Jakarta | Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 mencatat nilai transaksi sebesar Rp13,8 miliar dan business matching senilai Rp3,2 triliun selama lima hari penyelenggaraan. Capaian tersebut menunjukkan besarnya aktivitas yang terbangun melalui pertemuan pelaku usaha, lembaga keuangan, pemerintah, dan masyarakat dalam satu rangkaian festival. ISEF tidak hanya menjadi ruang promosi produk dan layanan berbasis syariah, tetapi juga wadah untuk mempertemukan kebutuhan pasar dengan peluang kerja sama. Nilai business matching mencerminkan potensi kemitraan yang dijajaki, sementara transaksi menggambarkan kegiatan perdagangan yang berlangsung selama acara.
Bank Indonesia menyusun rangkaian kegiatan ISEF 2026 dalam tiga tahap yang saling berkaitan. Tahap pertama berfokus pada pembangunan fondasi ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, termasuk penguatan kapasitas serta kesiapan para pelaku. Setelah fondasi dibangun, tahap kedua diarahkan untuk memperluas jejaring melalui kolaborasi, pertemuan bisnis, dan hubungan antarpemangku kepentingan. Tahap ketiga menjadi ruang untuk merayakan gerakan bersama, sekaligus menampilkan perkembangan dan kontribusi berbagai pihak dalam mendorong ekonomi syariah. Susunan ini membuat festival bergerak dari penguatan dasar menuju hubungan yang lebih luas dan partisipasi kolektif.
Rangkaian tersebut sejalan dengan tema ISEF 2026, yaitu akselerasi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah melalui sinergi serta transformasi digital. Sinergi diperlukan agar kebijakan, pembiayaan, industri, dan inisiatif masyarakat dapat saling mendukung. Sementara itu, pemanfaatan teknologi digital berpotensi memperluas akses terhadap produk, layanan, informasi, dan pasar, terutama bagi pelaku usaha yang ingin menjangkau konsumen lebih luas. Dengan menggabungkan kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi, ISEF berupaya memperkuat ekosistem secara bertahap. Capaian transaksi dan business matching menjadi salah satu indikator aktivitas festival, sekaligus memberi gambaran mengenai peluang yang dapat ditindaklanjuti setelah acara berakhir. Kelanjutan kerja sama dan pengembangan kapasitas pelaku akan berperan penting untuk mengubah peluang tersebut menjadi pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Agenda awal ISEF 2026 diarahkan untuk memperkuat fondasi ekosistem halal food sekaligus mendorong tumbuhnya kewirausahaan syariah. Kedua bidang ini memiliki hubungan erat: ketersediaan produk halal yang terpercaya perlu didukung pelaku usaha yang tangguh, inovatif, dan mampu menjangkau pasar lebih luas. Karena itu, rangkaian forum tidak hanya membahas peluang bisnis, tetapi juga membangun pemahaman, kepemimpinan, serta kerja sama yang diperlukan untuk mengembangkan industri secara berkelanjutan.
Forum bisnis menjadi ruang bagi pelaku usaha, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan untuk bertukar gagasan mengenai kebutuhan pasar, pengembangan produk, serta kemitraan. Sementara itu, forum pesantren membuka kesempatan bagi komunitas pesantren untuk memperkuat peran dalam kewirausahaan syariah dan rantai pasok halal. Forum sinergi pusat-daerah melengkapi agenda tersebut dengan membahas koordinasi kebijakan dan program, sehingga inisiatif nasional dapat terhubung dengan potensi serta kebutuhan daerah. Ketiga forum ini memberi tempat bagi lahirnya gagasan praktis dan kepemimpinan kolaboratif.
Pemahaman terhadap industri halal juga diperluas melalui pembahasan mengenai standar, proses, dan peluang pengembangan produk. Perspektif ini dapat membantu pelaku usaha mengenali tuntutan konsumen dan meningkatkan kesiapan memasuki pasar. Di sisi lain, pariwisata ramah muslim menjadi bagian dari perhatian, dengan penekanan pada layanan dan pengalaman perjalanan yang mempertimbangkan kebutuhan wisatawan. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi halal mencakup beragam sektor, bukan hanya makanan dan minuman.
Agenda pemberdayaan komunitas perempuan turut memperluas perhatian terhadap akses, kapasitas, dan partisipasi dalam kegiatan ekonomi. Upaya ini berjalan beriringan dengan perluasan akses pembiayaan dan perdagangan melalui business deals, yang membuka peluang bagi pelaku usaha untuk membangun jejaring dan menjajaki kerja sama. Perhatian khusus juga diberikan kepada generasi muda. Keterlibatan mereka penting untuk membawa keterampilan, gagasan baru, dan daya adaptasi ke dalam ekosistem halal. Dengan ruang belajar serta kemitraan yang tepat, anak muda dapat berperan sebagai pelaku sekaligus pemimpin masa depan, membantu memastikan pertumbuhan ekonomi syariah memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia secara luas.
Menjelang penutupan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, penyelenggara mencatat sekitar 93.000 orang telah mengunjungi rangkaian kegiatan tersebut. Hingga malam sebelum hari penutupan, nilai transaksi yang terhimpun mencapai Rp13,8 miliar, sementara kegiatan business matching membukukan nilai sebesar Rp3,2 triliun. Capaian ini menggambarkan besarnya partisipasi publik sekaligus aktivitas usaha yang terbentuk selama festival berlangsung.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Solikin M. Juhro menjelaskan bahwa angka-angka tersebut belum memasukkan kegiatan pada hari penutupan. Dengan demikian, jumlah pengunjung maupun nilai transaksi berpotensi bertambah setelah seluruh rangkaian acara selesai. Ia menilai capaian ISEF tahun ini meningkat signifikan, baik dari sisi transaksi maupun hasil penjajakan kerja sama bisnis. Pertumbuhan itu juga terlihat dalam pembiayaan serta perdagangan syariah, dua bidang yang menjadi bagian penting dari pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.
Nilai business matching sebesar Rp3,2 triliun menunjukkan besarnya potensi kesepakatan yang dijajaki pelaku usaha melalui pertemuan dan fasilitasi selama ISEF. Sementara itu, transaksi langsung yang mencapai Rp13,8 miliar mencerminkan aktivitas perdagangan yang berlangsung dalam acara. Kedua angka tersebut mengukur bentuk kegiatan yang berbeda, sehingga memberi gambaran yang lebih luas mengenai peran festival dalam mempertemukan konsumen, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan mitra dagang.
Informasi mengenai capaian sementara itu disampaikan dalam acara penutupan ISEF 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, pada Minggu, 18 Oktober 2026. Karena data yang dipaparkan belum mencakup hari terakhir, angka tersebut merupakan catatan menjelang penutupan, bukan hasil akhir seluruh kegiatan. Penjelasan Solikin menegaskan bahwa peningkatan capaian tidak hanya tercermin pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada aktivitas pembiayaan dan perdagangan syariah yang berkembang melalui festival tersebut.
Dalam pesan Solikin, tahap perayaan ISEF 2026 tidak semata-mata menjadi penanda berakhirnya sebuah acara atau keberhasilan menghimpun transaksi. Momen tersebut juga perlu menguatkan gerakan bersama agar ekonomi syariah terus berkembang dan manfaatnya menjangkau lebih banyak pihak. Pertumbuhan, menurutnya, harus membuka ruang partisipasi yang luas, tanpa meninggalkan komunitas, pelaku usaha kecil, maupun kelompok masyarakat mana pun.
Upaya itu memerlukan hubungan yang saling melengkapi pembiayaan syariah dan keuangan sosial syariah. Pembiayaan dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan produktif, sedangkan instrumen sosial berperan dalam pemberdayaan yang berkelanjutan. Jika keduanya terhubung secara tepat, dukungan dapat memperkuat UMKM, mendorong penciptaan lapangan kerja, serta mengembangkan rantai nilai halal dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka transaksi, tetapi juga dalam kesempatan dan kapasitas masyarakat untuk berkembang.
Solikin juga mendorong seluruh unsur terkait untuk bergerak dalam satu ekosistem. Pemerintah, otoritas keuangan, industri, pesantren, akademisi, dan masyarakat memiliki peran yang berbeda, tetapi dapat saling mendukung melalui kolaborasi dan program yang berkesinambungan. Keterpaduan tersebut penting agar kebijakan, pembiayaan, pendidikan, dan kebutuhan pelaku usaha bertemu dalam langkah yang nyata. Agenda ekonomi syariah, lanjutnya, perlu selaras dengan arah pembangunan nasional dalam RPJPN 2045 dan RPJMN 2025–2029, sekaligus terhubung dengan perencanaan daerah. Keselarasan ini dapat membantu memastikan inisiatif di tingkat pusat dan daerah memiliki tujuan yang sejalan serta memberi manfaat yang lebih merata.
Dalam kesempatan itu, Solikin menyampaikan terima kasih kepada KNEKS, kementerian dan lembaga terkait, OJK, BPKH, serta para santri yang turut mendukung penyelenggaraan dan pengembangan agenda ISEF. Ia berharap ISEF tidak berhenti sebagai ruang pertemuan dan promosi, melainkan menjadi pijakan menuju perubahan nyata bagi dunia usaha dan masyarakat luas.





