Trenggono Dorong Inovasi Pangan Berprotein untuk Menekan Stunting

Trenggono Dorong Inovasi Pangan Berprotein untuk Menekan Stunting

Jakarta | Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono menyatakan bahwa peningkatan kesadaran mengenai pentingnya protein serta pengembangan inovasi pangan dinilai menjadi jalan untuk mewujudkan Indonesia bebas stunting. Pesan tersebut menempatkan pemahaman tentang asupan protein dan upaya menghadirkan pilihan pangan yang inovatif sebagai dua hal yang saling berkaitan dalam mendukung tujuan itu. Pernyataan tersebut disampaikan Trenggono dalam Agrifood Forum 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin, 19 Oktober.

Pokok pesan itu menegaskan bahwa perhatian terhadap stunting perlu disertai pemahaman mengenai peran protein dalam pangan. Kesadaran masyarakat menjadi bagian penting agar nilai dan manfaat asupan protein dapat dipahami dengan lebih baik. Di sisi lain, inovasi pangan dipandang sebagai jalur untuk mendorong pilihan makanan berprotein. Dengan demikian, pembicaraan mengenai pencegahan stunting tidak hanya menyentuh pentingnya protein, tetapi juga bagaimana gagasan pangan dapat terus dikembangkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut.

Dalam kerangka yang disampaikan Trenggono, peningkatan kesadaran dan inovasi bukanlah dua agenda yang berdiri sendiri. Pemahaman yang lebih luas tentang protein dapat berjalan beriringan dengan upaya menghadirkan inovasi pangan. Keduanya diarahkan pada tujuan yang sama, yakni mendorong kondisi yang mendukung Indonesia bebas stunting. Pernyataan di forum tersebut menggarisbawahi pentingnya menjadikan protein sebagai perhatian dalam pembahasan pangan, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan pendekatan baru. Pesan utamanya sederhana: kesadaran tentang protein perlu ditingkatkan, dan inovasi pangan berprotein perlu terus didorong sebagai bagian dari jalan menuju tujuan nasional tersebut.

Bagi Trenggono, keberhasilan mengatasi stunting tidak cukup diukur dari pelaksanaan program atau jumlah bantuan yang disalurkan. Ukuran yang lebih mendasar adalah ketika stunting tidak lagi terjadi dan masyarakat memperoleh asupan protein yang memadai. Pandangan ini menempatkan pemenuhan gizi sebagai bagian penting dari upaya jangka panjang, bukan sekadar intervensi sesaat. Dengan memastikan kebutuhan protein terpenuhi, keluarga dan pemerintah dapat mendukung tumbuh kembang anak sejak dini serta mengurangi risiko gangguan pertumbuhan.

Ia mengaitkan upaya tersebut dengan program yang diinginkan Presiden Prabowo Subianto. Dalam kerangka itu, inovasi pangan berprotein dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas pilihan bahan pangan bergizi dan mendorong konsumsi protein secara lebih baik. Inovasi perlu diarahkan agar pangan yang dihasilkan dapat diterima masyarakat, mudah dijangkau, dan sesuai dengan kebutuhan gizi. Ketersediaan saja tidak cukup apabila produk bergizi sulit diakses atau tidak menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.

Protein berperan penting dalam pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh, sehingga mendukung pertumbuhan fisik anak. Kecukupan protein juga berkaitan dengan perkembangan otak dan kemampuan kognitif, yang menjadi fondasi bagi proses belajar serta kecerdasan. Karena itu, pemenuhan protein pada masa anak-anak perlu mendapat perhatian, terutama pada periode pertumbuhan yang menentukan. Asupan yang baik, disertai pemenuhan zat gizi lain dan lingkungan yang mendukung, dapat membantu anak mencapai potensi perkembangannya.

Penekanan pada protein juga sejalan dengan visi pemerintah untuk memperbaiki kualitas gizi generasi bangsa. Visi tersebut membutuhkan kerja bersama, mulai dari pengembangan sumber pangan, penyediaan informasi gizi yang jelas, hingga peningkatan akses rumah tangga terhadap makanan berkualitas. Perhatian terhadap kelompok rentan dan pemantauan kondisi gizi dapat membantu memastikan program menjangkau mereka yang membutuhkan. Jika berbagai langkah itu berjalan konsisten, upaya pencegahan stunting dapat menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia. Dengan demikian, tujuan akhirnya bukan hanya menurunkan angka stunting, melainkan membangun generasi yang sehat, tumbuh optimal, dan siap menghadapi masa depan.

Upaya mendorong inovasi pangan berprotein memerlukan kerja sama lintas pihak, bukan hanya gagasan dari satu lembaga. Peneliti, perguruan tinggi, dan pelaku industri pangan dapat berkontribusi dengan keahlian yang berbeda, mulai dari mengembangkan pengetahuan dan menguji bahan pangan hingga mempertimbangkan cara produksi serta kebutuhan konsumen. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi dasar bagi riset yang lebih terarah dan pengembangan pilihan pangan yang relevan dengan upaya menekan stunting.

Peneliti dan akademisi dapat mengkaji kandungan gizi, mutu, keamanan, serta potensi bahan pangan lokal sebagai sumber protein. Perguruan tinggi juga dapat menyediakan ruang bagi pengembangan dan pengujian gagasan, sehingga inovasi tidak berhenti pada konsep. Sementara itu, pelaku industri dapat memberi masukan mengenai proses pengolahan, skala produksi, distribusi, dan kemungkinan harga. Pertukaran pengetahuan pihak-pihak tersebut penting agar aspek gizi dapat dipertimbangkan bersama dengan kelayakan produk untuk dibuat dan dijangkau masyarakat.

Harapannya, kolaborasi dan penelitian dapat melahirkan beragam produk pangan tinggi protein yang terjangkau, lezat, dan mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat. Keragaman menjadi penting karena kebutuhan, kebiasaan makan, dan kemampuan membeli berbeda-beda. Pilihan yang rasanya dapat diterima serta sesuai dengan keseharian berpotensi membuat pangan bergizi lebih mudah dipertimbangkan oleh keluarga. Namun, hal itu merupakan tujuan pengembangan yang perlu didukung proses riset, pengujian, dan penilaian lebih lanjut, bukan gambaran bahwa produk tertentu telah tersedia atau telah digunakan secara luas.

Agar harapan tersebut dapat diwujudkan, koordinasi perlu memperhatikan keseluruhan perjalanan inovasi: dari pemilihan bahan, formulasi, dan pengujian mutu hingga pertimbangan harga dan akses distribusi. Masukan masyarakat juga dapat membantu pengembang memahami preferensi rasa, bentuk penyajian, serta hambatan dalam memperoleh pangan bergizi. Dengan pendekatan yang melibatkan berbagai pihak, hasil penelitian diharapkan lebih dekat dengan kebutuhan nyata. Kerja bersama ini dapat membuka peluang hadirnya lebih banyak alternatif pangan berprotein, sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting tanpa mengabaikan keterjangkauan dan penerimaan konsumen.

Trenggono mencontohkan pengalamannya melihat ragam makanan di Jepang yang memanfaatkan bahan pangan setempat, termasuk rumput laut dan ikan. Bahan-bahan tersebut tidak hanya disajikan dalam satu bentuk, melainkan diolah menjadi beragam hidangan yang mudah dijumpai dalam keseharian. Contoh itu menunjukkan bahwa sumber protein dan pangan bergizi dapat hadir melalui pilihan menu yang bervariasi, sesuai bahan yang tersedia dan kebiasaan masyarakat. Pengolahan yang kreatif juga dapat membantu membuat bahan pangan lebih menarik untuk dikonsumsi oleh berbagai kelompok usia.

Ia turut menyebut udang sebagai bahan yang memiliki banyak kemungkinan olahan. Udang dapat disajikan dengan cara dan bentuk berbeda, sehingga pemanfaatannya tidak harus terbatas pada satu jenis menu. Ragam pengolahan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan bahan pangan berprotein kepada keluarga, sekaligus memberi pilihan yang lebih beragam dalam menu sehari-hari. Dengan memanfaatkan bahan yang dikenal masyarakat dan mengolahnya secara menarik, pesan mengenai pentingnya asupan gizi dapat disampaikan lebih dekat dengan praktik makan di rumah.

Menurut Trenggono, upaya mengatasi stunting perlu diiringi penguatan sosialisasi dan inovasi pangan. Pemerintah berkomitmen mendorong pemahaman mengenai gizi dan protein agar tidak berhenti sebagai informasi, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari. Pembiasaan itu dapat dimulai dari pilihan bahan makanan, cara mengolahnya, hingga kesadaran keluarga untuk menyediakan asupan bergizi secara teratur. Berbagai contoh pangan lokal dan variasi hidangan dapat membantu masyarakat melihat bahwa pemenuhan protein bisa dilakukan dengan pilihan yang sesuai dengan kondisi dan kebiasaan masing-masing. Sosialisasi yang berkelanjutan diharapkan membuat pengetahuan tentang gizi lebih mudah dipahami dan diterapkan. Pemerintah berharap tujuan bebas stunting dapat dirasakan oleh generasi mendatang, melalui pemahaman dan kebiasaan makan bergizi yang dibangun sejak sekarang.

Baca juga: Pantau Langsung Perkembangan Karhutla, Komandan Lanud Sjamsudin Noor Bersama Forkopimda Kalsel Turun ke Lapangan Uji Fungsi Inovasi Injeksi Air