Kabupaten Batang | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 10 kejadian bencana baru pada Rabu, 4 November 2026. Penambahan itu membuat jumlah bencana yang tercatat sepanjang tahun hingga tanggal tersebut mencapai 2.295 kejadian. Sehari sebelumnya, Selasa, 3 November, total yang dilaporkan masih 2.285 kejadian. Dengan demikian, catatan harian terbaru menunjukkan kenaikan sebanyak 10 kejadian dalam rentang satu hari. Sebagian besar bencana yang masuk dalam pembaruan ini merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang terjadi di enam kabupaten atau wilayah berbeda. Rincian perkembangan harian tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam sebuah konferensi pers. Penyampaian data itu memberi gambaran mengenai jenis dan sebaran kejadian yang tercatat pada hari tersebut, sekaligus memperbarui jumlah akumulatif bencana nasional sepanjang 2026. Angka ini merujuk pada kejadian yang masuk dalam pendataan BNPB, bukan perkiraan untuk hari-hari berikutnya.
Dari 10 kejadian baru, enam di antaranya adalah karhutla. Kebakaran tersebut dilaporkan di Kabupaten Batang dan Sragen di Jawa Tengah, Kabupaten Luwu di Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Konawe Kepulauan di Sulawesi Tenggara. Dua lokasi lainnya ialah Kabupaten Pulau Taliabu di Maluku Utara dan Kabupaten Jayawijaya di Papua Pegunungan. Enam laporan karhutla itu menjadikan kebakaran hutan dan lahan sebagai jenis bencana yang paling banyak muncul dalam pembaruan harian BNPB tersebut. Selain karhutla, BNPB mencatat dua kejadian cuaca ekstrem, masing-masing di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Satu kejadian banjir dilaporkan di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, sedangkan satu kejadian tanah longsor tercatat di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Secara keseluruhan, komposisi laporan terdiri atas enam karhutla, dua cuaca ekstrem, satu banjir, dan satu tanah longsor. Seluruhnya menambah angka kejadian tahunan dari 2.285 pada 3 November menjadi 2.295 pada 4 November 2026. Data tersebut menjadi pembaruan situasi kebencanaan yang disampaikan BNPB berdasarkan laporan kejadian pada tanggal itu. Rincian lokasi menunjukkan sebaran bencana baru melintasi sejumlah provinsi, dengan konsentrasi terbesar pada laporan karhutla.
BNPB memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan di 10 provinsi pada 4 November. Dari pemantauan tersebut, enam provinsi menjadi perhatian khusus karena menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari perubahan jumlah titik panas atau hotspot maupun luasan lahan yang masih dalam penanganan. Secara keseluruhan, wilayah-wilayah yang menjadi perhatian itu mencatat 864 titik api, sementara luas lahan yang ditangani mencapai 1.615 hektare. Data ini menggambarkan bahwa upaya pemantauan dan penanganan masih diperlukan di sejumlah daerah.
Berton menyebut Kalimantan Tengah mengalami kenaikan jumlah hotspot sebesar 50 persen, sehingga totalnya mencapai 425 titik. Di provinsi tersebut, petugas menangani kebakaran pada lahan seluas 664 hektare. Angka itu menjadikan Kalimantan Tengah salah satu wilayah dengan jumlah titik api dan luasan penanganan yang menonjol dalam pemantauan kali ini. Perubahan jumlah hotspot menjadi salah satu indikator yang dicermati dalam melihat perkembangan kebakaran, meskipun kondisi lapangan juga perlu dinilai melalui penanganan langsung.
Di Sumatera Selatan, jumlah hotspot tercatat 60 titik atau meningkat 186 persen. Luas lahan yang ditangani di provinsi ini mencapai 105 hektare. Sementara itu, Jambi mencatat 150 hotspot, dengan kenaikan sebesar 134 persen, dan penanganan kebakaran pada lahan seluas 403 hektare. Data dari ketiga provinsi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan titik api berbeda-beda, begitu pula luasan yang ditangani. Kenaikan persentase perlu dibaca bersama jumlah hotspot dan luas lahan agar gambaran situasi tidak hanya bertumpu pada satu indikator.
Perkembangan di Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Timur menunjukkan variasi berupa penurunan jumlah hotspot. Meski demikian, penurunan titik api tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan untuk memantau kondisi lahan dan memastikan penanganan berlangsung. Di Kalimantan Timur, luas lahan terbakar yang tercatat mencapai 182 hektare. BNPB terus memantau situasi di provinsi-provinsi tersebut sebagai bagian dari pengawasan terhadap 10 wilayah. Perbandingan data hotspot dan luas penanganan membantu menggambarkan perubahan, sekaligus menunjukkan bahwa tingkat perhatian dapat berbeda antarwilayah.
BNPB merespons peningkatan titik api dan luas lahan yang sedang ditangani dengan mengingatkan pentingnya perhatian pemerintah daerah terhadap perkembangan karhutla. Dalam kondisi ketika hotspot bertambah dan area terdampak perlu ditangani, perubahan situasi menjadi hal yang perlu dicermati. Imbauan tersebut menekankan bahwa perkembangan titik panas dan penanganan lahan perlu menjadi perhatian khusus pemerintah daerah. Informasi mengenai kondisi dan luasan lahan yang sedang ditangani tidak boleh diabaikan dalam merespons kebakaran hutan dan lahan. BNPB meminta pemerintah daerah tetap memperhatikan situasi secara serius, terutama saat titik api meningkat dan penanganan lahan masih berlangsung. Arahan ini menjadi pengingat agar perkembangan kejadian terus dicermati.
Berton mengimbau pemerintah daerah memberi perhatian khusus pada perkembangan hotspot serta kondisi lahan yang sedang ditangani. Perhatian itu diperlukan agar pemerintah daerah mengetahui perubahan situasi dan tidak kehilangan pandangan terhadap luas area yang memerlukan penanganan. Pesan tersebut berfokus pada pemantauan perkembangan titik api dan upaya menangani lahan terdampak, tanpa mengabaikan kondisi yang sedang berlangsung. Ketika titik panas dan luasan penanganan menjadi perhatian, pemerintah daerah diminta mencermati informasi yang tersedia dan mengikuti perkembangannya. Imbauan Berton juga menegaskan pentingnya keseriusan dalam melihat situasi karhutla di daerah masing-masing. Perhatian khusus ini berkaitan langsung dengan perkembangan hotspot dan lahan yang sedang ditangani, sebagaimana menjadi pokok respons BNPB.
Berton mendorong agar langkah penanganan diupayakan secara maksimal selagi situasi masih dapat ditangani. Imbauan tersebut menempatkan waktu dan perkembangan keadaan sebagai hal penting: upaya perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh selama kondisi masih memungkinkan untuk ditangani. Pemerintah daerah diharapkan tidak menunggu tanpa mencermati perubahan titik api maupun luas lahan yang sedang ditangani. Pesan ini bukan penetapan kebijakan baru, melainkan penegasan mengenai perhatian dan upaya maksimal yang diminta dalam menghadapi perkembangan karhutla. Dengan terus mencermati hotspot dan penanganan lahan, pemerintah daerah dapat memahami situasi yang sedang dihadapi. BNPB melalui imbauan Berton menekankan agar perkembangan itu mendapat perhatian khusus, sementara upaya penanganan dijalankan semaksimal mungkin selama keadaan masih dapat ditangani.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 4 November 2026 menunjukkan bencana sepanjang tahun didominasi kejadian hidrometeorologi. Jenis ini mencakup 99,21 persen dari seluruh bencana yang tercatat, sedangkan bencana geologi menyumbang 0,79 persen. Dengan demikian, karhutla menjadi kategori kejadian terbanyak, meskipun bencana lain juga menimbulkan dampak luas terhadap masyarakat dan infrastruktur.
BNPB mencatat 1.063 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berikutnya terdapat 611 banjir dan 351 kejadian cuaca ekstrem. Kekeringan tercatat sebanyak 125 kejadian, sementara tanah longsor mencapai 113 kejadian. Selain itu, terjadi 14 gelombang pasang atau abrasi. Rangkaian data tersebut memperlihatkan besarnya porsi bahaya yang berkaitan dengan kondisi cuaca, air, dan lingkungan sepanjang periode pelaporan.
Untuk bencana geologi, laporan mencatat 14 gempa bumi dan empat erupsi gunung api. Tidak ada tsunami yang tercatat. Walaupun jumlah kejadian geologi jauh lebih kecil dibandingkan bencana hidrometeorologi, gempa dan erupsi tetap memerlukan kesiapsiagaan karena dapat berdampak langsung pada keselamatan warga serta kegiatan di wilayah terdampak.
Dampak kumulatif bencana hingga tanggal tersebut mencakup 427 orang meninggal dunia, 21 orang hilang, dan 3.260 orang luka-luka.
Baca juga: Distribusi Terganggu El Nino, Antrean Pertalite Terjadi di Sejumlah Daerah | Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Bertahan di Tengah Kepulan Asap dan Honor Tertunda | Transkripsi ini berisi percakapan awak di lokomotif KA Anggrek dengan PPKP timur sebelum dan setelah tabrakan terjadi
22 kunjungan