Karhutla Berulang, Tujuh Provinsi Masuk Prioritas Penanganan

Karhutla Meluas di Kalteng dan Sumsel, BNPB Catat Ratusan Hektare Terbakar

Kabupaten Ogan Komering Ilir | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia, dengan kondisi terbaru di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan menjadi perhatian utama. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih berulang dan belum sepenuhnya teratasi. Api dapat muncul kembali ketika kondisi lingkungan, cuaca, serta aktivitas pembukaan atau pengelolaan lahan menciptakan risiko yang mendukung penyebaran kebakaran.

Karhutla bukan kejadian pertama yang dialami Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran kembali tercatat dengan luasan yang berbeda-beda pada setiap tahun. Rekam jejak tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla bersifat berulang, sehingga penanganannya memerlukan pemantauan berkelanjutan, kesiapsiagaan daerah, dan koordinasi pemerintah pusat serta pemerintah daerah. Namun, bahan sumber yang dikutip dalam pemberitaan ini tidak menyediakan rincian angka historis untuk seluruh enam tahun. Karena itu, perkembangan karhutla perlu dipahami berdasarkan informasi pemantauan yang tersedia tanpa menambahkan data di luar sumber.

Data pemantauan karhutla Kementerian Kehutanan yang dikutip pada 13 Oktober 2026 menetapkan tujuh provinsi sebagai wilayah prioritas penanganan. Ketujuh provinsi tersebut adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Penetapan ini menempatkan wilayah-wilayah dengan potensi atau perkembangan karhutla dalam fokus pengawasan dan respons yang lebih terarah.

Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan menjadi sorotan awal karena kondisi kebakaran kembali muncul di dua wilayah tersebut. Fokus penanganan tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga dengan pencegahan meluasnya titik kebakaran, perlindungan masyarakat, serta pengendalian dampak terhadap lingkungan dan kualitas udara. Daftar prioritas Kementerian Kehutanan menjadi dasar penting bagi penguatan pemantauan di lapangan, terutama ketika risiko karhutla dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan keadaan lahan.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per malam 12 Oktober 2026, karhutla masih memberikan dampak nyata di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Total luas lahan yang terbakar di kedua provinsi tersebut mencapai 343,55 hektare. Angka ini menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan tetap memerlukan perhatian serius, terutama karena dampaknya meluas ke sejumlah wilayah administratif.

Di Kalimantan Tengah, karhutla berdampak pada 11 kabupaten/kota. Sementara itu, di Sumatera Selatan, dampak kejadian tersebut tercatat menjangkau delapan kabupaten/kota. Persebaran wilayah terdampak itu memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak hanya berlangsung di satu lokasi, tetapi mencakup area yang lebih luas pada masing-masing provinsi.

Selain luas lahan yang terbakar dan jumlah wilayah terdampak, kondisi kualitas udara di kedua provinsi berada pada kategori berbahaya. Situasi tersebut berjalan beriringan dengan penurunan jarak pandang di bandar udara. Di Kalimantan Tengah, jarak pandang tercatat hanya 0,2 kilometer. Adapun di Sumatera Selatan, jarak pandang berada pada kisaran sekitar 0,3 hingga 7 kilometer. Perbedaan tersebut menunjukkan variasi kondisi jarak pandang di wilayah Sumatera Selatan, sedangkan angka di Kalimantan Tengah tercatat sangat terbatas.

Data BNPB ini menggambarkan besarnya dampak karhutla terhadap kondisi lingkungan dan aktivitas wilayah, khususnya melalui memburuknya kualitas udara serta terbatasnya jarak pandang. Dengan cakupan wilayah yang mencapai 11 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah dan delapan kabupaten/kota di Sumatera Selatan, pembaruan informasi mengenai luas lahan terbakar, kualitas udara, dan kondisi penerbangan menjadi bagian penting dalam pemantauan penanganan karhutla.

Pada 11 Oktober 2026, kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tercatat meliputi area seluas 64,8 hektare. Area tersebut tersebar di 49 lokasi kebakaran yang menjadi bagian dari pemantauan dan penanganan lapangan. Data ini menggambarkan cakupan kejadian yang masih memerlukan operasi pemadaman di sejumlah wilayah provinsi tersebut.

Petugas telah memadamkan kebakaran pada area seluas 54 hektare yang tersebar di 38 lokasi. Sementara itu, area seluas 10,8 hektare di 11 lokasi masih menjadi sasaran operasi. Penanganan terhadap lokasi-lokasi tersebut dilakukan secara bertahap berdasarkan kondisi lapangan dan akses yang tersedia bagi personel pemadam.

Operasi pemadaman dilakukan melalui operasi darat. Operasi udara belum dapat dilaksanakan karena jarak pandang di wilayah terkait masih rendah. Dengan demikian, kegiatan penanganan yang berlangsung pada periode tersebut berfokus pada pengerahan petugas dan peralatan dari jalur darat untuk menjangkau lokasi kebakaran.

Dalam pemantauan titik panas, tercatat 3.908 titik panas di Kalimantan Tengah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 74 titik panas berada pada tingkat kepercayaan tinggi. Informasi titik panas digunakan sebagai salah satu data pendukung untuk mengidentifikasi wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam operasi penanganan karhutla, bersama laporan kondisi aktual dari lapangan.

Selain pemadaman darat, operasi modifikasi cuaca juga dilaksanakan. Berdasarkan keterangan dalam dashboard informasi penanganan karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kegiatan tersebut menghasilkan hujan lokal di Katingan, Kotawaringin Barat, dan Murung Raya. Hujan lokal itu dicatat sebagai bagian dari informasi operasi penanganan yang berlangsung di Kalimantan Tengah pada 11 Oktober 2026.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan terus dilakukan dengan mengutamakan pemadaman pada area yang masih terbakar serta pencegahan meluasnya api. Berdasarkan pemantauan terbaru, luas lahan terbakar mencapai 278,75 hektare. Dari total tersebut, 271,85 hektare telah berhasil dipadamkan, sedangkan 6,90 hektare masih berada dalam penanganan. Pemantauan satelit juga mencatat 1.991 titik panas, termasuk 121 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi yang memerlukan verifikasi dan tindak lanjut lapangan.

Operasi water bombing belum dilaksanakan karena jarak pandang di wilayah operasi masih rendah sehingga penerbangan perlu mempertimbangkan aspek keselamatan. Sementara itu, operasi modifikasi cuaca tetap berjalan untuk mendukung upaya pengendalian karhutla. Pada 12 Oktober 2026, operasi tersebut dilaksanakan dalam satu sorti dengan membawa 800 kilogram natrium klorida. Secara akumulatif, operasi pada 9 hingga 11 Oktober telah mencapai empat sorti dengan total 3.600 kilogram natrium klorida.

Patroli udara dan pemadaman lanjutan akan dilakukan dengan menyesuaikan jarak pandang, kondisi atmosfer, serta perkembangan titik api. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama sebelum pengerahan armada udara. BNPB merekomendasikan penyekatan area rawan, pemadaman langsung, pendinginan lokasi, serta pengerahan personel, peralatan, dan sumber air secara terarah agar penanganan berlangsung efektif.

Kesiapsiagaan armada water bombing juga perlu ditingkatkan, terutama di Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Di sekitar permukiman, satuan tugas darat perlu diperkuat untuk mempercepat respons dan melindungi masyarakat. Pemantauan jarak pandang serta kondisi atmosfer harus dilakukan secara berkala sebagai dasar penentuan waktu, rute, dan metode operasi. Koordinasi antarlembaga diperlukan agar setiap sumber daya dapat diarahkan ke lokasi prioritas dan risiko penyebaran api dapat ditekan.

Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas