Jakarta | Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang Polda Metro Jaya menjalankan program “Polisi Peduli Pendidikan” di SDN Rawa Barat 09 Pagi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Senin. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pencegahan perundungan di lingkungan sekolah. Melalui edukasi yang menyasar peserta didik, kepolisian mendorong anak mengenali perilaku yang dapat menyakiti atau merendahkan orang lain serta memahami pentingnya menjaga hubungan yang aman dan saling menghormati.
Pencegahan perundungan membutuhkan pemahaman yang sesuai dengan usia siswa. Perilaku tersebut tidak hanya dapat berupa tindakan fisik, tetapi juga ucapan yang menghina, pengucilan, ancaman, atau tindakan berulang yang membuat seseorang merasa takut dan tidak nyaman. Dengan mengenali berbagai bentuknya, siswa diharapkan lebih mampu membedakan candaan yang disepakati bersama dari tindakan yang melukai. Kesadaran ini juga membantu anak memahami bahwa setiap orang berhak merasa aman, diterima, dan dihargai di sekolah.
Program edukasi di sekolah menjadi salah satu upaya untuk membuka ruang pembelajaran tentang keselamatan dan sikap bertanggung jawab. Siswa dapat didorong untuk tidak ikut melakukan perundungan, tidak mendukungnya dengan menertawakan atau menyebarkan tindakan tersebut, serta mencari bantuan orang dewasa tepercaya apabila melihat atau mengalaminya. Sikap berani melapor penting, sebab masalah yang dibiarkan dapat berlanjut dan memengaruhi kondisi emosional maupun proses belajar anak. Dukungan guru dan keluarga juga berperan dalam memastikan siswa memperoleh pendampingan.
Melalui “Polisi Peduli Pendidikan”, Polda Metro Jaya menempatkan edukasi sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan sekolah yang lebih aman. Pemahaman tentang pencegahan kekerasan dan perundungan diharapkan tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan untuk menghormati batasan, perbedaan, dan martabat teman. Ketika siswa mengetahui cara merespons dengan tepat dan merasa didukung untuk meminta pertolongan, sekolah memiliki landasan yang lebih kuat untuk mencegah perilaku merugikan serta menjaga kegiatan belajar berlangsung dengan nyaman.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Rita Wulandari Wibowo, menjadi pembina upacara bendera dalam kegiatan edukasi di sekolah. Di hadapan para siswa, ia menyampaikan pesan mengenai pentingnya mencegah perundungan dan kekerasan, sekaligus membangun lingkungan belajar yang aman. Ia mengingatkan bahwa setiap anak berhak merasa terlindungi dan dihormati, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari.
Rita mengajak siswa untuk tidak merundung teman. Perkataan yang merendahkan, tindakan mengucilkan, maupun perlakuan lain yang menyakiti orang lain dapat berdampak pada rasa aman dan kepercayaan diri korban. Karena itu, siswa diminta menjaga sikap, menghormati perbedaan, serta tidak ikut-ikutan ketika melihat teman menjadi sasaran. Kepedulian juga dapat ditunjukkan dengan tidak membiarkan perundungan berlangsung dan mencari bantuan orang dewasa yang dipercaya.
Ia juga menekankan pentingnya berani berbicara apabila mengalami atau mengetahui kekerasan. Siswa dapat melapor kepada guru atau orang tua agar kejadian tersebut mendapat perhatian dan penanganan. Imbauan ini mencakup tindakan yang melibatkan sentuhan tidak pantas pada bagian tubuh pribadi. Anak-anak perlu memahami bahwa mereka tidak harus menghadapi situasi semacam itu sendirian, dan menceritakannya kepada orang dewasa bukanlah kesalahan.
Selain melapor, siswa didorong untuk berani menolak tindakan yang membuat mereka merasa tidak nyaman, takut, atau terancam. Penolakan dapat disampaikan dengan tegas, lalu diikuti dengan menjauh dari situasi tersebut dan meminta pertolongan kepada orang dewasa. Pesan ini membantu anak mengenali batasan diri serta memahami bahwa tubuh dan keselamatan mereka harus dihormati.
Edukasi yang disampaikan Rita bertujuan membekali siswa dengan pemahaman tentang perlindungan diri sekaligus menumbuhkan sikap saling menghormati di sekolah. Dengan mengetahui cara meminta bantuan dan menjaga perilaku terhadap teman, siswa diharapkan dapat berperan dalam menciptakan suasana belajar yang lebih aman. Peran guru dan orang tua juga penting untuk mendengarkan laporan anak, menanggapinya dengan serius, serta memberikan dukungan yang dibutuhkan.
Setelah upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi edukasi interaktif yang melibatkan siswa kelas V dan VI SDN Rawa Barat 09 Pagi. Dalam suasana santai, para siswa diberi kesempatan bertanya dan menjawab pertanyaan dari petugas kepolisian. Cara ini membuat materi lebih mudah dipahami sekaligus mendorong anak-anak untuk berani menyampaikan pendapat. Sesi tersebut juga menjadi ruang bagi siswa untuk mengingat kembali pesan yang disampaikan pembina upacara.
Materi yang dibahas mencakup wawasan kebangsaan, terutama nilai-nilai Pancasila dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diajak memahami pentingnya menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, serta bersikap adil dan bertanggung jawab. Pembahasan kemudian beralih pada keselamatan berlalu lintas. Petugas mengingatkan bahwa aturan berkendara perlu dipatuhi oleh semua pengguna jalan, termasuk anak-anak yang menjadi penumpang sepeda motor. Mereka diminta selalu menggunakan helm saat dibonceng, memastikan helm terpasang dengan benar, dan tidak menganggap perjalanan dekat sebagai alasan untuk mengabaikan keselamatan.
Para siswa juga memperoleh pengenalan mengenai tugas kepolisian di tengah masyarakat. Petugas menjelaskan bahwa polisi tidak hanya menjaga keamanan, tetapi turut membantu warga, mengatur lalu lintas, serta memberikan perlindungan dan pelayanan. Penjelasan tersebut membantu siswa mengenali peran polisi dalam kehidupan sehari-hari dan memahami bahwa masyarakat dapat bekerja sama menjaga lingkungan tetap aman.
Kepala SDN Rawa Barat 09 Pagi, Lasma Manurung, turut mendampingi kegiatan dan berdialog dengan siswa kelas V mengenai tugas polisi di lingkungan masyarakat. Ia mengajak siswa menyampaikan pemahaman mereka dan menanggapi pertanyaan tentang bagaimana polisi membantu warga. Interaksi langsung ini membuat pembahasan terasa dekat dengan pengalaman anak-anak di sekitar rumah dan sekolah.
Sejumlah siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat serta mengingat pesan pembina upacara memperoleh hadiah sebagai bentuk apresiasi. Pemberian hadiah tidak hanya menjadi penyemangat, tetapi juga mengakui perhatian dan partisipasi siswa selama kegiatan. Melalui tanya jawab, penguatan materi, dan dialog bersama pihak sekolah, pesan tentang Pancasila, keselamatan berlalu lintas, serta tugas kepolisian disampaikan secara komunikatif dan mudah diingat.
Dalam kegiatan edukasi di sekolah, Polda Metro Jaya memperkenalkan layanan pengaduan Cepat Lapor Bu! sebagai saluran bagi warga sekolah yang ingin menyampaikan laporan terkait perundungan atau kekerasan. Layanan tersebut dapat dihubungi melalui nomor 0812-1411-0110. Kehadiran kanal pengaduan ini memberi siswa, guru, maupun pihak lain di lingkungan sekolah pilihan untuk melaporkan persoalan yang membutuhkan perhatian. Informasi mengenai nomor tersebut diharapkan membantu warga sekolah mengetahui ke mana mereka dapat mencari bantuan, sekaligus mendorong pelaporan dilakukan ketika ada dugaan tindakan yang mengancam rasa aman anak.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Budi Hermanto, menegaskan bahwa pencegahan perundungan dan kekerasan terhadap anak tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Upaya tersebut memerlukan keterlibatan banyak pihak, sebab keselamatan dan kenyamanan anak juga dipengaruhi oleh dukungan keluarga serta lingkungan tempat mereka beraktivitas. Sekolah memiliki peran penting dalam membangun suasana belajar yang tertib dan menghargai setiap siswa, tetapi langkah itu perlu diperkuat oleh komunikasi dan kepedulian bersama. Dengan demikian, tanda-tanda masalah dapat lebih cepat diketahui dan ditangani secara tepat. Keterlibatan berbagai pihak juga membantu memastikan anak memperoleh dukungan ketika menghadapi situasi yang membuatnya merasa terancam atau tidak nyaman.
Melalui program “Polisi Bersama Masyarakat”, kepolisian mengajak guru, orang tua, dan lingkungan sekitar untuk ikut menciptakan ruang belajar yang aman dan ramah anak.
Baca juga: CEGAH KARHUTLA SEJAK DINI, MABES TNI EDUKASI GURU DAN PELAJAR SMA 10 SAMARINDA | Cegah Karhutla, Tim Penyuluh Sesko TNI Berikan Sosialisasi dan Edukasi kepada Warga | Cegah Karhutla, Tim Sesko TNI Edukasi Warga Sanggulan tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan






