akan informasi armada tidak terbatas pada satu jenis industri. Perusahaan di sektor pertambangan, logistik, manufaktur, dan distribusi sama-sama memerlukan informasi mengenai kondisi kendaraan, pola pemakaian, serta kebutuhan pemeliharaan. Informasi tersebut dapat membantu pihak terkait meninjau aktivitas kendaraan dan mempertimbangkan kebutuhan operasional berdasarkan keadaan armada. Dalam sektor dengan kegiatan yang melibatkan kendaraan secara rutin, pemahaman atas penggunaan armada menjadi bagian penting dari pengelolaan sehari-hari. Karena itu, sistem yang menyajikan informasi aktivitas kendaraan dapat mendukung proses evaluasi dan perencanaan tanpa menggantikan pertimbangan pengelola.
Pengembangan Mining Command Center menunjukkan upaya MAB mengintegrasikan kendaraan listrik dengan pemantauan operasional berbasis data. Pendekatan ini menempatkan informasi armada sebagai salah satu dasar untuk memahami pemakaian kendaraan dan merencanakan pemeliharaan. Bagi perusahaan, data yang tersedia dapat menjadi masukan saat menilai aktivitas operasional, mengenali kebutuhan kendaraan, dan mempertimbangkan langkah berikutnya dalam pengelolaan armada. Sistem tersebut juga memperlihatkan bahwa elektrifikasi kendaraan niaga dapat berjalan beriringan dengan perhatian terhadap pengelolaan informasi. Dengan demikian, pembahasan kendaraan listrik mencakup bukan hanya jenis kendaraan yang digunakan, tetapi juga cara perusahaan memperoleh informasi untuk mendukung keputusan operasional. MAB menghadirkan hubungan kendaraan dan data armada sebagai bagian dari pengembangan solusi bagi kebutuhan sektor-sektor yang bergantung pada mobilitas kendaraan.
Menurut Kelik, penerapan kendaraan listrik tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk setiap perusahaan. Kebutuhan armada dipengaruhi oleh karakteristik bidang usaha, sehingga keputusan beralih ke kendaraan listrik perlu diawali dengan pemahaman atas kegiatan operasional sehari-hari. Perusahaan perlu menilai jenis pekerjaan yang dilayani, jarak tempuh, frekuensi perjalanan, beban angkut, serta rute yang biasa dilalui. Pola penggunaan tersebut membantu menentukan jenis kendaraan dan skema pemakaian yang paling sesuai, sekaligus memberi gambaran mengenai kesiapan kendaraan dalam mendukung kelancaran layanan.
Selain pola penggunaan, kesiapan operasional menjadi pertimbangan penting. Perusahaan perlu melihat bagaimana kendaraan akan diintegrasikan ke dalam proses kerja, termasuk pengaturan jadwal, kebutuhan pengisian daya, dan ketersediaan dukungan di lokasi operasional. Aspek pemeliharaan juga harus diperhitungkan sejak awal agar kendaraan dapat digunakan secara konsisten dan terawat. Dalam konteks ini, pengelolaan armada berperan menghubungkan kebutuhan kendaraan dengan pemantauan dan pengaturan operasional. Data penggunaan yang dikelola dengan baik dapat membantu perusahaan memahami pemanfaatan armada serta merencanakan kegiatan secara lebih terukur.
Kelik juga menilai bahwa percepatan adopsi kendaraan listrik memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku industri, penyedia infrastruktur, institusi pembiayaan, dan pengguna kendaraan memiliki peran yang saling melengkapi. Kebijakan dan dukungan ekosistem perlu berjalan seiring dengan kesiapan produk, layanan infrastruktur, akses pembiayaan, serta pemahaman pengguna. Kerja sama tersebut dapat membantu menjawab kebutuhan praktis di lapangan dan mendorong penerapan yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing sektor, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.
Sejalan dengan pandangan tersebut, MAB mengarahkan pengembangan dengan memadukan kendaraan niaga dan teknologi digital.
Baca juga: Latihan Kader Bela Negara di Tomohon Soroti Tantangan Era Digital dan Perang Kognitif | Perkuat Kesiapsiagaan Dalam Menangani Karhutla, Personel Lanud Sjamsudin Noor Asah Kemampuan Operasikan Kendaraan Pemadam Kebakaran






