Bisnis  

Dari Tanah Liat hingga Tungku: Industri Bata Merah di Serang Tetap Berjalan

Dari Tanah Liat hingga Tungku: Industri Bata Merah di Serang Tetap Berjalan

Serang | Pada Minggu, 25 Oktober 2026, kegiatan pembuatan bata merah masih berlangsung di Kampung Setu, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten. Tanah liat diolah menjadi bahan bangunan melalui tahapan kerja yang melibatkan tenaga dan keterampilan warga. Aktivitas tersebut menjadi pemandangan yang mencerminkan usaha lokal tetap berjalan di tengah perubahan kebutuhan konstruksi. Bagi sebagian masyarakat setempat, pembuatan bata bukan sekadar pekerjaan harian, tetapi juga kegiatan ekonomi produktif yang memberi ruang untuk mengolah sumber daya dan menjual hasil kerja. Setiap bata yang dihasilkan menjadi bagian dari mata pencaharian warga sekaligus memenuhi kebutuhan pembangunan di lingkungan sekitar.

Usaha ini turut menyediakan pilihan bahan bangunan dengan harga yang dapat diketahui secara langsung oleh calon pembeli. Bata merah di Kampung Setu dijual seharga Rp260 per buah. Nilai tersebut menjadi salah satu informasi penting bagi masyarakat yang merencanakan pembangunan atau perbaikan rumah, karena jumlah bata yang diperlukan biasanya cukup banyak. Proses produksi dan penjualan yang terus berlangsung menunjukkan bahwa kegiatan ini masih memiliki peran ekonomi bagi para pembuatnya. Keberadaan usaha setempat juga menjaga keterampilan pengolahan bata agar tetap dimanfaatkan, meskipun sektor bahan bangunan terus berkembang dan menghadirkan beragam pilihan baru bagi konsumen.

Dalam beberapa tahun terakhir, bata hebel atau bata ringan semakin marak digunakan dalam pembangunan. Material tersebut menjadi alternatif yang dikenal luas, sehingga persaingan dan pilihan bahan bagi pemilik proyek pun semakin beragam. Namun, perkembangan itu tidak serta-merta menghapus penggunaan bata merah. Bata merah masih dipakai sebagai salah satu unsur penting dalam pembangunan, sesuai kebutuhan dan pertimbangan masing-masing pengguna. Karena itu, keberlangsungan produksi di Kampung Setu memperlihatkan bahwa bahan bangunan tradisional tetap mempunyai tempat di tengah perubahan pasar. Selama masih ada permintaan, usaha ini dapat terus menjadi kegiatan produktif bagi warga, sekaligus mempertahankan peran bata merah dalam memenuhi kebutuhan konstruksi masyarakat Serang.Desa Setu dikenal sebagai salah satu sentra industri bata merah yang kegiatan pembuatannya telah berlangsung selama belasan tahun. Keberadaan usaha ini tampak dari lio-lio yang berdiri di kawasan tersebut dan tumpukan bata merah yang menjadi bagian dari lingkungan kerja sehari-hari. Produksi bata di Setu bukan kegiatan baru; praktiknya terus bertahan dan menjadi penanda penting bagi aktivitas industri setempat. Dari tanah liat hingga bata yang siap ditumpuk, pekerjaan berlangsung melalui proses yang memerlukan ruang untuk mengolah bahan dan menata hasilnya.

Lio merupakan bangunan tradisional yang digunakan dalam kegiatan pembuatan bata. Di dalam atau sekitar lio, tanah liat dapat ditempatkan sebagai persediaan bahan untuk proses produksi. Bangunan ini juga berkaitan dengan berlangsungnya pekerjaan para pengrajin, dari pengolahan bahan hingga penanganan bata. Kehadiran lio memberi gambaran tentang cara kerja industri bata merah di Setu, sekaligus menunjukkan bahwa produksi memanfaatkan fasilitas yang lekat dengan tradisi setempat. Di kawasan itu, tumpukan bata merah memperlihatkan hasil kerja yang telah melalui tahapan pembuatan dan penataan.

Bahan baku utama yang digunakan adalah tanah liat, yang diperoleh dari sekitar Desa Bulakan. Ketersediaan bahan tersebut mendukung keberlangsungan pembuatan bata di Setu selama bertahun-tahun. Hubungan sumber tanah liat dan tempat produksi menjadi bagian penting dalam memahami jalannya industri ini: bahan dari sekitar Bulakan dibawa untuk diolah, sementara lio menyediakan ruang bagi kegiatan pembuatan dan penyimpanan tanah. Tumpukan bata merah yang terlihat di kawasan Setu melengkapi gambaran itu. Tanpa perlu menyebut angka produksi atau jumlah pelaku usaha, keberadaan sentra, lio, dan persediaan tanah liat sudah menunjukkan bagaimana industri bata merah terus berjalan dengan mengandalkan bahan lokal dan cara kerja yang telah dikenal selama belasan tahun.

Produksi bata merah di Serang dimulai dengan menyiapkan tanah liat untuk diolah. Bahan ini dimasukkan ke mesin molen, yaitu mesin yang digunakan untuk menggiling sekaligus membantu melunakkan tanah liat. Penggilingan menjadi tahap awal yang penting karena tanah liat perlu memiliki kondisi lunak agar lebih mudah dibentuk. Dalam proses tersebut, tanah liat diolah sampai siap masuk ke tahap pencetakan. Urutan kerja ini menghubungkan pengolahan bahan mentah dengan pembentukan bata, sehingga material yang semula berupa tanah liat dapat diproses menjadi bentuk yang lebih teratur.

Setelah tanah liat cukup lunak, pencetakan dilakukan menggunakan mesin yang sama, yakni mesin molen. Dengan demikian, mesin tersebut berperan dalam dua tahap awal produksi: menggiling tanah liat dan membentuknya menjadi bata merah. Tanah liat yang telah diolah diarahkan melalui proses pencetakan hingga menghasilkan bata. Pada tahap ini, perubahan bentuk berlangsung dari bahan yang lunak menjadi unit bata yang dapat dipindahkan. Pencetakan menjadi penghubung pengolahan bahan dan penanganan bata sebelum dikeringkan, sehingga alur kerja berjalan secara berurutan dari mesin menuju area penjemuran.

Usai dicetak, bata merah belum langsung dianggap selesai. Pekerja mengangkut bata dari mesin ke lahan terbuka untuk dijemur. Perpindahan ini dilakukan setelah bentuk bata terbentuk, menjadikan lahan terbuka sebagai tempat pengeringan pada tahapan berikutnya. Secara runtut, alur awal produksi terdiri atas penggilingan tanah liat hingga lunak, pencetakan dengan mesin molen, lalu pengangkutan bata oleh pekerja ke area penjemuran. Penjemuran membantu menyiapkan bata sebelum tahap produksi selanjutnya, tetapi lama pengeringannya tidak dapat ditentukan dari tahapan yang dijelaskan. Pembagian langkah yang jelas memperlihatkan keterkaitan kerja mesin dan tenaga pekerja: mesin mengolah serta mencetak bahan, sementara pekerja memindahkan hasil cetakan ke lahan terbuka.

Setelah bata dicetak dan dijemur, tahap berikutnya adalah pembakaran di ruang bertingkat yang menjadi bagian penting dari proses produksi. Tempat pembakaran di lokasi ini memiliki dua hingga empat tingkat, bergantung pada susunan ruang yang digunakan. Pada bagian paling bawah, pekerja menempatkan kayu bakar sebagai sumber panas. Sementara itu, tingkat kedua dimanfaatkan untuk menyusun bata yang akan dibakar. Penataan bata perlu dilakukan dengan cermat agar panas dapat menjangkau susunan secara merata dan hasil pembakaran lebih seragam.

Proses pembakaran berlangsung sekitar tiga sampai empat hari. Selama waktu tersebut, pegawai bergantian memantau api selama 24 jam. Pengawasan diperlukan untuk menjaga suhu tetap sesuai kebutuhan: api tidak boleh sampai padam, tetapi juga tidak boleh terlalu besar. Jika panas terlalu tinggi, bata berisiko gosong dan kualitasnya dapat menurun. Karena itu, pekerja memperhatikan kondisi tungku secara berkala serta menyesuaikan kayu bakar dan aliran panas. Tahap ini menuntut ketelitian dan pengalaman, sebab perubahan pada api bisa memengaruhi hasil dalam jumlah besar.

Usai dibakar, bata tidak langsung dikeluarkan atau digunakan. Susunannya didiamkan selama dua hari agar mengalami pendinginan secara bertahap dan suhunya menjadi lebih stabil. Masa tunggu tersebut membantu bata menyesuaikan diri setelah menerima panas tinggi, sekaligus memberi waktu bagi pekerja sebelum melanjutkan penanganan hasil produksi. Dengan demikian, rangkaian kerja tidak berhenti ketika api dipadamkan, tetapi berlanjut sampai bata cukup dingin untuk dipindahkan.

Seorang pekerja yang telah bekerja sekitar tiga tahun menjelaskan bahwa jumlah produksi sangat bergantung pada ketersediaan tanah liat. Ketika bahan baku tersedia dalam jumlah banyak, produksi dapat mencapai sekitar 20 ribu bata dalam sehari. Pekerjaan di lokasi juga dibagi di tiga rekan: satu menangani pembuatan adonan tanah liat, satu bertugas mencetak bata, dan satu lagi mengangkut bata untuk dijemur.