Tangerang | Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mendorong agar nilai transaksi Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 melampaui target yang telah ditetapkan. Target transaksi pameran dagang internasional tersebut mencapai US,5 miliar atau sekitar Rp313,31 triliun, dengan asumsi nilai tukar Rp17.905 per dolar AS.
Harapan itu disampaikan Bahlil saat membuka TEI 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, pada Rabu, 14 Oktober 2026. Ia menyampaikan bahwa angka tersebut merupakan target yang dilaporkan oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso bersama timnya. Menurut Bahlil, target itu perlu dipandang sebagai batas awal yang masih dapat ditingkatkan melalui kerja sama pemerintah, pelaku usaha, serta mitra dagang dari berbagai negara.
Target TEI tahun ini sebenarnya masih lebih rendah dibandingkan capaian transaksi pada penyelenggaraan sebelumnya. Pada 2025, nilai transaksi semula ditargetkan menembus lebih dari US$16 miliar atau sekitar Rp286,64 triliun. Namun, realisasinya berhasil mencapai US$22,8 miliar atau sekitar Rp408,46 triliun. Capaian tersebut menunjukkan bahwa minat pembeli internasional terhadap produk Indonesia dapat melampaui proyeksi apabila promosi, negosiasi, dan fasilitasi perdagangan dilakukan secara efektif.
Karena itu, Bahlil meminta seluruh pihak tidak berhenti pada angka target US$17,5 miliar. Ia berharap kinerja TEI 2026 kembali mencatat realisasi di atas sasaran, sebagaimana terjadi pada tahun sebelumnya. Dorongan tersebut juga mencerminkan pentingnya memperluas pasar ekspor dan meningkatkan nilai tambah produk nasional, terutama melalui penguatan hilirisasi serta peningkatan daya saing industri dalam negeri.
Dengan mempertemukan eksportir Indonesia dan calon pembeli global, TEI 2026 diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat kontrak dagang, membuka akses pasar baru, dan mendorong pertumbuhan transaksi yang berkelanjutan. Pemerintah menilai pencapaian yang melampaui target akan menjadi indikator positif bagi kemampuan Indonesia memperluas penetrasi produk di pasar internasional.
Optimisme Bahlil mengenai transaksi TEI 2026 yang berpotensi melampaui target Rp313 triliun didukung oleh meningkatnya daya saing produk nasional. Menurut pandangan tersebut, kemampuan produk Indonesia untuk bersaing menjadi modal penting dalam menarik perhatian pembeli dan mitra dagang internasional. Daya saing itu juga berjalan seiring dengan semakin luasnya akses pasar, sehingga pelaku usaha memiliki lebih banyak peluang untuk memperkenalkan penawaran mereka kepada calon mitra dari berbagai kawasan.
Minat yang tercermin dari jumlah peserta menjadi salah satu dasar keyakinan tersebut. Sebanyak 16.885 calon pembeli telah terdaftar untuk mengikuti TEI 2026. Dari jumlah itu, 8.092 merupakan pembeli luar negeri yang berasal dari 134 negara. Data tersebut menunjukkan bahwa pameran ini tidak hanya menarik perhatian pasar domestik, tetapi juga memperoleh respons dari jaringan pembeli internasional yang luas. Kehadiran calon pembeli dalam jumlah besar dapat membuka ruang bagi terjadinya pertemuan bisnis, penjajakan kerja sama, serta terbentuknya peluang transaksi baru.
Bagi Bahlil, TEI 2026 memiliki peran lebih luas daripada sekadar kegiatan promosi dan pertemuan dagang. Pameran ini berfungsi sebagai sarana untuk memperluas akses pasar bagi pelaku usaha Indonesia, termasuk dengan mempertemukan mereka secara langsung dengan pembeli dan mitra dagang internasional. Interaksi tersebut dapat membantu memperkuat hubungan perdagangan, meningkatkan pengenalan terhadap produk nasional, dan mendorong terbentuknya kerja sama yang berkelanjutan. Dengan dukungan daya saing produk, akses pasar yang terus bertambah, serta tingginya minat pembeli, TEI 2026 dinilai memiliki fondasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mencapai transaksi yang melampaui target yang telah ditetapkan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mendorong pemerintah mempercepat penyederhanaan prosedur teknis yang masih menjadi hambatan bagi kegiatan ekspor. Menurutnya, peningkatan transaksi perdagangan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 perlu diikuti kebijakan yang membuat produk nasional lebih mudah menembus pasar internasional. Prosedur yang panjang dan berlapis dapat meningkatkan biaya, memperlama waktu pengiriman, serta mengurangi daya saing eksportir Indonesia.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah persetujuan teknis atau pertek. Instrumen tersebut tetap dibutuhkan untuk memastikan pemenuhan standar dan ketentuan perdagangan, tetapi penerapannya perlu ditinjau agar tidak berubah menjadi penghambat. Bahlil meminta agar pertek yang memperlambat proses ekspor segera disimplifikasi melalui koordinasi antarinstansi, kejelasan persyaratan, dan pemanfaatan layanan digital. Dengan demikian, pelaku usaha tidak perlu menghadapi pengulangan pemeriksaan atau menunggu persetujuan dalam waktu yang terlalu lama.
Ia menekankan bahwa prosedur ekspor tidak boleh berbelit-belit. Setiap tahapan harus memiliki dasar yang jelas, batas waktu yang terukur, serta mekanisme pelayanan yang mudah dipahami oleh eksportir. Penyederhanaan ini penting terutama bagi usaha kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk mengurus berbagai dokumen teknis. Proses yang lebih sederhana juga dapat membantu perusahaan merespons permintaan pembeli luar negeri secara lebih cepat.
Selain pembenahan prosedur, Bahlil menilai eksportir memerlukan akses pembiayaan dan asuransi dengan biaya yang terjangkau. Dukungan tersebut dapat membantu pelaku usaha memenuhi kebutuhan modal kerja, menanggung risiko pengiriman, dan memperluas pemasaran ke negara tujuan baru. Skema pembiayaan ekspor yang kompetitif, disertai perlindungan asuransi yang sesuai, akan memperkuat kepastian usaha. Pemerintah karena itu perlu memastikan kebijakan perdagangan berjalan seiring dengan dukungan finansial, sehingga kemudahan administrasi benar-benar menghasilkan peningkatan kapasitas dan keberlanjutan ekspor nasional.
Bahlil mendorong perluasan akses pasar bagi produk Indonesia melalui penguatan hubungan dagang dengan negara-negara di Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Eropa Timur. Menurutnya, perluasan tersebut perlu didukung oleh perjanjian perdagangan bebas yang mampu menciptakan kondisi lebih kompetitif bagi eksportir nasional. Dengan pengurangan hambatan tarif maupun non-tarif, pelaku usaha Indonesia diharapkan dapat meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pembeli, serta menembus pasar baru yang memiliki potensi permintaan besar. Langkah ini juga perlu disertai pemetaan kebutuhan setiap negara tujuan agar produk yang ditawarkan sesuai dengan karakteristik pasar setempat.
Perjanjian perdagangan yang telah berlaku, lanjut Bahlil, harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para eksportir. Kesepakatan internasional tidak boleh berhenti pada penandatanganan atau sekadar menjadi memorandum of understanding. Setiap perjanjian harus diwujudkan melalui pelaksanaan yang konkret, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, termasuk peningkatan produksi, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan pendapatan pelaku usaha. Karena itu, koordinasi pemerintah, dunia usaha, dan perwakilan perdagangan di luar negeri perlu diperkuat untuk memastikan berbagai peluang dalam perjanjian tersebut benar-benar digunakan.
Ia juga menekankan pentingnya promosi produk Indonesia secara intensif di negara-negara tujuan ekspor. Promosi dapat dilakukan melalui pameran, misi dagang, penguatan citra merek, serta pembukaan pusat-pusat promosi yang berfungsi memperkenalkan produk sekaligus menghubungkan eksportir dengan calon pembeli. Pada TEI 2026, Bahlil menyampaikan apresiasi kepada eksportir penerima penghargaan Primaniyarta, pembeli internasional penerima penghargaan Primaduta, serta kepala daerah dan kepala perwakilan yang mendukung peningkatan ekspor. Dukungan seluruh pihak diharapkan membuat TEI 2026 berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan transaksi perdagangan dan perluasan pasar ekspor.
Baca juga: Rudal Mistral dan Stinger Siap Hadapi Target Udara di SGS 2026 | Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026 | Menembus Langit Banua, Hercules TNI AU Bawa Bantuan Presiden RI untuk Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan
