SDN Adisutjipto 2 Yogyakarta Diproyeksikan Jadi Percontohan Pembelajaran AI

SDN Adisutjipto 2 Yogyakarta Diproyeksikan Jadi Percontohan Pembelajaran AI

Yogyakarta | SD Negeri Adisutjipto 2 Yogyakarta diproyeksikan menjadi sekolah model yang mengembangkan pembelajaran koding, kecerdasan artifisial (AI), dan pembelajaran mendalam atau deep learning. Arah ini menempatkan teknologi bukan sekadar sebagai perangkat tambahan, melainkan sebagai bagian dari pengalaman belajar yang membantu siswa memahami konsep, menyusun gagasan, dan memecahkan persoalan. Pengembangan tersebut dirancang untuk diterapkan sejak jenjang sekolah dasar, dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan kebutuhan belajar anak. Dengan pendekatan yang sesuai usia, siswa dapat berkenalan dengan teknologi secara bertahap, terarah, dan bermakna.

Pembelajaran koding dapat mendorong siswa berpikir secara runtut, mengenali pola, serta membagi persoalan menjadi langkah-langkah yang dapat dikerjakan. Sementara itu, pengenalan AI dapat membuka ruang untuk memahami cara teknologi bekerja dan bagaimana manusia menggunakannya secara bijak. Materi tidak harus berfokus pada kemampuan teknis yang rumit; kegiatan sederhana, diskusi, dan proyek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk. Guru berperan membimbing siswa mengajukan pertanyaan, memeriksa informasi, dan mempertimbangkan dampak penggunaan teknologi, sehingga literasi digital tumbuh bersama pemahaman tentang tanggung jawab.

Unsur pembelajaran mendalam memperkuat rencana tersebut dengan menekankan pemahaman, keterkaitan antarkonsep, dan penerapan pengetahuan dalam konteks nyata. Melalui kegiatan eksplorasi dan kolaborasi, siswa diharapkan tidak hanya mengingat materi, tetapi juga mampu menjelaskan alasan, mencoba beragam solusi, dan belajar dari proses. Penguatan berpikir kritis dapat berjalan beriringan dengan kreativitas ketika anak diberi kesempatan merancang ide, membuat karya, atau menyampaikan cara pandangnya. Sebagai sekolah percontohan, SD Negeri Adisutjipto 2 dapat menjadi ruang untuk mengembangkan praktik pembelajaran yang relevan sekaligus membangun kesiapan siswa menghadapi lingkungan digital. Pelaksanaannya memerlukan dukungan guru, rancangan kegiatan yang terukur, serta perhatian pada akses dan keamanan, agar pemanfaatan teknologi tetap mendukung tujuan pendidikan dasar.Pada Minggu (1/11), Listyo Sigit Prabowo mengunjungi SDN Adisutjipto 2 Yogyakarta untuk melihat secara langsung pendekatan pembelajaran yang diterapkan di sekolah tersebut. Peninjauan itu memberi gambaran tentang bagaimana teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dapat diperkenalkan dalam kegiatan belajar dengan tetap menempatkan kebutuhan dan perkembangan siswa sebagai perhatian utama. Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengamati suasana kelas, interaksi guru dan murid, serta cara siswa terlibat dalam proses pembelajaran.

Model belajar yang ditinjau tidak semata-mata berfokus pada penguasaan atau hafalan materi. Siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan, menimbang informasi, dan mengembangkan pemikiran kritis ketika menghadapi persoalan. Kegiatan bersama juga memberi ruang bagi mereka untuk berkolaborasi, bertukar gagasan, dan menyelesaikan tugas secara kolektif. Di saat yang sama, penggunaan teknologi diarahkan agar berlangsung secara bijak: siswa perlu memahami manfaat sekaligus batasannya, serta mampu mempertimbangkan keamanan dan tanggung jawab saat memanfaatkan perangkat maupun aplikasi digital.

Harapannya, pengenalan teknologi sejak dini tidak membuat anak hanya menjadi pengguna. Dengan bimbingan guru dan kesempatan untuk bereksperimen, siswa dapat belajar merancang gagasan, menghasilkan karya, dan memanfaatkan teknologi untuk menjawab kebutuhan di sekitarnya. Keterampilan tersebut menjadi bekal penting di tengah perubahan yang terus berlangsung, ketika kemampuan memahami informasi perlu berjalan beriringan dengan kreativitas, kerja sama, dan penilaian yang matang.

Sigit menilai inisiatif pembelajaran seperti ini sejalan dengan agenda Presiden Prabowo Subianto untuk membangun sumber daya manusia unggul. Menurut pandangannya, pendidikan perlu menghadirkan pengalaman nyata, bukan hanya menyampaikan teori di ruang kelas. Melalui pengalaman yang relevan, anak dapat berlatih mengambil keputusan, mencoba pendekatan berbeda, dan belajar dari proses maupun hasilnya. Pendekatan tersebut diharapkan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, dan produktif, sekaligus mampu mengenali serta memecahkan persoalan di lingkungan masing-masing. Penguatan pembelajaran berbasis pengalaman juga menuntut dukungan berkelanjutan dari sekolah, pendidik, keluarga, dan pemangku kebijakan agar pemanfaatan teknologi benar-benar memperkaya proses belajar dan membuka ruang bagi potensi setiap siswa.

Pengembangan pembelajaran di SDN Adisutjipto 2 Yogyakarta didukung oleh fasilitas yang dirancang untuk memperluas pengalaman belajar siswa. Ruang broadcasting, perpustakaan, dan papan interaktif digital (PID) menjadi bagian dari upaya sekolah menghadirkan lingkungan belajar yang lebih beragam. Setiap fasilitas memiliki fungsi berbeda, tetapi saling melengkapi: siswa dapat berlatih menyampaikan gagasan, mengakses bahan bacaan, serta mengikuti pembelajaran dengan dukungan teknologi digital.

Ruang broadcasting memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menyampaikan informasi secara runtut dan jelas. Di ruang ini, mereka dapat berlatih berbicara di depan kamera, menyusun pesan, dan terlibat dalam proses produksi konten. Kegiatan tersebut mengenalkan keterampilan komunikasi melalui praktik, bukan hanya penjelasan di kelas. Dengan mencoba peran dan tugas yang berbeda, siswa juga dapat belajar bekerja sama serta memahami tahapan penyampaian informasi kepada audiens.

Latihan di ruang broadcasting turut diarahkan untuk membangun kepercayaan diri. Berbicara di depan kamera dapat terasa menantang, sehingga pengalaman berulang membantu siswa menyampaikan pendapat dengan lebih tenang. Pada saat yang sama, proses menyiapkan konten memberi ruang untuk membahas cara memilih informasi. Siswa perlu mempertimbangkan isi, kejelasan pesan, dan sumber informasi sebelum menyampaikannya. Kebiasaan ini penting agar mereka semakin cermat dalam memilah informasi yang ditemui, termasuk melalui media digital.

Perpustakaan melengkapi kegiatan tersebut dengan menyediakan ruang untuk membaca dan mencari pengetahuan. Sementara itu, PID mendukung pembelajaran interaktif melalui penyajian materi secara digital. Guru dapat memanfaatkan papan ini untuk membantu menjelaskan konsep, menampilkan bahan belajar, dan mendorong keterlibatan siswa dalam kegiatan kelas. Penggunaan PID menjadi bagian dari program digitalisasi pembelajaran yang mendukung agenda Indonesia Cerdas. Melalui pemanfaatan fasilitas secara terarah, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkaya proses belajar, bukan sekadar perangkat tambahan. Pengembangan ruang dan fasilitas ini memberi siswa kesempatan mengasah keterampilan komunikasi, literasi, serta partisipasi aktif sesuai kebutuhan pembelajaran masa kini.

Pengembangan lahan produktif di SD Negeri Adisutjipto 2 Yogyakarta diarahkan menjadi bagian dari pengalaman belajar yang menghubungkan materi di kelas dengan lingkungan sekitar. Area sekolah dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), sehingga siswa memperoleh kesempatan untuk mengamati, mencoba, dan memahami proses secara langsung. Pendekatan ini mendorong rasa ingin tahu sekaligus melatih kemampuan memecahkan masalah melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lahan tersebut bukan hanya memperkaya suasana sekolah, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan keterampilan praktis dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.

Salah satu materi yang diperkenalkan kepada siswa ialah tanaman obat keluarga (TOGA). Melalui kegiatan di lahan sekolah, siswa dapat mengenali jenis tanaman, bagian yang dimanfaatkan, serta manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pengenalan tersebut juga membuka ruang untuk membahas bagaimana bahan alami dapat diolah menjadi produk yang berguna. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada pengetahuan tentang tanaman, tetapi mencakup pengamatan, pemilihan bahan, tahapan pengolahan, dan pemahaman atas hasilnya. Kegiatan seperti ini dapat mengaitkan sains dengan teknologi dan teknik, sekaligus memberi konteks nyata bagi konsep matematika, misalnya saat mengukur bahan atau membandingkan takaran.

Salah satu kegiatan yang direncanakan adalah mengolah serai menjadi bahan baku pengharum ruangan. Proses tersebut dapat menjadi contoh pembelajaran terpadu: siswa mengenal karakteristik serai, mempelajari cara pengolahannya, lalu memahami fungsi produk yang dihasilkan. Praktik semacam ini juga memberi kesempatan untuk menumbuhkan kreativitas dan mengenalkan gagasan bahwa pengetahuan dapat diterapkan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Baca juga: Panglima TNI Hadiri Bazar Bersama Rakyat di Yogyakarta