Jakarta | Greenpeace Indonesia menyampaikan kritik terhadap krisis iklim dan tekanan biaya hidup melalui aksi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Dalam aksi tersebut, aktivis membentangkan spanduk raksasa di atas Patung Selamat Datang, salah satu penanda utama ibu kota. Letaknya yang berada di ruang publik strategis membuat pesan pada spanduk dapat terlihat oleh masyarakat yang melintas dan menjadi perhatian di tengah aktivitas kota.
Spanduk itu memuat dua pesan utama. Pesan pertama menyerukan agar krisis iklim ditangani sekaligus biaya hidup diturunkan. Seruan tersebut menempatkan persoalan lingkungan dan kesejahteraan sehari-hari dalam satu rangkaian: perubahan iklim memengaruhi kondisi hidup, sementara kebutuhan dasar yang semakin mahal menambah beban yang dirasakan masyarakat. Dengan menggabungkan kedua isu, Greenpeace menyoroti perlunya perhatian terhadap dampak krisis iklim dan kesulitan ekonomi secara bersamaan.
Pesan kedua berbunyi, “Bencana makin parah, hidup makin susah.” Kalimat singkat itu menghubungkan memburuknya bencana dengan semakin beratnya kehidupan masyarakat. Bencana yang kian parah menjadi penanda risiko iklim yang meningkat, sedangkan ungkapan tentang hidup yang makin sulit menggambarkan tekanan yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari. Susunan kata tersebut membuat kritik organisasi mudah dipahami tanpa memisahkan persoalan lingkungan dari dampak sosial dan ekonomi.
Melalui aksi ini, Greenpeace Indonesia mengkritik penanganan krisis iklim dan situasi biaya hidup yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih besar. Pesan pada spanduk tidak hanya menyoroti ancaman bencana, tetapi juga mengingatkan bahwa dampaknya berhubungan dengan kemampuan masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Aksi di Bundaran HI menjadi cara organisasi menyampaikan pandangan itu secara terbuka di ruang kota dan mengundang publik untuk memperhatikan kaitan krisis iklim, bencana, serta tekanan biaya hidup. Fokus pesannya terletak pada kebutuhan untuk menanggapi dua masalah tersebut bersama-sama, tanpa mengabaikan keadaan yang semakin sulit dirasakan masyarakat.
Pada Selasa, 20 Oktober 2026, spanduk kritik iklim di Bundaran HI dicopot. Peristiwa itu berlangsung setelah spanduk dibentangkan, dengan rentang waktu yang disebut tidak lama. Setelah spanduk terlihat terbentang, petugas gabungan berada di sekitar kolam Bundaran HI. Kehadiran mereka di lokasi beriringan dengan langkah untuk menurunkan spanduk dan mengevakuasi para aktivis. Urutan kejadian tersebut menempatkan pembentangan sebagai awal, disusul kedatangan petugas, lalu proses penurunan dan evakuasi. Tidak ada keterangan tambahan mengenai alasan pencopotan dalam uraian ini, sehingga rangkaian peristiwa dapat disampaikan berdasarkan waktu serta tindakan yang disebutkan saja.
Petugas gabungan yang berada di sekitar kolam terdiri atas personel Polri, TNI Angkatan Darat, pemadam kebakaran, dan petugas lainnya. Mereka bergerak setelah spanduk dibentangkan, kemudian melakukan penurunan spanduk sekaligus mengevakuasi para aktivis dari lokasi. Informasi yang tersedia tidak merinci identitas masing-masing petugas, pembagian tugas, maupun jumlah personel yang terlibat. Karena itu, penyebutan pihak yang hadir dibatasi pada unsur-unsur tersebut. Penurunan spanduk dan evakuasi berlangsung sebagai bagian dari urutan kejadian yang sama, tidak lama setelah spanduk dibentangkan di kawasan Bundaran HI pada hari Selasa itu.
Dengan demikian, inti peristiwa di Bundaran HI pada 20 Oktober 2026 adalah pencopotan spanduk kritik iklim setelah dibentangkan, disusul tindakan petugas gabungan di sekitar kolam. Petugas dari unsur Polri, TNI Angkatan Darat, pemadam kebakaran, serta petugas lainnya berada di sana untuk menurunkan spanduk dan mengevakuasi aktivis. Penyampaian kronologi ini tidak menetapkan alasan resmi pencopotan ataupun menambahkan identitas petugas yang tidak disebutkan. Yang dapat ditegaskan dari keterangan tersebut ialah urutannya: spanduk dibentangkan, petugas gabungan hadir tidak lama kemudian, lalu spanduk diturunkan dan para aktivis dievakuasi. Rangkaian singkat ini menggambarkan tindakan yang terjadi pada hari itu tanpa melampaui rincian yang tersedia.
Proses evakuasi aktivis dari monumen di Bundaran HI dilakukan secara bergantian. Mereka tidak diturunkan sekaligus, melainkan satu per satu, sehingga setiap aktivis menjalani tahapan penurunan secara terpisah. Dalam proses tersebut, masing-masing membawa spanduk kecil. Spanduk itu tetap menjadi bagian dari rangkaian penurunan, sebagaimana terlihat ketika para aktivis dibawa turun dari posisi mereka di monumen. Urutan bergantian tersebut menjadi rincian utama dalam proses evakuasi yang berlangsung setelah aksi kritik iklim di lokasi itu.
Setelah seorang aktivis selesai diturunkan dan mencapai permukaan, proses berlanjut pada aktivis berikutnya. Dengan demikian, para aktivis dibawa turun secara bertahap, bukan dalam satu waktu. Spanduk kecil turut dibawa saat masing-masing aktivis menjalani proses tersebut. Rincian ini menggambarkan urutan yang tersedia: penurunan dilakukan bergiliran, setiap orang membawa spanduk kecil, kemudian mereka mencapai area di bawah monumen. Tidak ada rincian lain mengenai teknik penurunan atau peralatan yang digunakan dalam informasi yang tersedia, sehingga prosesnya dapat dijelaskan sebatas urutan tersebut.
Sesudah berada di bawah, para aktivis dibawa menggunakan ambulans menuju Dokkes Polda Metro Jaya. Perpindahan itu merupakan tahap setelah proses penurunan dari monumen, dan tujuan yang disebutkan adalah Dokkes Polda Metro Jaya. Dengan begitu, rangkaian yang dapat dipastikan terdiri atas penurunan aktivis secara bergantian sambil membawa spanduk kecil, disusul pengangkutan menggunakan ambulans. Informasi yang tersedia tidak merinci kondisi kesehatan mereka, alasan pemeriksaan, status hukum, ataupun tindakan lanjutan setelah tiba di tujuan. Karena itu, uraian mengenai evakuasi ini terbatas pada proses dan tujuan pengangkutan yang telah disebutkan, tanpa menambahkan kesimpulan di luar keterangan tersebut.
Pada Selasa, 20 Oktober 2026, sebuah aksi Greenpeace Indonesia berlangsung di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Di ruang publik tersebut, para aktivis membentangkan spanduk sebagai sarana menyampaikan kritik mengenai krisis iklim dan biaya hidup. Kedua isu itu menjadi pesan utama yang dibawa dalam aksi, sehingga kegiatan tersebut menghubungkan persoalan lingkungan dengan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Lokasi dan tanggal tersebut menjadi penanda penting dalam kronologi peristiwa, sementara informasi yang tersedia tidak menyebutkan jam dimulainya aksi secara terperinci.
Pembentangan spanduk menjadi bagian yang terlihat dari kegiatan para aktivis di kawasan Bundaran HI. Aksi itu kemudian berlangsung dengan kehadiran petugas di lokasi. Urutan peristiwa yang dapat dipastikan menunjukkan bahwa petugas berada di sekitar kegiatan dan aktivis pada akhirnya dievakuasi. Namun, rincian tentang jumlah petugas, identitas atau instansi mereka, cara evakuasi dilakukan, serta alasan resmi di balik langkah tersebut tidak tercantum dalam informasi yang menjadi dasar uraian ini. Karena itu, kronologi ini membatasi diri pada rangkaian kejadian yang disebutkan, tanpa menambahkan dugaan mengenai proses maupun pihak yang mengambil keputusan.
Secara berurutan, peristiwa tersebut mencakup berlangsungnya aksi Greenpeace Indonesia di Bundaran HI, pembentangan spanduk berisi kritik tentang krisis iklim dan biaya hidup, kehadiran petugas, lalu evakuasi para aktivis. Seluruh rangkaian itu terjadi pada Selasa, 20 Oktober 2026, di Jakarta Pusat. Informasi yang tersedia tidak merinci berapa lama spanduk dibentangkan atau kapan tepatnya evakuasi berlangsung. Dengan demikian, catatan faktual mengenai kejadian ini menempatkan pesan aksi, lokasi, waktu, kehadiran petugas, dan evakuasi sebagai unsur kronologi, tanpa menyimpulkan dampaknya ataupun mengatasnamakan tanggapan pihak mana pun.
Baca juga: Akses Darat Terhambat, Pangkoops TNI Habema Perintahkan Evakuasi Udara Ibu Sinta dari Mbua





