Asap Karhutla dan Suhu Ekstrem Mengancam Sumatera Selatan

Dampak Karhutla terhadap Kualitas Udara Palembang dan Balikpapan pada 13 Oktober 2026

Palembang | Kualitas udara di Palembang masih berada pada level berbahaya akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut terpantau di Stasiun Talang Betutu pada Selasa, 13 Oktober 2026. Pemantauan menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 tetap sangat tinggi sejak dini hari hingga pagi, sehingga masyarakat perlu mewaspadai dampaknya terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.

Berdasarkan data pengamatan pada pukul 00.00 hingga 09.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat berada pada kisaran 185,3 sampai 453,5 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut menggambarkan tingginya jumlah partikel berukuran sangat kecil yang berada di udara dan berpotensi masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan dalam kondisi seperti ini dapat memperburuk keluhan batuk, sesak napas, iritasi mata, serta gangguan kesehatan lain, khususnya apabila masyarakat beraktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan yang memadai.

Tingkat pencemaran itu tercermin dalam Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), yang menempatkan kualitas udara Palembang dalam kategori berbahaya. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyatakan bahwa tingginya konsentrasi PM2.5 berkaitan dengan masih banyaknya kebakaran hutan dan lahan. Asap dari titik-titik kebakaran tersebut memperburuk kondisi atmosfer dan mempertahankan pencemaran udara di wilayah Palembang. Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla serta pemantauan kualitas udara perlu terus dilakukan secara intensif, sementara masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dan membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.

Menurut Wandayantolis, sumber asap yang menyelimuti Palembang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang masih banyak terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Dua daerah yang disebut sebagai lokasi utama kejadian tersebut adalah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Aktivitas kebakaran di wilayah-wilayah itu menghasilkan asap yang kemudian bergerak mengikuti kondisi angin.

Arah angin menjadi faktor penting dalam menjelaskan mengapa asap dari lokasi kebakaran dapat mencapai Palembang. Ketika angin bergerak menuju kota tersebut, asap yang berasal dari kawasan karhutla ikut terbawa dan menyebar ke wilayah perkotaan. Pergerakan ini membuat kondisi udara Palembang dipengaruhi bukan hanya oleh keadaan di dalam kota, tetapi juga oleh kebakaran yang berlangsung di daerah sekitarnya.

Asap yang terbawa angin kemudian menyelimuti Palembang. Penyebarannya dapat membuat lapisan udara di kota tampak lebih berkabut dan mengurangi kejernihan udara. Situasi tersebut menunjukkan hubungan langsung lokasi kebakaran di Ogan Komering Ilir serta Ogan Ilir, arah pergerakan angin, dan memburuknya kualitas udara di Palembang.

Dengan demikian, perubahan kualitas udara di Palembang tidak dapat dipisahkan dari pola penyebaran asap karhutla. Selama kebakaran masih berlangsung di wilayah sumber dan angin tetap mengarah ke Palembang, asap berpotensi terus bergerak menuju kota itu. Keterangan Wandayantolis menegaskan bahwa lokasi kebakaran dan arah angin merupakan dua unsur utama yang menjelaskan mengapa asap dapat menyelimuti Palembang serta menyebabkan kualitas udaranya menurun.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Sumatera Selatan memasuki puncak suhu maksimum utama pada Oktober 2026. Pada periode tersebut, suhu udara tertinggi diperkirakan dapat mencapai 37 derajat Celsius, khususnya di wilayah yang memiliki kerawanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan. Kondisi panas dan kering perlu diantisipasi karena dapat mempercepat pengeringan vegetasi, meningkatkan potensi munculnya titik panas, serta memperluas dampak kebakaran apabila tidak segera ditangani.

Perkiraan suhu di Ogan Komering Ilir dan Banyuasin berada pada kisaran 35 hingga 37 derajat Celsius. Kedua wilayah tersebut termasuk kawasan yang perlu mendapat perhatian karena memiliki lahan gambut, vegetasi mudah terbakar, dan area terbuka yang dapat mengalami kekeringan saat curah hujan berkurang. Sementara itu, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Palembang diperkirakan mengalami suhu sekitar 25 hingga 35 derajat Celsius. Di Pagaralam, suhu berada pada rentang yang lebih lebar, yakni sekitar 15 hingga 36 derajat Celsius, dipengaruhi karakter wilayah dataran tinggi dan perbedaan kondisi topografi.

Perubahan suhu ini berkaitan dengan gerak semu tahunan Matahari. Setelah melewati garis ekuator, posisi semu Matahari bergerak menuju belahan bumi selatan. Sumatera Selatan kemudian menerima penyinaran yang relatif kuat, sehingga energi yang diterima permukaan bumi turut meningkatkan suhu udara. Intensitas pemanasan tidak hanya ditentukan oleh posisi Matahari, tetapi juga oleh tutupan awan, kelembapan, angin, dan kondisi permukaan tanah.

Fenomena tersebut juga dipengaruhi thermal lag, yaitu jeda waktu yang diperlukan permukaan bumi untuk merespons energi Matahari yang diterimanya. Akibatnya, suhu maksimum tidak selalu terjadi tepat pada saat penyinaran berada pada tingkat tertinggi. Panas yang tersimpan di daratan dapat terus meningkatkan suhu selama beberapa waktu, sehingga puncak suhu utama muncul beberapa minggu setelah periode penyinaran maksimum. Masyarakat dan pemangku kepentingan perlu memperkuat pemantauan titik panas, menghindari pembakaran terbuka, serta memastikan ketersediaan air di wilayah rentan.

Kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan di Sumatera Selatan perlu ditingkatkan seiring berlangsungnya musim kemarau dan suhu udara yang ekstrem. Kombinasi kedua kondisi tersebut, ditambah kelembapan tanah yang rendah serta vegetasi yang semakin mengering, membuat lahan lebih rentan terbakar. Permukaan yang kering dapat memudahkan api menyala ketika terkena sumber panas atau percikan, sehingga setiap aktivitas yang berpotensi memicu api perlu dihindari.

Api yang tersulut di area dengan kondisi kering juga dapat berkembang lebih mudah. Perkembangan api tersebut berpotensi memperburuk kepulan asap, terutama apabila sumber api berada di lahan, kebun, atau kawasan yang dipenuhi vegetasi mengering. Karena itu, semua pihak diminta tidak membakar lahan, kebun, maupun sampah. Warga juga perlu menghindari sumber api di area yang kering dan mudah terbakar, termasuk ketika berada atau beraktivitas di sekitar lahan terbuka.

Selain menjaga area dari sumber api, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas fisik berat ketika cuaca sangat panas. Kebutuhan air minum juga perlu dicukupi agar tubuh tetap memperoleh asupan cairan selama menghadapi suhu tinggi. Kewaspadaan bersama menjadi penting dalam menghadapi kemarau, suhu ekstrem, tanah yang kering, dan vegetasi yang mudah terbakar. Dengan tidak menyalakan api secara sembarangan serta memperhatikan kondisi cuaca, risiko api tersulut dan berkembang dapat dihindari.

Baca juga: Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat