Kota Solo | Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, menerima undangan Dhaup Ageng Gusti Sura dan KPH FX Adimas Rosdian. Undangan tersebut disampaikan langsung oleh Gusti Sura bersama calon suaminya saat keduanya berkunjung ke kediaman Jokowi di Solo, Selasa, 20 Oktober 2026. Pertemuan berlangsung sekitar pukul 11.00 WIB, dengan Jokowi menerima kedua tamunya di dalam rumah.
Kedatangan Gusti Sura dan KPH FX Adimas Rosdian menjadi bagian dari rangkaian persiapan menjelang Dhaup Ageng, upacara pernikahan dalam tradisi keluarga Mangkunegaran. Mereka menyerahkan undangan secara langsung kepada Jokowi, bukan sekadar mengirimkannya melalui perantara. Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi kedua calon mempelai untuk menyampaikan undangan kepada mantan presiden itu secara pribadi.
Gusti Sura merupakan putri Mangkunegara IX dan kakak dari Mangkunegara X. Dengan latar belakang keluarga tersebut, Dhaup Ageng yang akan diselenggarakan memiliki kaitan erat dengan tradisi dan kehidupan keluarga Mangkunegaran. Kehadiran calon suaminya, KPH FX Adimas Rosdian, dalam kunjungan itu menandai bahwa undangan disampaikan bersama oleh kedua calon mempelai.
Dalam pertemuan tersebut, Jokowi menerima keduanya di kediamannya di Solo. Informasi mengenai kunjungan itu mencakup waktu kedatangan dan tujuan utama mereka, yakni mengantarkan undangan Dhaup Ageng. Pertemuan berlangsung di dalam rumah, sehingga penyampaian undangan dilakukan secara langsung dalam suasana kunjungan pribadi. Peristiwa ini menjadi salah satu bagian dari persiapan menjelang acara pernikahan Gusti Sura dan KPH FX Adimas Rosdian, sekaligus memperlihatkan cara keluarga menyampaikan undangan kepada tokoh yang ingin mereka hadirkan dalam perayaan tersebut.
Pertemuan Presiden Joko Widodo dan Gusti Sura berlangsung dalam suasana hangat dan berjalan sekitar 20 menit. Waktu tersebut menjadi kesempatan bagi keduanya untuk bertemu dalam rangka penyampaian undangan Dhaup Ageng. Suasana yang terjalin selama pertemuan disebut hangat, sementara durasinya berlangsung sekitar dua puluh menit. Keterangan mengenai pertemuan itu memberi gambaran singkat tentang jalannya agenda, tanpa menguraikan hal-hal lain di luar suasana dan waktu pertemuan. Setelah bertemu, Gusti Sura kemudian berhadapan dengan awak media yang ingin mengetahui tanggapannya, termasuk mengenai persiapan pernikahan. Namun, ia tidak banyak membahas hal tersebut. Sikap itu membuat penjelasan tentang persiapan tetap terbatas, dan tidak disertai uraian lebih jauh mengenai rangkaian acara. Fokus tanggapannya lebih diarahkan pada harapan agar semua proses dapat berlangsung baik serta kondisi seluruh pihak tetap terjaga.
Saat ditanya oleh awak media, Gusti Sura menyampaikan permohonan doa untuk kelancaran rangkaian acara. Ia juga berharap semua pihak senantiasa sehat. Pesan yang disampaikan tetap sederhana dan berpusat pada dua hal tersebut, yakni kelancaran setiap rangkaian dan kesehatan semua pihak yang terlibat. Ia tidak menjabarkan persiapan pernikahan secara terperinci, sehingga tidak ada keterangan tambahan mengenai kesiapan atau agenda yang akan dilaksanakan. Permohonan doa itu menjadi inti tanggapannya setelah pertemuan singkat bersama Jokowi. Dengan demikian, informasi yang disampaikan kepada media mengenai pertemuan ini mencakup durasi sekitar 20 menit, suasana hangat, dan harapan Gusti Sura. Tidak ada penjelasan lain yang perlu ditambahkan untuk menggambarkan jawabannya. Usai menyampaikan harapan tersebut, Gusti Sura berpamitan kepada awak media. Respons yang singkat itu menandai berakhirnya kesempatan media untuk bertanya pada saat tersebut, tanpa disertai pembahasan lebih panjang mengenai persiapan.
Permintaan doa dari Gusti Sura menyampaikan harapan agar seluruh rangkaian acara dapat berjalan lancar dan semua pihak selalu sehat. Ia kemudian berpamitan, sehingga keterangannya kepada awak media berakhir pada harapan tersebut. Dalam penyampaian itu, ia tidak memperluas pembicaraan ke rincian persiapan pernikahan. Karena itu, gambaran mengenai tanggapannya tetap terbatas pada permohonan doa dan pamitnya kepada media. Sementara itu, pertemuan dengan Jokowi berlangsung sekitar 20 menit dalam suasana hangat. Kedua hal itu menjadi pokok informasi mengenai momen tersebut: pertemuan yang singkat dan bersahabat, serta harapan Gusti Sura agar acara berjalan baik dan semua pihak berada dalam keadaan sehat. Keterangan ini mempertahankan inti peristiwa tanpa menambahkan rincian yang tidak disampaikan.
Jokowi menyampaikan bahwa undangan untuk menghadiri Dhaup Ageng Gusti Sura telah diterimanya. Pernyataan tersebut menjawab perhatian terhadap kehadirannya dalam acara pernikahan adat yang menjadi perhatian publik. Dengan menyebut undangan sudah sampai dan diterima, Jokowi memberikan keterangan mengenai komunikasi terkait acara tersebut, tanpa menyatakan bahwa dirinya telah memastikan akan hadir. Karena itu, informasi yang dapat dipastikan dari tanggapannya adalah penerimaan undangan, bukan keputusan final mengenai kehadiran.
Selain menanggapi undangan, Jokowi juga menyampaikan rencana mengenai busana yang akan dikenakannya jika menghadiri acara itu. Ia menyebut beskap atau busana adat Jawa berupa Jawi Jangkep sebagai pilihan yang disiapkan. Keterangan ini menunjukkan bahwa rencana busananya berkaitan dengan nuansa adat Jawa dalam Dhaup Ageng Gusti Sura. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih jauh tentang bentuk atau unsur pakaian tersebut, sehingga informasi itu tidak perlu ditafsirkan melampaui pernyataannya.
Penyebutan beskap atau Jawi Jangkep menjadi bagian dari tanggapan Jokowi atas undangan, tetapi tidak dengan sendirinya berarti kehadirannya sudah dipastikan. Kedua hal tersebut perlu dibedakan: undangan telah diterima, sementara busana disebut sebagai rencana. Dengan demikian, pembaca dapat memahami kabar ini secara proporsional dan tidak menganggap persiapan pakaian sebagai konfirmasi final untuk datang. Keterangan Jokowi sejauh ini terbatas pada penerimaan undangan serta pilihan busana adat Jawa yang ia sampaikan.
Dhaup Ageng Gusti Sura menjadi konteks dari pernyataan tersebut, sementara Jokowi belum menyampaikan kepastian lain mengenai partisipasinya. Sikap hati-hati dalam membaca informasi penting agar kabar tentang rencana tidak berubah menjadi klaim yang lebih tegas daripada keterangan yang tersedia. Untuk saat ini, pokok tanggapannya jelas: undangan telah diterima dan ia menyebut rencana mengenakan beskap atau Jawi Jangkep. Apabila ada informasi lanjutan tentang kehadiran, hal itu perlu merujuk pada keterangan berikutnya, bukan diasumsikan dari penyebutan busana.
Pernikahan Gusti Sura dan KPH FX Adimas Rosdian menjadi hajatan besar bagi Pura Mangkunegaran. Prosesi yang dikenal sebagai Dhaup Ageng ini tidak hanya menandai peristiwa penting bagi kedua mempelai dan keluarga, tetapi juga menghadirkan kesempatan untuk merayakan tradisi Mangkunegaran bersama masyarakat. Seluruh rangkaian dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 3 hingga 7 November 2026, di lingkungan Pura Mangkunegaran.
Selama lima hari tersebut, acara akan diisi prosesi adat yang mengikuti tradisi Mangkunegaran. Rangkaian ini menempatkan tata cara, nilai, dan suasana budaya sebagai bagian penting dari perayaan. Dengan pelaksanaan di kawasan Pura, Dhaup Ageng sekaligus menjadi momen yang memperlihatkan kesinambungan adat dalam lingkungan keluarga Mangkunegaran. Rincian setiap prosesi dapat mengikuti agenda resmi yang disampaikan penyelenggara menjelang hari pelaksanaan.
Resepsi bagi para undangan dijadwalkan berlangsung pada 6 dan 7 November 2026 di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran. Pendapa tersebut menjadi lokasi utama untuk menerima tamu dan menyelenggarakan perayaan bersama kedua mempelai. Dua hari resepsi memberi ruang bagi para tamu untuk menyampaikan ucapan serta ikut menyaksikan salah satu bagian penting dari hajatan keluarga ini. Kehadiran tamu dan suasana pendapa akan menjadi bagian dari perayaan yang menyertai rangkaian adat.
Perayaan juga dirancang agar dapat dirasakan lebih luas oleh warga. Mangkunegaran membuka acara untuk masyarakat melalui pesta rakyat yang dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 8 November 2026 di kawasan Pamedan.





