Palembang di Tengah Kabut Asap Karhutla: Dampak pada Kampus dan Warga

Palembang di Tengah Kabut Asap Karhutla: Dampak pada Kampus dan Warga

Palembang | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan telah menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan, selama hampir tiga bulan. Dalam rentang tersebut, udara berkabut menjadi bagian dari keseharian warga dan mengubah cara mereka menjalankan berbagai aktivitas. Gangguan ini tidak hanya terasa di ruang publik, tetapi juga memengaruhi kegiatan rumah tangga, perjalanan, serta rutinitas masyarakat yang biasanya berlangsung tanpa hambatan serupa.

Ketika asap menyelimuti kota, jarak pandang dapat terasa terbatas dan suasana lingkungan berubah. Warga perlu menyesuaikan kegiatan di luar ruangan, sementara perjalanan dan aktivitas harian dapat terasa lebih berat. Kondisi berkepanjangan juga menimbulkan ketidaknyamanan karena masyarakat harus menghadapi udara yang tidak bersih dalam keseharian. Bagi sebagian warga, pekerjaan, urusan keluarga, dan keperluan lain tetap harus dilakukan, sehingga paparan kabut asap sulit sepenuhnya dihindari.

Dampak terhadap kesehatan menjadi perhatian penting. Kabut asap dapat mengganggu kenyamanan pernapasan dan membuat warga lebih rentan merasakan keluhan, khususnya ketika kondisi berlangsung lama. Anak-anak, orang lanjut usia, serta orang yang telah memiliki masalah kesehatan dapat memerlukan perhatian lebih saat menghadapi udara berasap. Meski pengalaman setiap orang berbeda, gangguan kesehatan maupun kekhawatiran terhadap dampak paparan menjadi bagian dari beban yang dirasakan masyarakat.

Lamanya kabut asap menyelimuti Palembang turut membuat dampaknya tidak dapat dipandang sebagai gangguan sesaat. Warga harus mengatur ulang kebiasaan dan mempertimbangkan kondisi udara ketika merencanakan kegiatan. Situasi tersebut juga dapat membatasi kenyamanan dalam beraktivitas, baik di dalam maupun di luar rumah. Kehidupan sehari-hari pun berlangsung dengan penyesuaian yang berulang, sementara kebutuhan untuk beraktivitas tetap ada.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana kabut asap karhutla dapat menjangkau langsung kehidupan masyarakat kota. Hampir tiga bulan menghadapi kondisi tersebut berarti warga Palembang menjalani rutinitas di tengah ketidaknyamanan dan risiko bagi kesehatan. Dampaknya bukan sekadar perubahan suasana, melainkan gangguan nyata terhadap aktivitas dan kesejahteraan warga. Karena itu, pengalaman masyarakat selama periode ini menjadi gambaran penting mengenai konsekuensi kabut asap berkepanjangan di Sumatera Selatan.

Imam Warmasnyah, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, merasakan langsung perubahan kegiatan akademik ketika kabut asap karhutla semakin pekat. Kondisi udara yang mengganggu aktivitas membuat perkuliahan tidak dapat berlangsung seperti biasa. Sebagai salah satu langkah menghadapi situasi tersebut, kegiatan belajar dialihkan menjadi perkuliahan daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Namun, menurut Imam, peralihan ke PJJ tidak serta-merta membuat proses belajar berjalan optimal. Ia menilai cara tersebut kurang efektif dibandingkan perkuliahan tatap muka, sehingga penyampaian materi dan kegiatan akademik tidak dapat berlangsung secara maksimal. Perubahan mendadak juga membuat sejumlah hal yang telah direncanakan harus tertunda. Dengan demikian, dampak asap tidak hanya terlihat pada kondisi lingkungan, tetapi turut mengubah ritme belajar dan pekerjaan di lingkungan kampus.

Keluhan Imam mencerminkan tantangan yang dihadapi dosen dan mahasiswa ketika kegiatan pendidikan harus menyesuaikan diri dengan kualitas udara yang memburuk. Pembelajaran jarak jauh dapat membantu menjaga agar kegiatan kuliah tetap berlangsung, tetapi pelaksanaannya memiliki keterbatasan. Interaksi pengajar dan mahasiswa tidak sama dengan pertemuan langsung, sementara penundaan sejumlah kegiatan dapat memengaruhi kelancaran aktivitas akademik. Situasi ini menunjukkan bahwa gangguan akibat kabut asap menjangkau berbagai lini kehidupan kampus, bukan hanya jadwal perkuliahan.

Imam menyampaikan keluhannya pada Kamis, 22 Oktober. Ia juga menilai dampak asap terasa di berbagai lini, dengan kampus menjadi salah satu tempat yang paling terdampak dalam kegiatan sehari-hari. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana bencana kabut asap dapat memaksa institusi pendidikan mengubah metode pembelajaran, sekaligus menimbulkan kendala bagi dosen dan mahasiswa. Meski PJJ menjadi pilihan agar kegiatan belajar tidak sepenuhnya terhenti, metode itu tetap belum mampu menggantikan efektivitas perkuliahan tatap muka menurut penilaiannya. Sejumlah aktivitas yang tertunda pun menjadi bagian dari konsekuensi yang dirasakan selama kondisi asap menghambat kegiatan di Palembang.

Rasya, warga Palembang yang rutin berolahraga pada pagi hari, merasakan kabut asap karhutla mengubah kegiatan yang biasanya menjadi bagian dari kesehariannya. Udara yang dipenuhi asap membuatnya tidak leluasa beraktivitas di luar rumah. Ia mengaku mata terasa perih, napas terasa sesak, dan tenggorokannya kering saat berada di tengah kondisi tersebut. Keluhan itu muncul ketika ia berusaha menjalankan rutinitas pagi, sehingga olahraga yang biasanya dilakukan dengan nyaman justru terasa berat dan mengganggu.

Bagi Rasya, dampak kabut asap bukan hanya terlihat dari berkurangnya jarak pandang, tetapi juga dirasakan langsung ketika ia menghirup udara di luar. Rasa perih pada mata dan tenggorokan kering membuatnya sulit menikmati kegiatan seperti biasa, sementara napas sesak menambah ketidaknyamanan selama beraktivitas. Pengalamannya menggambarkan bagaimana pencemaran udara dapat memengaruhi rutinitas warga, termasuk kegiatan sederhana seperti berjalan atau berolahraga pagi. Ia menyampaikan keluhan berdasarkan apa yang dirasakannya, tanpa menyebutnya sebagai diagnosis atau kondisi medis tertentu.

Rasya juga menceritakan bahwa kabut sempat menghilang selama beberapa hari setelah penaburan dry ice dilakukan. Jeda tersebut memberi kesan bahwa kondisi udara membaik untuk sementara, sehingga aktivitas di luar ruangan terasa lebih mungkin dilakukan. Namun, perubahan itu tidak berlangsung lama. Pada hari ia memberikan keterangan, kabut asap kembali terlihat dan kondisinya dinilai lebih parah dibandingkan hari sebelumnya. Kembalinya asap membuat kekhawatiran warga muncul lagi, terutama bagi mereka yang memiliki kebiasaan beraktivitas pagi di luar rumah.

Kesaksian Rasya menunjukkan bahwa perubahan kondisi kabut asap dapat segera terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika udara kembali memburuk, warga perlu menyesuaikan rencana dan mempertimbangkan kenyamanan saat beraktivitas di luar. Bagi Rasya, rutinitas olahraga pagi yang biasanya teratur kini terhambat oleh keadaan tersebut. Keluhan mata perih, napas sesak, dan tenggorokan kering menjadi bagian dari pengalamannya menghadapi kabut asap, sementara kondisi yang sempat mereda kembali memburuk. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga memengaruhi kegiatan harian warga Palembang secara langsung.

Di tengah kabut asap yang terus mengganggu aktivitas, Imam meminta pemerintah tidak berhenti pada langkah sementara, melainkan segera mencari solusi yang efektif untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, penanganan perlu dirancang agar mampu menjawab persoalan secara nyata, bukan sekadar menjadi rangkaian percobaan tanpa kepastian hasil. Waktu yang terbuang dapat membuat warga semakin lama menghadapi udara tercemar, sementara dampaknya merembet ke berbagai sisi kehidupan. Ia mengkhawatirkan persoalan ini tidak hanya mengganggu kesehatan dan kegiatan belajar, tetapi juga memengaruhi ekonomi masyarakat serta situasi politik. Karena itu, ia berharap pemerintah mempertimbangkan dampak luas tersebut ketika menentukan kebijakan dan tindakan di lapangan.

Imam juga mengingatkan agar uji coba yang dinilai belum memberikan penyelesaian tidak terus diulang dengan alasan mencari cara yang tepat. Baginya, langkah semacam itu berisiko mengulur waktu ketika masyarakat membutuhkan penanganan yang cepat dan terukur. Pemerintah diharapkan menjelaskan pilihan solusi yang akan dijalankan, bagaimana efektivitasnya dinilai, serta tindak lanjut yang disiapkan bila upaya awal belum berhasil. Harapan tersebut mencerminkan kebutuhan akan tindakan yang konsisten, bukan sekadar respons sesaat ketika kabut asap berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Penanganan perlu memperhatikan keadaan warga dan kampus yang terdampak, sekaligus mencegah gangguan meluas ke kegiatan sehari-hari.

Warga pun mengharapkan penanganan jangka panjang agar kualitas udara Palembang dapat kembali bersih dan sehat.

Baca juga: Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla | Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla | Pemadaman dan Pembasahan Lahan Gambut Diperkuat, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Berjibaku di Tengah Asap Tekan Dampak Karhutla di Kalsel