Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi pertama pada Senin, 26 Oktober 2026, di zona merah. Indeks ditutup pada level 5.384,97, turun 52,28 poin atau setara dengan pelemahan 1 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pada indeks secara keseluruhan berlangsung meskipun sejumlah saham individual mencatat kenaikan.
Selama sesi I, IHSG bergerak dalam rentang 5.349 hingga 5.453. Dengan demikian, terdapat jarak 104 poin level terendah dan tertinggi yang tercatat sepanjang perdagangan pagi. Indeks sempat berada di level yang lebih tinggi sebelum penutupan, tetapi akhirnya mengakhiri sesi di bawah posisi pembukaan dan turun dari penutupan sebelumnya. Rentang itu menggambarkan perubahan indeks yang terjadi dari waktu ke waktu selama sesi, bukan hanya perbandingan pada saat penutupan.
Pelemahan IHSG pada perdagangan pagi tidak berarti seluruh saham bergerak turun. Sejumlah saham justru menguat, bahkan lima saham mencatat kenaikan lebih dari 17 persen. Kondisi ini memperlihatkan adanya perbedaan arah pergerakan antar saham pada hari yang sama: indeks acuan melemah, sementara beberapa emiten membukukan penguatan tajam. Kinerja saham-saham tersebut menjadi kontras terhadap penurunan indeks secara agregat.
Pergerakan indeks dan perubahan harga saham individual perlu dibaca sebagai dua gambaran yang saling melengkapi. IHSG merangkum kinerja saham-saham yang tercakup di dalamnya, sehingga penurunan indeks dapat terjadi bersamaan dengan kenaikan pada sebagian saham. Data sesi pertama ini mencatat posisi penutupan, besaran perubahan, serta batas pergerakan IHSG, tanpa dengan sendirinya menjelaskan faktor yang mendasari perubahan tersebut. Informasi mengenai lima saham yang naik lebih dari 17 persen menunjukkan bahwa peluang penguatan tetap terlihat pada sejumlah emiten, meski arah indeks pasar secara umum masih melemah hingga jeda siang.
Pada sesi I perdagangan, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat cukup ramai meski pergerakan pasar didominasi tekanan jual. Volume perdagangan mencapai 18,57 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,59 triliun. Sepanjang sesi tersebut, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1.143.355 kali. Angka-angka ini menggambarkan tingginya aktivitas investor di tengah pelemahan indeks dan mayoritas saham yang bergerak turun. Dengan demikian, ramainya transaksi tidak serta-merta mencerminkan penguatan pasar secara luas, karena tekanan masih menjangkau banyak emiten.
Sebaran pergerakan saham menunjukkan ketimpangan yang jelas saham yang melemah dan yang menguat. Sebanyak 474 saham berakhir turun, sedangkan 189 saham menguat dan 129 saham stagnan. Jumlah saham yang melemah lebih dari dua kali lipat dibandingkan saham yang naik, memperlihatkan bahwa tekanan jual tersebar luas pada perdagangan sesi pertama. Saham-saham yang stagnan menjadi bagian yang lebih kecil dari keseluruhan pergerakan. Kondisi ini sejalan dengan pelemahan indeks utama, sekaligus menunjukkan bahwa penguatan pada sejumlah saham belum cukup untuk menyeimbangkan penurunan di pasar secara keseluruhan.
Indeks LQ45 turut berada di zona merah dengan penurunan 0,95 persen. Tidak satu pun sektor saham yang disebutkan mencatat penguatan; seluruh sektor berakhir melemah pada penutupan sesi I. Penurunan terdalam terjadi pada sektor teknologi, yang terkoreksi 2,21 persen. Berikutnya, sektor infrastruktur turun 1,6 persen, disusul sektor kesehatan yang melemah 1,22 persen. Sektor perindustrian terkoreksi 1,2 persen, sementara sektor transportasi turun 1,18 persen. Pelemahan lintas sektor tersebut menegaskan luasnya tekanan pasar, bukan hanya penurunan yang terpusat pada satu kelompok saham. Perkembangan ini menjadi konteks bagi investor dalam menilai arah perdagangan, terutama karena mayoritas saham dan seluruh sektor bergerak negatif selama sesi pertama.
Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I, sejumlah saham bergerak berlawanan arah dengan indeks. Lima saham mencatat kenaikan harga terbesar dalam daftar yang dibahas, dengan penguatan masing-masing melampaui 17 persen. PT Andira Agro Tbk (ANDI) berada di posisi teratas, disusul BTEK, PGLI, SEMA, dan KONI. Rincian perubahan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan tertinggi pada kelompok ini mencapai 21,43 persen, sedangkan yang terendah sebesar 17,56 persen.
ANDI memimpin daftar setelah harga sahamnya naik 21,43 persen menjadi Rp 34 per saham. Posisi berikutnya ditempati PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk dengan kode BTEK, yang menguat 18,18 persen ke Rp 13 per saham. Selanjutnya, PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI) naik 17,81 persen, sehingga harganya berada di Rp 344 per saham.
Di urutan berikutnya, PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) mencatat kenaikan 17,65 persen ke Rp 440 per saham. Sementara itu, PT Perdana Bangun Pusaka Tbk dengan kode KONI menutup daftar lima saham tersebut. Harga KONI menguat 17,56 persen menjadi Rp 1.975 per saham. Seluruh angka ini merujuk pada pergerakan yang tercatat pada sesi I.
Dengan demikian, ANDI mencatat persentase penguatan tertinggi di kelima saham, sementara KONI berada pada urutan kelima berdasarkan besaran kenaikan. Perbedaan persentase posisi pertama dan terakhir dalam daftar tersebut adalah 3,87 poin persentase. Harga masing-masing saham juga berada pada tingkat yang berbeda, mulai dari Rp 13 untuk BTEK hingga Rp 1.975 untuk KONI. Penyajian persentase dan harga ini memberikan gambaran ringkas mengenai saham-saham yang menguat ketika IHSG melemah pada sesi perdagangan tersebut. Daftar ini terbatas pada lima saham dengan kenaikan terbesar yang disebutkan, tanpa menguraikan faktor di balik pergerakan harganya. Investor dapat mencermati informasi harga dan persentase perubahan sebagai data perdagangan sesi I, dengan mempertimbangkan bahwa angka dapat berubah pada sesi berikutnya.
Di tengah pergerakan IHSG pada sesi pertama, tekanan jual terlihat pada sejumlah saham yang masuk daftar top losers. Sebanyak 13 saham menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), yaitu batas penurunan harga yang berlaku dalam perdagangan saham. Kondisi tersebut menempatkan saham-saham itu di pencatat pelemahan terbesar pada sesi tersebut. Namun, data yang tersedia hanya memberikan rincian untuk beberapa emiten, sehingga daftar lengkap dan perubahan harga seluruh saham yang mencapai ARB tidak dapat dipastikan dari informasi ini.
Salah satu saham yang melemah adalah PT Bank Permata Tbk (BNLI). Saham BNLI turun 6,96 persen dan diperdagangkan pada harga Rp 1.605. Pelemahan lainnya tercatat pada PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), yang turun 6,93 persen ke Rp 2.820. Kedua saham tersebut menjadi contoh emiten yang berada di jajaran saham dengan penurunan signifikan. Pergerakan harga ini mencerminkan tekanan pada saham-saham tertentu, meskipun IHSG secara keseluruhan dan sebagian saham lainnya dapat bergerak dengan arah berbeda. Karena rincian hanya tersedia untuk BNLI dan RLCO, angka tersebut tidak mewakili seluruh saham yang menyentuh ARB.
Bahan informasi juga menyebut pelemahan saham PT Pudjiadi, tetapi keterangan terkait emiten tersebut terpotong. Oleh karena itu, kode saham, persentase penurunan, dan harga sahamnya tidak dicantumkan agar tidak menambahkan data yang belum terverifikasi. Pergerakan pasar saham domestik berlangsung bersamaan dengan arah yang beragam di sejumlah bursa Asia. Indeks Shanghai turun 0,07 persen, sedangkan Straits Times melemah 0,3 persen. Nikkei juga terkoreksi 0,11 persen. Sebaliknya, Hang Seng bergerak menguat 0,61 persen.






