Sumber: nusabali.com
Begitu menyadari kebakaran, Nadila langsung menggendong bayinya yang masih tertidur di atas Kasur dan suaminya segera mengemasi barang kebutuhan bayi DENPASAR, NusaBaliSuasana panik pecah di tengah malam saat kobaran api membesar di kawasan gudang rongsokan dan bedeng di Jalan Nakula, Gang Jatayu, Banjar Mergaya, Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar, Senin (31/8/2026) sekitar pukul 22.30 WITA. Saat kebakaran terjadi saya berada di dalam rumah kontrakan, belum tidur dan mendengar teriakan tetangga. Di tengah kepanikan itu, Ayu Nadila, 19, bergegas menggendong bayinya yang baru berusia 25 hari untuk menyelamatkan diri menjauh dari kebakaran.
Keterangan yang tercatat menyebut Saya langsung keluar kontrakan," ujar Ali. Pakaian juga kurang, terutama pakaian dalam untuk dewasa dan anak-anak," ungkap Yeni. Sementara sejumlah perlengkapan rumah tangga seperti selimut, bantal, kasur, dan peralatan makan tidak sempat diselamatkan..Yeni mengatakan anaknya juga mengalami trauma setelah kejadian tersebut.
Data lain dalam laporan menunjukkan Malam itu saya tidak tahu apa-apa, soalnya sedang tidur dengan anak saya," ujar Nadila saat ditemui NusaBali di tempat pengungsiannya, Rabu (2/9).Begitu mengetahui kebakaran, Nadila langsung menggendong bayinya yang masih tertidur di atas kasur. Sebanyak 113 orang terdampak dalam peristiwa tersebut. Hingga Rabu (2/9) pagi, petugas masih melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik yang terbakar. Kini Nadila bersama suami dan bayinya mengungsi di kamar kontrakan baru berukuran sekitar 1,5 meter x 2,5 meter. Ini untuk menghindari asap sisa kebakaran yang masih ada, apalagi saya punya bayi," tuturnya.Mertua Nadila, Ali, 48, mengatakan dirinya mengetahui kebakaran setelah mendengar teriakan warga.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Ibu muda asal Lumajang, Jawa Timur, itu sebelumnya sedang terlelap bersama bayi pertamanya di kamar kontrakan. Nadila mengaku tidak mengetahui kebakaran hingga seorang tetangga membangunkannya. Sementara suaminya segera bangun dan mengemasi sejumlah kebutuhan bayi. Mereka kemudian keluar kamar dan menjauh dari kobaran api yang semakin membesar.Kebakaran tersebut melanda gudang rongsokan dan bedeng yang dihuni puluhan keluarga. Lokasinya masih berada di kawasan gudang rosokan, namun berada di bagian yang tidak ikut terbakar.
Puluhan armada pemadam kebakaran dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung dikerahkan untuk menjinakkan api. Untuk memastikan kondisi kesehatan warga terdampak, tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar turun melakukan pemeriksaan terhadap warga yang masih berada di sekitar lokasi kebakaran. Dihubungi terpisah Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara mengatakan, pendataan masih terus dilakukan untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan bantuan dan pelayanan sesuai kebutuhan. Penanganan warga terdampak dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Dinas Sosial, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar, Dinas Kesehatan, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, serta perangkat daerah terkait lainnya.BPBD Kota Denpasar telah memasang tenda pengungsian untuk mendukung kebutuhan tempat tinggal sementara bagi warga terdampak. Saat ini saya bersama suami mengungsi ke kontrakan baru, tempat yang lebih aman, walaupun masih berada di kawasan kebakaran. Saat itu, Ali masih berada di dalam kontrakan dan belum tidur. Menurut Ali, teriakan warga terdengar sekitar pukul 22.30 WITA. Dia kemudian bergegas menuju kamar kontrakan anak dan menantunya yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Saya sudah melihat anak dan menantu saya bersama anak bayi mereka sudah keluar kamar kontrakan dan segera menyuruh mereka untuk menjauh dari kawasan lokasi kebakaran," kata Ali yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung barang bekas.Warga terdampak kebakaran gudang rongsokan di Jalan Nakula, Pemecutan Kelod, Denpasar Barat mendirikan tenda darurat untuk bermukim sementara, Rabu (2/9). YUDA Pasca kebakaran, Nadila dan keluarganya belum dapat beraktivitas dengan leluasa di sekitar kawasan tersebut. Asap sisa kebakaran masih menyelimuti lokasi sehingga dikhawatirkan mengganggu pernapasan, terutama bagi bayi yang baru berusia 25 hari. Sementara itu warga terdampak kebakaran lainnya, Yeni, 28, mengatakan bantuan makanan untuk warga terdampak sejauh ini sudah tersedia. Namun, sejumlah kebutuhan lain seperti pakaian dalam dan perlengkapan anak-anak masih dibutuhkan. Sementara untuk sembako, ucap Yeni, masih dalam pendataan. Tapi kalau sembako belum karena masih didata. Yeni mengaku sementara masih mengungsi di rumah kerabat di sekitar lokasi kejadian. Namun, dia berencana membuat tenda di sekitar lokasi kebakaran karena belum mendapatkan tempat kos. Menurutnya, mencari kos saat ini cukup sulit dan biaya sewanya juga relatif mahal."Kebutuhan yang paling dibutuhkan uang untuk mencari kos. Selain itu, selimut, pakaian dalam, pakaian anak dan pakaian dewasa," ujarnya. Dia mengaku sehari-hari berjualan makanan dan minuman, seperti tipat cantok, kopi, dan es, dengan mengikuti pasar malam. Namun, untuk sementara dia belum dapat berjualan karena warung yang menjadi tempat usahanya terbakar."Malam kemarin saya tidak jualan. Tidak tahu nanti bisa jualan atau tidak karena warungnya sudah kebakaran," katanya. Saat kebakaran terjadi, Yeni bersama anaknya sempat terjebak di tengah kepungan api. Mereka kemudian menyelamatkan diri melalui area persawahan. Dalam kondisi panik, Yeni hanya sempat menyelamatkan sejumlah pakaian, sepeda motor, dan surat-surat penting. Rasa takut masih dirasakan anaknya karena sempat berada di tengah kepungan api. Kalau anak ada rasa trauma, takut dan ketakutan. Kemarin sempat terkepung di tengah-tengah api. Kami lewat sawah di belakang," katanya. Data sementara sebanyak 113 orang terdampak dalam peristiwa kebakaran ini. Selain jumlah warga terdampak, informasi sementara mengenai kerugian material yang disampaikan Perbekel Pemecutan Klod mencapai sekitar Rp843 juta berdasarkan laporan dari empat pelapor.
Sumber informasi: nusabali.com



