Dari Semangat Bandung ke Kemitraan Strategis Indonesia-Afrika

Dari Semangat Bandung ke Kemitraan Strategis Indonesia-Afrika

Bandung | Wakil Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Duta Besar Umar Hadi, menegaskan kembali pentingnya semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) sebagai landasan hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang pleno ke-18 Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Senin, 12 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, ia menyoroti bahwa 71 tahun setelah KAA 1955, nilai-nilai Bandung tetap relevan bagi kerja sama antarnegara di tengah perubahan tatanan global.

Semangat Bandung pada awalnya lahir dari perjuangan bersama bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk menentang kolonialisme serta memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri. Kini, solidaritas tersebut berkembang ke dalam bentuk kemitraan yang lebih konkret dan strategis. Indonesia bersama negara-negara Afrika berupaya memperkuat kedaulatan ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menciptakan kemakmuran yang dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat di kedua kawasan.

Umar Hadi juga kembali mengangkat pesan Presiden Soekarno dalam KAA 1955 mengenai hak bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk menentukan masa depannya sendiri. Pesan tersebut tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi pijakan bagi negara-negara berkembang dalam membangun hubungan yang setara, saling menghormati, dan berorientasi pada kepentingan bersama. Lebih dari tujuh dekade kemudian, negara-negara Asia dan Afrika telah mencatat berbagai kemajuan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan teknologi. Perkembangan itu memperkuat posisi kedua kawasan sebagai aktor penting yang semakin berperan dalam menentukan arah pembangunan global. Karena itu, warisan Bandung tidak berhenti sebagai kenangan sejarah, melainkan terus diterjemahkan menjadi agenda kerja sama yang mampu menjawab tantangan masa kini dan membuka peluang baru bagi generasi mendatang.

Dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut, Indonesia memandang perkembangan ekonomi Afrika sebagai salah satu gambaran penting mengenai ketahanan dan prospek benua itu. Perekonomian Afrika diperkirakan tumbuh sebesar 4,4 persen pada 2025. Selain itu, sebanyak 22 negara Afrika mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Capaian ini menunjukkan adanya kapasitas pertumbuhan yang kuat di tengah berbagai perubahan dan tekanan ekonomi global.

Perkembangan tersebut juga memperlihatkan potensi besar Afrika dalam menjalankan Agenda 2063 Uni Afrika. Agenda ini memiliki visi untuk membangun Afrika yang makmur, terintegrasi, dan damai. Pertumbuhan di sejumlah negara, disertai ketahanan ekonomi yang terus berkembang, menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan visi tersebut. Dalam konteks ini, Afrika memiliki peluang untuk memperkuat pembangunan lintas negara, memperluas kerja sama ekonomi, dan mengoptimalkan kapasitas yang dimiliki untuk mendukung agenda jangka panjang benua.

Namun, pembangunan Afrika masih menghadapi sejumlah hambatan. Tingginya biaya pinjaman menjadi salah satu tantangan yang membatasi ruang pembiayaan bagi negara-negara di benua tersebut. Pada saat yang sama, akses terhadap pembiayaan pembangunan masih terbatas, sehingga berbagai kebutuhan pembangunan belum sepenuhnya dapat didukung secara memadai. Kondisi ini berpengaruh terhadap kemampuan negara-negara Afrika untuk mempercepat investasi dan memperluas manfaat pertumbuhan ekonomi.

Tantangan lainnya berkaitan dengan belum optimalnya manfaat ekonomi yang diperoleh dari kekayaan sumber daya alam Afrika. Potensi sumber daya yang besar belum seluruhnya diterjemahkan menjadi nilai tambah yang mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. Pembahasan ini berlangsung dalam konteks transformasi dari New Partnership for Africa’s Development atau NEPAD menuju Agenda 2063 Uni Afrika. Perubahan tersebut menempatkan capaian pertumbuhan, ketahanan, pembiayaan, dan pemanfaatan sumber daya sebagai bagian dari dinamika pembangunan Afrika menuju visi yang telah ditetapkan.

Indonesia menempatkan tiga prioritas utama dalam upaya memperkuat kerja sama dengan negara-negara Afrika. Prioritas pertama adalah penguatan kedaulatan ekonomi melalui penciptaan nilai tambah atas sumber daya nasional. Negara-negara Afrika memiliki kekayaan mineral, energi, pertanian, dan sumber daya alam yang besar, tetapi manfaat ekonominya perlu diperluas melalui pengolahan di dalam negeri, penguatan industri, serta peningkatan keterlibatan pelaku usaha lokal. Pengalaman Indonesia dalam menjalankan hilirisasi dapat menjadi salah satu rujukan, terutama dalam membangun rantai pasok, menarik investasi berkualitas, dan menciptakan lapangan kerja.

Prioritas kedua ialah investasi pada sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi tidak akan bertahan tanpa tenaga kerja yang terampil, institusi yang kuat, dan akses pendidikan yang memadai. Karena itu, Indonesia mendorong kerja sama pendidikan, pelatihan vokasi, pengembangan keahlian teknis, serta pertukaran pengetahuan. Di bidang pertanian, berbagai bentuk pelatihan dan kolaborasi dapat membantu negara-negara Afrika meningkatkan produktivitas, mengembangkan teknologi tepat guna, memperkuat ketahanan pangan, dan mengelola sumber daya secara lebih efisien.

Prioritas ketiga adalah menerjemahkan semangat Bandung ke dalam kemitraan yang nyata di bidang perdagangan, investasi, dan peningkatan kapasitas. Kerja sama ini tidak berhenti pada gagasan atau pernyataan politik, melainkan telah diwujudkan melalui hubungan ekonomi dan proyek bersama. Forum Indonesia-Afrika pertama pada 2018 menghasilkan kesepakatan bisnis hampir 600 juta dolar AS. Setahun kemudian, Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue mencatat nilai kerja sama lebih dari 800 juta dolar AS. Momentum tersebut berlanjut melalui Forum Indonesia-Afrika kedua pada 2024, yang menghasilkan 32 kesepakatan kerja sama senilai lebih dari 3,5 miliar dolar AS di berbagai sektor strategis. Capaian itu menunjukkan bahwa solidaritas historis dapat berkembang menjadi kemitraan produktif, saling menguntungkan, dan berorientasi pada kebutuhan pembangunan jangka panjang.

Kemitraan Indonesia-Afrika tidak berhenti pada perdagangan dan investasi. Hubungan tersebut juga berkembang melalui kerja sama Selatan-Selatan dan triangular yang memperkuat kapasitas, berbagi pengetahuan, serta menjawab kebutuhan pembangunan secara langsung. Dalam satu dekade terakhir, sekitar 500 peserta dari berbagai negara Afrika telah memperoleh manfaat dari lebih dari 60 proyek kerja sama yang diinisiasi atau didukung Indonesia. Program-program itu mencakup bidang kesehatan, teknologi pertanian, dan peternakan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh lembaga pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat dan komunitas lokal.

Pengalaman Indonesia dibagikan melalui berbagai sarana pelatihan, termasuk pusat pelatihan pertanian di Tanzania dan Gambia. Melalui fasilitas tersebut, para peserta mempelajari praktik budidaya, pengelolaan produksi, pengembangan kelembagaan, serta pendekatan yang sesuai dengan kondisi setempat. Pertukaran pengalaman ini menunjukkan bahwa kerja sama pembangunan dapat berlangsung secara setara, dengan pengetahuan yang disesuaikan melalui dialog dan kebutuhan mitra, bukan melalui hubungan satu arah.

Umar Hadi menegaskan bahwa Indonesia berdiri bersama Afrika sebagai mitra. Sikap itu berlandaskan solidaritas dan saling menghormati, sekaligus mencerminkan semangat Bandung yang menempatkan kesetaraan, kemandirian, dan kepentingan bersama sebagai dasar hubungan antarnegara. Kerangka tersebut memberi ruang bagi pengembangan kolaborasi baru dalam pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, energi, teknologi, dan penguatan sumber daya manusia.

Indonesia juga memandang penting perluasan hubungan dari tingkat bilateral ke tingkat antarkawasan. Integrasi ekonomi ASEAN dan pembentukan African Continental Free Trade Area (AfCFTA) membuka peluang untuk meningkatkan perdagangan, investasi, dan konektivitas kedua kawasan. Keselarasan kebijakan, penyederhanaan prosedur, serta penguatan jaringan transportasi dan digital dapat membantu pelaku usaha memanfaatkan peluang tersebut secara lebih efektif.

Karena itu, Indonesia mendorong ASEAN dan Uni Afrika untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing dalam memperkuat integrasi kawasan. Pertukaran praktik mengenai pembangunan rantai nilai, mobilitas ekonomi, dan tata kelola regional dapat mendukung ketahanan bersama, termasuk dalam menghadapi perubahan iklim.

Baca juga: Panglima TNI: Olahraga Bentuk Karakter dan Semangat Pantang Menyerah | Tim Pokja Kajian Strategis Sahli Kasad Lakukan Kunjungan Kerja ke Kodim 0906/Kkr | Tembus Kegelapan Malam, Prajurit Lanud Sjamsudin Noor Tetap Sigap dan Semangat Jaga Pompa Bantuan Presiden RI Untuk Suplai Air Pembahasan Gambut