Kabupaten Tulungagung | Banjir menggenangi sebagian ruang kelas SDN 1 Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, sehingga kegiatan belajar mengajar secara tatap muka belum dapat berlangsung. Genangan muncul setelah hujan mengguyur wilayah tersebut sejak Minggu malam, 1 November, hingga Senin pagi, 2 November. Kondisi itu membuat sekolah belum bisa digunakan untuk pembelajaran langsung sebagaimana biasanya. Sebanyak 90 siswa pun mengikuti kegiatan belajar dari rumah selama ruang kelas masih tergenang.
Peristiwa ini bermula dari hujan yang turun dalam rentang waktu tersebut. Air kemudian memasuki sebagian ruang kelas di SDN 1 Besole. Akibatnya, kegiatan belajar di sekolah tidak dapat berjalan secara tatap muka pada saat itu. Informasi yang tersedia menyebut genangan berada di sebagian ruang kelas; tidak ada keterangan mengenai ketinggian air ataupun kondisi ruang lainnya. Karena itu, dampak yang dapat dipastikan dalam kejadian ini adalah terganggunya aktivitas belajar langsung bagi para siswa.
Pengalihan kegiatan belajar ke rumah menjadi pilihan bagi 90 siswa ketika genangan menghambat penggunaan ruang kelas. Dengan demikian, pembelajaran tetap diarahkan berlangsung dari rumah, bukan di ruang kelas yang terdampak. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa hujan yang mengguyur kawasan Besole sejak malam hingga pagi bertepatan dengan munculnya genangan di lingkungan sekolah. Untuk sementara, kegiatan tatap muka di SDN 1 Besole belum dapat dilaksanakan. Siswa menjalani kegiatan belajar dari rumah, sementara informasi mengenai genangan menjadi dasar untuk memahami mengapa aktivitas sekolah tidak berlangsung seperti biasa pada hari itu.
Sebanyak 90 siswa SDN 1 Besole, mulai dari kelas I hingga kelas VI, untuk sementara mengikuti pembelajaran dari rumah. Kegiatan belajar dialihkan ke moda daring karena area sekolah masih tergenang banjir dan belum memungkinkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka secara aman maupun efektif. Dengan kondisi tersebut, siswa tidak diminta datang ke sekolah sampai genangan surut dan lingkungan kembali mendukung kegiatan belajar.
Pengalihan pembelajaran ini menjadi langkah sementara agar proses pendidikan tetap berlangsung meskipun akses dan kondisi ruang sekolah terganggu. Guru dan siswa menjalankan kegiatan belajar dari tempat masing-masing melalui pembelajaran daring. Kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh jenjang di sekolah, sehingga siswa kelas rendah maupun kelas tinggi sama-sama melanjutkan kegiatan belajar dari rumah selama situasi belum pulih.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Tulungagung, Dwi Teguh Prasetyo, menyampaikan bahwa pihak sekolah telah berkoordinasi dengan dinas untuk menentukan langkah pembelajaran selama genangan belum surut. Koordinasi itu diperlukan untuk menyesuaikan kegiatan belajar dengan keadaan sekolah dan memastikan keputusan yang diambil dapat diterapkan oleh seluruh siswa. Pengaturan sementara tersebut juga memberi waktu bagi pihak terkait untuk memantau perkembangan kondisi genangan sebelum pembelajaran langsung kembali dilakukan.
Keputusan untuk belum menggelar kegiatan tatap muka mempertimbangkan bahwa sekolah yang tergenang belum mendukung proses belajar secara langsung. Ruang dan lingkungan sekolah perlu berada dalam kondisi yang memadai sebelum siswa kembali berkumpul untuk mengikuti pelajaran. Selama keadaan itu belum tercapai, pembelajaran dari rumah menjadi pilihan yang dapat menjaga kesinambungan kegiatan pendidikan tanpa mengabaikan situasi di sekolah.
Pelaksanaan pembelajaran daring akan berlangsung selama genangan masih menghambat penggunaan sekolah. Setelah kondisi dinilai memungkinkan, langkah berikutnya dapat ditentukan melalui koordinasi sekolah dan Dinas Pendidikan Tulungagung. Untuk sementara, 90 siswa dari kelas I sampai kelas VI tetap mengikuti kegiatan belajar dari rumah, sambil menunggu sekolah kembali dapat digunakan untuk pembelajaran tatap muka.
Dinas Pendidikan Tulungagung akan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran di SDN 1 Besole dengan memperhatikan kondisi genangan air di lingkungan sekolah. Evaluasi diperlukan untuk menentukan apakah kegiatan belajar dapat kembali dilakukan secara langsung di ruang kelas atau masih perlu berlangsung dari rumah. Keputusan tersebut akan didasarkan pada keadaan sekolah, bukan semata-mata pada kebutuhan untuk segera memulai kembali kegiatan tatap muka.
Selama genangan masih mengganggu lingkungan sekolah dan ruang kelas belum dapat digunakan, pembelajaran tatap muka belum dilanjutkan. Kondisi ruang belajar menjadi pertimbangan penting karena kegiatan di sekolah memerlukan tempat yang dapat digunakan dengan layak. Dengan demikian, proses belajar secara langsung baru dapat berlangsung kembali setelah air surut dan ruang kelas kembali bisa digunakan.
Langkah evaluasi ini juga menjadi bagian dari upaya menyesuaikan kegiatan pendidikan dengan keadaan di lapangan. Dinas Pendidikan perlu melihat dampak genangan terhadap akses dan kondisi fasilitas sekolah sebelum menentukan kelanjutan pembelajaran. Informasi mengenai keadaan sekolah menjadi dasar untuk menilai apakah kegiatan belajar di kelas sudah memungkinkan, sehingga proses belajar dapat berjalan sesuai kondisi yang ada.
Untuk sementara, 90 siswa SDN 1 Besole menjalani pembelajaran dari rumah akibat banjir yang mengganggu kegiatan di sekolah. Pola belajar tersebut diterapkan selama ruang kelas belum dapat digunakan untuk kegiatan tatap muka. Orang tua dan siswa diharapkan mengikuti informasi resmi dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan mengenai evaluasi dan perubahan pelaksanaan pembelajaran.
Belum ada jadwal pemulihan kegiatan tatap muka yang dapat dipastikan, sebab kelanjutan pembelajaran bergantung pada surutnya air dan kesiapan ruang kelas. Karena itu, penilaian akan mengikuti perkembangan kondisi di lingkungan sekolah. Setelah genangan surut dan ruang belajar dapat kembali dipakai, pembelajaran langsung dapat dilanjutkan sesuai keputusan yang ditetapkan. Sampai kondisi tersebut terpenuhi, kegiatan belajar dari rumah tetap menjadi pilihan sementara bagi para siswa.
Menurut Dwi, banjir yang kembali mengganggu kegiatan belajar di SDN 1 Besole bukanlah kejadian pertama yang dialami sekolah tersebut. SDN 1 Besole kerap terdampak banjir ketika memasuki musim penghujan. Keterangan ini menunjukkan bahwa gangguan akibat banjir sudah beberapa kali menjadi bagian dari situasi yang dihadapi sekolah pada periode tersebut, bukan peristiwa yang sepenuhnya baru bagi lingkungan sekolah.
Pengalaman berulang itu juga berkaitan dengan kegiatan belajar yang tidak selalu dapat berlangsung seperti biasa di sekolah. Dalam keadaan tertentu, aktivitas pembelajaran perlu dialihkan ke rumah. Dengan demikian, ketika banjir terjadi, kegiatan belajar dapat dilaksanakan dari rumah untuk sementara, sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Dwi menyampaikan bahwa pengalihan seperti ini terkadang diperlukan, bukan bahwa seluruh kegiatan belajar selalu dipindahkan setiap kali musim hujan tiba.
Keterangan Dwi memberi konteks terhadap keputusan belajar dari rumah saat banjir kembali berdampak pada SDN 1 Besole. Karena sekolah tersebut pernah mengalami kejadian serupa, pengalihan aktivitas belajar bukan hal yang sama sekali asing. Namun, penjelasan yang disampaikan terbatas pada kenyataan bahwa banjir kerap terjadi saat memasuki musim penghujan dan bahwa kegiatan belajar terkadang dialihkan ke rumah. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai waktu kejadian terdahulu ataupun rincian lain tentang peristiwa tersebut.
Dengan konteks itu, kejadian banjir kali ini dapat dipahami sebagai salah satu gangguan berulang yang kadang memengaruhi pelaksanaan pembelajaran di SDN 1 Besole. Dwi menegaskan bahwa sekolah bukan kali pertama menghadapi kondisi tersebut. Saat musim penghujan datang, banjir kerap kembali berdampak, sehingga pada kesempatan tertentu siswa belajar dari rumah. Pernyataan ini menggambarkan pola yang disebutkan Dwi tanpa merinci penyebab banjir atau menambahkan keterangan mengenai lokasi lain.
16 kunjungan





