Ekspor Bahan Baku Baterai Indonesia Melonjak, Proyeksi 2026 Capai Rp55,8 Triliun

Ekspor Bahan Baku Baterai Indonesia Melonjak, Proyeksi 2026 Capai Rp55,8 Triliun

Jakarta | Industri pengolahan bahan baku dan komponen baterai di Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat, tercermin dari lonjakan nilai ekspor dalam dua tahun terakhir dan proyeksi kenaikan lebih lanjut pada 2026. Data Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat ekspor sektor ini mencapai US juta pada 2024, kemudian meningkat menjadi US7 juta pada 2025. Dengan demikian, nilai ekspor pada 2025 hampir sepuluh kali lipat dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut diperkirakan berlanjut. DEN memproyeksikan nilai ekspor bahan baku dan komponen baterai Indonesia mencapai US$3,1 miliar pada 2026. Jika dihitung menggunakan kurs Rp18.000 per dolar AS, angka itu setara dengan sekitar Rp55,8 triliun. Proyeksi ini menempatkan ekspor sektor tersebut jauh di atas capaian 2025, sekaligus menunjukkan besarnya perubahan yang diperkirakan terjadi dalam kurun waktu singkat.

Data itu disampaikan oleh anggota sekaligus sekretaris eksekutif DEN, Septian Hario Seto, pada 22 Oktober 2026. Angka yang dipaparkan memberi gambaran mengenai perkembangan industri pengolahan yang berkaitan dengan rantai pasok baterai, mulai dari bahan baku hingga komponen. Perbandingan nilai ekspor tahunan juga memperlihatkan bahwa sektor ini menjadi salah satu bagian industri yang patut dicermati dalam pembahasan kinerja perdagangan Indonesia.

Meski proyeksi 2026 menunjukkan potensi nilai ekspor yang besar, angka tersebut merupakan perkiraan, bukan realisasi yang telah tercatat. Nilai dalam rupiah pun bergantung pada asumsi kurs yang digunakan, yakni Rp18.000 untuk setiap dolar AS. Karena itu, capaian aktual nantinya dapat berbeda seiring perkembangan ekspor dan nilai tukar. Namun, rangkaian angka dari 2024 hingga proyeksi 2026 tetap menegaskan arah pertumbuhan yang tajam pada industri pengolahan bahan baku dan komponen baterai di Indonesia.

Produk ekspor hasil hilirisasi bahan baku baterai Indonesia mencakup beragam bentuk, bukan hanya satu jenis komponen. Ragam tersebut memperlihatkan rentang produk dari bahan mineral yang telah diolah hingga komponen dan produk yang lebih dekat dengan bentuk sel baterai. Dalam daftar produk yang disebutkan, terdapat litium hidroksida dan litium karbonat, prekursor, material anoda, katoda LFP, foil tembaga, serta sel baterai. Seluruhnya termasuk dalam ragam produk ekspor hasil hilirisasi yang dibahas, sehingga gambaran industrinya tidak terbatas pada satu keluaran tertentu. Penyebutan berbagai jenis ini memberikan cakupan yang jelas mengenai produk yang tercantum dalam ekspor bahan baku baterai Indonesia.

Litium hidroksida dan litium karbonat tercantum sebagai produk mineral olahan. Daftar yang sama juga mencakup prekursor, material anoda, serta katoda LFP. Selain bahan dan material tersebut, foil tembaga masuk dalam ragam produk yang disebutkan. Sel baterai juga tercantum sebagai bagian dari keluaran ekspor hasil hilirisasi. Dengan demikian, penyebutan produk mencakup mineral olahan, material pendukung, komponen katoda dan anoda, foil tembaga, hingga sel baterai. Uraian ini mengikuti ragam produk dalam sumber, tanpa membatasi ekspor pada satu kategori ataupun mengabaikan jenis lain yang tercantum. Setiap nama produk tersebut merupakan bagian dari daftar yang sama, yakni ragam hasil hilirisasi bahan baku baterai Indonesia.

Sumber menyebut industri baru hasil hilirisasi bahan baku baterai sebagai industri yang tumbuh paling cepat. Pernyataan tersebut merujuk pada industri baru hasil hilirisasi bahan baku baterai, sementara daftar produknya meliputi litium hidroksida, litium karbonat, prekursor, material anoda, katoda LFP, foil tembaga, dan sel baterai. Karena itu, ragam ekspor yang dibahas dapat dibaca sebagai kumpulan produk dari mineral olahan sampai sel baterai, bukan sebagai satu komponen tunggal. Penyebutan seluruh jenis produk tersebut menjaga gambaran tetap sesuai dengan cakupan sumber. Industri ini disebut sebagai industri baru hasil hilirisasi bahan baku baterai yang tumbuh paling cepat, dengan ragam keluaran ekspor sebagaimana tercantum dalam daftar tersebut.

Data Dewan Energi Nasional (DEN) memperlihatkan bahwa pasar ekspor komponen baterai Indonesia terkonsentrasi pada tiga negara tujuan utama, yaitu Amerika Serikat, China, dan Korea Selatan. Dalam pembagian tersebut, Amerika Serikat menjadi penyerap terbesar dengan porsi 39 persen dari ekspor komponen baterai yang dicatat. Angka ini menunjukkan besarnya peran pasar Amerika dalam perdagangan produk terkait baterai. Produk yang terutama dikirimkan ke negara itu mencakup anoda dan katoda berbasis litium besi fosfat atau LFP. Dengan demikian, tujuan ekspor tersebut memiliki kaitan kuat dengan dua komponen penting dalam rantai produksi baterai LFP. Informasi ini memberi gambaran bukan hanya tentang besaran nilai pasar.

China menempati posisi berikutnya dengan penyerapan sebesar 38 persen. Pasar ini terutama menerima produk litium dari Indonesia sebagaimana dicatat dalam data DEN. Komposisi tersebut membedakan tujuan ekspor China dari Amerika Serikat, yang lebih menonjol pada anoda dan katoda LFP. Perbedaan jenis produk itu memperlihatkan bahwa perdagangan komponen baterai Indonesia tidak mengarah pada satu kategori barang yang seragam di setiap negara tujuan. Untuk pasar China, produk litium menjadi kelompok utama yang disebutkan, sementara porsinya berada hanya satu poin persentase di bawah Amerika Serikat. Kedekatan angka tersebut menunjukkan kedua negara menyerap bagian besar dari ekspor yang dibahas, dengan profil komoditas yang berbeda.

Korea Selatan menyerap 16 persen dari komponen baterai yang diekspor, dan menjadi pasar penting berikutnya setelah Amerika Serikat dan China. Menurut pembagian DEN, produk yang terutama ditujukan ke Korea Selatan adalah prekursor. Dengan demikian, ketiga tujuan utama memiliki keterkaitan yang berbeda dengan jenis bahan atau komponen baterai: Amerika Serikat dengan anoda dan katoda LFP, China dengan produk litium, serta Korea Selatan dengan prekursor. Porsi masing-masing pasar, yakni 39 persen, 38 persen, dan 16 persen, membantu menjelaskan sebaran tujuan ekspor menurut produk yang disebutkan. Data ini juga menempatkan tiga negara tersebut sebagai pembeli utama dalam gambaran pasar yang disampaikan DEN tersebut.

Ekspor sel baterai Indonesia menunjukkan peningkatan nilai yang menandai bertambahnya kegiatan produksi dan pengiriman produk tersebut ke pasar luar negeri. Seto menyebut nilai ekspor sel baterai telah mencapai sekitar US$600 juta hingga Agustus 2026. Angka itu menggambarkan capaian selama delapan bulan pertama tahun ini, sementara pengiriman masih didominasi satu tujuan utama, yakni Korea Selatan. Besarnya porsi pasar Korea Selatan menjadi bagian penting dalam membaca perkembangan ekspor, meskipun nilai yang disebutkan merupakan angka kumulatif dan belum mencerminkan hasil sepanjang tahun secara keseluruhan.

Seto memperkirakan nilai ekspor sel baterai akan melampaui US$900 juta hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut mengindikasikan potensi kenaikan dibandingkan capaian sampai Agustus, seiring berlanjutnya pengiriman pada bulan-bulan berikutnya. Ia juga menyatakan bahwa nilai ekspor tahun ini meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan 2024. Perbandingan itu memperlihatkan laju pertumbuhan yang cukup besar dalam periode tersebut, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan perubahan volume, komposisi produk, atau kontribusi masing-masing pasar. Dengan demikian, angka proyeksi dan perbandingan tahunan perlu dibaca sesuai lingkup yang disampaikan, yaitu nilai ekspor sel baterai.

Selain membahas ekspor, Seto menyoroti kemampuan industri Indonesia dalam mengolah bahan baku menjadi produk yang digunakan dalam rantai baterai. Produksi litium hidroksida atau litium karbonat, serta anoda, disebut sebagai contoh pengolahan sumber daya alam yang bahan mentahnya tidak diproduksi di dalam negeri. Bahan utama untuk produk litium tersebut mencakup spodumene atau konsentrat litium, sedangkan grafit merupakan bahan baku utama anoda.