Jakarta | Masuknya produk pipa seamless impor dalam jumlah besar semakin membayangi produsen dalam negeri. Produk yang ditawarkan di pasar domestik menambah tekanan persaingan, terutama ketika perusahaan lokal harus mempertahankan kapasitas produksi, menjaga mutu, dan menawarkan harga yang kompetitif. Situasi ini menjadi perhatian karena pipa seamless dibutuhkan di berbagai sektor industri, termasuk energi, konstruksi, dan manufaktur. Ketika pasokan impor memperoleh ruang pasar yang luas, produsen nasional berisiko menghadapi kesulitan menjual hasil produksinya secara berkelanjutan.
Tekanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persaingan harga. Perusahaan lokal juga perlu menanggung biaya operasional, pembelian bahan baku, pemeliharaan fasilitas, serta kebutuhan investasi agar produknya memenuhi spesifikasi pelanggan. Jika permintaan terhadap produk domestik melemah sementara persaingan dari barang impor terus meningkat, kemampuan perusahaan untuk menjaga kegiatan produksi dapat ikut terpengaruh. Produsen mengkhawatirkan kondisi pasar yang tidak seimbang dapat menghambat pemanfaatan kapasitas pabrik dan mempersempit peluang usaha bagi industri pipa nasional.
Kekhawatiran utama muncul apabila tekanan berlangsung dalam jangka panjang. Dalam skenario tersebut, perusahaan lokal dapat semakin sulit mempertahankan operasional dan, pada akhirnya, berisiko gulung tikar. Dampaknya berpotensi meluas kepada tenaga kerja: ribuan pekerja yang bergantung pada kegiatan produksi pipa seamless dapat menghadapi risiko kehilangan pekerjaan melalui pemutusan hubungan kerja. Namun, hal itu merupakan kekhawatiran mengenai kemungkinan yang dapat terjadi, bukan keterangan bahwa kebangkrutan perusahaan atau PHK telah berlangsung. Karena itu, perkembangan arus impor dan kondisi persaingan di pasar domestik menjadi penting untuk dicermati. Keberlangsungan produsen lokal berkaitan dengan kemampuan industri nasional memenuhi kebutuhan pasar sekaligus mempertahankan lapangan kerja dan keahlian yang telah tumbuh di dalam negeri.
Direktur PT Indo Sino Internasional, Michael Johan Gary, meminta pemerintah menghentikan fasilitas masterlist yang memberikan pembebasan bea masuk serta kuota impor pipa seamless kepada perusahaan pengulir dan heat treatment processor. Menurutnya, kebijakan tersebut perlu ditinjau karena berpengaruh terhadap daya saing produsen pipa nasional di pasar domestik. Fasilitas impor yang tersedia bagi pelaku usaha tertentu dinilai dapat menekan kesempatan produsen dalam negeri untuk memasok kebutuhan industri, meskipun kapasitas produksi nasional disebut mampu memenuhi permintaan tersebut.
Michael berpandangan bahwa kebutuhan pipa seamless di Indonesia sebenarnya dapat dipenuhi oleh produsen nasional. Karena itu, ia mendorong pemerintah mengutamakan kemampuan industri dalam negeri dan mengevaluasi fasilitas yang memungkinkan impor dengan pembebasan bea masuk maupun kuota khusus. Permintaan itu diarahkan pada fasilitas bagi perusahaan pengulir dan heat treatment processor, bukan semata-mata pada aktivitas perdagangan impor secara umum. Menurut pandangannya, kebijakan yang memberi ruang lebih besar bagi pasokan lokal dapat membantu menjaga keberlangsungan produsen nasional dan mengurangi tekanan akibat masuknya produk impor.
Ia juga memperingatkan dampak yang berpotensi muncul apabila kondisi tersebut terus berlangsung. Michael menyebut produsen nasional menghadapi ancaman kebangkrutan dan risiko pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan karyawan. Selain itu, ia mengingatkan kemungkinan timbulnya kredit macet di perbankan nasional apabila perusahaan mengalami kesulitan memenuhi kewajiban keuangannya. Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (5/11/2026). Kekhawatiran yang disampaikan Michael menempatkan isu fasilitas masterlist dan kuota impor sebagai persoalan yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha, tenaga kerja, serta risiko pembiayaan. Ia meminta pemerintah mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap industri pipa dalam negeri dan menilai kembali apakah fasilitas tersebut masih diperlukan ketika produsen nasional dinilai mampu menyediakan pipa seamless untuk kebutuhan pasar domestik.
Michael menilai pemberian fasilitas impor bagi industri pelengkap perlu dipertimbangkan secara cermat, terutama apabila barang yang didatangkan dari luar negeri telah tersedia dan sebenarnya dapat diproduksi oleh manufaktur nasional. Dalam kondisi tersebut, kemudahan impor berisiko tidak lagi sekadar mengisi kekosongan pasokan, tetapi juga bersaing langsung dengan produk buatan dalam negeri. Menurutnya, kebijakan fasilitas sebaiknya memperhatikan kemampuan industri lokal, ketersediaan produk, serta tujuan penguatan rantai pasok nasional. Jika kebutuhan pengguna industri dapat dipenuhi produsen domestik dengan mutu dan spesifikasi yang sesuai, pemberian fasilitas untuk memasukkan barang sejenis dari luar negeri dapat mengurangi ruang pasar bagi perusahaan nasional. Penilaian ini bukan berarti setiap impor harus dihentikan, melainkan menunjukkan perlunya menilai dampaknya sebelum fasilitas diberikan.
Salah satu risiko yang dikhawatirkan ialah daya saing produsen lokal dapat tertekan. Barang impor yang memperoleh kemudahan tertentu mungkin menghadirkan pilihan pasokan dengan kondisi yang lebih menarik bagi pembeli, sehingga produsen dalam negeri berpotensi menghadapi persaingan yang semakin berat. Tekanan tersebut dapat memengaruhi kemampuan perusahaan menjaga penjualan dan merencanakan produksi. Jika permintaan beralih kepada produk impor, pemanfaatan kapasitas pabrik nasional juga berisiko menurun. Mesin, tenaga kerja, dan fasilitas produksi yang tersedia mungkin tidak digunakan secara optimal, meskipun kemampuan untuk menghasilkan barang tersebut telah dimiliki di dalam negeri. Dampak ini tetap berupa kemungkinan yang perlu diperhitungkan, bukan kepastian bahwa fasilitas impor akan langsung menurunkan produksi atau menyebabkan perusahaan mengurangi tenaga kerja.
Michael juga mengkhawatirkan dampak kebijakan semacam itu terhadap investasi di sektor pipa seamless. Keputusan investasi umumnya bergantung pada prospek permintaan, kepastian pasar, dan peluang bagi produsen untuk memanfaatkan kapasitas yang telah dibangun. Apabila pasar domestik diperkirakan lebih banyak dipenuhi barang impor, pelaku usaha dapat menjadi lebih berhati-hati dalam menambah kapasitas, memperbarui teknologi, atau mengembangkan fasilitas produksi. Dalam jangka lebih panjang, kehati-hatian tersebut berpotensi menghambat rencana investasi dan penguatan kemampuan manufaktur nasional. Karena itu, evaluasi fasilitas impor dinilai penting agar kebutuhan industri pelengkap tetap terpenuhi tanpa mengabaikan potensi pasokan dalam negeri. Pertimbangan yang seimbang dapat membantu menjaga persaingan yang wajar serta memberikan kepastian bagi pengguna maupun produsen lokal.
Michael menilai pemerintah tidak perlu menerbitkan kebijakan baru untuk menangani persoalan impor pipa seamless yang dinilai menekan industri nasional. Menurutnya, rujukan kebijakan terkait perlakuan atas barang untuk kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi telah tersedia. Karena itu, pembahasan persoalan ini dapat merujuk pada ketentuan yang sudah ada, tanpa harus terlebih dahulu membentuk aturan baru.
Peraturan yang dimaksud adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 217/PMK.04/2019. Ketentuan tersebut mengatur pembebasan bea masuk dan tidak dipungutnya pajak dalam rangka impor atas barang untuk kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi. Michael menyebut regulasi itu sebagai acuan dalam melihat kebijakan impor barang yang digunakan untuk kegiatan di sektor hulu migas.
Dengan mengacu pada peraturan tersebut, perhatian pemerintah, menurut Michael, tidak harus diarahkan pada penerbitan kebijakan tambahan. Ia menilai persoalan yang muncul dapat dibahas dengan merujuk pada aturan yang telah berlaku. Pandangan ini menempatkan PMK Nomor 217/PMK.04/2019 sebagai dasar rujukan yang perlu diperhatikan dalam pembahasan, terutama ketika kebijakan impor berkaitan dengan barang untuk kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.
Rujukan pada aturan yang sudah ada juga menjadi bagian dari perdebatan mengenai dampak impor pipa seamless terhadap produsen dalam negeri. Di satu sisi, terdapat kekhawatiran bahwa masuknya produk impor dapat memberi tekanan pada industri nasional dan berujung pada pengurangan tenaga kerja. Di sisi lain, Michael menekankan bahwa pemerintah telah memiliki ketentuan yang dapat menjadi acuan untuk persoalan barang bagi kegiatan hulu migas.
Pernyataan tersebut tidak menambahkan tafsir mengenai cakupan, tata cara, ataupun penerapan lebih lanjut dari peraturan itu.
Baca juga: Kadin Dorong Pengendalian Impor Selektif untuk Memperkuat Industri Nasional | Kadin Minta Perlindungan Industri Nasional Diperkuat secara Selektif | Pasokan Minyak Nasional Terganggu, Pemerintah Beralih dari Tender Impor BBM
144 kunjungan

