Palembang | Lima helikopter water bombing yang tergabung dalam satuan tugas udara penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum dapat menjalankan misi pemadaman. Asap tebal menutup wilayah operasi sehingga jarak pandang berada pada kondisi yang tidak memungkinkan bagi armada tersebut untuk mengudara. Kelima helikopter bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu kini tetap siaga di Palembang sambil menunggu cuaca dan kondisi atmosfer membaik.
Armada tersebut sebelumnya dijadwalkan membantu pemadaman di sejumlah titik karhutla yang terpantau di wilayah Sumatera Selatan. Namun, penerbangan pada Selasa, 13 Oktober 2026, kembali ditunda setelah jarak pandang menurun akibat kepulan asap. Kondisi itu menyulitkan pilot untuk memastikan keamanan selama lepas landas, menuju lokasi, melakukan pengambilan air, hingga melaksanakan penyiraman dari udara.
Penundaan operasi udara dilakukan sebagai bagian dari penerapan prosedur keselamatan penerbangan. Water bombing membutuhkan visibilitas yang memadai agar helikopter dapat bermanuver secara akurat dan menghindari berbagai risiko selama berada di sekitar area kebakaran. Asap yang pekat juga dapat menghambat pemantauan titik api serta menyulitkan koordinasi dengan petugas di darat.
Meski belum mengudara, kesiagaan lima helikopter tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tetap berlangsung dan tidak dihentikan. Tim terkait terus memantau perubahan jarak pandang, perkembangan asap, serta kondisi titik panas untuk menentukan waktu operasi yang aman. Penerbangan akan dilaksanakan kembali apabila keadaan memungkinkan, sehingga misi pemadaman dapat dilakukan secara efektif tanpa mengabaikan keselamatan awak, personel pendukung, maupun masyarakat di sekitar lokasi.
Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa persiapan penerbangan lima helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sempat dilakukan pada pagi hari. Seluruh armada telah disiapkan untuk menjalankan operasi, termasuk misi water bombing ke lokasi yang terdeteksi mengalami kebakaran. Namun, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena kondisi cuaca berubah dan jarak pandang kembali menurun secara tiba-tiba.
Menurut Ferdian, helikopter memang sudah berada dalam kondisi siap terbang ketika kabut asap atau gangguan atmosfer membuat visibility menjadi sangat rendah. Situasi itu dinilai membahayakan keselamatan penerbangan, baik bagi awak pesawat maupun personel yang berada di sekitar area operasi. Karena itu, penerbangan harus dibatalkan sementara. Tim tetap melakukan persiapan sambil memantau perkembangan cuaca dan menunggu jarak pandang membaik hingga memenuhi standar keselamatan.
Ferdian menyampaikan bahwa permintaan pelaksanaan water bombing telah diajukan sebagai bagian dari upaya penanganan kebakaran. Kendati demikian, pengajuan tersebut tidak berarti operasi dapat langsung dijalankan. Pelaksanaan pemadaman dari udara tetap bergantung pada kondisi visibility di lapangan. Apabila jarak pandang masih rendah, penerbangan akan ditunda untuk menghindari risiko kecelakaan serta memastikan misi dapat berlangsung secara efektif.
Pemadaman melalui udara menjadi penting karena tidak seluruh titik api dapat dijangkau dengan mudah oleh tim darat. Kebakaran yang berada di kawasan rawa, lahan gambut, semak lebat, atau wilayah dengan akses terbatas dapat menghambat pergerakan petugas dan peralatan. Dalam kondisi tersebut, helikopter membantu menjatuhkan air secara langsung ke area terbakar, sehingga api dapat ditekan dan penyebarannya diperlambat. Koordinasi operasi udara, pemantauan cuaca, dan penanganan oleh tim darat tetap diperlukan agar upaya pemadaman berjalan aman dan tepat sasaran.
Gangguan jarak pandang yang menghambat operasi lima helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan bukan hanya terjadi pada hari penundaan penerbangan. Kondisi tersebut telah berlangsung sejak Kamis, 8 Oktober, ketika asap tebal mulai memengaruhi visibilitas di sejumlah wilayah. Akibatnya, pelaksanaan misi pemadaman melalui udara harus disesuaikan dengan keadaan atmosfer dan tingkat keamanan di sekitar lokasi kebakaran.
Menurut Ferdian, jarak pandang di wilayah terdampak berubah-ubah secara dinamis. Pada waktu tertentu, kondisi masih memungkinkan helikopter melakukan persiapan penerbangan, tetapi situasi dapat memburuk dalam waktu singkat. Bahkan, pada beberapa hari, helikopter sama sekali tidak dapat mengudara karena jarak pandang berada di bawah batas aman. Perubahan ini membuat jadwal operasi tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan kondisi cuaca pada satu waktu tertentu.
Upaya water bombing juga pernah dilakukan dari Bangka Belitung untuk membantu mengatasi kebakaran. Namun, hasilnya belum optimal karena langit di atas titik kebakaran tertutup asap tebal. Tutupan asap menyulitkan kru melihat sasaran secara jelas dan meningkatkan risiko selama proses pengambilan, pengangkutan, serta penjatuhan air. Dalam situasi seperti itu, efektivitas pemadaman menjadi terbatas meskipun helikopter telah dikerahkan.
Naik-turunnya jarak pandang dan keadaan langsung di lokasi kejadian menjadi dasar utama dalam menentukan apakah penerbangan dapat dilaksanakan. Operator dan kru perlu memantau perkembangan visibilitas sebelum mengambil keputusan, termasuk menilai ketebalan asap, arah pergerakan asap, serta kondisi di sekitar titik api. Pertimbangan keselamatan tersebut dilakukan agar misi pemadaman tidak menimbulkan risiko tambahan bagi awak, pesawat, maupun pihak lain yang berada di wilayah operasi.
Penanganan titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap berlangsung meskipun lima helikopter pemadam belum dapat beroperasi karena asap tebal. Ferdian memastikan satgas darat terus melakukan pemadaman di sejumlah lokasi yang masih memerlukan penanganan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengandalkan personel di lapangan untuk menjangkau titik api dan mengendalikan penyebaran kebakaran sesuai kondisi yang dihadapi.
Empat wilayah menjadi fokus penanganan satgas darat, yakni Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Di wilayah-wilayah tersebut, petugas terus berupaya memadamkan titik karhutla meski prosesnya tidak mudah. Tim harus bekerja di medan yang berat, sehingga pergerakan menuju lokasi kebakaran dan pelaksanaan pemadaman membutuhkan upaya lebih besar. Kondisi lapangan turut memengaruhi kecepatan petugas dalam menangani setiap titik api.
Selain medan yang berat, satgas darat juga menghadapi kesulitan dalam memperoleh pasokan air. Sungai dan kanal yang sebelumnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber air mulai mengering. Berkurangnya ketersediaan air membuat petugas harus menghadapi kendala tambahan ketika melakukan pemadaman di lokasi karhutla. Situasi tersebut memperberat pekerjaan tim, terutama ketika titik api berada di area yang sulit dijangkau dan jauh dari sumber air. Dengan demikian, hambatan akses menuju lokasi serta semakin terbatasnya ketersediaan air menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman yang dilakukan satgas darat di Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim.
Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Melawi, Salurkan Peralatan Pemadam kepada Masyarakat

