Kris Dayanti Ceritakan Perjalanan Belajar Lagu Mandarin sejak Awal Karier

Kris Dayanti Ceritakan Perjalanan Belajar Lagu Mandarin sejak Awal Karier

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kris Dayanti mengaku masih perlu terus belajar ketika membawakan lagu berbahasa Mandarin. Pernyataan itu disampaikannya dalam jumpa pers konser “A Tribute to Teresa Teng” di Plaza Senayan, Rabu, 7 Oktober 2026. Meski sudah mengenal dan menyanyikan lagu Mandarin sejak awal karier, penyanyi tersebut merasa proses belajarnya belum selesai. Ia menilai kemampuan seorang penyanyi tidak hanya ditentukan oleh pengalaman tampil, tetapi juga oleh keluasan referensi lagu yang dikuasai.

Kris Dayanti mengatakan referensi lagu Mandarinnya masih belum banyak. Kondisi tersebut membuatnya kadang merasa malu ketika harus tampil membawakan lagu berbahasa Mandarin, terutama di hadapan penonton yang lebih memahami bahasa dan karakter musik tersebut. Perasaan itu muncul karena ia ingin menyampaikan lagu secara tepat, baik dari segi pengucapan maupun penghayatan. Baginya, membawakan lagu Mandarin membutuhkan persiapan yang lebih cermat agar pesan dan nuansa karya tetap dapat diterima dengan baik.

Selama ini, ia mengakui lebih sering membawakan sejumlah lagu Mandarin yang sudah dikenalnya. Lagu-lagu tersebut lain “Yue Liang Dai Biao Wo De Xin”, “Tian Mi Mi”, dan “Lai Sheng Yuan”. Ketiga lagu itu menjadi bagian dari repertoar yang relatif akrab baginya, tetapi ia menyadari masih perlu memperluas pilihan lagu untuk memperkaya penampilan. Kesempatan tampil dalam konser “A Tribute to Teresa Teng” sekaligus menjadi ruang bagi Kris Dayanti untuk kembali mendalami karya-karya berbahasa Mandarin dan menghormati warisan musik Teresa Teng.

Ketertarikan Kris Dayanti untuk mendalami lagu pop Mandarin berawal dari pengalaman sederhana saat berhadapan langsung dengan penonton. Pada awal kariernya, ia kerap menerima permintaan untuk membawakan lagu berbahasa Mandarin dalam penampilan musik yang berlangsung pada malam hari. Permintaan tersebut bukan hanya muncul sesekali, melainkan menjadi bagian dari suasana pertunjukan yang ia jalani. Ketika tampil, Kris Dayanti harus mengisi acara selama sekitar satu jam, sehingga interaksi dengan penonton berlangsung cukup panjang dan memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan lagu yang ingin didengar.

Dalam setiap penampilan, penonton sering meminta dua atau tiga lagu Mandarin. Situasi itu membuat Kris Dayanti menyadari bahwa lagu-lagu tersebut memiliki tempat tersendiri di hati para pendengarnya. Ia tidak dapat selalu mengandalkan lagu yang sudah dikuasai, terutama ketika penonton berharap mendengar repertoar tertentu. Berbagai permintaan yang terus berulang kemudian menjadi dorongan baginya untuk lebih memperhatikan lagu pop Mandarin dan memahami kebutuhan penonton dalam sebuah pertunjukan.

Kesadaran tersebut perlahan mengubah permintaan penonton menjadi alasan untuk menambah kemampuan bernyanyi. Kris Dayanti merasa perlu bersedia mempelajari lagu-lagu pop Mandarin agar dapat memenuhi harapan orang-orang yang hadir menyaksikan penampilannya. Keputusan itu menunjukkan bahwa proses belajarnya tidak semata-mata lahir dari keinginan pribadi untuk mencoba bahasa baru, tetapi juga dari hubungan yang terbentuk dengan penonton. Setiap permintaan menjadi masukan yang mendorongnya memperluas pilihan lagu dan mempersiapkan diri lebih baik. Dengan demikian, pengalaman tampil pada malam hari, mengisi pertunjukan sekitar satu jam, serta menerima permintaan dua atau tiga lagu Mandarin dalam setiap penampilan menjadi awal perjalanan Kris Dayanti dalam mempelajari lagu berbahasa Mandarin. Dari kebutuhan untuk merespons penonton itulah ketertarikannya terhadap lagu pop Mandarin mulai tumbuh dan berkembang.

Kris Dayanti terus berupaya memperbaiki kemampuannya dalam membawakan lagu Mandarin, meskipun telah mengenal dan mempelajari repertoar tersebut sejak awal karier. Proses itu dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan setiap bagian lagu, mulai dari cara mengucapkan kata hingga penyampaian keseluruhan melodi. Ia menyadari bahwa menyanyikan lagu berbahasa Mandarin membutuhkan ketelitian khusus karena perubahan kecil dalam bunyi dapat memengaruhi ketepatan pengucapan dan karakter lagu.

Dalam proses belajar tersebut, Kris Dayanti memperoleh bantuan dari sejumlah rekan penyanyi. Salah satunya adalah Putri Ayu, yang turut memberikan referensi lagu untuk dipelajari. Masukan dari rekan-rekan itu membantu Kris menemukan materi yang sesuai sekaligus memperluas pemahamannya terhadap gaya bernyanyi dalam lagu Mandarin. Referensi tersebut tidak hanya digunakan untuk menghafalkan lirik, tetapi juga untuk mengamati bagaimana penyanyi lain menempatkan nada, mengatur napas, dan menyampaikan bagian-bagian tertentu secara lebih meyakinkan.

Tantangan yang dihadapi Kris Dayanti juga tidak terbatas pada pelafalan. Ia perlu memastikan cengkok atau hiasan nada terdengar tepat agar lagu tetap memiliki nuansa yang sesuai. Setiap bagian harus dipelajari dengan saksama, termasuk cara mengakhiri kalimat, menahan nada, dan memberi tekanan pada lirik. Ketepatan teknis tersebut menjadi penting karena kesalahan dalam cengkok dapat mengubah rasa musikal yang hendak disampaikan.

Selain menguasai aspek vokal, Kris Dayanti berusaha memahami arti lirik yang dinyanyikannya. Pemahaman itu diperlukan agar ekspresi yang diberikan tidak terasa kosong dan dapat mengikuti pesan lagu. Dengan mengetahui makna setiap bagian, ia bisa menentukan emosi, penekanan, serta sikap vokal yang lebih tepat. Perjalanan ini menunjukkan bahwa kemampuan membawakan lagu Mandarin memerlukan penguasaan unsur teknis sekaligus pemahaman terhadap makna, sehingga proses belajarnya tetap berlangsung secara menyeluruh hingga saat ini.

Kris Dayanti dijadwalkan tampil sebagai special performance dalam konser “A Tribute to Teresa Teng” yang akan berlangsung pada 28 Oktober 2026. Pertunjukan tersebut digelar di The Ballroom at Plaza Senayan, Jakarta, dengan menghadirkan sejumlah penampil dari latar belakang musik yang beragam. Selain Kris Dayanti, konser ini juga menampilkan Flora Liu from Shanghai dan Putri Ayu.

Kehadiran Kris Dayanti menjadi bagian penting dalam pergelaran yang memberikan penghormatan kepada Teresa Teng, penyanyi legendaris yang dikenal luas melalui karya-karya berbahasa Mandarin. Dalam penampilannya nanti, Kris Dayanti diperkirakan membawakan dua atau tiga lagu Mandarin. Jumlah lagu tersebut tidak mengurangi arti keikutsertaannya, terutama karena ia memiliki pengalaman panjang mempelajari dan menyanyikan lagu Mandarin sejak awal karier.

Kris Dayanti memandang lagu-lagu Teresa Teng tetap mempunyai daya tarik yang kuat, meskipun hanya beberapa karya yang dibawakan dalam sebuah pertunjukan. Menurutnya, kekuatan lagu-lagu tersebut terletak pada melodi yang bagus dan berdaya kuat, sehingga mudah meninggalkan kesan bagi pendengar. Karakter musikal itu juga membuat karya Teresa Teng sesuai untuk berbagai acara, baik pertunjukan penghormatan, pergelaran budaya, maupun hiburan dengan suasana yang lebih luas.

Konser “A Tribute to Teresa Teng” diharapkan menghadirkan pengalaman musikal yang mempertemukan warisan lagu Mandarin dengan interpretasi para penyanyi masa kini. Penonton dapat mulai membeli tiket pada 7 Oktober 2026 untuk menyaksikan penampilan Kris Dayanti, Flora Liu from Shanghai, dan Putri Ayu di The Ballroom at Plaza Senayan, Jakarta, pada 28 Oktober 2026.